I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Keluarga Kecilku


__ADS_3

POV Mahfudz


"Ayah, Ayah kok sekarang jarang pergi kerja sih? Lagi cuti ya?" tanya Haikal di sela-sela kegiatanku meladeninya bermain monopoli di rumah sore ini.


Aku tersenyum. Tak ingin menjawab dengan membohonginya, meski pun pada akhirnya senyumku itu disalahpahaminya sebagai sesuatu jawaban mengiyakan atas pertanyaannya itu.


"Benarkah? Cutinya tumben lama ya, yah? Biasanya juga paling lama dua hari, kecuali cuti lebaran, bisa semingguan. Tapi ini kan nggak ada tanggal merah kayaknya," katanya sambil mengingat-ingat.


"Kenapa memangnya? Haikal nggak suka Ayah ada di rumah sering-sering?" tanyaku pura-pura sedih.


"Ya, suka donk! Haikal senang kalau Ayah sering-sering ada di sini, kalau bisa tiap hari jadi Haikal ada temannya main kayak begini sama Ayah. Nenek mah nggak bisa main monopoli. Apa lagi Laila, apaan! Malah Haikal di ajak masak-masakan. Ogah banget Haikal, Yah ..." oceh putra sulungku itu.


"Terus, Haikal kenapa nanya-nanya soal ayah cuti berapa lama?" pancingku


"Ya iya, donk Haikal harus mengingatkan Ayah. Biasanya selama ini saat Ayah sibuk kerja, kalau Haikal minta ayah buat sempatin libur, ayah jawabnya begini. 'Ayah bukan nggak mau sering-sering libur, Haikal. Tetapi pekerjaan ayah ini selain untuk mencari uang untuk kita sekeluarga, juga demi kemanusiaan. Banyak yang butuh tenaga Ayah. Di saat kita sering-sering berlibur, tertawa dan bersenang-senang, di saat itu juga ada pasien ayah yang sedang kesakitan di rumah sakit, nanyain kapan ayah datang untuk meringankan sakitnya dia, kan kasihan?' Begitu kan ayah bilang?" tanya Haikal mengulangi kata-kata yang pernah kuucapkan padanya dengan hampir sama persis.


Aku tersenyum dan mengangguk.


Haikal saat ini memang sudah berusia jelang 8 tahun. Dia sudah duduk di bangku kelas 2 SD. Di usia itu rasa ingin tahunya akan sesuatu sangatlah besar bahkan melebihi rasa ingin tahu anak-anak sebayanya. Sekedar informasi, Raya memang menyekolahkannya lebih awal dari usia yang distandarkan pemerintah untuk seorang siswa memasuki bangku sekolah dasar, yaitu di usia kurang dari 6 tahun. Ini salah, yup! Itu benar.


Di waktu itu Raya yang baru saja melahirkan Laila, hanya cuti selama 3 bulan, pihak RSIA Satya Medika yang bekerja sama dengan pemerintah kota, menuntutnya untuk kembali bekerja. Meski waktu itu kontrak sudah diperbaharui, tidak ada lagi kesalahan dalam pengetikan seperti yang terjadi di masa ia sedang mengandung Haikal, tetapi Ummi tetap mendorong Raya untuk bekerja, sebagai wujud dari tanggung jawabnya pada profesinya.


Sementara itu Ummik menawarkan menjaga Laila yang masih berusia 3 bulan beserta Haikal. Dengan meninggalkan ASIP di rumah, Raya bisa tetap bekerja. Tetapi kemudian saat Laila mulai berusia satu tahun dan sedang aktif-aktifnya, Ummi sendiri mulai kewalahan menjaga Laila dan Haikal sekaligus, hingga kemudian terbitlah ide itu, menyekolahkan Haikal di SD tak jauh dari rumah meski usianya belum mencukupi 6 tahun. Dengan begitu saat Haikal sedang berada di sekolahan, Ummi jadi memiliki sedikit waktu agak lapang untuk mengurus Laila dan dirinya sendiri.


Jadi jangan heran di usianya yang masih muda seperti ini dia memiliki sikap yang kritis sama persis seperti bundanya, Raya.


Ckiiiit!!Trrtrrttttt!!!


Suara pagar depan seperti ada yang membuka dan mendorong.


"Bunda, Yah!" pekik Haikal.


