
"Bagaimana kabarmu?"
Tubuh kurus dan ringkih itu kini berbaring di tempat tidur ruang ICU. Sebelumnya minggu lalu dia dengan karakternya yang antagonis begitu menggebu-gebu selalu ingin menyerangku. Aku prihatin sekarang melihat betapa tidak berdayanya dia. Setelah persalinan normal dalam kondisi hipertensi, kini baru kelihatan dampaknya. Pendarahan dan komplikasi pembengkakan jantung, serta stroke ringan.
"Bukannya aku yang seharusnya bertanya begitu?"tanyaku.
"Aku dengar kamu diculik.. "kata Tya.
"Hmmm..." Aku enggan menjelaskannya apalagi pada pasien sakit seperti ini.
Aku duduk di kursi sebelahnya. Sebenarnya peranku sebagai dokter obgyn tidak terlalu berfungsi lagi di sini. Sebab, penyakit Tya sudah melebar ke organ tubuh lain yang harus mendapatkan penanganan khusus dari dokter spesialis lain.
Tya meraih tanganku.
"Raya...Maafkan aku"ucapnya lirih.
Aku tersenyum. "Maaf untuk apa?"tanyaku walaupun aku tau arahnya kemana.
"..karena sudah mengambil Ali dari kamu.. Aku juga telah banyak menyusahkan kamu"
Aku mendesah,
"Tya..."kataku. "Kenapa kamu minta maaf? Ali itu jodohmu, dia terlahir untukmu, dan kamu pun sama. Aku hanya figuran dalam kisah hidup kalian. Memang.. dulu aku pernah dekat dengan Ali, dan sangat menyakitkan memang ketika dia memutuskan menikah dengan kamu. Tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu. Luka hatiku sudah sembuh, aku sudah menyadarinya sejak lama kalau memang aku dan Ali itu bukan pasangan hidup, jadi kamu tak perlu minta maaf padaku."
"Tapi... Kamu sering marah padaku. Kamu selalu menghindariku. Tidak mau kalau aku kontrol kehamilan denganmu.."
"... Itu karena kau menyebalkan. Kamu selalu datang untuk menggangguku, menuduhku pelakor, ahh sudahlah ..."kataku.
"Karena itu aku minta maaf."
Aku menatapnya. Ada ketulusan di sana.
" Aku melakukan itu bukan karena aku benci padamu, tapi karena aku cemburu, aku iri padamu"
Aku terdiam sebelum aku tertawa terkekeh "Kamu iri padaku? Apa yang membuat kamu iri padaku, Tya? Kamu iri sama dokter obgyn yang selalu membantu persalinan sedangkan dia sendiri saja bahkan belum pernah melahirkan? Kan kamu yang bilang gitu?"
Tya terlihat sedih mendengar kata-kataku. "Kamu masih ingat kata-kataku waktu itu ya? Maafkan aku, Ray..Aku benar-benar menyakitimu ya?"
"Aku mengatakan itu bukan untuk membuatmu merasa bersalah, tapi hanya untuk menegaskan aku ini sebenarnya wanita yang menyedihkan, jadi kamu tak perlu merasa iri padaku."
Aku menunduk setelah mengatakan itu, teringat masalah yang kuhadapi saat ini. Skandal dokter dan mahasiswa koas yang diberitakan terus menerus, hujatan haters, kalau diingat-ingat kurang sedih apa lagi hidupku. Apa yang layak diirikan dariku, batinku.
"Raya..."
Tya kembali meraih tanganku, menggenggamnya lebih erat. Aku heran melihat ekspresi Tya yang kali ini terlihat lebih serius.
"Aku minta tolong, tolong jaga anak-anakku Rayhan dan Arraya..Jaga mereka seperti anakmu sendiri.. Dan..."
Aku berusaha melepaskan genggaman tangannya dan Tya malah menggenggam tanganku lebih keras lagi.
"..dan tolong kem.."
__ADS_1
"..tidak!!"kataku memotong kata-katanya. Aku bisa menebak arah kata-katanya kemana.
"Jangan memberikan wasiat padaku, Tya. Kita tidak sedekat itu sampai aku harus menerima wasiat darimu."
"Aku mohon Raya..."pintanya lirih.
