
Aku sedang meratakan lipstikku saat Ummik masuk ke kamar. Rutinitas harianku adalah pergi ke rumah sakit seperti biasa.
"Tadi malam Mahfudz vidio call"kata Ummik memberi tau.
"Haa? Yang benar, Mik?Jam berapa? Kok Ummik nggak bangunin Raya?" protesku sambil cepat-cepat mencari ponselku.
"Aduuuh, anak muda jaman sekarang..." Ummik geleng-geleng kepala tak habis pikir melihat kelakuanku yang langsung antusias mendengar kata Mahfudz.
Aku memeriksa fitur panggilan pada aplikasi WA. Oh, iya ada 1 panggilan tak terjawab dan satu panggilan masuk dengan durasi dua menitan dari Mahfudz. Segera aku buka fitur chatnya. Dan membaca chat dari Mahfudz.
[Aku lagi sibuk, sayangku]
[Sayang...]
Dan satu lagi chat Mahfudz yang mempertanyakan panggilan kami ketika nanti sudah menikah.
Aku tersipu sendiri membacanya. Entah kenapa aku jadi malu dipanggil sayang begitu. Malu sekaligus juga senang. Hatiku tiba-tiba berbunga-bunga.
Tapi tunggu dulu.... Pesan ini rasanya sudah dibuka sebelum aku membacanya. Apa Ummik membacanya?
"Ummmikkk...!!!"panggilku.
Aku segera mendatangi Ummik ke dapur.
"Ummik, ummik buka chat dari Mahfudz ya?"tanyaku sambil meringis.
"Iya"jawab Ummik singkat.
"Kenapa dibuka, Mik?"kataku protes.
"Kenapa memangnya? Ummik buka karena Ummik pikir siapa tau aja ada hal penting. Cuma itu. Memangnya kenapa? Apa jangan-jangan kamu ada hal rahasia sama Mahfudz, kalian suka saling kirim foto atau vidio apa gitu?"tanya Ummik curiga.
"Astaghfirullah, Mik! Foto vidio apaan sih, Mik? Ya sudah. Lain kali Ummik jangan buka chat dari Mahfudz lagi. Raya kan malu Ummik buka chat Mahfudz yang tadi malam. Udah Raya mau ke rumah sakit aja, sekarang"kataku.
"Chat apa?"Ummik berpikir keras chat apa yang tadi malam dibacanya dari Mahfudz untukku. Sesaat Ummik tertawa ngakak.
"Chat sayang-sayangan itu tah?Yassalam.... Kirain apaan, Ray. Begitu aja segitu malunya." Ummik tertawa terkekeh-kekeh sambil meneruskan pekerjaannya di dapur.
Aku meninggalkan Ummik dengan perasaan malu bercampur sebal.
Dengan memakai motor matic akhirnya aku sampai juga di rumah sakit. Aku harus mendatangi Mahfudz pagi ini ke interna sebelum bekerja di obgyn. Setidaknya aku harus melihat wajahnya dulu hari ini.
Departemen penyakit dalam lokasinya memang tidak terlalu dekat dengan departemen obgyn. Mungkin itu sebabnya aku tak pernah bertemu dengan Mahfudz. Semua staf di departemen ini memperhatikanku, sebagian menyapaku. Staf lama pasti tau hubungan antara aku dengan dr. Ali dulu. Staf baru mungkin penasaran apakah aku kesana ingin bertemu Mahfudz.
"Bisa tolong panggilkan koass yang bernama Mahfudz?" pintaku pada salah satu perawat di nurse station.
"Di divisi apa, Dok?"tanyanya.
Aduuuh, divisi apa ya? Mahfudz nggak ada kasih tau aku.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya seseorang.
Aku spontan menoleh ke arah suara itu. Sepertinya dia dokter residen.
"Dr. Raya nyariin koas Mahfudz, dok!" kata perawat itu.
Dokter itu menatapku seperti ingin tau. "Mahfudz yang tuna wicara itu?"
Aku mengangguk. Dari sekian banyak hal yang menonjol dari dirinya, apakah hanya predikatnya sebagai tuna wicara saja yang paling diingat oleh orang?
"Sepertinya dia sedang ada bersama dr. Ali sekarang. Ada apa ya, Dok?"
Aku merasa tidak senang mendengar kalau Mahfudz bersama dr. Ali. Aku tidak bisa memikirkan apa yang mungkin dilakukan dr. Ali pada Mahfudz.
"Bisa panggilkan dia sebentar? Saya perlu mengatakan sesuatu padanya."pintaku.
"Saya tidak yakin kalau mengenai hal itu, Dok. Untuk hal itu dokter tanya saja pada dr. Ali. Soalnya dia kali ini agak keras pada para koas, khususnya Mahfud. Saya nggak yakin Mahfudz bisa menemui dokter. Soalnya dia sangat sibuk. Benar-benar sibuk."
