I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Bumil Cemburu


__ADS_3

Dengan penuh emosi aku mendatangi Mahfudz yang sedang dipeluk gadis itu. Segera aku melepaskan tangan yang sedang merangkul pinggang Mahfudz itu dengan kasar dan mendorongnya. Gadis itu terlihat kaget begitupun Mahfudz.


Gadis itu terlihat masih sangat belia. Umurnya mungkin hanya lebih tua beberapa tahun dari Nadya. Tapi sepertinya wajahnya familiar. Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi di mana, ya?


"Kau siapa?" tanyaku dengan nada mengintimidasi.


Dia tidak menjawab. Hanya saja wajahnya terlihat gugup dan dia memandang Mahfudz seperti memohon pada Mahfudz untuk bantu menjelaskan.


"Dia siapa?" tanyaku marah pada Mahfudz.


Sungguh, aku tidak suka ada yang menyentuh suamiku. Suamiku bukan milik umum atau milik bersama yang bisa orang sentuh sesukanya tanpa seijinku. Dengan dr. Sherly saja yang aku tidak melihat langsung, aku masih dongkol kalau ingat masalah dia pernah memeluk Mahfudz, walaupun kejadian itu terjadi sebelum kami menikah. Dan ini terjadi hadapanku, ya Tuhan siapa gadis ini?


"Ray ...."


Mahfudz berusaha merangkulku untuk menenangkanku. Tapi aku menolak rangkulan itu. Aku tidak mau tenang sebelum dia menjelaskan siapa gadis itu.


"Ray, di-a na-ma-nya Ti-wi. Ka-mu ja-ngan sa-lah pa-ham ...."


"Aku nggak peduli nama dia siapa. Terus kamu bilang aku jangan salah paham? Gimana nggak salah paham kalau aku melihat suamiku dipeluk- peluk sama orang lain. Kamu kenal sama dia dimana? Dia itu siapa kamu, Mahfudz?" tanyaku kesal.


Air mataku hampir jatuh. Apa aku telah jadi korban perselingkuhan?


"Ti-wi i-ni pa-si-en ka-mi di ru-mah sa-kit je-ja-ring pas a- ku di- ro-ta-si ke sa-na. A-ku nggak ta-u ke-na-pa di-a a-da di si-ni."


"Kalau cuma pasien kenapa dia sampai peluk- peluk kamu segala? Kenapa, haaa?" tanyaku. Aku merasa sangat sensitif sekarang. Air mataku tak kurasa jatuh.


Aku berusaha sebisa mungkin merendahkan suaraku agar pertengkaran kami tidak mengundang perhatian banyak orang.


"Kamu siapa? Kenal suamiku dimana? Kamu ada hubungan apa dengan Mahfudz?" tanyaku beruntun pada gadis itu sambil mendorongnya pelan.


"Dr. Raya ....! Tiwi ...." Aku menoleh pada suara itu.


Veronika, perawat asistennya dr. Gayatri baru keluar dari coffeshop shop yang berada di dekat situ. Dia menghampiri kami.


"Kenapa?" tanyanya tak mengerti.


"Kau kenal dia?" tanyaku lebih tak mengerti lagi.


Veronika mengangguk.


"Iya, dia adikku."


Oh, aku lebih takjub lagi mendengarnya. Adik dari Veronika sedang memeluk suamiku. Ada apa ini?


"Kau tidak apa- apa?" tanya Vero pada adiknya dengan memakai bahasa isyarat. Membuatku lebih terkesima lagi melihatnya.


Gadis itu mengangguk. Dia menjawab Vero dengan menggunakan bahasa isyarat yang bisa ku mengerti yang artinya dia bilang dia baik-baik saja.


"Bisa kita bicarakan ini baik- baik, Dokter? Bagaimana kalau kita ke coffe shop disitu aja sebentar?" tanya Vero menawarkan.


