I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
RSIA Satya Medika


__ADS_3

Benturan dari mobil box yang bertabrakan dengan beberapa kenderaan di depan itu rupanya mengakibatkan kecelakaan beruntun. Nasib bagus, aku sempat mendengar klakson panjang dari mobil box yang sepertinya mengalami rem blong itu sehingga aku sempat melompat dan menarik Mahfudz hingga terjatuh bersama sepeda motornya. Motor yang kami kendarai terjatuh hingga ke bahu jalan sehingga kami tidak ikut terseret laju mobil box itu.


Dan kini aku sedang termangu menatap Mahfudz. Telah dua kali rasanya dia bicara dengan lancar padaku hari ini. Tidak, tidak, bukan cuma hari ini. Sepanjang aku mengenalnya baru kali ini aku mendengar dia bicara normal seperti orang lain.


"Mbak, bayinya mau diapain?"


Aku tersentak. Seseorang dari beberapa orang yang berkerumun tadi rupanya mengikutiku saat aku mengambil bayi itu dari dekapan ibunya yang terjepit di bawah mobil yang terbalik.


"Kami dokter, Bu," jawabku. Walau tak sesuai dengan pertanyaannya aku tau itu bisa sekaligus menjadi jawaban untuknya.


Aku melihat pada bayi di tanganku. Bayi berusia sekitar 2-3 bulanan. Tidak terlihat bekas benturan pada tubuhnya. Mungkin ibunya melindunginya dengan tubuhnya sewaktu mobil itu terbalik karena ditabrak oleh mobil box itu. Entah shock atau tidak mendapat oksigen saat dipeluk ibundanya, tetapi anak itu terlihat tidak bernapas.


Aku menyuruh Mahfudz membentangkan jaketnya di trotoar. Setelah itu aku meletakkan bayi itu di sana, di permukaan yang rata dan keras. Aku mengusap telapak kaki bayi itu untuk mengetahui apakah syaraf- syaraf di kakinya masih berfungsi. Baiklah, salah satu jarinya masih kurasa bergerak.


Tadinya aku merasa sangat yakin untuk melakukan CPR itu sendiri, tapi melihat bayi yang sangat begitu mungil, dan juga mengingat keberhasilan CPR pada bayi tergolong kecil karna memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi nyaliku menjadi menciut karenanya. Aku tak sanggup lagi kalau harus menyaksikan kematian bayi lagi di hadapannya. Apalagi itu ada hubungannya dengan tindakanku.


Aku masih dalam kebimbanganku saat Mahfudz mengambil posisi di dekat bayi. Dia memberikan kode agar aku bergeser. Dan tanpa komando dari siapa pun Mahfudz mulai meraih pergelangan tangan mungil itu, mencoba merasakan denyut nadi bayi itu. Mahfudz mungkin tau, kalau waktu ideal untuk melakukan CPR adalah di 3 menit awal sejak seseorang henti nafas, lebih dari itu tindakan CPR yang dilakukan walaupun berhasil kemungkinan bisa mengalami kerusakan otak. Dan melihatku bimbang dan membuang waktu terlalu lama, dia takut akan menimbulkan resiko pada bayi itu.


Kini Mahfudz menyingkap baju bayi itu ke atas, mencoba membayangkan sebuah garis yang menghubungkan kedua ******, dan mencari titik kompresi yang tepat dibawah garis itu. Saat dia menemukannya, dan bersiap ingin melakukan kompresi, makhfudz meletakkan tangan kirinya di dahi bayi itu, sementara dua jari, telunjuk dan tengah dari tangan kanannya siap melakukan kompresi.


"Lakukan dengan hati- hati, Fud!" kataku mengingatkan. "Kedalaman kompresi jangan melebihi 5 cm, coba 4 cm saja. Dan lakukan dengan halus."


Aku gelisah sekarang. Aku sedang tidak mengajarinya sebagai suamiku. Tetapi melakukan instruksi sebagai tenaga medis senior. Dan aku tau, Mahfudz pasti belum pernah melakukan ini karena dia juga belum sempat koas di Stase anak.


