
Benar kata dr. Ali, trauma itu bukan untuk disimpan melainkan untuk diobati. Aku yang telah satu tahunan ini tidak berani menyetir mobil, hari ini aku melakukannya walaupun hanya berani dengan kecepatan 60 km/jam. Sesekali aku juga masih sering gugup dan ketakutan saat berpapasan dengan truck dari arah berlawanan di jalan dua jalur. Aku juga sedikit ngeri saat ada pengemudi lain yang tidak sabaran ingin mendahului aku.
Sepanjang perjalanan dr. Ali dan aku lebih banyak memilih diam. Bahkan, dr. Ali lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur di mobil. Aku bisa memaklumi. Mungkin dia ingin beristirahat lebih lama sepanjang perjalanan agar lebih fit melakukan tindakan pada pasien itu nanti.
Hingga tibalah kami di tempat yang dituju pada jam 1 siang. Jarak yang harusnya kata dr. Ali cuma butuh 4 jam ternyata memakan waktu 6 jam perjalanan. Mungkin bukan salah dr. Ali juga. Mungkin yang dia maksud perjalanan 4 jam adalah jika membawa mobilnya dengan kecepatan normal atau kecepatan maksimal. Namun apa pun itu rasanya aku sangat lelah sekali.
Kami langsung menemui pasien anak yang menderita Efusi Pleura yang disebabkan oleh TB. Kondisinya sangat memprihatinkan. Badan kurus dengan keadaan sesak napas dan demam. Terlihat dari ekspresinya saat ia menarik dan membuang napas sangatlah terasa menyakitkan.
Dr. Ali memeriksanya dengan menempelkan stetoskop di dada pasien. Sesekali dia terlihat mengetuk dada pasien untuk mendengar bunyi cairan dalam paru-paru pasien.
"Sudah dilakukan rontgen thorax?"tanyanya pada dokter muda yang ada di situ.
"Sudah, Dok. Bu, mana hasil rontgennya?"tanya dokter muda itu pada ibu si anak.
Sang ibu segera mengambilkan hasil rontgen dan menyerahkannya pada dr. Ali.
Dr. Ali membuka amplop besar coklat itu dan mengeluarkan dua lembar hasil rontgen dari dalam amplop. Dia membacanya dengan seksama.
"Saya ingin pasiennya di rontgen thorax ulang. Hasil rontgen yang ini buram dan goyang" kata dr. Ali.
"Memangnya nggak masalah ya, Dok. Kalau rontgennya dilakukan dalam jangka waktu berdekatan? Adeknya baru rontgen hari kamis kemarin soalnya, Dok!"
"Selagi betul-betul diperlukan untuk kepentingan medis aman aja. Sebab rontgen dada hanya membutuhkan radiasi dosis rendah. Hanya sekitar 0,1 msv. Itu setara dengan 10 hari radiasi alami yang kita dapatkan dari lingkungan sehari-hari. Maksud saya jika dibandingkan dengan CT scan yang memerlukan dosis sampai 7 msv radiasi yang setara dengan 2 tahun paparan radiasi, untuk rontgen dada cukup aman dilakukan meski harus ada pengulangan."
Diam-diam aku mendengarkan penjelasan dr. Ali dan menyimpannya dalam pikiranku.
"Oh gitu ya, Dok. Tapi dokter Radiologi kayaknya kalau weekend gini nggak masuk, Dok. Apa kami coba hubungi aja dulu, Dok?"
"Ya. Hubungi aja dulu. Bilang ini permintaan langsung dari saya. Dari dr. Siaga medika."
"Ok. Kalau begitu sebentar ya, Dok. Kami minta dulu pihak rumah sakit menghubungi dokternya."
Sepeninggalan dokter muda itu. Dr. Ali hanya sibuk berbincang dengan orang tua pasien dan sesekali menyapa anak itu. Anak itu bernama Aris. Sangat kasihan sebenarnya melihat tubuhnya yang kurus. Tulang rusuknya bahkan terlihat jelas meski terlindung dibalik bajunya.
Aku menanti dengan gelisah kedatangan dokter radiologi yang tak kunjung datang. Kulirik jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 14.22. Ini sudah jam setengah 3. Kami bahkan belum melakukan apa-apa pada pasien anak-anak itu. Dan lagi aku belum sholat dzuhur.
Aku meminta tolong pada dokter muda yang ada disitu untuk mengijinkan aku mandi dan numpang sholat di kediaman mereka. Alhamdulillah mereka mengijinkan. Aku sempat ingin meminjam ponsel untuk menghubungi Raya, tapi aku tau dia akan semakin marah jika tau aku pergi dengan dr. Ali dengan mengabaikan fakta kalau besok adalah hari pernikahan kami.
