
Pagi ini suasana tidak enak menyelimuti rumah dr. Raya. Ketegangan seolah- olah berkabut di rumah itu. Pasalnya hari ini Raya harus menghadiri pertemuan di RSIA Satya Medika. Pertemuan itu nantinya pasti akan memojokkan dirinya dan sepertinya tidak akan punya celah menguntungkan dirinya. Berkali- kali Raya menghela napas berat. Berkali- kali juga Mahfudz terlihat gelisah dan menanyakan apakah dia akan baik- baik saja berangkat ke rumah sakit hari ini.
"Aku baik- baik saja, tenanglah. Habiskan sarapanmu. Cukup antarkan aku sampai gerbang rumah sakit, aku bisa sendiri ke dalam." kata Raya mencoba menenangkan Mahfudz.
"Tapi sebaiknya memang kamu pakai kursi roda saja, sayang."
"Aku itu cuma hamil, bukan lumpuh, Pak Dokter" jawab Raya gemas.
Sementara itu di kamarnya, Fuad sedang berdebat di telepon dengan Mamanya. Sambil memangku Rahmat di pangkuannya sebelah tangannya memegang ponsel yang menempel di telinganya.
"Pokoknya, Ma. Fuad akan bawa Ayuni dan Rahmat tinggal di rumah kita. Mama suka atau tidak pun, tetap saja sekarang Ayuni itu menantu Mama. Dan di perutnya sekarang ada anak Fuad. Cucu Mama juga! Tolong biarkan dia dekat sama neneknya. Bukan cuma anak istrinya Mahfudz saja yang butuh perhatiannya Mama. Anak istrinya Fuad juga, Ma!"
Di seberang sana Mama Salmah terdengar mendengus kesal.
"Kamu menuntut Mama terlalu banyak, Fuad! Mama sudah setuju kamu menikah dengan Ayuni apa masih kurang haa? Kamu berkata seperti itu seolah- olah Mama ini jahat karena membeda- bedakan kamu sama Mahfudz. Kamu kira Mama orang yang tegaan karena pilih kasih, begitu? Kamu dengar! Mama juga sudah mengatakan ini sebelumnya pada Ayuni. Mama tidak keberatan kalian tinggal di rumah sama Mama, Mama juga sudah mengajak Ayuni tinggal sama Mama. Tapi nyatanya dia nggak bisa kan menuruti syarat dari Mama?"
"Syarat??" tanya Fuad bingung. "Syarat apa, Ma?"
"Oh, jadi Ayuni belum ngasih tau kamu?"
"Belum."
"Hari ini juga kamu sama Ayuni bisa ikut tinggal sama Mama, tapi Fuad .... Mama nggak mau ada anak itu. Rahmat, maksud Mama, tidak boleh ikut tinggal di sini. Mama nggak tahan lihat anak itu. Mama jijik kalau ingat siapa bapaknya dan apa yang telah dilakukannya pada Ayuni. Kembalikan anak itu sama bapaknya, Ad! Atau kamu titipkan saja di panti!"
"Astaghfirullah, Mama!!!" Fuad tersentak mendengar persyaratan dari Mama. "Jadi Mama ngasih persyaratan itu sama Ayuni? Jadi ini alasan Ayuni murung dan sedih dari kemarin? Kok Mama sampai hati sekali sih, Ma! Mama dengarin Fuad, Ma! Rahmat nggak akan kemana- mana. Kalau memang dia harus ikut bapaknya, berarti dia harus ikut sama Fuad! Fuad papanya! Dia anak aku, Ma!" teriak Fuad di telepon.
Hal itu mengundang perhatian orang- orang yanag sedang makan di ruang makan. Ayuni ingin bangkit dari duduknya dan mendatangi Fuad. Tapi Ummik menahannya. Hal itu juga menarik perhatian Mahfudz dan Raya.
"Biarkan Fuad yang menyelesaikannya. Kalian lanjutkan lagi makannya," kata Ummik.
Sementara itu di kamar Fuad, pertengkaran itu masih terus berlanjut di telepon.