Aku menggeleng. Dan memaksa tanganku lepas dari genggamannya.
"Aku tidak bisa melakukan itu, maaf Tya. Aku tidak bisa kembali pada Ali, kalau kamu peduli pada suami dan anak-anakmu, kamu harus berjuang untuk sembuh. Jangan melimpahkan tugas dan tanggungjawabmu padaku."kataku marah.
Aku membalikkan badanku dan melangkahkan kaki untuk pergi. Tak kuhiraukan kata-kata Tya yang memanggilku sambil menangis dan menjerit.
"Rayaaaa...."tangisnya "Aku mohon kembalilah pada Ali.. Waktuku tidak akan lama lagi, kembalilah padanya. Cuma kamu yang bisa menggantikan aku...Rayaaa..aaaaa.. Aku mohooon..."
Aku tidak mau mendengarnya.
Bagaimana mungkin kalian yang bukan siapa-siapa di hidupku punya hak membuangku dan memintaku kembali seenak kalian, bagaimana mungkin kau tega melakukan itu padaku, memisahkanku dengan kekasihku lalu sekarang saat kamu sedang sekarat, kamu ingin aku menggantikan posisimu, kenapa kamu setega itu padaku Tya, jeritku dalam hati.
Apa yang dipikirkan orang-orang itu terhadapku?Apakah aku memang semenyedihkan itu sampai-sampai aku diminta kembali pada Ali hanya karena dia tak bisa mendampinginya lagi. Apa aku sehina itu bagi mereka?
Aku begitu marah sampai air mataku mengalir deras, terasa sesak dadaku menerima semua ini. Kenapa aku harus mendengarnya dari seseorang yang sedang lemah tak berdaya? Kenapa dia harus memberikan permintaan tak masuk akal begitu disaat dia sedang kritis? Kenapa dia ingin aku mendapat peran jahat seperti ini, menolak permintaan orang yang sedang sekarat?Kenapa bukan dia saja yang jahat sampai akhir? Andai dia mengatakan itu dalam kondisi sehat karena ingin berpaling dengan laki-laki lain, mungkin aku akan merasa lebih baik karena aku bisa menjambak rambutnya sekuat yang ku bisa.
Tangisku terhenti saat seseorang menyodorkan tissu toilet padaku. Aku melihat pada orang disebelahku, dia Mahfudz, di tangannya sedang menenteng plastik berisi tissu toilet. Saat aku melihatnya dia melempar pandangannya, ke jalanan di bawah sana. Saat ini kami sedang berada di atap rumah sakit berlantai 4 ini.
"A..ku di.. su...ruhhh..ambil...tissu ..i..ni.. dan ini"katanya sambil menunjuk kain pel
Aku tak menjawab. Yah, mungkin saja dia memang sedang disuruh mengambil tissu toilet di gudang yang berada di lantai empat ini nasib anak koas kan memang begitu.
"Kau..."
Aku kaget saat Mahfudz menghapus air mataku dengan tissu di tangannya.
"Soo..ry"
Dia mengepalkan tangannya di dada dan menggerakkannya berbentuk lingkaran beberapa kali.
Aku tak bisa berkata apa-apa selain menarik beberapa lembar tissu yang sedang di pegang Mahfudz. Aku membalikkan badanku dan pergi melewati seprai-seprai yang sedang di jemur di atap ini.
Aku ini kenapa?Selalu ingin menghindar darinya. Tanpa sadar aku memegang dahiku sendiri, terasa hangat.
\*\*\*\*
Pov Mahfudz
Aku mengetik, menghapusnya, mengetiknya lagi, dan menghapusnya lagi. Dari kemarin hanya itu yang kulakukan jika sedang memegang HP. Rasanya ingin sekali menanyakan pada dokter Raya, bagaimana kabarnya, apa dia baik-baik saja, apa dia marah padaku. Sesekali ingin mengucapkan maaf juga dan mengatakan kalau aku tak bermaksud membuat kejadiannya seperti itu. Tapi tadi di atap dan ketika di kantor Professor Ayyub sudah kelihatan betapa dia ingin menjaga jarak dariku, dari sikapnya ia tak nyaman berada di dekatku.
