
POV Mahfudz
Aku sampai di rumah malam ini hampir menjelang isya dengan pintu dibukakan Ayuni. Kutemui Ummik dan Rahmat berada di ruang tengah sedang menonton televisi. Ummik nampak memangku Rahmat. Terlihat betul dari sikap Ummik, bahwa beliau sangat rindu menginginkan cucu. Dan dari Rahmat Ummik bisa sedikit mengurangi hasratnya ingin menimang cucu. Aku sangat paham itu.
"Kau baru pulang, Fud?" tanya Ummik.
Aku tersenyum dan mengangguk. Segera aku menghampiri Ummik dan mencium tangan beliau. Lalu aku meminta Rahmat untukku gendong di pangkuanku.
"Ra-ya ma-na, Mik?" tanyaku.
"Oh, Raya sedang di kamarlah, Fud."
Ummik mendesah terlihat tak enak hati.
"Ke-na-pa?" tanyaku ingin tau.
Ayuni yang mendengar pembicaraan aku dan Ummik sedang membicarakan Raya, paham kalau dia sebaiknya tidak ikut dalam pembicaraan itu.
"Ummik, Kak Mahfudz! Ayuni ke kamar dulu, ya. Aku mau lihat Fuad dulu, apa dia sudah selesai mengerjakan kerjaannya." pamit Ayuni.
Dia akan mengambil Rahmat dariku, namun aku memintanya untuk membiarkan aku menimang anaknya itu sebentar lagi.
"Bi-ar a-ku gen-dong se-ben-tar la-gi, A-yuni." pintaku.
"Baiklah," jawabnya singkat sambil berlalu dari hadapan kami dan Ummik.
"Ra-ya ke-na-pa, Mik?" tanyaku.
"Ahh, Ummik nggak tau, Fud. Raya sangat sensitif sekarang sama Ummik. Apa pun yang Ummik katakan yang berhubungan dengan anak pasti dia tersinggung, Fud. Dari tadi pagi, Raya ngambek sama Ummik cuma gara- gara Ummik kasih ingat dia untuk memakai KB. Sampai malam ini pun sejak pulang, Raya cuma cium tangan Ummik terus ngurung diri di kamar. Nggak keluar- keluar."
Ahhh, aku mendesah. Aku mengerti perasaan Raya. Tapi harusnya dia juga tidak boleh bersikap seperti ini pada Ummik.
"Fud, Ummik tau perasaan kalian kehilangan Annisa. Ummik juga merasa sedih dan kehilangan bakal cucu Ummik, darah daging Ummik. Tapi saat ini Raya benar- benar tidak boleh mengandung dulu. Ini demi kebaikan dia, kebaikan kita. Ummik punya banyak anak. Kamu, Fuad, Ayuni, bahkan Hawa sudah Ummik anggap anak- anak Ummik. Tapi darah daging Ummik satu- satunya hanya Raya, Fud. Ummik tidak sanggup kalau harus melihat terjadi sesuatu padanya. Cukup sekali Ummik melihat dia sangat menderita saat kejadian itu. Ummik bisa pura- pura tegar saat itu untuk membuat dia tetap kuat. Tapi andai terjadi lagi hal seperti itu .... Ummik tidak tau lagi, Fud. Ummik bisa hidup tanpa cucu tapi tidak akan bisa hidup tanpa putri semata wayang Ummik, hkss ...."
Ummik terisak sekarang.
"Um-mik, ja-ngan ngo-mong gi-tu ahh. Nggak ba-ik Um-mik. Nggak a-kan ter-ja-di a-pa pun pa-da Ra-ya. Mah-fudz jan-ji, Mik." kataku sambil mengelus punggung Ummik.
Ummik menatapku dengan mata yang basah.
"Ummik cuma bisa berharap saat ini sama kamu aja, Fud. Tolong kamu pastikan kalau Raya tidak akan hamil sampai tahun depan. Setelah itu kalian bisa punya anak lagi. Ummik akan menyayangi cucu Ummik lebih dari siapa pun. Tidak benar kalau Ummik tidak mengharapkan cucu dari kalian. Tapi Raya .... Tapi Raya .... Kamu tau dia keras kepala, Fud. Dia mengira Ummik tidak ingin cucu darinya lagi karena sudah ada Rahmat dan Ayuni."