"Kamu gila? Anak itu bukan anak kamu, Fuad! Sadarlah kamu. Kamu jangan sampai dibutakan oleh cintamu pada Ayuni. Dia bukan anak kamu, bukan darah daging kamu. Dia berasal dari benih lelaki menjijikkan itu, terlebih- lebih dihasilkan dari perbuatan menjijikkan! Mama nggak mau kamu merawat anak itu sepanjang umur kamu, Fuad! Kamu nggak takut apa, kalau suatu saat anak itu punya sifat yang sama sama bapaknya? Buah itu selalu jatuh tak jauh dari pohonnya! Bagaimana kalau nanti sesudah besar dia mewarisi sifat bapaknya, kamu nggak takut apa? Haaa?" teriak Mama di telepon.
Fuad menarik napas dalam- dalam. Ok, dia tau apa yang dikhawatirkan Mama saat ini. Dan sekarang dia akan mencoba lebih bersabar lagi pada Mama.
"Mama, segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, sudah ditakdirkan dan tertulis di Lauhul Mahfudz, Mama. Sekalipun bukan oleh Rahmat, kalau memang takdirnya Fuad punya anak di luar batas seperti yang Mama bilang, naudzubillah, Mama, pasti anak kandung Fuad sendiri pun bisa saja punya sifat seperti itu. Tapi Fuad dan Ayuni bisa berikhtiar, Mama. Kami akan mendidik anak- anak kami dengan baik dan menjauhkan mereka dengan segala perangai buruk seperti itu. Tolong Mama percaya pada Fuad .... Fuad akan membesarkan dan mendidik Rahmat agar menjadi manusia dan lelaki yang baik di masa depan. Percaya pada Fuad Mama!!" bujuknya.
"Nggak! Pokoknya Mama bilang tidak ya tidak. Kamu dan Ayuni bisa tinggal di rumah, kalau anak itu nggak ikut! Mama benci sama dia, Ad!" tolak Mama.
Fuad sudah habis batas kesabarannya kini.
"Terserah Mama deh mau bilang apa, Mama senang atau nggak, Fuad tetap akan bawa Ayuni dan Rahmat pindah ke rumah kita besok!"
Masih mendengus kesal, Fuad menutup telepon itu. Masih di pangkuannya, Fuad menatap Rahmat yang memainkan jari- jari tangannya yang sedang memeluk badan gembul itu. Rahmat kini sudah berusia 4 bulan. Bayi itu tumbuh dengan baik.
"Papa sayang sama kamu, boy!" kata Fuad sambil mengecup rambut tipis bayi gembul itu. "Kamu yang sabar, ya. Lama- lama juga Oma akan sayang juga sama kamu! Papa janji itu. Kita akan bersama selamanya."
POV Raya
"Sebenarnya kamu nggak perlu antar aku sampai ke meeting room, sayang. Aku bisa jalan sendiri, nggak akan kenapa- kenapa, kok!" kataku.
Mahfudz tidak menjawab.
Aku merasa risih dipapah sama Mahfudz hingga ke ruang rapat. Padahal aku merasa sangat fit dan merasa baik- baik saja. Kami berjalan sangat pelan- pelan.
"Kamu mending sekarang pergi aja deh. Nanti kamu telat ke rumah sakit," kataku lagi.
"Kamu itu jangan bawel, deh. Aku itu peduli sama anakku bukan sama kamu."
"Oh, gitu? Jadi Bundanya nggak disayang juga, nih?" Aku pura-pura marah sekarang.
"Iya, donk. Bundanya keras kepala. Disuruh pake kursi roda aja nggak mau. Mau melawan terus. Ngapain disayang?" katanya.
Aku mendengus kesal.
"Aku itu nggak lumpuh kali, masa disuruh pake kursi roda?"
"Kamu itu nggak boleh banyak jalan."
"Ini nggak banyak jalan, sayang. Jalan juga dekat aja kok."
"Pembangkang memang, nggak mau nurut!"
__ADS_1
"Ihh, apa sih? Pagi- pagi nyari ribut!" kataku kesal.
Aku menatapnya dengan wajah merengut.
"Nanti kalau selesai rapatnya, kamu langsung telepon aku, biar aku jemput."
"Nggak usah, nanti aku naik ojol aja. Nggak enak juga sama residen sama konsulen kamu kalau kamu keseringan permisi ke luar," tolakku.
"Bodo amat, kamu ku jemput atau kutungguin di sini sampai selesai rapatnya. Pilih aja! Anak istriku lebih penting," katanya keras kepala.
"Ya sudah, ya sudah. Terserah kamu aja!"kataku frustasi.
