I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Bertemu Geovani


__ADS_3

"Oby!!" jerit Hawa melihat anak lelaki berusia 14 tahunan itu tersungkur. Lalu dengan


Raya sendiri tak kalah terkejut. Seorang lelaki kini berada di hadapannya,


"Kamu nggak apa-apa?" tanya pria itu pada Raya.


Raya melongo. Seorang lelaki parlente yang usianya kira-kira berusia sekitar empat puluh tahunan kini berada di hadapannya dan memegang pundaknya. Raya segera menepis tangan orang itu. Heran. Lancang sekali orang ini mencoba menyentuhnya yang bukan muhrimnya


Raya tak menghiraukan perkataan pria itu melainkan kini ia membantu Hawa menarik Oby agar berdiri.


"Oby, Oby nggak apa-apa?" tanya Raya.


"Sakiiit ...." Oby meringis kesakitan sembari memperlihatkan sikunya yang memar pada Raya.


Itu membuat Hawa menjadi berang.


"Hey! Anda itu siapa? Bisa-bisanya menendang seorang anak dengan keras seperti ini? Otak anda ini anda taruh dimana?" bentak Hawa dengan berang.


"Saya menyelamatkan temanmu dari lelaki berbahaya ini. Ini balasanmu?" balas pria itu dengan berlipat tangan di atas dadanya.


"Dia hanya anak kecil. Apa ada masalah dengan matamu? Berbahaya apa? Anda benar-benar ingin mencari masalah di sini, ya?" tantang Hawa tak kalah galak dari yang tadi.


"Anak kecil? Sebesar ini dikatakan anak kecil? Hah! Anak ini bahkan sudah bisa memproduksi anak jika memang harus. Lalu masih tanya berbahaya apa? Dia memegang pisau. Itu masih kurang berbahaya?" balas pria itu lagi.


"Tetapi dia di sini adalah pasien! Kau tak mengenalnya! Dia berkebutuhan khusus, dan dia tak bermaksud mencelakai Raya. Dia hanya ingin bermain-main dengannya tadi. Benar kan, Ray?" tukas Hawa pada Raya. Dia meminta dukungan Raya untuk memenangkan pertengkarannya dengan pria ini.

__ADS_1


"Ohhh, jadi dia adalah pasien ya? Rumah sakit seperti apa ini? Sama sekali tak aman! Pasien berkebutuhan khusus dengan resiko membahayakan dibiarkan berkeliaran bebas di sini. Mom, kau dokter di sini? Bisa kau pertemukan aku dengan pemilik rumah sakit ini? Sepertinya aku ingin berbicara langsung pada pemiliknya agar dia dapat mengatur tata kelola rumah sakit ini agar dia tidak dirugikan oleh hal-hal semacam ini. Sungguh sangat menyesal saya datang ke rumah sakit ini untuk mrelakukan check up. Melihat keamanan pihak rumah sakit yang sangat ceroboh seperti ini, saya jadi ragu mempercayakan kesehatan saya pada rumah sakit ini. Sungguh sial datang ke sini. Dibantu bukannya terima kasih malah membentak-bentak orang sembarangan. Sungguh pelayanan yang sangat buruk!" gerutunya.


"Ya sudah, ya sudah! Pergi sana! Kami juga tidak butuh pasien seperti anda ini!" usir Hawa.


"Hawa!" tegur Raya sebelum sahabatnya itu memaki-maki pria itu semakin menjadi-jadi.


Jangan sampai reputasi rumah sakit Medika Rahayu sampai hancur karena masalah ini. Hawa pasti mungkin akan menyesalinya di kemudian hari, jika Raya tidak buru-buru memita maaf pada pria itu.


"Maaf, maafkan kami, Pak! Teman saya tidak bermaksud buruk pada Bapak. Mungkin saat ini dia sedang emosi karena Bapak menendang Oby. Harap bapak maklum, Oby adalah pasien di rumah sakit ini. Dan kondisonya tidak sama dengan orang kebanyakan," ucap Raya.


"Raya, apaan sih?" protes Hawa. "Dia yang jelas-jelas salah. Nggak tahu asal muasal perkara, main tendang anak orang sembarangan. Kalau Oby sampai kenapa-kenapa gimana?"


"Terus kalau temanmu yang sampai kenapa-kenapa, gimana?" tanya pria itu balik.


"Buktinya dia nggak kenapa-kenapa, kan? Hanya plaster luka memarnya urusan selesai!" jawab pria itu dengan nada remeh.


"Kurang ajar memang anda ya, remeh banget sama orang lain!" tuding Hawa.


Pertengkaran itu mungkin akan berjalan semakin alot andai Raya tak berusaha mencegah Hawa.


"Udah, Wa! Udah! Katanya mau pinjamin aku baju," kata Raya mengingatkan Hawa akan janjinya.


"Tetapi orang ini ngeselin, Ray!" kata Hawa dengan nada geram.


Raya menghela napas, kemudian membisikkan sesuatu.

__ADS_1


"Kendalikan dirimu, Wa. Ingat-ingat reputasi MR (Medika Rahayu)," bisiknya.


Hawa mendengus kesal. Dia masih ingin membalas pria ini andai Raya tak menghalanginya. Tetapi perkataan Raya ada benarnya juga.


"Ya udah, kita ke ruanganku sekarang. Sebelum itu kita bawa Oby ke ruang perawatan dulu," kata Hawa sambil menyempatkan diri melotot pada pria itu.


Kemudian Hawa pun melengos pergi membawa Oby duluan ke ruang perawatan remaja "istimewa" itu.


"Kalau begitu, saya juga permisi dulu, Pak!" pamit Raya pada pria itu. "Sekali lagi maaf atas semua yang telah terjadi."


Raya mengatupkan tangannya tanda dia benar-benar sedang memohon maaf pada pria itu, sekaligus salam namun tidak bersentuhan dengan lelaki bukan muhrimnya.


Pria itu mengangguk dan membalas mengatupkan kedua telapak tangan, menghormati sikap Raya.


Namun baru beberapa langkah Raya berjalan membelakangi pria itu dengan anaknya, tiba-tiba dia menoleh kembali ke arah belakang pria itu. Rasa-rasanya Raya merasa familiar dengan pria itu. Apakah mungkin?


"Kenapa? Ada lagi?" tanya pria itu.


"Boleh saya tahu nama bapak siapa?" tanya Raya.


"Geo. Geovani," ucap pria itu


***


Mau bikin yang lebih panjang tapi nggak semangat ah, like sama komentarnya dikit amat.

__ADS_1


__ADS_2