
"Ibu Raya Effendi!"
Aku segera masuk ke ruangan itu. Ruangan Dr. Gayatri Sp.OG.
"Hai Vero, vero, veronica!"
Aku menyapa Vero, perawat asisten dr. Gayatri dengan bersenandung. Vero tersenyum. Dia memang kalem seperti biasanya.
Di sini ternyata ada beberapa anak koas.
"Ibu Raya Effendi. Kirain siapa. Sekalinya anak nakal ini. Kamu nggak bilang kalau dr. Raya yang mau periksa ...." kata dr. Gayatri menyalahkan Vero.
Aku tersenyum lebar. "Aku yang larang Vero jangan kasih tau, biar surprise!!!" kataku.
"Kamu isi?" tanya dr. Gayatri.
"Iya, donk. Ngapain aku ikut antrian kalau nggak mau kontrol. Aku mau dr. Gayatri yang jadi Sp.OG -ku sampai lahiran," kataku.
"Kalau lahiran sih, Ok minta bantuan Sp.OG lain, tapi kalau buat checki-checki USG, mosok kamu nggak bisa sendiri?" kata dr. Gayatri.
Aku berdiri dan memeluk dr. Gayatri. "Nggak mau, aku mau punya Sp.OG sendiri selama hamil. Aku mau dr. Gayatri yang nanganin aku dari hamil, sampai lahiran," kataku manja.
"Hadeeh, ya sudah langsung periksa aja. Tensi dulu, Rin!" suruh dr. Gayatri pada asistennya itu.
"110/90, Dok!"
Aku mengernyitkan keningku.
"Ayo, berbaring. Katanya mau diperiksa."
Aku manut saja dan naik ke ranjang.
"Beda memang kalau nikahnya sama brondong, ya. Cepat jadinya," godanya.
"Dokter!" protesku. "Aku malu! Jangan ngomong gitu,"
"Elleh, malu- malu segala. Kayak sama siapa aja," tawanya.
Dr. Gayatri adalah salah satu Sp.OG juga di rumah siaga ini. Dia juga adalah dokter senior obgyn. Yang umurnya berkisar 15 tahun dariku. Dulu, saat aku masih jadi residen Obgyn di sini, beliau adalah yang paling banyak membantuku jika ada yang tidak ku mengerti. Beda sekali dengan dr. Samuel yang sedikit agak galak pada residen dan koas. Kadang dr. Gayatri juga yang menyelamatkanku dari amukan dr. Samuel kalau ada tindakanku pada pasien yang kurang sempurna di matanya. Namun, pada akhirnya didikannya yang keras itu yang berhasil membuatku menjadi salah satu dokter spesialis obstetri dan ginekologi termuda di rumah sakit ini.
"Kamu kenapa periksanya nggak ke dr. Samuel?" tanyanya menggodaku.
"Haaa? Nggak, ah. Nggak kebayang dr. Samuel marahin aku. Kamu pasti nggak rutin minum asam folat kan? Kamu kebanyakan beraktivitas! Kakimu bengkak, kenapa ini bisa terjadi? Tekanan darahmu naik kamu pasti terlalu banyak konsumsi garam, dan bla .... bla ... bla .... Aduh, yang ada bumil ini pasti pusing, Dok!" keluhku.
Dr. Gayatri menertawakan khayalanku kalau aku periksa ke dr. Samuel.
"Kamu bisa aja, Ya" katanya.
Dr. Gayatri memang biasa memperpendek panggilan namaku, dengan "Ya" dari pada "Ray".
Aku merasa dingin di kulitku saat dr. Gayatri mengoleskan gel pada perutku. Ah, ternyata begini rasanya jadi pasien obgyn. Aku tertawa geli dalam hatiku.
Dr. Gayatri mulai menekan-nekan probe pada perutku.
"Usia kehamilan sudah 7 minggu ini. Ah, ada yang janggal ini ...."
"Haaa? Apa yang janggal, Dok?" tanyaku cemas sambil melihat ke arah monitor.
"Kamu kayaknya nikah baru sekitar 4 atau 5 minggu deh, Ya? Kok, udah hamil aja? Udah 7 minggu lagi. Hamil duluan, ya? Kamu sama Mahfudz .... anu duluan, ya?"
Wajahku bersemu merah mendengarnya.
"Dokter, jangan ngomong gitu, nanti ada yang nggak paham, dikira aku benaran hamil duluan, gimana?" kataku sambil lirik-lirik para anak koas. Mereka terlihat senyum- senyum mendengar konsulennya menggoda aku.