Ngalah aja dulu, deh. Pokoknya Mahfudz pergi aja dulu ke rumah sakit. Bagaimana pun dia masih koas, tidak bisa bersikap semaunya di sana. Nanti aku bisa order aplikasi mobil online aja. Toh kalau sudah sampai rumah, aku bisa kabarin kalau aku sudah sampai dan baik- baik saja, pikirku.
Setelah Mahfudz memastikan aku sudah berada di depan ruang rapat tanpa kurang suatu apa pun, Mahfudz pun meninggalkanku untuk berangkat koas ke rumah sakit Harapan Kita.
Di ruangan itu baru ada beberapa orang mitra KSO dan salah satu di antara mereka adalah Professor Ayyub. Segera aku mengambil tempat duduk di sebelah Professor Ayyub.
"Kau datang?" sapa Professor.
Aku mengangguk.
"Mana bisa aku tidak datang, Prof untuk masalah seserius ini," keluhku.
"Lalu, apa kamu sudah memutuskan?" bisik Professor.
Aku mengangguk dengan berat hati.
"Aku akan resign, Prof," bisikku dengan nada yang mantap.
"Ta- tapi, Raya ...."
"Aku akan bayar penalty-nya, Prof," kataku.
"Tapi masalahnya ...."
Kata- kata Professor terhenti saat Waridi dan salah seorang stafnya mengikutinya. Beberapa menit menunggu mitra KSO yang lain, aku dan Waridi hanya saling tatap saling benci. Aku tidak tau apa yang ada di pikirannya saat ini, namun yang pasti aku tau dia punya rencana yang akan membuatku sulit untuk waktu ke depannya.
Beberapa menit menunggu, dan tak ada lagi mitra KSO yang akan hadir di sini, maka dapat itu pun di mulai.
"Baiklah, karena sudah tak ada lagi yang akan hadir di sini, dan lagi pula karena pertemuan ini sebenarnya bukan sesuatu hal yang terlalu besar, mungkin kita bisa mulai saja rapatnya."
"Jadi pertama- tama, saya selaku wakil dari Walikota menyampaikan permintaan maaf dari Bapak Walikota karena tidak bisa menghadiri rapat kali ini. Jadi apa pun yang berkaitan dengan keputusan dan hasil rapat akan diwakili oleh saya menggantikan beliau."
Ya, terserah kamu sajalah. To the point saja kenapa, pikirku kesal.
"Dr. Raya, anda tau kalau RSIA Satya Medika baru di buka kurang lebih dua bulan yang lalu, dan kita semua di sini tau dengan baik, karena berkat andalah RSIA Satya Medika ini dibuka lebih awal dan menjadi rumah sakit penyelamat korban dari kecelakaan beruntun dua bulan yang lalu," katanya membuka tema rapat hari ini.
"Ya, lalu?" tanyaku sinis.
Tak ada gunanya bermanis- manis bicara dengan Waridi ini.
"Pada waktu itu, anda sendiri yang menandatangani perjanjian kerja di hadapan kami semua mitra KSO. Anda sendiri yang mengatakan kalau anda bertanggung jawab atas jabatan dan posisi Anda sebagai dokter kepala, di departemen obgyn RSIA Satya Medika. Tapi apa ini dr. Raya? Saya mendengar sudah hampir satu minggu ini departemen obgyn kehilangan tampuk kepemimpinannya. Semua pekerjaan amburadul dan tidak tertata. Ya betul, kami hanya mitra kerja sama operasional di sini, dan yang lebih tau kondisi pastinya tetaplah orang- orang dan staf yang bekerja langsung di sini. Tapi kami sebagai mitra memiliki kekhawatiran. Bagaimana kalau nanti kondisi ini semakin lama semakin membawa ke keadaan yang lebih sulit? Mengingat rumah sakit ini masih baru, akan butuh kepercayaan yang tinggi dari masyarakat akan pelayanan medis dan keprofesionalan staf- staf medis yang bekerja di dalamnya."
"To the point saja, Pak Waridi. Sepertinya anda terlalu bertele- tele. Tidakkah anda takut waktu anda akan terbuang percuma hanya karena anda terlalu memberi penjelasan yang tidak dimengerti orang lain?" kataku lebih sinis dari tadi.
Waridi terlihat menyeringai mendapat balas seperti itu dariku.