Mahfudz mengangguk dan mulai menekan titik kompresi dengan dua jarinya tadi. Dia menekan sebanyak 100-120 kali per menit. Setelah melakukan kompresi sebanyak 30 kali, Mahfudz membuka mulutnya dan melakukan napas buatan dua kali tiupan pada mulut bayi itu. Terlihat dada bayi itu mengembang, menandakan kalau Mahfudz melakukannya dengan benar. Mengetahui tindakannya belum berhasil, Mahfudz mengulanginya lagi melakukan kompresi.


Aku tersentak mengingat ada hal penting yang harus kulakukan saat ini. Segera aku mengambil ponsel dari tasku. Aku menghubungi Professor Ayyub.


"Ray, ada apa? Kau sudah memik ...."


"Prof ...." selaku cepat. "Ada kecelakaan beruntun di Jl. Cut Meutia. Aku dan Mahfudz sedang berada di sini. Kalau boleh, bisakah aku meminta agar RSIA Satya Medika dibuka untuk para korban? Hanya RSIA Satya Medika rumah sakit terdekat saat ini dari sini, Prof. Korbannya ...."


Aku meninggalkan Mahfudz dan mencoba kembali ke kerumunan orang- orang yang semakin waktu semakin banyak. Tadi aku tak memperhatikannya jelas, separah apa kecelakaan itu. Tapi sepertinya kecelakaan ini melibatkan banyak kenderaan. Aku semakin mempercepat langkahku dan menyeruak di antara kerumunan. Kaget melihat pemandangan mengenaskan di depanku. Sebuah mobil TK juga terbalik. Nampak warga sekitar berusaha mengevakuasi para penumpang di dalamnya.


"Tapi Raya, kita bahkan belum grand opening. Dan ini juga membutuhkan persetujuan pemerintah kota."


Ha? Dalam situasi segenting ini, apakah masih penting memikirkan hal- hal seperti itu?


"Banyak korban anak- anak juga, Prof. Tolong! Hanya wewenang dari Professor dan Pak Walikota yang bisa membuka rumah sakit itu untuk para korban. Ke rumah sakit lain akan membutuhkan banyak waktu. Bahkan ada korban bayi juga, Prof" kataku terkesan memohon.


Sekian detik aku menunggu jawaban dari Professor Ayyub. Aku hampir menyerah meminta persetujuannya saat beliau buka mulut lagi


"Baiklah, kira- kira ada berapa banyak korbannya? Saya akan memerintahkan beberapa dokter dan perawat untuk menunggu RSIA Satya Medika."


"Terima kasih, Prof. Saya belum tau berapa jumlah korban pastinya. Tapi sepertinya korbannya mencapai belasan orang. Dan, kalau Professor berkenan, bisakah saya juga meminta semua ambulance untuk dikirim ke sini?"


"Hmmm .... Baiklah. Raya ...."


Aku yang hendak mengakhiri telepon langsung langsung menyahut.


"Ya, Prof?"


"Kamu dan Mahfudz baik- baik saja? Maksud saya, kalian tidak kena dampak kecelakaan itu?"


Aku tersenyum mendengar kepedulian Professor.


"Aku dan Mahfudz baik- baik saja. Kami sempat melompat dari motor tadi. Professor jangan khawatir."


"Baiklah," jawab Professor lega.


"Saya tutup teleponnya dulu, Prof. Saya harus melihat kondisi beberapa korban dulu di sini."


Usai menelepon Professor, aku segera menghampiri para korban anak yang telah berhasil dievakuasi itu. Sayang sekali aku tidak membawa tas Doraemon ku. Tas yang berisi alat- alat medis standar yang wajib dimiliki oleh seorang dokter.


Kebanyakan dari anak- anak itu sepertinya mengalami cedera. Aku segera mengumpulkan beberapa orang anak yang berhasil di evakuasi dan membawanya ke trotoar di mana tadi Mahfudz dan bayi itu ku tinggal. Astaga, bagaimana keadaan bayi itu?


Aku segera mempercepat langkahku sambil menggendong salah seorang anak. Sementara sebelah tanganku menuntun seorang anak yang masih bisa berjalan dengan baik. Di belakangku, dua orang warga juga mengikutiku dengan anak di tangan mereka masing- masing.