Aku mendesah. Raya, kenapa harus begitu sih sayang?
Lagi, aku cuma bisa mengelus pundak Ummik.
"Um-mik ja-ngan kha-wa-tir. Ra-ya tid-ak a-kan ha-mil sam-pai ba-tas wak-tu yang a-man ba-gi-nya. La-gi pu-la, di-a su-dah pa-sang KB spi-ral ke-ma-rin se-be-lum a-da ke-ja-di-an ke-ce-la-ka-an i-tu. Mah-fudz sen-di-ri yang me-ne-ma-ni-nya, Um-mik. Mah-fudz a-kan pas-t-ikan Ra-ya nggak a-kan ke-na-pa- ke-na-pa!"
"Baiklah, Ummik percaya padamu, Fud. Kamu tolong jaga Raya, anak itu sangat keras kepala."
Aku mengangguk.
Tak lama aku menyerahkan Rahmat pada Ummik dan masuk ke kamar. Ku lihat Raya tengah sibuk mengotak- atik laptopnya. Aku sudah melihat beritanya di televisi saat dia melakukan konferensi pers. Sedikit mengejutkan kalau akhirnya dia memutuskan untuk menerima jabatan sebagai Dokter Kepala yang ditawarkan Professor itu.
"Sa-yang ...." sapaku sambil duduk di sampingnya.
"Kamu sudah pulang?" tanyanya sembari memutuskan untuk memperhatikanku dulu dan mengabaikan apa yang sedang dikerjakannya.
Aku mengangguk. Dan sedikit terkejut saat Raya tiba- tiba memelukku. Aku membalas pelukannya dan mencium puncak kepalanya dengan sayang.
Dan tanpa kuminta dia menceritakan bagaimana akhirnya dia memutuskan untuk menerima jabatan itu. Jabatan yang sebenarnya tidak diinginkannya.
"Mung-kin, su-dah ja-lan-nya, Ray. Ka-mu su-dah di-tak-dir-kan men-ja-di se-o-rang lea-der." hiburku.
__ADS_1
"Leader apa? Aku masih merasa tak pantas berada di posisi ini." keluhnya.
Aku mengelus rambutnya.
"Ya, su-dah ja-ngan ter-la-lu di-pi-ki-rin, sa-yang."
Raya mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Be-rar-ti nan-ti, ka-mu a-kan le-bih se-ring donk ke-te-mu la-ki- la-ki la-in? Ka-mu nggak cu-ma ke-te-mu sa-ma pa-si-en ha-mil sa-ma me-la-hir-kan do-ank." kataku pura- pura cemburu.
"Apaan sih? Cemburu nggak jelas. Tetap aja tiap hari aku cuma berurusan seputar kehamilan dan Obgyn meskipun udah pindah rumah sakit. Kamu tuh, yang jadi artist dadakan, banyak fansnya sekarang."
"Ar-tis a-pa-an?" tanyaku pura- pura tak mengerti.
Aku memang sudah melihat vidioku yang viral berkat CPR pada bayi korban kecelakaan itu. Itu pun karena perawat di rumah sakit harapan kita yang memberi tahu aku.
Raya mengambil handphonenya dan memunjukkan Vidio itu. Dan hasilnya dia jadi uring- iringan sendiri.
"Ini, ini apa?'Dokter, udah punya pacar belum?' Mau donk jadi makmumnya, 'Mau donk dikasih napas buatan'. Apaan?" kata Raya jengkel sembari membaca beberapa komentar netizen.
Aku tertawa melihat sikapnya yang tak bisa menyembunyikan rasa cemburu itu. Dengan sekali hentakan, aku mendorong tubuhnya hingga berbaring di ranjang. Dan kini mengambil posisi di atas tubuhnya. Tak membuang banyak waktu, segera aku membuka satu persatu kancing piyamanya.
"Sayang, kamu itu apaan? Aku masih banyak kerjaan tuh," katanya sambil menunjuk laptopnya. "Aku masih harus mengerjakan proposal pengajuan kerja sama rujukan untuk beberapa rumah sa ...."