Apa yang harus kulakukan ya Allah, aku tidak ingin dia menjauh dariku, batinku.
Aku merasa seperti orang bodoh memikirkannya. Situasi begini membuatku merasa tak nyaman juga. Di saat aku yang hanya anak koas ini dijauhi oleh konsulenku sendiri. Bagaimana dengan hari-hariku ke depannya nanti, bagaimana aku harus menghadapinya jika dia menghindariku terus, bagaimana dengan nilaiku?
Aku terhenyak duduk di tangga di samping toilet. Sepertinya bukan itu yang benar-benar kukhawatirkan tapi ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang tak bisa kuikhlaskan bila dia menjauh dariku. Tapi apa ya???
__ADS_1
"Woy,,, Mahfudz!!!!" Abidzar mengagetkanku sampai hpku hampir terjatuh.
"Wahhh..kamu lagi WA siapa?"
Aku segera menekan tombol menu pada hpku sehingga aplikasi WA tadi tidak sempat dilihat Mahfudz. Tapi terlambat sepertinya Abidzar sempat melihatnya.
"Uhuyyy... " Abidzar bersiul menggodaku. "Jadi kabar kedekatanmu dengan dokter Raya itu betul, Fud? Wow aku terlalu meremehkanmu"
Abidzar mengacak-acak rambutku.
Aku menggeleng. "Tii..dak. I tu.. ti..dak ...be..nar"bantahku.
"Ah, tidak benar apanya? Wajahmu lihat itu merah seperti kepiting goreng"godanya.
Aku menggelengkan kepala. Tapi pada akhirnya aku pasrah saja. Toh percuma dijelaskan juga Abidzar tak akan percaya.
"Sebelum koas di sini aku berharap setidaknya aku bisa punya gebetan perawat atau bidan di sini. Dan sahabatku ini malah nggak nanggung-nanggung, dapat dokter obgyn andalan SM cuy,, gila pake kajian apa kamu, Fud???!! Aku iri tau nggak?!"
Aku mendesah, sambil berdiri. Percuma ngomong sama bocah satu ini.
Abidzar ikut berdiri dan merangkulku. Kami berjalan di koridor.
"Fud,"bisiknya."Aku nggak yakin sih kamu betulan 'begituan' sama dr. Raya seperti yang diberitakan di sosmed, tapi kalau cuma sekedar..kiss..kiss..ummuach..muach.." Abidzar menirukan ciuman di dekat telingaku.
"...masa sih nggak ada, Fud?"
Aku menghentikan langkahku.
"Kau gila?Mau mati?"aku berkata tanpa mengeluarkan suara sembari memberi gerakan isyarat memotong leher.
"Ayolah cerita, Fud. Cuma ada kita berdua aja di sini, gimana ciuman dr. Raya?Atau kamu yang duluan?"
"Me..sum lu,..Bi!"Aku menendang kaki Abidzar. Dan memukul kepala belakangnya meski tak keras.
"Aku kan cuma pengen tau, Fud!"
Abidzar lari menghindari tendanganku. Aku mengejarnya.
Berani kamu ngomong lagi, bocah!
"Hey, Fud! Aku kan cuma tanya. Lagi pula aku tak akan ngomong sama siapa-siapa kok!!"
Kami terus berlari berkejaran sampai orang-orang di rumah sakit memperhatikan dan menegur. Ketika sampai di parkiran aku berhasil menangkap Abidzar dan merangkulnya dan memukul beberapa kali jidatnya.
Kami masih terengah-engah capek karna lari saling kejar, ketika tak jauh dari kami sebuah mobil silver parkir dan langsung dikejar oleh beberapa wartawan. Aku segera mundur berlindung di balik tembok. Aku takut para wartawan itu mengenaliku sebagai mahasiswa koas yang terlibat skandal dengan dr. Raya. Aku takut akan lebih banyak menciptakan masalah.
"Kenapa, Fud?" Abidzar ikut-ikutan bersembunyi di balik tembok.
Aku menunjuk pada kerumunan wartawan. Abidzar sepertinya faham dan akan mengajakku pergi dari situ. Dia sedang menarik tanganku, dan aku menahannya saat melihat siapa yang keluar dari mobil.
Dia wakil walikota Waridi!!!
__ADS_1