"Saya dengar, Dokter Kepala Departemen Obgyn, sudah tidak bekerja selama hampir seminggu. Tidakkah menurut dr. Raya itu bisa mengganggu sistim kerja operasional rumah sakit?" tanyanya lebih sinis.
Aku tersenyum tipis.
"Sepertinya anda tau lebih baik dari orang lain kondisi seperti apa yang menimpa saya dan siapa yang menjadi penyebabnya sehingga saya berada di situasi ini seperti sekarang. Dan soal tidak bekerja, saya mendapat ijin untuk cuti sakit, dari kepala rumah sakit ini. Saya kira wewenang Professor Ayyub masih yang tertinggi untuk mengatur staf- stafnya dibandingkan wewenang mitra KSO, bukankah begitu?" tudingku.
Aku mulai tidak bisa menahan emosiku. Dan Waridi semakin menikmatinya. Sepertinya aku telah masuk dalam permainannya.
"Baiklah, tidak masalah kalau anda cuti sakit, tapi akan butuh berapa lama? Seminggu tidak cukup? Dua minggu? Apakah dr. Raya bisa menyanggupi untuk bisa bekerja kalau kami memberikan waktu seminggu lagi? Kalau tidak ...."
"Kalau tidak apa?" selaku cepat memotong kata- katanya.
Si brengsek ini sepertinya punya rencana yang tak bisa diremehkan.
"Kalau tidak, kita akan bertemu di meja hijau, bukankah benar seperti itu Professor Ayyub?"
Waridi meminta dukungan Professor Ayyub yang terkesan sangat memojokkan beliau.
"Ehmmm, iya," jawab Professor Ayyub dengan berat hati.
"Prof ...." protesku.
__ADS_1
Aku tidak percaya ini. Bagaimana pun terpojoknya Professor Ayyub, mana mungkin dia tidak mendukungku di saat- saat seperti ini?
"Saya rasa Pak Waridi sudah tau apa alasan saya, kenapa saya tidak bisa bekerja dan memenuhi kewajiban saya. Saya dalam kondisi tidak bisa bekerja saat ini. Saya sedang mengandung, rahim saya lemah. Dan saya tidak bisa beraktifitas sebagaimana biasanya," kataku dengan nada setengah memohon pengertiannya.
Waridi cuma tersenyum tipis. Sepertinya dia mulai merasa menang.
"Saya cukup prihatin soal kondisi kesehatan anda dr. Raya. Tapi bagaimana? Rumah sakit ini pun membutuhkan seseorang profesional yang mengurusnya. Departemen obgyn kita pun begitu. Anda tau Obgyn adalah salah satu departemen yang memiliki jam terbang tinggi, paling sibuk di antara departemen lainnya. Tanpa pemimpin, menurut anda apa yang mungkin terjadi pada departemen Obgyn?" tanyanya dengan mata yang memicing.
Waridi menatapku tajam. Dan sebelum aku menjawab, dia menjawabnya lebih dulu.
"Amburadul, kekacauan, kesemrawutan dan segala hal yang tidak tertata."
Aku menghela napasku dan membuangnya kasar. Sedikit geleng- geleng kepala dalam hatiku aku menyumpahi kelicikannya yang ingin aku keluar dari jabatanku.
"Baiklah, kalau begitu aku akan mengajukan surat pengunduran diriku. Kalian bisa mencari penggantiku untuk menduduki posisi itu," jawabku lugas.
Semua orang yang hadir di ruangan ini berbisik- bisik. Ruangan yang tadinya tenang menjadi sedikit lebih berisik.
Waridi terkekeh-kekeh.
"Dr. Raya kira semudah itukah?"
Waridi tua bangka brengsek, makiku dalam hati.
"Jangan khawatir. Saya akan bayar pinalty dan denda untuk itu," jawabku.
Waridi semakin terkekeh.
"Simpan saja uangmu itu dr. Raya. Kami tidak membutuhkannya. Kau tidak bisa membayar pinalty. Kamu tidak lupa poin- point yang tertera pada surat perjanjian kerjamu, kan?"
"A- apa maksudmu aku tidak bisa membayar pinalty?" tanyaku gugup. Sekarang aku merasa bingung.
Waridi tersenyum kemenangan.
"Mungkin kamu bisa baca ulang isi kontrak kerjamu? Professor Ayyub, tolong ingatkan lagi, dokter kepala kita ini isi kontrak kerjanya. Kalau dia tidak ingat, mungkin bisa disuruh membaca ulang?"