Aku terang saja tidak enak menolak ajakan Veronika. Biar bagaimana pun aku memiliki hubungan yang baik dengan dr. Gayatri. Dan Vero juga selama ini meski aku tidak dekat dengannya, tapi dia cukup baik. Dan lagi pula aku sudah bilang ke dr. Gayatri kalau aku akan jadi pasiennya dr. Gayatri hingga aku melahirkan. Dan pasti selama itu Veronica akan turut andil membantu dr. Gayatri menanganiku sebagai pasien.


Aku memutuskan setuju untuk membahas ini di coffeshop. Mahfudz pun sepertinya tidak keberatan. Hanya saja saat kami hendak masuk ke coffeshop itu, seseorang yang tidak kusangka- sangka juga keluar dari tempat itu. Dia Waridi. Dan sepertinya dia sendiri. Kenapa dia ada di tempat ini?


Mahfudz pun sepertinya terkejut melihatnya. Dan entah perasaanku saja atau bukan, aku seperti melihat adiknya Vero yang bernama Tiwi itu terlihat gugup, atau dia takut? Aku melihat dia mencengkram ujung baju yang dipakainya. Hanya Vero yang sepertinya tak mengerti kondisi ini. Dia terlihat tenang seperti tak terjadi apa pun dan masuk duluan ke coffe shop memilih meja.

__ADS_1


Aku yang berpapasan dengan Waridi juga tak saling menyapa. Namun aku bisa melihat senyum sinis menyeringai terlihat di ujung bibirnya.


Sesaat kami berempat telah berada di salah satu meja di coffe shop ini. Vero menanyai adiknya dengan bahasa isyarat, yang akhirnya ku tahu kalau adiknya itu tuna rungu. Aku diam mematung menunggu mereka selesai berkomunikasi. Aku bahkan tak memperdulikan tangan Mahfudz yang sedari tadi menggenggam tanganku seakan ingin menegaskan kalau dia cuma milikku. Aku tak peduli, aku hanya ingin tau apa yang terjadi di sini.


"Tiwi bilang, dia dan suami dr. Raya hanya berteman saat di rumah sakit jejaring tempat suami dokter ditugaskan untuk koas. Mereka, maaf dokter, sama- sama memiliki kekurangan. Jadi mereka menjadi teman dengar di sana."


"Teman?" Aku sungguh tak percaya ini. "Suamiku tidak pernah punya teman yang spesial, bahkan teman lelaki pun tak punya untuk dia bawa pulang ke rumah. Tapi adikmu adalah teman wanitanya yang seakrab apa sampai dia harus memeluk suamiku di depan umum? Maaf Vero, kau tidak pernah mengajari adikmu?" kataku kesal.


Mahfud mencoba menenangkanku.


"Ra-ya, to-long per-ca-ya. A-ku me-mang ti-dak a-da hu-bu-ngan a-pa- a-pa de-ngan-nya. Di-a ku-ang-gap se-ba-gai te-man, ka-lau pun le-bih i-tu cu-ma se-per-ti a-dik ti-dak le-bih."


"Teman? Adik? Sejak kapan kau punya figur seorang teman wanita dalam hidupmu, Fud? Kau menyukai dia? Karena dia lebih muda dariku?"


"As-ta-ga sa-yang, kau mu-lai sen-si-tif se-ka-rang. Ka-u ti-dak per-ca-ya su-a--mi-mu?"


Aku terdiam, entahlah. Aku merasa saat ini aku seperti tak membutuhkan penjelasan apa pun. Aku cuma ingin melabrak anak yang sudah berani memeluk- meluk suamiku sembarangan.


"A- ku ber- te- man de- ngan- nya ka- re- na di- su- ruh dr. Ba- yu ja- di te- man de- ngar- nya. Un- tuk mem- bu- juk- nya a- gar ma- u me- la- por- kan ka- sus pe- le- ce- han sek- su- al yang di- a- la- mi-nya."


"Pelecehan seksual?" tanyaku kaget.


Tak kalah kaget denganku, Veronika pun sampai terperanjat mendengarnya.


