
"Begini, Bu ... Saya bukannya nggak mau bawa Afri ke rumah sakit ini. Tetapi ini lebih ke kode etik, nggak enak donk saya sama pihak rumah sakit Pahlawan Medikal kalau semisalnya saya yang meminta Afri untuk dipindahkan ke rumah sakit Satya Medika? Kecuali kalau pihak ibu sendiri yang mau memindahkan anak ibu dari rumah sakit Pahlawan Medikal ke rumah sakit ini dalam konteks "rumah sakit lain". Kalau begitu mungkin saya bisa usahakan, Bu anak ibu dirawat di sini. Tetapi kalau saya yang meminta langsung pada pihak rumah sakit sana, saya khawatir mereka akan tersinggung," kataku mencoba memberi pengertian pada sang ibu.
Saat ini kami telah berada di ruangan kerjaku dan sedang duduk berhadapan satu dengan yang lain. Ibu itu terlihat gundah gulana.
"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dokter? Di sana sepertinya saya merasa tidak tenang. Mereka memata-matai anak saya, dan gerak-gerik saya, apa yang harus saya lakukan?" tanyanya dengan gelisah. "Saya takut sewaktu-waktu ketika saya lengah mereka mencelakai anak saya, dokter!"
Aku mengernyitkan keningku mendengar jawaban sang ibu.
"Mereka siapa maksud ibu? Pihak rumah sakit Pahlawan Medical?" tanyaku setengah tak percaya.
Sang Ibu mengangguk.
"Ta-tapi, kenapa?" tanyaku tak mengerti.
__ADS_1
Aku memang sempat sekilas mendengar dari Mahfudz, tentang kabar yang didapatkannya dari Pak Prabu kalau anak itu, korban dugaan malapraktik yang telah dilakukannya adalah anak haram dari gubernur yang menjabat saat ini.
"Dokter, mungkin belum tahu kalau Afri ini.anak saya dengan ...." ia terlihat ragu menceritakannya.
"Dengan?" Rasa ingin tahuku sekarang menjadi lebih besar.
Aku berharap bukan nama gubernur itu yang disebut oleh Ibunya Afri, namun nyatanya, itulah yang sebenarnya terjadi. Itu bukan gosip isapan jempol belaka.
"Dia suami ibu?" tanyaku ingin tahu.
Ibu itu menggeleng.
"Kalau dia suami saya, kami pasti tidak akan semenderita ini sekarang, Bu Dokter," katanya sendu.
__ADS_1
"Tapi ... dia? Bapaknya Afri ...?" tanyaku seolah ingin memperjelas apa maksud dari perkataan sang ibu.
"Hanya bapak biologis. Afri ada karena pelecehan yang pernah ia lakukan dulu padaku, sewaktu saya masih menjadi asisten rumah tangganya," katanya secara lugas tanpa ada niat menutup-nutupi apa pun dari masa lalunya.
Kerongkonganku merasa tercekat mendengarnya. Heran kenapa ada saja seorang pemimpin yang kelakuannya bejat seperti itu. Kalau kuingat-ingat masa lalu ditambah lagi mendengar kisah sang ibu yang seperti ini, aku menjadi teringat pada Ayuni. Ayuni korbannya Waridi adalah salah satu contoh dari wanita-wanita tak beruntung seperti ini. Dan dari pelecehan itu pula Ayuni menemukan Fuad sebagai cinta sejatinya.
Lalu dengan tanpa dipaksa atau pun diminta, aku pun mendengarkan sang ibu bercerita. Dia bercerita panjang lebar tentang kisah hidupnya yang tidak mudah hingga dia terdampar bekerja di rumah gubernur Arifin. Menjadi asisten rumah tangga atau pembantu di salah satu rumah seorang pejabat, tentu saja dia akan mendapat gaji yang lebih besar dibandingkan dengan bekerja di rumah keluarga lain.
Bersyukur, sudah pasti. Tetapi dia tak menyangka kalau nasibnya bekerja di rumah itu berubah menjadi sebuah kesialan saat Gubernur Arifin pada suatu hari melecehkannya, bahkan memperkosanya hingga dia memutuskan untuk lari dari rumah itu.
***
Maaf sementara update pendek2 ya, reader 2 yang ketce ....
__ADS_1