
"Itikad baik katamu?" geram sang Ibu.
Raya mengangguk dengan tegas.
"Ya, itikad baik! Oleh karena itu kami sekeluarga datang kemari ingin membahas permasalahan yang terjadi pada anak Ibu dan mencari jalan keluarnya!" kata Raya sambil menunjuk pada Ummi yang memeluk Haikal dan Laila yang ketakutan karena adegan sang ibu orang tua pasien yang menyerang ayah mereka dengan membabi buta.
Ibu itu menatap Haikal dan Laila dengan seksama.
"Anak-anak yang terlihat lucu-lucu pintar dan menggemaskan ... hahaha ... Kamu pasti datang kemari untuk menawarkan kesepakatan pada kami kan agar melupakan masalah fatal yang dilakukan suamimu pada anakku?? Iya, kan?" tanya sang Ibu dengan nada marah menantang.
Raya sempat terdiam. Dalam hatinya dia berpikir bagaimana sebaiknya membujuk ibu ini. Kelihatannya sang ibu sangat keras kepala sekali. Apa yang harus dilakukannya kali ini?
"Kamu pasti takut anakmu kehilangan waktu berharga dan kasih sayang dengan ayahnya, iya kan?" tanya sang Ibu sinis.
Raya menghela napas frustasi.
"Ibu! Tolong dengarkan saya," bujuknya. "Benar yang ibu katakan, saya datang ke sini meminta dan memohon belas kasih dan pengampunanmu andai suami saya benar-benar bersalah pada anak Ibu. Tapi saya sangat mengenal suami saya, Ibu! Dia bukan orang yang ceroboh! Dia teliti dalam pekerjaannya, saya bisa menjamin itu! Kalau pun ada kesalahan yang dia perbuat, saya yakin dia bukan sengaja melakukan itu, Ibu!" kata Raya mencoba membela Mahfudz.
Sementara itu Mahfudz masih diam. Amarah sang Ibu yang menggebu-gebu membuatnya memutuskan untuk menyerahkan persoalan ini dulu sementara pada Raya. Mereka adalah sesama wanita dan yang terpenting adalah sama-sama seorang Ibu. Semoga melalui pendekatan bicara dari hati ke hati sang Ibu akan mau mendengarkannya.
__ADS_1
"Oh ... begitu menurutmu? Jadi menurutmu suamimu ini adalah malaikat yang tak pernah membuat kesalahan?" tanya sang Ibu keras
"Aku tidak ngomong seperti itu," kata Raya membela diri.
Sebenarnya Raya merasa kalau dia dan wanita ini seumuran. Hanya saja karena wanita ini adalah ibu dari pasiennya suaminya Mahfudz, Raya juga merasa berbicara dengan nada sedikit formal.
"Kamu tahu suamimu ini saat melakukan operasi pada anak saya sedang mengantuk? Tau nggak???!!!" bentak sang Ibu penuh amarah. Jari telunjuknya bahkan menunjuk-nunjuk Mahfudz sekarang.
Lagi-lagi Raya terdiam. Pada saat kejadian dia bahkan tak ada di TKP (Tempat Kejadian Perkara). Jadi mana mungkin dia bisa membela Mahfudz dan membantah kalau Mahfudz sebenarnya tidak mengantuk? Terlebih-lebih dia sebenarnya mengakui kalau pada malam itu, Mahfud sepertinya memang sangat merasa kelelahan dan terlihat menguap beberapa kali.
"Ibu, tolong!! Saya akui saya memang dalam keadaan sangat merasa kelelahan saat melakukan tindakan apendektomi itu diakibatkan padatnya jadwal saya bekerja. Tapi sungguh, saya saat melakukan tindakan itu sedang dalam kondisi tidak mengantuk atau dengan kata lain saya sangat sadar, sesadar-sadarnya. Saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Apendektomi itu berhasil saya lakukan dengan baik dengan sangat fokus, sumpah, Bu!" kata Mahfud bersungguh-sungguh ingin meyakinkan sang Ibu.
Tetapi lagi-lagi sang Ibu tidak percaya.