Aku mengangguk. Tentu saja itu Raya, siapa lagi? Apalagi tak lama aku segera mendengar suara mesin mobilnya kembali dinyalakan dan terdengar memasuki garasi samping rumah. Raya memang seperti itu. Meski dia tahu ada orang di dalam rumah, tak lantas dia hanya mengandalkan klakson mobil untuk menyuruh orang di dalam rumah untuk membukakan pagar. Dia selalu melakukannya sendiri. Dia istriku yang mandiri.


Tak lama terdengar suara sepatu stiletto-nya menapaki lantai keramik di teras depan. Haikal pun segera beranjak dari duduknya ingin membukakan pintu.


"Sebentar, ya Yah. Haikal bukain pintu buat Bunda dulu. Jangan curang loh!" katanya mewanti-wantii.


Aku hanya tertawa kecil.


"Assalamualaikum!!" terdengar suara halus nan lembut itu mengucapkan salam. Mendengar suara itu tak pernah membuatku bosan. Suara yang selalu menenangkan dan membuat hatiku teduh setiap kali mendengarnya.

__ADS_1


"Waalaikumsalam," ucapku meski tak terdengar olehnya yang masih berada di depan.


"Waalaikumsalam, Bund. Tunggu sebentar, Haikal bukain pintunya!" sahut Haikal sambil berlari kecil.


Aku tak ikut menyambutnya ke depan. Sambil menunggu mereka, aku mengganti channel televisi yang sedari tadi menyala tapi tidak ada yang menonton. Saat itulah aku melihat berita infotainment yang menayangkan berita tentang para wartawan yang mendatangi Raya hingga ke rumah sakit.


Sumpah ya, para wartawan itu ... aku geram sendiri melihat kelakuan mereka. Mendengar mereka menyerang Raya dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengesalkan benar-benar ingin membuatku marah. Dan apa-apaan itu? Aku tambah kesal saat tiba salah seorang wartawan yang bahkan membawa-bawa dr. Yasmine sebagai pelengkap gosip untuk disandingkan denganku. Mereka ini memang mau aku bertengkar dengan istriku atau gimana sih? Apa tidak bisa senang melihat hidup kami bahagia? Ckckck, aku tak habis pikir.


"Wah, Haikal dan Ayah lagi ngapain aja dari tadi?" Suara Raya kini terdengar mendekat. Aku segera mengganti channel televisi ke siaran yang tidak membuat Raya menjadi semakin pusing nanti


Kedua orang tersayangku itu sedang berjalan saling berangkukan memasuki ruang keluarga.


"Main monopoli, Bun. Bunda mau ikutan nggakk?" tanya Haikal.


Raya mengacak-acak rambut bocah yang menjadi kesayangan kami itu.


"Pengen sih, tapi entar malam aja kali, ya. Bunda capek. Mau mandi dulu. Banyak kumannya badan Bunda ni," jawabnya agar tak membuat Haikal kecewa.


"Yahh, Ok deh kalau begitu. Kalau begitu Haikal lanjut main lagi aja sama ayah," katanya.


Raya mengangguk dan kini menghampiriku yang duduk di ambal bawah. Seperti biasanya, dia selalu mencium tanganku sebelum berpisah untuk pergi kemana pun dan saat pulang dari mana pun.


"Hai, Ayah. Gimana rasanya jadi pengangguran di rumah?" tanyanya sambil tertawa kecil.


"Lumayanlah, jadi bapak rumah tangga di rumah, nungguin istri pulang kerja sambil nunggu setoran.Bun, dapat berapa hari ini?" balasku berseloroh sambil tertawa pula.


Raya mencubit pelan lenganku.


"Ihh, ayah ini!"


Aku terkekeh menanggapi responnya yang kelihatan sebal itu.


"Laila mana? Ummik mana?" tanyanya.


"Ummik lagi ke pengajian kayaknya. Ayah udah Laila ikut tadi, tapi Laila tetap mau ikut sama neneknya, gimana donk?" kataku tak mau disalahkan.


Raya mengangguk-angguk.


"Mudah-mudahan aja Laila, nggak ngerusuhin Ummik di pengajian," katanya.


Laila memang tumbuh sebagai seorang anak yang luar biasa aktif. Sangat berbeda dengan Haikal yang lebih kalem dan bersahaja.