"Sepertinya kau salah, Tiwi berobat di rumah sakit karena demam saja. Ibu panti tidak menceritakan hal seperti itu padaku. Pelecehan seksual? Itu tidak mungkin!"


Mahfudz menceritakaan semua apa yang dia tau di rumah sakit jejaring. Dan itu membuatku merasa ikut pilu juga. Itu hampir sama dengan kisah Ayuni. Anak panti yang dilecehkan. Sempat terlintas di pikiranku, apakah ini ada kaitannya dengan Waridi? Kenapa kebetulan sekali dia ada di sini tadi? Dan tadi ekspresi Tiwi seperti ketakutan melihat Waridi? Atau cuma perasaanku saja? Apa Tiwi mengenal Waridi secara pribadi? Tapi dia berada di sini dengan kakaknya. Ah, tidak, tidak, tidak. Ini semakin membuat pikiranku tambah pusing.


Veronika sepertinya sangat sulit untuk menerima kenyataan itu. Terlihat jelas dari wajahnya. Dengan nenggunakan bahasa lisan dan isyarat, Vero langsung menginterogasi adiknya di depanku dan Mahfudz dengan kalut. Aku mengerti perasaannya. Aku bahkan sampai tidak ingat rasa ingin menyerangnya tadi.


\*\*\*\*\*\*\*


"Ka- u ma- sih ti- dak per-ca- ya pa- da-ku?" tanya Mahfudz sesaat aku dan dia telah berada di rumah Mama.


Mama terlihat masih kalut dengan kepergian Fuad yang tak ada kabar.


Saat ini Mama sedang ke warung untuk membeli bahan makanan. Kami datang memang tidak memberi tau sebelumnya.


"A-ku ti-dak se-ling-kuh, sa-yang ...." Mahfudz mencium tanganku yang sedari tadi dia genggam.


"Dr. Sherly memelukmu, anak itu tadi juga memelukmu. Entah kau gombalin apa mereka sampai mereka dengan suka rela peluk- peluk keganjenan seperti itu," kataku kesal.


Mahfudz tersenyum.


"Jangan senyum!" kataku jengkel.


Senyumnya makin lebar.


"Bu-mil cem-bu-ru?" godanya padaku.


"Ihhh, siapa yang cemburu ...." sangkalku.


Mahfudz langsung menarikku ke pelukannya.


"Dududuh .... Bu-mil-ku cem-bu-ru ...." katanya sambil mengelus- elus punggungku. "Cu- ma ka- mu a-ja yang a-da da- lam ha- ti-ku, sayang ...."

__ADS_1


"Oh .... Berarti Mama nggak ada nih di hati kamu?"


Aku dan Mahfudz sontak kaget dan spontan melepaskan pelukan satu sama lain


"Ya, sudahlah. Nasib saingan sama menantu ya kayak gitu. Pasti mamanya deh yang kalah," sindir Mama.


Aduh. Malunya, malunya, malunya, aku mengucapkan kata itu dalam hatiku berulang kali. Tertangkap basah Mama lagi pelukan, arghh mau kutaruh di mana mukaku?


Mahfudz hanya tertawa sambil nyengir ketangkap basah Mama.


"Nggak gi- tu, Ma. A-da bu-mil yang cem-bu-ru, Ma. A-ku di-cu-ri-ga-in se-ling-kuh sa-ma pa-si-en, Ma. Me-nan-tu Ma-ma i-ni ke-ter-la-lu-an kan?"


"Ihh .... Siapa yang cemburu, kalau kau mau pelukan sama dia juga nggak apa- apa!"


"Tuh kan? cem-bu-ru di-a. Ka-lau ma-u ku-pe-luk bi-lang," Mahfudz menarikku lagi ke pelukannya.


Mama cuma tertawa melihat tingkah Mahfudz yang membuat wajahku merah.


"Lepasin, Fud! Dilihatin Mama, malu tau!"


"Li-hat, Ma .... Sok- sok ma-lu de-pan Ma-ma. Pang-gil Fud se-ga-la, pa-da-hal di ru-mah Um-mik, Ra-ya mang-gil Mah-fudz A-yah, ya kan, Bun-da?" katanya tanpa berniat melepaskan pelukannya padaku.