Dr. Gayatri tertawa ngakak mendengar kepanikanku.
Sebenarnya aku tidak perlu khawatir akan candaan dr. Gayatri itu, sebab di ruangan ini semuanya adalah tenaga medis dan calon tenaga medis yang sudah pasti tau caranya menghitung usia kehamilan. Jelas saja usia kehamilanku sudah masuk 7 minggu walaupun aku menikah dengan Mahfudz baru 5 mingguan yang lalu, sebab usia kehamilan tidak dihitung dari hari pertama berhubungan badan melainkan dari HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Maka jangan heran jika ada seorang wanita yang baru menikah dua minggu namun usia kehamilannya sudah masuk satu bulan lebih. Itu terjadi pada diriku. Aku haid terakhir dua minggu sebelum aku dan Mahfudz menikah. Sementara ovulasi pada wanita rata-rata terjadi dua minggu setelahnya. Jika pada masa ovulasi ini sel spema bertemu dengan ovum maka pembuahan akan terjadi sehingga terjadilah kehamilan. Namun tentu saja harus dipahami kalau usia kehamilan dan janin itu adalah sesuatu yang berbeda. Biasanya usia kehamilan terpaut dua minggu dari usia janin. Jadi jika dilihat dari yang terjadi padaku, berarti usia janinku saat ini baru menginjak 5 minggu.
"Semua terlihat baik-baik saja dan sehat, Ya. Jangan khawatir. Embrionya sudah terlihat dan detak jantungnya sudah ada, kamu mau dengar?"tanyanya.
Aku mengangguk antusias.
__ADS_1
Dr. Gayatri memperdengarkannya padaku melalui fetal doppler. Ya Allah, aku merasa takjub mendengarnya sampai tak bisa berkata apa-apa. Mataku berkaca-kaca mengetahui ada calon kehidupan baru yang bertumbuh di rahimku.
"Kamu nggak ajak suamimu?" tanya dr. Gayatri membuyarkan rasa haruku.
"Hmmm .... Dia lagi ke kampusnya. Dia nggak tau aku USG." kataku dengan suara yang tercekat di tenggorokanku.
Memang harusnya Mahfudz ikut mendengarkan suara detak jantung anaknya. Dia pasti akan sangat senang mendengarnya.
Aku keluar dari ruangan dr. Gayatri dengan rasa yang sangat bahagia dengan print hasil USG di tanganku. Tapi sepertinya tadi aku merasa ada yang janggal, apa ya? Aku menoleh ke belakang berharap menemukan jawabannya. Namun tetap saja aku tidak ingat apa yang janggal dan sempat terlintas dalam pikiranku tadi.
\*\*\*\*\*\*
"Aku sudah menemukan pemilik nomor plat truk itu," kata Fuad.
Siang ini dia datang menemuiku di kantin rumah sakit.
"Oh, ya? Ceritakan!" pintaku.
"Itu nomor plat daerah tempat Mahfudz ditugaskan koas akhir- akhir ini. Pemilik truk itu sepertinya cukup dikenal di sana. Dia lumayan kaya. Beberapa tahun lalu dia juga sempat masuk siaran televisi nasional karena satu kasus. Jadi cukup gampang mencari tau dirinya di google" katanya.
"Kasus apa?" tanyaku.
"Kasus penyelundupan trenggiling. Kamu tau? Kawasan itu memang di kenal banyak trenggilingnya," katanya.
"Jadi menurutmu Waridi terlibat penyelundupan trenggiling?" tanyaku.
"Kemungkinan besar seperti itu" kata Fuad. "Kalau kita bisa tau di mana gudang baru mereka, dan kita bisa membuktikan ada sisik trenggiling dengan berat hitungan ton, sudah pasti Waridi bisa kita taklukkan," kata Fuad bersemangat.
"Kamu sudah cari tau tentang Ayuni?" tanyaku.
Fuad mendesah.
"Aku sudah beberapa kali mencoba untuk memata-matai rumah wakil walikota Waridi. Tapi sepertinya sulit mendapatkan informasi dari sana. Rumah itu dijaga ketat. Siang malam hanya penjaga yang berkeliaran di sekitar rumahnya. Yang bernama Ayuni itu jangankan bertemu, melihatnya langsung pun aku tak pernah," keluhnya.