Aku segera membungkam mulut yang sedang berbicara itu dengan bibirku. Lalu membuka mulutnya dan meniup mulut itu sebanyak 2 kali.
"Apaan sih ...." protes Raya.
"Ka-u ti-dak per-lu cem-bu-ru ka-re-na me-re-ka min-ta na-pas bua-tan. Ka-re-na a-ku a-kan mem-be-ri-mu na-pas cin-ta," gombalku.
"Apa sih, gombal ...." omelnya sambil mengambil bantal guling di sebelahnya dan mendorongnya ke wajahku.
Raya berusaha untuk duduk, namun aku kembali mendorongnya hingga berbaring. Lanjut aku kembali membuka kancing piyamanya yang tersisa. Tak kupedulikan wajah protes itu.
"Iss ...." desisnya sebal sambil mencubit dadaku, namun dia tetap menerima semua perlakuanku pada tubuhnya.
Tapi menit berikutnya aku terkejut, saat jari-jarinya bergerak cepat membuka kancing bajuku dan melepas semuanya. Dan melakukan sesuatu di 'sana'. Dia terlalu responsif kalau menurutku.
"Ka-u sa-ngat ber-se-ma-ngat, sa-yang." kataku sembari menghentikan sejenak aksiku.
Raya juga berhenti sejenak. Rona merah bersemu di pipinya.
"Mau bagaimana lagi, aku ingin menyenangkan suamiku. Kau tidak suka?" tanyanya dengan nada menggoda sambil melukis lingkaran tak terlihat di dadaku.
Bukan, bukan aku tidak suka. Tentu aku senang. Hanya saja, akhir- akhir ini aku merasa Raya sedikit berubah. Dia terlalu berani mengekplorasi setiap inci dari tubuhku dan berbuat sesukanya setiap kami berhubungan intim. Dia tidak seperti Raya yang biasa ku kenal. Pasti ada yang dia mau.
"A-da se-sua-tu yang ka-mu i-ngin-kan da-ri-ku, sa-yang?" tanyaku di sela- sela foreplay kami.
"Hmmm ...." gumamnya dengan mata terpejam.
"A-pa i-tu?"
"Selesai ini nanti ku beri tau."
A few minute later.
Setelah percintaan panas itu selesai. Aku segera ingin tau apa yang diinginkannya.
"Aku ingin kamu periksa, Fud. Kalau perlu CT scan. Apa yang menyebabkan kamu terganggu dalam berbicara. Kalau memang masih bisa diobati, kita akan upayakan pengobatan untuk kamu." katanya.
Aku tak menyangka ini keinginan Raya.
"A-ku su-dah ikh-las de-ngan ke-a-da-an-ku, sa-yang. Ki-ta tak perl-u re-pot- re-pot me-la-ku-kan i-tu." tolakku.
__ADS_1
Pikiranku langsung melayang pada suatu masa di mana kakak perempuanku satu- satunya tewas akibat kesalahanku. Dan itu membuatku enggan untuk mengobati gangguan bicaraku. Aku merasa aku perlu menebus segala kesalahanku padanya. Dan aku merasa tidak layak mengobati keadaanku ini. Aku pantas mendapatkannya. Itulah yang membuatku tidak jadi bertemu dengan theraphys wicara teman dari konsulenku di rumah sakit harapan kita.
"Aku yang tidak ikhlas." jawab Raya.
Aku menatap pada istriku ini tak percaya.
"Ka-u tak bi-sa me-ne-ri-ma ke-ku-ra-ngan-ku?"
Raya memegang pundakku dan menatapku serius.
"Aku bisa menerima segala kelebihan dan kekuranganmu, sayang. Karena itulah aku menikah denganmu. Tapi kalau kekurangan itu, masih bisa diperbaiki, kenapa kita harus menerima keadaan ini. Sumpah, sayang. Aku mendengarmu berbicara normal saat kecelakaan itu. Aku merasa sangat bahagia mendengarnya. Aku optimis kamu bisa sembuh. Ya? Tolong ya, sayang. Ayo, kita periksakan. Sakit apa sebenarnya kamu. Apa penyebabnya? Setelah itu kita cari solusinya," bujuknya.