Selepas mengerjakan sholat ashar sekalian aku kembali ke rumah sakit ya jaraknya lumayan dekat dengan rumah dinas dokter muda. Namun harapanku untuk bisa kembali ke rumah sakit siaga medika saat sore sepertinya akan pupus, karena dokter radiologi yang diharapkan datang ternyata tak kunjung datang juga.
Dokter radiologi akhirnya datang jam 5 sore dan sempat baku cekcok dengan dr. Ali yang memaksanya ke rumah sakit di hari liburnya. Dokter itu juga marah karena hasil rontgennya dianggap jelek oleh dr. Ali.
Aku lagi-lagi melihat jam di tanganku. Sudah setengah 6. Akhirnya dokter radiologi mengabulkan permintaan dr. Ali untuk rontgen thorax ulang pada pasien Aris. Proses itu tidak memakan waktu lama. Semua selesai kurang dari waktu setengah jam.
Yang mengejutkan olehku adalah saat dr. Ali mengatakan.
"Bapak, Ibu, saya sudah mengamati dan mempelajari hasil rontgen dada anak Ibu, dan cairan pada pleuranya Aris ini memang sudah sangat menumpuk banyak. Ini harus segera dikeluarkan dari tubuhnya. Oleh karena itu saya ingin membawa Aris ke rumah sakit Siaga Medika untuk penanganan lebih lanjut. Soalnya saya khawatir juga ada beberapa jaringan rusak yang perlu diangkat untuk mencegah cairan terakumulasi kembali di dalam pleuranya sekalipun sudah dilakukan thoracocentetis atau penyedotan cairan dalam pleuranya. Mungkin akan dibutuhkan juga bedah torakoskopi atau torakostomi. Dan yang bisa melakukan itu adalah dokter ahli bedah thorax. Dan di rumah sakit Siaga Medika ada dokter speaialis paru anak dan bedah thorax yang bisa mengobati sakitnya Aris. Disini tenaga ahli kurang, Bu dan peralatan juga kurang memadai. Ibu bapak ikut saya saja. Kita akan berupaya melakukan yang terbaik untuk Aris."
Aku tercengang mendengar dr. Ali. Katanya dia kesini untuk melakukan tindakan? Tapi kenapa jadi anak itu yang dibawa ke rumah sakit Siaga Medika?
__ADS_1
"Tapi, Dok.... Kami sama sekali nggak punya biaya, Dok. Untuk bisa membawa Aris ke rumah sakit ini saja saya harus berhutang pada tetangga. Bagaimana kalau di bawa ke rumah sakit yang lebih besar di kota? Kami nggak akan punya uang buat membayarnya. Lebih baik anak saya Aris kami bawa pulang aja, Dok! Kami berobat kampung aja"tolak sang bapak.
Dr. Ali mendesah. "Soal biaya, biar saya aja yang menanggung. Bapak dan Ibu cuma perlu dampingi Aris saja dan juga bantu doa. Kita nggak bisa berlama-lama lagi. Efusi pleura yang di deritanya sudah sampai pada level yang cukup parah. Ini harus ditangani segera. Dan bapak juga harus janji kalau Aris sudah sembuh, bapak harus berhenti total merokok. Kasihan pak, kalau Aris sudah sembuh masih sering terpapar asap rokoknya Bapak. Serasa saya melakukan hal yang sia-sia mengupayakan pengobatan Aris kalau Bapak masih merokok."
"Dok... Benerankah yang dokter bilang itu? Dokter yang akan membiayai pengobatan Aris? Bapak nggak salah dengar kan, Bu?" tanyanya pada istrinya.
Dr. Ali tertawa. "Nggak salah dengar kok, Pak. Saya serius."
"Bagaimana cara kami membalas kebaikan hati Pak Dokter?"tanya suami istri itu dengan perasaan yang sangat terharu.
"Cukup Bapak berhenti merokok. Ibu mengawasi. Itu saja" jawab dr. Ali.
Pasangan suami istri itu sangat bahagia mendapat bantuan dari dr. Ali. Dan hanya aku yang nelangsa di sini.