Ih, Mahfudz niat banget bikin aku malu, gerutuku dalam hati.


"Ya, sudah. Mama ke dapur dulu. Kalau Nadya pulang les nanti. Jangan pelukan sembarangan kayak gitu. Nggak baik dilihat anak- anak."


Aku mencubit Mahfudz sampai dia melepaskan pelukannya.


"Kamu itu bikin malu aku aja sama Mama," omelku.


"Si- a- pa su- ruh cem- bu- ru- an? Ka- mu bo- leh ta- nya ke Ma- ma a- pa per- nah a- ku mem- ba- wa wa- ni- ta ke si- ni? A- pa per- nah a- ku me- nge- nal wa- ni- ta la- in? Cu- ma ka- mu sa-tu- sa- tu- nya wa- ni- ta yang mem- bu- at- ku gi- la dan me- mu- tus- kan me- ni- kah mu- da. Ka- re- na a- pa? Ka- re- na a- ku ta- kut ke- hi- la- ngan ka- mu. To- long ja- ngan ra- gu- kan a- ku ...."


Aku menatapnya dan ingin mencari kejujuran di sana. Dan lagi- lagi aku selalu jatuh di pelukannya. Ya, dia suamiku. Kalau memang ragu harusnya dari awal aku tidak menikah dengannya. Itu karena aku percaya dia mampu membuatku bahagia.


Sebenarnya aku tau Mahfudz tidak akan menghianati aku. Tapi dorongan emosional saat hamil ini sepertinya membuatku ingin melampiaskannya pada seseorang. Apa ibu hamil selalu merasa seperti itu? Entahlah....


\*\*\*\*\*\*


Malam ini atas permintaan Mama, aku dan Mahfudz menginap di rumah Mama setelah sebelumnya memberi tahu Ummik lewat panggilan telepon. Dan jadilah kami tidur di kamar Mahfudz semasa lajang ini. Dia dengan nyenyaknya bisa tidur di ranjang ini sambil memelukku, sementara aku tidak bisa tidur karena ranjang ini terlalu kecil untuk kami tiduri berdua. Ini cuma ranjang single bed. Ini kedua kalinya aku tidur di sini.


Perlahan aku melepas tangan Mahfudz yang memelukku. Sumpah ini membuatku sesak dan tidak nyaman sekali. Apa aku tidur di kamar Fuad saja? Atau di sofa depan. Atau aku tidur di lantai saja? Mama tadi sudah menawarkan akan mengeluarkan kasur cadangan untuk ditaruh di bawah tapi Mahfudz menolak karena ingin romantis- romantisan di ranjang kecil denganku. Biar bisa pelukan sampai pagi, katanya. Dan sekarang dia bisa tidur nyenyak dan hanya aku yang tersiksa di sini.


Di antara kegelisahanku memilih tempat tidur yang pas, tiba- tiba ponselku bergetar. Aku melihat siapa yang menelepon. Itu orang yang tadi siang meneleponku saat aku berada di ruang ganti mall. Tak ingin Mahfudz terbangun, aku segera membawa ponselku ke kamar mandi dan mengangkat telepon itu di sana.


"Dr. Raya .... Bisa kita bertemu malam ini?"


Aku melihat jam pada ponselku. Ini jam 11 malam.


"Ini sudah hampir larut malam, Akbar! Apa tidak bisa besok saja?"


"Waridi mengawasimu kalau siang, dan kalau siang tiba- tiba aku nggak ada, itu akan mencurigakan baginya, kan?"


Aku menghela napas panjang.


"Lalu kesepakatan apa yang kamu inginkan?" tanyaku.

__ADS_1


"Aku bisa jelaskan itu nanti kalau kita sudah bertemu. Kenapa? Kamu takut diculik lagi? Kamu bisa datang dengan Mahfud kalau kamu mau!" katanya meyakinkanku.


__ADS_2