Raya terlihat sangat gigih membujukku. Sampai aku merasa tak bisa lagi menolaknya.
"Ba-ik-lah," kataku. "Ta-pi se-be-lum i-tu ka-mu ha-rus men-je-las-kan pa-da-ku, ke-na-pa ka-mu ber-si-kap be-gi-tu pa-da Um-mik?"
"Bersikap apa emang? Aku sama Ummik baik- baik aja," bantahnya.
"Ray .... Se-ka-rang ka-mu se-la-lu ke-tus dan sen-si-tif pa-da Um-mik, ke-na-pa? Ja-ngan ka-mu ki-ra a-ku ti-dak ta-u i-tu."
Raya menjauhkan pandangannya ke arah lain.
"Ray ...."
"Aku kesal sama Ummik. Dulu Ummik yang pengen banget punya cucu dari aku, sampai maksa- maksa aku buat nikah cepat. Eh, sekarang mentang- mentang ada Rahmat dan Ayuni, jangankan mengharap cucu dari aku, kata- kata Ummik juga selalu terkesan memojokkanku."
Aku diam saja membiarkan dia mencurahkan isi hatinya dulu.
"Aku tau aku tak boleh cemburu pada Ayuni. Hanya saja tiap kali aku melihat Ummik menimang, dan mengasuh Rahmat. Hatiku merasa sesak. Harusnya anakku yang berada dalam pangkuan Ummik, Fud. Harusnya Annisa yang di situ."
Dan lihatlah, air mata itu mengalir di wajah cantiknya. Aku memeluknya.
"A-pa ka-mu me-ra-sa ti-dak nya-man de-ngan ke-be-ra-da-an A-yu-ni dan Rahmat?" tanyaku hati- hati.
Tangis itu semakin pecah. Namun dia berusaha meredam suaranya dengan membenamkan wajahnya di bahuku.
"Aku tau aku tidak boleh egois, Fud. Aku hanya merasa tidak nyaman berada di dekatnya. Seolah dia menjadi pembanding diriku sekarang. Tapi aku juga tidak mungkin menyuruhnya pergi. Aku juga tidak setega itu, kan?"
Lama dia menangis di pelukanku. Aku sampai kasihan melihatnya. Sampai pada akhirnya aku memikirkan sesuatu.
"Ba-gai-ma-na ka-lau ki-ta sa-ja yang per-gi da-ri si-ni, Ray?"
"Haah? Maksudnya?"
Raya melonggarkan pelukannya dan menatapku.
"Kita tinggal di rumah mama aja dulu. Biarkan Ayuni dan Fuad yang menjaga Ummik di sini. Siapa tau hatimu bisa tenang di sana sayang. Lagipula di sana Mama dan Nadya kesepian. Nggak ada teman."
Lama Raya menimbang sampai akhirnya dia memutuskan untuk setuju tinggal di rumah mama.
"Baiklah, biar nanti aku yang bicara sama Ummik," kataku
\*\*\*\*\*\*\*\*
Telah sebulan lebih aku dan Mahfudz tinggal di rumah Mama. Awalnya memang Ummik tidak setuju saat Mahfudz memberi tahu keinginan kami untuk pindah ke rumah Mama. Namun akhirnya walaupun berat, Ummik mengijinkan juga setelah Mahfudz membujuknya dan memberi pengertian sedemikan rupa.
Jam menunjukkan pukul setengah 4 pagi, saat aku mengendap- endap seperti maling ke kamar mandi. Mahfudz belum juga bangun dan aku memang tak berniat membangunkannya.
Begitu aku menutup pintu kamar mandi tak sabar aku mengeluarkan alat uji kehamilan testpack yang sengaja kubawa dari rumah sakit kemarin dan kusembunyikan di tempat paling tersembunyi yang tak mungkin bisa temukan Mahfudz.
Tak berlama- lama aku meneteskan urineku pada testpack dengan wadah urin itu. Menunggu hingga 3 menit tanpa melihatnya sama sekali. Berharap hasilnya akurat. Dan ....
Sebuah senyum mengembang di bibirku saat aku melihat dua garis merah di situ. Berhasil!
__ADS_1