Aku menatap Professor ragu. Adakah point yang terlewat olehku saat menandatangani kontrak itu waktu itu?
Professor menyerahkan sebuah map untukku. Itu surat perjanjian kerja yang dirangkap untuk dimiliki pihak rumah sakit. Sementara milikku sendiri masih ada di ruang kerja. Aku membacanya dengan teliti point per point.
"Maaf Raya, HRD yang saya tugaskan mengetik naskah surat perjanjian kerja denganmu waktu itu, lupa memasukkan point untuk pinalty. Jadi di situ hanya tertera andai kamu membatalkan atau memutuskan kontrak kerja sebelum waktunya, kamu hanya akan berurusan dengan kasus hukum tanpa ada pilihan membayar pinalty." ujar Professor lesu.
Brengsek! Waridi sialan! Aku memaki dalam hatiku. Bisa- bisanya dia mengetahui dan memanfaatkan kesalahan tekhnik sekecil ini. Bisa- bisanya point yang sangat dihindari oleh setiap orang yang berencana untuk resign malah terlewat olehku dan sekarang sangat merugikan ku.
Dengan tajam aku menatap wajahnya yang dalam aura kemenangan itu. Dia tidak mengincar jabatanku. Dia mengincar kesehatanku dan bayiku. Biadap memang!
"Sepertinya sekarang anda sudah paham inti dari rapat ini, dr. Raya. Nikmatilah cutimu seminggu lagi, kami menunggumu untuk kembali bekerja minggu depan. Jangan lupa jangan kesehatan anda, dr. Raya."
Aku tidak bergeming hingga rapat kecil itu ditutup. Aku sangat pusing sekarang. Dan aku bisa membayangkan kemarahan Mahfudz nanti saat dia tau hasil dari rapat ini.
"Maaf Raya, saya tidak bisa berbuat apa- apa mengenai hal ini. Mungkin kita hanya bisa mengusahakan lingkungan kerja yang nyaman dan aman buatmu nanti tanpa harus menimbulkan resiko. Saya janji akan membantumu meminimalkan resiko menurunnya kesehatanmu akibat pekerjaanmu nanti. Kita akan usahakan agar kehamilanmu tidak terganggu dan janinmu tetap sehat," bujuk Professor
Bujukannya sama sekali tidak bisa membantuku. Ini membuatku stress. Bahkan meski aku meneliti celah yang mungkin bisa untukku mengelak dari kasus ini, aku tetap tidak menemukannya. Aku lelah pada akhirnya. Dan memutuskan untuk pulang setelah aku menemui HRD yang mengetik surat perjanjian itu. Itu murni kesalahannya yang tidak di sengaja. Aku tidak bisa begitu saja menyalahkannya karena itu juga kelalaian ku karena tidak membaca point per point dengan benar.
Saat aku berada di mobil yang ku order dari sebuah aplikasi jasa ojek online, aku hanya bisa memikirkan kemarahan Mahfudz nanti.
"Berhentinya di situ, Pak! Di depan rumah pagar hitam, di samping tanah kosong!" pintaku pada driver-nya.
"Iya, Bu!" kata supir itu sambil menepikan mobilnya tepat di depan pagar.
"Berapa, Pak?" tanyaku.
"Sesuai yang tertera di aplikasi, Bu."
"Ok. Sebentar."
Aku mengambil uang dari dalam tasku dan memberikannya pada driver.
"Kembaliannya ambil aja, Pak!"
"Makasih, Bu."
Aku membuka pintu mobil dan menggeser dudukku. Saat aku hendak bangkit dari dudukku dan keluar tanganku menyentuh jok mobil yang baru saja kududuki dan itu terasa basah dan sedikit lengket.
Ya, Tuhan .... Apa ini darah? Aku memeriksa telapak tanganku dan itu memang darah segera aku berdiri dan keluar. Aku baru menyadari rokku di bagian belakang telah berlumur darah bahkan aku merasa seperti ada yang mengalir di sela- sela pahaku bagian dalam.
"Ibu? Ibu kenapa?" Sopir itu sepertinya suadah melihat apa yang terjadi pada diriku.
Aku tidak menghiraukannya lagi. Aku berteriak memanggil Ummik histeris.
__ADS_1
"Ummmiiiiiik!! Ummiiikk! Tolongin Raya, Mik! Tolongin Raya!" jeritku histeris.