Malam sudah menunjukkan pukul 21.00 tapi kami belum juga berangkat pulang ke rumah sakit Siaga Medika. Setelah mendapat kabar bahagia dari dr. Ali si Bapak pamitan untuk pulang ke rumahnya di pelosok yang butuh waktu tempuh 1,5 jam perjalanan dengan sepeda motor untuk mengambil pakaian dan kebutuhan mereka selama anaknya dirawat di rumah sakit Siaga Medika, dan juga sekalian untuk berpamitan pada orang rumah.
Aku gelisah, benar-benar gelisah. Bagaimana ini? Apakah mungkin aku masih bisa mengejar waktu untuk akad besok? Bagaimana kalau Raya dan Ummik benar-benar marah dan membatalkan pernikahanku besok?
Dengan kesal aku menarik dr. Ali keluar dari ruang perawatan paru.
"A-pa se-be-nar-nya mak-sud-mu?"tanyaku marah.
Dr. Ali menepis tanganku yang menarik kerah bajunya. "Apa? Memangnya apa? Aku tidak tau apa maksudmu!"
"Ka-mu bi-lang ka-mu a-da tin-da-kan un-tuk me-nye-la-mat-kan p-asi-en. Ta-pi ter-nya-ta? Ma-na? Da-ri a-wal ka-mu me-mang nggak a-da ni-at un-tuk tin-da-kan. Ka-mu ke si-ni ha-nya un-tuk men-jem-put a-nak i-tu un-tuk di-o-ba-ti di Si-aga Me-di-ka. Ma-ka-nya ka-mu su-dah mem-per-si-ap-kan am-bu-lan-ce. I-ya kan?"
"Ini memang adalah tindakan untuk menyelamatkan pasien. Kamu pikir tindakan apa Mahfudz? Tindakan operasi?"dr. Ali tertawa. "Saya nggak pernah bilang mau kesini karna ada tindakan operasi. Lagi pula saya bukan dokter spesialis paru anak atau spesialis bedah thorax. Walaupun saya memang sedang mengambil pendidikan subspesialis pulmonologi. Saya kesini murni cuma ingin membantu anak itu sebagai fasilitator bagi penyembuhan Aris. Lalu salah saya dimana? Kamu yang tetap ingin ikut kan?"
"Ka-mu me-nga-jak a-ku ke-si-ni a-gar a-ku ti-dak bi-sa meng-ha-di-ri per-ni-ka-han-ku sen-di-ri kan? Ka-mu i-ngin meng-ga-gal-kan-nya" tuduhku.
Senyum merekah terkembang di bibirnya, "Tidak juga. Aku hanya ingin membuat ini tidak mudah bagimu. Agar kalau kamu benar menikah dengan Raya, kamu tidak mudah untuk menyia-nyiakannya. Ingatlah masa-masa ini. Raya tak cuma berharga bagimu, tapi bagiku juga. Sekali saja kamu sia-siakan dia. Aku akan menghajarmu. Cukup aku saja yang pernah menyakiti dia."
"Ba-ji-ngan!"umpatku. "Ja-ngan sa-ma-kan a-ku de-ngan di-ri-mu. Ki-ta ber-be-da!"
"Berbeda apanya? Dulu aku meninggalkan Raya demi jenjang karir yang mapan, bukannya hari ini kau pun melakukan hal yang sama. Kamu mengabaikan pernikahanmu besok demi memuluskan perjalanan koasmu dengan patuh pada permintaan konsulenmu. Lalu apa bedanya?"
Aku sangat emosi melihatnya dan diluar kendaliku tiba-tiba saja aku melayangkan satu pukulan ke wajahnya.
"Ki-ta ti-dak sa-ma! A-ku me-la-ku-kan se-mu-a i-ni ha-nya de-mi ke-ma-nu-si-a-an. Ka-lau i-ni ha-nya ten- tang ko-as dan jen-jang ka-rir a-ku ti-dak a-kan ra-gu me-ning-gal-kan kon-su-len gi-la se-per-ti-mu ha-nya un'tuk ber-sa-ma Ra-ya"
\*\*\*\*\*\*
Matahari sudah menampakkan sinar terangnya saat ambulance yang kami kendarai masuk parkiran rumah sakit Siaga Medika. Setelah pertengkaran yang alot dengan dr. Ali dan pasien beserta orang tuanya siap berangkat, akhirnya kami berangkat dari rumah sakit jejaring pukul 11 malam. Kali ini dr. Ali yang menyetir dengan kecepatan seperti siput dengan alasan sedang membawa pasien yang sesak bernapas. Belum lagi dengan drama pecah ban ambulance di tengah jalan sepi pemukiman penduduk membuat kami harus menunggu tumpangan dari mobil lain yang kebetulan lewat untuk mencari ban serep yang bisa dibeli di tengah malam sepi. Akhirnya kami sampai juga di rumah sakit Siaga Medika jam 08.10 menit. Benar-benar ujian dramatis sebelum menikah.