"Kalau kamu tak bisa mencari tau tentang Ayuni, sebaiknya kita batalkan saja kerja sama menyelidiki Waridi. Terus terang saja aku tidak tertarik soal kulit atau sisik trenggiling. Mau Waridi terlibat atau tidak rasanya aku tidak. perlu tau dan tidak mau tau. Aku cuma perduli kasus pelecehan dan kekerasan seksual yang dilakukannya. Aku sebagai wanita tidak bisa membiarkan lelaki bejat itu berkeliaran. Tapi kalau memang kamu tidak bisa mencari tau apa pun tentang Ayuni, kita akhiri saja ini. Terus terang aku mengkhawatirkan anak yang kukandung jika terlibat dengan Waridi. Tapi kalau memang ini berurusan dengan kemanusiaan apalagi penindasan terhadap kaum wanita, aku bisa menyingkirkan kekhawatiran itu," kataku.
Sebenarnya itu cuma alasanku pada Fuad. Aku ingin berhenti main detektif-detektifan seperti ini. Aku merasa tak perlu melakukan hal yang tak penting ketika aku mendengar suara detak janin yang ku kandung tadi. Aku ingin fokus pada kehamilanku saja.
"Hey, Kakak Ipar! Kenapa kamu itu egois sekali? Penyelundupan trenggiling pun adalah perbuatan yang merugikan negara. Trenggiling itu hewan langka. Kita sebagai manusia juga wajib melindungi mereka. Di mana peri kehewananmu?"
"Ya, sudah kita akhiri saja dulu pembicaraan kita sampai di sini. Ada orang usil yang datang ke sini. Aku tidak mau dia kepo dengan urusan kita dan mengatakannya pada Mahfudz. Mahfudz tidak akan suka aku terlibat urusan Waridi lagi." kataku pelan.
Fuad sepertinya paham. Dia bangkit dari duduknya.
"Hey, Mahfudz! Kau sudah pulang dari rumah sakit jejaring?" sapa Ali.
Fuad memilih diam dan akan pergi.
"Tunggu sebentar," kataku. "Tolong berikan pada Mama."
Fuad menoleh. Aku membuka tasku mengeluarkan hasil print USG dan memberikannya pada Fuad.
"Hmmmm ...." Fuad mengangguk dan pergi.
Aku juga akan pergi karena malas melihat wajah Ali.
"Jadi, benar kan kataku? Kamu memang hamil!"
Oh, my God! Apa pedulimu? kataku dalam hati.
Aku menoleh padanya dan tersenyum. "Kamu benar, Ali! Terima kasih karena sudah memberi tahuku. Kamu sangat berjasa sekali!" kataku.
Setelah itu aku meninggalkannya dengan wajah kusut. Namun sempat ku dengar dia tertawa. terkekeh.
\*\*\*\*\*
Pov Ali
Aku tertegun sepeninggalan Raya. Aku masih duduk di meja di tempat di mana tadi dia sedang mengobrol dengan suaminya, Mahfudz. Tapi kenapa Mahfudz terlihat aneh? Dia seperti bukan Mahfudz. Dari jauh tadi sebelum aku menghampiri mereka. Aku sudah melihat mereka berbincang. Meski aku tak mendengarnya tapi aku merasa mereka berbicara sangat lancar. Dia bukan seperti Mahfudz yang memiliki gangguan bicara.
Raya juga akhir-akhir ini aneh sekali. Dia sering berkunjung ke departemen penyakit dalam. Tidak mungkin dia ke sana karena rindu padaku kan? Meski pun aku sering mengoloknya begitu tapi aku juga berpikir sangat logis kok. Raya itu keras kepala. Kalau dia bilang tidak suka padaku, selamanya dia tidak akan suka. Lalu buat apa dia sering ke departemenku? Sebelumnya dia menuduhku memberikannya kado bangkai kucing? Apa-apaan itu?
__ADS_1
Kalau dia curiga padaku karena aku datang ke pesta pernikahannya tanpa menemuinya, aku punya alasan tersendiri. Aku kesana hanya ingin melepas perasaan dalam hatiku meskipun aku tak sanggup menemuinya. Tetapi mengirim bangkai kucing? Aku juga tidak sejahat itulah.
Aku berpikir-pikir terus dan terus. Hingga ku ingat beberapa bulan lalu saat Raya diculik. Aku dengar beritanya heboh di dunia maya karena ada vidio seorang dokter sedang disekap.
Aku segera membuka ponselku. Dan mencari dengan kata kunci "dokter disekap". Dan hasil yang keluar banyak. Namun untungnya aku menemukan vidio dari channel asli yang mengunggah vidio itu pertama kali.
Aku kaget. Channel bernama Fuad Techno itu pemiliknya benar- benar berwajah mirip dengan Mahfudz. Dan juga dengan kemampuan berbicara yang normal malah tergolong lancar.