Sudah kuduga, dia pasti akan melakukan hal-hal di luar nalar seperti ini. Bersikap keras pada Mahfudz. Apa hak dan tujuannya melakukan itu?
Dengan segera aku menelpon ke ponselnya. Setelah berkali-kali ku telpon akhirnya dia mengangkat telponnya juga.
"Kamu gila? Buat apa kamu telpon aku pagi-pagi begini. Aku sedang visit bangsal!" kata Ali dari seberang sana.
"Aku ingin bicara dengan Mahfudz"kataku dengan intonasi yang siap ngegas.
Ali tertawa.
"Aku peringatkan kamu ya Ali jangan pernah menyentuh Mahfudz atau melakukan sesuatu yang buruk padanya, atau aku tidak akan pernah memaafkanmu"
"Dr. Raya...." Ali menyelaku. "Aku merasa tidak enak dengan sikapmu yang begitu. Apa salahku? Perlukah kamu melakukan ini? Aku hanya menjalankan tugasku sebagai konsulen yang membimbing dokter muda. Sekarang aku merasa kamu seperti ibunya Mahfudz yang datang memarahiku untuk sesuatu alasan yang tidak masuk akal. Tak bisakah kamu lebih santai? Kalau kamu begini terus kamu malah semakin membuatku merasa muak dan ingin menyakiti anak itu. Kamu ingin melindunginya? Atau cuma sekedar ingin memperlihatkan betapa romantisnya cinta kalian? Selama dia masih koas di departemenku aku punya wewenang penuh padanya, jangan coba-coba melakukan apa pun yang membuatku marah atau anak itu tidak akan lulus di stase IPD"
"Ali....!"
"Jangan panggil aku Ali. Panggil aku dr. Ali!"
Ali menutup telepon dengan marah. Bagaimana ini? Apa dia akan semakin mengintimidasi Mahfudz?
\*\*\*\*\*
Pov Mahfudz
Dr. Ali masuk ke IGD dengan wajah kusut merengut. Apa ada hal yang membuat suasana hatinya buruk?pikirku.
"Ini pasiennya, Dok!"kata dokter IGD menunjukkan pasien yang datang tadi malam. "Kami sudah memberikan pertolongan pertama agar sesak dan nyeri dadanya bisa berkurang".
Dr. Ali mengangguk-angguk sambil melakukan anamnesa pada pasien.
"Dr. Harun belum datang?"tanyanya padaku.
__ADS_1
"Ta-di su-dah ta-pi per-gi la-gi. Di-a su-ruh sa-ya- tung-gu dok-ter"
Dr. Ali manggut- manggut. Dan terus mengamati pasien sambil terus melakulan anamnesa. Sampai kemudian dia selesai dan berdiri.
"Ok. Ini bukan pasien kita. Bapak ini menderita decomp cordis. Yang menangani adalah dokter spesialis jantung. Tolong hubungi departemen jantung dan pembuluh darah."kata dr. Ali pada dokter IGD tadi. "Pasien ini butuh pemeriksaan EKG segera"
"Oh, baiklah, Dok!"jawab dokter itu.
Dr. Ali baru akan pergi tapi aku menahannya.
"Dok, pa-si-en-nya ju-ga bu-tuh tes u-rin dan pe-me-rik-sa-an ra-dio-lo-gi. Tu-an Go-go ju-ga men-de-ri-ta ga-gal gin-jal kro-nik. I-ni kom-pli-ka-si"
Dr. Ali berhenti sejenak mencoba mencerna dan memahami kata-kataku dengan baik. Lalu kemudian dia menjadi amat marah.
"Gagal ginjal kronik? Tunggu. Maksudmu kamu sudah mendiagnosa pasien? Dan kamu berharap melalui aku diagnosa abal-abalmu itu bisa ditindaklanjuti begitu saja? Hey, Mahfudz! Kamu jangan keterlaluan dan melunjak hanya karena kamu berhubungan baik dengan professor. Kamu itu masih koas. Lulus kedokteran aja kamu belum sudah berani mendiagnosa pasien. Dokter umum saja tidak selancang kamu dalam mendiagnosa. Kamu mau sok hebat? Sok pintar?"
Aku menggeleng frustasi. "Bu-kan, dok. Sa-ya ti-dak ber-mak-sud sok pin-tar ta-pi Tu-an Go-go i-ni a-da-lah pe-can-du mi-nu-man ber-al-ko-hol su-dah be-la-san ta-hun."