Semua orang yang berada di ruang Pak Prabu spontan langsung menarik napas mendengar sang Ibu yang terus mengomel dan marah-marah tak jelas. Sungguh Ibu yang sangat keras kepala dan tak mau diberi alasan.
"Ibu, menguap tak berarti mengantuk.Tolong percayalah. Saya benar-benar serius melakukan pekerjaan saya waktu itu. Saya tidak pernah menganggap main-main setiap tindakan yang saya lakukan. Begini saja, dari pada meributkan hal yang telah terjadi, bagaimana kalau kita cari solusinya saja, Bu? Saya dengar katanya dr. Pretty telah melakukan tindakan ulang untuk membersihkan kembali rongga perut Afri yang telah bernanah. Apa betul begitu?" tanya Mahfudz.
"Kamu gampang ngomong begitu karena bukan anakmu yang di posisi itu! Coba saja anakmu yang ada di posisi itu, apa mungkin segampang itu kamu ngomong jalan keluar, haa? Jalan keluar apa, Dokter? Sampai saat ini anakku Afri masih kritis!!! Dia belum sadar dari beberapa hari yang lalu dan kau hanya bksa bersembunyi tak dapat ditemui!! Dokter seperti apa kamu, hmm???" katanya dengan marah. Kali ini air matanya bahkan sampai keluar tak kuat menahan emosi rasa yang tak bisa diungkapkannya karena sedih dan marah yang membuncah dalam dadanya.
__ADS_1
Melihat sang ibu dalam kondisi krisis emosi yang memprihatinkan Raya spontan berinisiatif memeluk sang Ibu. Hati nuraninya sebagai ibu sangat tersentuh dan bisa merasakan sakit yang dirasakan oleh Ibu itu.
"Ibu, tolong biarkan kami menjenguk Afri, ya?" bujuk Raya lembut.
Emosi yang sempat datang tadi hinggap di dalam hatinya tiba-tiba menguap. Yang ada hanya rasa kasihan, empati dan perasaan sakit yang dirasakan oleh seorang ibu yang anak sedang terluka.
"Kami datang dengan maksud baik. Kalau Ibu benar-benar marah dengan suami saya, setidaknya biarkan saya yang menjenguk Afri. Saya ingin menyemangati bidadari kecil Ibu itu dari dekat. Saya ingin membisikkan di telinganya kata-kata penyemangat, dan agar dia tahu dia punya ibu yang hebat yang selalu ada untuknya dan menantinya untuk sehat kembali. Boleh ya Bu?" bujuk Raya lagi.
Pengalaman sebagai dokter selama belasan tahun tentunya membuat Raya memiliki kemampuan berempati pada kesedihan pasien. Dia sering melihat pasiennya yang menangis histeris karena kehilangan anak yang dikandungnya saat melahirkan, saat keguguran dan saat kehamilannya mengalami still birth (kondisi janin meninggal di dalam kandungan, saat kehamilan menginjak usia 20 minggu ke atas). Dan Raya bahkan pernah mengalaminya. Kehilangan Annisa, janin yang di kandungnya sempat menjadi pukulan berat baginya.
"Boleh ya?" tanya Raya lagi masih memeluk sang Ibu dengan erat.
Hingga akhirnya ibu dari pasien anak bernama Afri itu mengangguk pertanda mengijinkan, Raya barulah bisa bernapas lega. Raya memberikan kode pada Mahfudz dan Ummi untuk membiarkan dia dan wanita itu menjenguk Afri ke ruang ICU.
"Wahhh, dia anak yang cantik sekali," puji Raya begitu mereka ada di ruang ICU dan telah berganti pakaian steril. "Sayang, kenalin ini tante Raya. Tante datang kesini untuk menjenguk kamu loh. Kamu senang nggak?" tanya Raya seakan mengajak anak itu berdialog.
Perawat yang sedang berjaga di ruangan itu, melirik dan dalam diam memperhatikan gerak-gerik Raya. Lalu perlahan dia pun mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu pada kolom chat aplikasi WA-nya.
[Istrinya dr. Mahfudz menjenguk anak itu]
__ADS_1
***
Hai, hai, hai kalau kalian rajin like dan koment meramaikan novel ini author bakal rajin update tiap hari loh. Diusahakan deh...