Siapa dia? Apa dia kembarannya? Apa Mahfudz kembar?
Pertanyaanku segera terjawab mana kala aku melihat orang dengan wajah sama namun dengan pakaian yang berbeda baru saja tiba dengan motornya di parkiran.
Jadi, Mahfudz itu beneran kembar?
Seketika sebuah senyuman tersungging di bibirku. Pasti sebentar lagi ini akan jadi drama yang menarik sekali.
"Fud!!!!" panggilku.
Kantin memang berada tak jauh dari parkiran.
Mahfudz menoleh.
"Sini!!!" panggilku.
Meski kesal padaku, aku yakin dia akan tetap datang kalau ku panggil. Aku masih konsulennya untuk beberapa minggu ke depan.
"A-da a-pa?" tanyanya.
Dasar tidak sopan sekali. Kau harusnya mengatakan "ada apa dokter?", harusnya begitu kan?
"Fud, kau ganti baju lagi? Cepat sekali," kataku pura-pura.
"A-pa mak-sud-mu?" tanyanya tanpa basa- basi.
Aku pura-pura bingung.
"Loh, kamu dan Raya baru dari sini, kan? Baru aja sekitar tiga menitan yang lalu," kataku.
"A-pa mak-sud-mu? A-ku ba-ru sa-ja sam-pai di-si-ni. Ka-u sen-di-ri me-li-hat-ku da-ri par-ki-ran" katanya kesal.
"Oh, astaga. Jadi itu siapa? Benar-benar mirip sekali denganmu. Dia dan Raya baru dari sini, serius. Mereka berpegangan tangan dan saling tersenyum. Kau boleh tanya ibu kantin kalau kau tak percaya. Mereka benaran dari sini. Jadi itu bukan kamu, Fud?" kataku prihatin.
Aku mulai melihat wajahnya yang mulai marah. Ayo marahlah, lebih marah lagi!
"Aku pikir itu kamu. Selama ini kan kamu dan Raya selalu romantis dan mesra. Kantin ini juga katanya jadi saksi cinta kalian. Dan aku juga dengar pelukan pengantin baru di poliklinik maghrib kemarin. Jadi wajar saja kalau aku berpikir orang yang baru saja di sini tadi kamu. Soalnya mereka juga terlihat romantis. Jadi itu bukan kamu, Fud?"
Aku melirik lagi pada ekspresinya yang mulai gerah padaku.
"Kalau itu beneran kembaranmu, berarti bahaya sekali kalau ada affair antara ipar, kasihan sekali kamu, Fud. Bukan aku yang menikungmu, tapi saudaramu sendiri!" kataku memanas-manasinya.
Mahfudz mengambil gelas yang masih berisi setengah air minum bekas Raya tadi dan menyiramnya padaku.
"Ja-ngan bi-ca-ra sem-ba-ra-ngan. Aku pe-ri-ngat-kan ka-mu!" ancamnya dan membalikkan badannya bersiap untuk pergi.
Aku tidak terima ini.
"Dia juga memberikan print USG pada saudaramu itu ...." kataku.
Tebakanku, Mahfudz mungkin belum tau kalau Raya USG. Kalau tebakanku benar, Mahfudz pasti akan berhenti dan membalikkan badannya.
1 .... 2 .... 3 ....
Mahfudz membalikkan badannya dan melihat ke arahku. Meski tak mengatakan apa pun, aku tau dia menunggu informasi lebih.
"Aku tidak bohong. Raya memang memberikan print USG padanya, kau tidak tau? Haaa?" Aku pura- pura terkejut.
Mahfudz terlihat berpikir.
"Oh, ya ampun, Mahfudz! Jangan- jangan kau bahkan belum pernah ikut menyaksikan proses USG calon anakmu, atau .... Sebenarnya itu bukan anakmu? Maksudku .... Siapa tau saja, saudaramu dan Raya, maksudku Raya tidak mungkin wanita seperti itu. Dia perempuan baik- baik yang selalu menjaga kesuciannya. Tapi siapa yang bisa membedakan kamu dan kembaranmu? Kalian benar- benar mirip! Barangkali saja saudaramu pernah menggantikanmu di tempat tidur tanpa sepengetahuan Ray .... a,"
Sebuah bogem mentah melayang di wajahku. Mahfudz memukulku. Aku merasakan ada darah yang menetes dari hidungku.
__ADS_1
Aku melihat wajah itu benar- benar murka dan marah sekali karena kata-kataku.
Aku tertawa terkekeh. Baru begitu saja, kau sudah sakit hati. Apalagi aku yang kehilangan Raya selamanya?