__ADS_1


"Ayah yakin nggaklah. Dia kan kalem kayak ayahnya, hahaha!" selorohku.


"Ihh, nggak kebalik tub? Ayah sama anaknya kan tukang ngerusuh," jawabnya.


"Heiiii, kapan ayah suka ngerusuh. Bunda ralat kata-kata bunda tuh ya, atau entar benar-benar ayah rusuhin nih," kataku tak terima sambil mengedipkan sebelah mataku padanya memberi kode untuk kami dapat melakukan hal-hal menyenangkan nanti malam. Setelah Haikal dan Laila tertidur tentu saja.


"Ayah!!!" protes Raya sambil menempelkan telapak tangannya di wajahku.


Tingkah kami yang saling kode mengkode satu sama lain malah mengundang protes dari Haikal yang tak mengerti pembicaraan ayah dan bundanya mengarah kemana.


"Ih, ayah dan bunda ngapain sih, aneh!" gerutunya membuatku malah tertawa terbahak-bahak.


"Tuh, kan ayah siiih ..." omel Raya. "Udah deh, Bunda mandi dulu, ya ..." pamitnya sebelum ia menuju ke kamar.


Setelah dia masuk ke dalam kamar, aku yang hendak mengikutinya masuk kamar tertegun saat channel televisi yang kuganti tadi menayangkan sekilas info berita tentang Raya yang didatangi oleh wartawan tadi ke rumah sakit. Seorang wartawan menanyakan sesuatu yang membuatku merasa lemas seketika.


"Dr. Mahfudz katanya udah beberapa hari nggak masuk kerja. Bahkan di TV17 pun dokter Mahfudz nggak siaran kemarin. Menurut kabar yang saya dengar katanya dr. Mahfudz tersandung kasus mal praktik, bener nggak tuh, Dok?"


Ya Tuhan, apakah berita itu telah tercium hingga ke media seperti ini?


"Ayah, itu Bunda, kan? Bunda masuk TV lagi?" tanya Haikal polos. "Kok bukan ayah yang siaran?"


Aku tak kuasa menjawab pertanyaan Haikal. Mataku fokus tertuju pada wartawan-wartawan itu yang semakin mengeroyok Raya dengan pertanyaan yang memojokkan. Hingga akhirnya Ali datang menyelamatkannya.


"Bun!!! Bunda!!! Lihat deh, Bunda masuk TV," teriak Haikal memanggil Raya.


"Eh, Haikal ... Haikal ... Ssssttt!!" Aku memberi Haikal kode untuk diam dengan menempelkan telunjuk di bibirku. Kemudian aku menatapnya dengan serius sambil menggeleng.


"Kenapa?" tanyanya tak mengerti. "Bunda masuk TV loh, Yah!"


Aku mengambil remot dan mematikan televisi, kemudian sambil tersenyum aku memberikan pengertian padanya bahwa tidak semua berita di TV itu adalah berita baik.


"Pokoknya, nggak usah kasih tau Bunda atau nenek," kataku pada Haikal.


Meski belum mengerti Haikal akhirnya mengangguk.


Ya Tuhan, akhirnya masalahku sekarang membebani Raya. Semoga tak berdampak ke profesinya, batinku


***


Terima kasih ya, reader, buat kalian yang masih setia baca novel ini. Maaf kalau alurnya lambat. Semoga kalian mengerti. Author sedang menggarap 3 novel sekaligus. Kenapa nggak satu-satu, Thor? Masalahnya satu novel kadang bisa menghabiskan waktu 7 bulan bahkan 1 tahun lebih, keburu ide di otak menguap karena tak dituangkan dalam bentuk tulisan. Apalagi kalau satu novel yang mengapresiasi cuma dikit, waahh makin nggak semangat othor makanya kadang othornya lebih banyak berkutat di novel yang lebih banyak diapresiasi pembaca. Gituuuu reader sayang-sayangku. Apalagi kalau kalian mulai malas ninggalin jejak berupa like dan komentar, makin nggak semangat, sumpah! Udah nggak dapat penghasilan dari sini, readernya juga apatis, kurang apresiasi dari reader. Membuat author jadi lelah sendiri. Hayati lelah abang hihihi...

__ADS_1


Maaf pidatonya panjang ya... maaf, maaf... 😀😂


__ADS_2