Setelah pasien diamankan oleh perawat di IGD, aku bergegas mengambil hpku yang tertinggal di kamar koas. Sudah banyak sekali panggilan tak terjawab dari Raya dan Mama, bahkan dari Fuad juga.
Aku segera menelpon Mama dan langsung diangkat olehnya.
"Fud, kamu dimana?Nggak pulang-pulang dari kemarin. Telpon nggak diangkat-angkat. Ini sudah jam 8, Fud. Ummiknya Raya sudah nelpon dari tadi. Kita ini sudah terlambat. Cuma mama nggak bilang kamu nggak ada. Mama berusaha ngulur waktu. Jangan bikin Mama malu, Fud!"omel Mama.
__ADS_1
"O-k, Ma. Ma-ka-sih su-dah ngu-lur wak-tu. Ma-ma berangkat aja du-lu-an ke tem-pat Ra-ya. Ben-tar la-gi Mah-fudz nyu-sul"kataku.
"Benar ya, Fud! Jangan bikin mama malu!"
"I-ya, Ma!"
\*\*\*\*\*\*\*
Pov Raya
Hari ini pesta pernikahanku. Pesta sederhana yang diadakan di rumah saja. Namun dengan pelaminan dan dekor yang bagus. Juga tenda bernuansa romantik berwarna putih kombinasi coklat. Juga dengan kursi-kursi untuk para undangan dengan warna senada dengan pita dibelakangnya. Para pagar ayu juga sudah bersiap di meja tugas masing-masing. Baik yang bertugas di meja prasmanan, di meja penerima tamu, maupun di meja souvenir dan kado.
Aku juga sudah memakai baju pengantin ini. Baju kebaya brukat berwarna putih kombinasi gold dengan bawahan batik berwarna coklat senada. Tak lupa aku memakai jilbab berwarna putih yang menyempurnakan penampilanku sebagai ratu sehari untuk hari ini.
Namun sudah jam 9 belum datang juga. Mama dan keluarganya juga baru sampai dan mengabarkan padaku untuk sabar menunggu karena Mahfud sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Tapi mereka tak mengatakan alasan kenapa mereka tak datang bersama.
"Aduuh... aduhhh... Pengantinnya kayaknya udah gelisah setengah mati ini. Nggak sabar ya pengen ngelihat pangeran gantengnya?"goda Hawa yang sejak tadi pagi-pagi sekali sudah hadir disini.
Saat ini kami sedang berada di kamar pengantin.
"Bukan gitu, Wa. Tapi ini sudah jam setengah 10. Bapak penghulunya kan masih ada agenda lain"kataku membela diri.
"Bapak penghulunya atau kamu sama Mahfudz yang ada agenda lain setelah acara ini?"godanya lagi.
"Ihhh, apaan sih gaje?"kataku sebal.
"Pokoknya Ray, nanti malam kadoku duluan yang wajib dibuka dan langsung dipake buat mensukseskan acara ehm...ehmm..."
Aku menyipitkan sebelah mataku. "No. Nanti malam aku mau tidur. Capek!"
Aku tau arah pembicaraannya kemana. Aku nggak mau membahas itu. Itu momok menakutkan bagiku.
"Memangnya kamu tau aku ngasih apaan?"tanyanya.
"Taulah. Paling juga lingerie. Gampang ditebak! Kamu kan cuma nyontek ideku ngasih kado pas kamu nikah dulu!"kataku ngakak.
"Ihhh, Raya! Kamu nggak asyik ah. Kok tau sih. Padahal kan aku mau balas dendam. Dulu aku buka kado dari kamu pas malam pengantin pas ada Mas Ibrahim sama mamer dan pamer. Bikin malu aja, tau nggak?!" katanya sambil menjitak pelan kepalaku.
Aku cuma tertawa geli.
Tak lama saudara sepupuku Rasti datang ke kamar.
"Kak Raya, yang ada di luar itu kakak ipar?"tanyanya.
Haa? Aku dan Hawa segera menghambur ke pintu. Aku mengintip dari balik tirai kamar. Sesosok pria berbaju serba putih ada di depan pintu. Ummik mendekat menghampirinya.
"Um-mik, bo-leh Mah-fudz man-di di-si-ni?"
Oh, my God! Itu calon mempelai pria memakai baju putih koas. Bukan baju putih pengantin!
__ADS_1