"Lalu kenapa? Alkohol juga berdampak pada kesehatan jantung. Gagal ginjal dan gagal jantung memang memiliki gejala yang sama, termasuk nyeri dada, dada sesak dan tungkai kaki bengkak. Tapi bukan berarti yang mengalami gejala seperti itu berarti menderita gagal ginjal. Kamu masih koas dan ingin mengajari saya. Itu bagaimana maksudnya? Apa kamu ingin terlihat hebat di mata Raya?"
Aku mendesah putus asa. "I-ni ti-dak a-da hu-bu-ngan-nya de-ngan Ra-ya. Pa-si-en i-ni, Tu-an Go-go mak-sud sa-ya, ju-ga se-ring bu-ang a-ir ke-cil te-ta-pi se-di-kit-se-di-kit di ma-lam ha-ri dan nye-ri sa-at bu-ang a-ir ke-cil. Ka-dang bu-ang a-ir ke-cil di-ser-*** se-di-kit da-rah. Ju-ga ter-da-pat ru-am ga-tal pa-da ku-lit"
Dr. Ali tertegun mendengar penjelasanku dan melihat kembali status pasien yang dibuat perawat IGD.
Aku menyerahkan status pasien yang kubuat sebagai koas.Dr. Ali merampasnya dari tanganku dan membacanya.
Dari tadi malam aku berusaha melakukan pendekatan pada pasien bertato yang datang dengan keluhan dada sesak dan nyeri, kakinya juga bengkak. Dari informasi yang kuterima Tuan Gogo ini adalah seorang preman yang ditakuti di daerah pasar tak jauh dari rumah sakit ini. Meski dia memakiku habis-habisan dengan kata-kata kotor tak manusiawi namun aku mendapat beberapa informasi yang bahkan tak didapat oleh perawat rumah sakit ini. Salah satunya adalah tentang kebiasaan minum alkoholnya yang sudah belasan tahun dan sering buang air kecil pada malam hari disertai sedikit darah beberapa bulan terakhir ini dan selalu dianggap sepele hingga akhirnya berdampak seperti ini. Aku juga menemukan ruam pada kulit lengan Tuan gogo
"Apa benar bapak sering buang air kecil di malam hari dan terasa nyeri saat buang air kecil? Ada darah juga?"tanya dr. Ali pada Tn. Gogo.
"Apaan sih, nji*g, kalian ribut-ribut dan tanya-tanya hal yang sama terus? Aku udah bilang semuanya sama dokter gagu itu kalau aku sering kencing di malam hari tapi terasa sakit dan cuma sedikit-sedikit. Kenapa kau tanya lagi, g*blok!!"
"Pak, yang sopan sedikit kalau ngomong. Kami harus tau semua gejala penyakit anda agar tau melakukan tindakan pengobatan pada anda."kata dr. Ali pada pasien.
"Terserah aku, g*blok!"
Dr. Ali tak menghiraukan lagi kata-kata pasien itu.
"Baiklah, kita lakukan pemeriksaan tes darah, urin juga radiologi untuk diagnosis lebih lanjut. Tapi kalau sampai perkiraanmu salah habis kamu!"
Aku menarik napas panjang dan pasrah. Hingga pada akhirnya hasil tes pemeriksaannya keluar.
Dr. Ali berkata padaku. "Ok. Kuakui kali ini kamu benar. Meskipun seandainya kamu tidak memberi tahu, saat pemeriksaan jantung pun pasti akan ketahuan kalau pasien juga menderita gagal ginjal. Dokter spesialis jantung pun pasti akan koordinasikan padaku. Jadi aku tidak perlu merasa berterimakasih padamu. Dan kamu juga jangan terlalu senang dan besar kepala. Karena semua itu cuma kebetulan."
Aku mengangguk. Aku tidak ada niat juga untuk cari muka atau cari nama dengan memberi tahunya. Tidak ada niat sama sekali untuk besar kepala dan merasa bangga berlebihan. Aku memberi tahunya hanya karena khawatir ada yang luput dan terlewat dari diagnosa penyakit pasien sehingga berdampak pada tindakan pengobatannya nanti.
"Karena kamu yang menemukan diagnosa gagal ginjal Tuan Gogo, Maka Tuan Gogo adalah pasien yang wajib kamu pegang sampai dia sembuh dan pulang ke rumahnya, kamu dengar?"
"I-ya, Dok!"
__ADS_1
Entah aku harus merasa senang karena ini seperti penghargaan bagiku atau justru merasa sebaiknya jangan senang karena Tuan Gogo adalah pasien yang galak dan menakutkan apalagi dengan caci makian dan sumpah serapahnya membuat aku jadi garuk-garuk kepala sendiri. Namun satu yang pasti. Pasien seperti apa pun dia, kesehatan dan keselamatan mereka adalah prioritas. Karena itulah kami berada di sini.