Saat aku sampai di trotoar itu, aku heran melihat kumpulan orang yang mengelilingi Mahfudz sambil bertepuk tangan.


"Alhamdulillah, bayi itu akhirnya bernapas. Terimakasih mas, Dokter!" ucap salah seorang.

__ADS_1


"Alhamdullilah, syukurlah ...."


"Untung ada masnya,"


"Tunggu sebentar di sini," kataku pada dua warga yang mengikutiku itu dan menurunkan anak yang kugendong tadi.


Aku menyeruak lagi ke dalam kerumunan orang- orang yang menonton Mahfudz melakukan CPR. Kulihat Mahfudz sedang memiringkan tubuh bayi itu.


Alhamdulillah, bayi itu kembali bernapas.


"Fud!" panggilku.


Mahfudz tersenyum lelah. Tapi kulihat binar bahagia di wajahnya.


"Ki-ta ha-rus se-ge-ra mem-ba-wa ba-yi-nya ke ru-mah sa-kit, Ray. Di-a bu-tuh pe-na-nga-nan se-ge-ra."


Aku tercengang lagi mendengarnya bicara. Dia bicara seperti biasanya. Jadi benar tadi aku cuma salah dengar?


\*\*\*\*\*\*


RSIA Satya Medika benar- benar dibuka atas perintah Professor Ayyub. Akhirnya korban kecelakaan beruntun diboyong keseluruhannya ke rumah sakit ini. Rumah sakit yang bahkan belum diresmikan. Baru Minggu depan grand opening akan diadakan di tempat ini.


Meski belum diresmikan namun semua peralatan medis telah disediakan di sini. Yang kurang hanya tenaga medis, yang terpaksa dikirim sebagian dari Rumah Sakit Siaga Medika untuk menangani pasien korban kecelakaan.


Aku menguap kelelahan dan duduk di kursi panjang di sebelah Mahfudz. Telah 4 jam kami membantu menangani korban kecelakaan. Dokter yang bisa dikirim dari Rumah Sakit Siaga Medika hanya 3 orang ditambah Marhamah menjadi 4 orang. Akhirnya sekarang para korban bisa diamankan di ruang perawatan masing- masing.


Rumah sakit yang tadinya sepi ini tiba- tiba ramai oleh para korban dan keluarganya, belum lagi para wartawan yang sedang ingin mengulik informasi tentang kondisi para korban.


Mahfudz menarik kepalaku untuk kusandarkan di bahunya.


"Ka-u ca-pek?" tanyanya.


"Sedikit," jawabku sambil bergelayut manja di bahunya.


Tangannya memeluk punggungku dari belakang. Dan aku pun membalas melingkarkan tanganku memeluk perutnya.


"Sayang ...." panggilku.


"Terima kasih karena sudah menyelamatkan bayi itu."


Dia melonggarkan pelukanku untuk bisa melihat wajahku.


"K-ena-pa ka-u yang ber-te-ri-ma ka-sih?" tanyanya.


Aku menarik napasku dan menghelanya.


"Karena tadi aku tak mampu melakukan CPR itu, kau mengambil alih tugasku, karena kamu tak ingin aku terbebani kan? Kau tau aku tidak siap melihat bayi meninggal lagi. Membayangkannya saja membuatku tertekan," kataku mencurahkan apa yang kurasakan.


Dia mengangguk dan membelai punggungku.


"A-ku me-ma-ha-mi, Ray. Ka-u pas-ti bi-sa me-le-wa-ti i-ni se-mu-a. A-ku a-da ber-sa-ma-mu, sa-yang."


Aku mengangguk. Tiba- tiba terpikir olehku menanyakan kejadian tadi saat aku mendengar Mahfudz bicara dengan lancar.


"Sayang, kamu udah bisa bicara normal lagi?" tanyaku.


"Hmmm?"


Mahfudz terlihat bingung.


"Mak-sud-nya?"


Aku mengernyitkan keningku. Ikut bingung.


"Tadi aku mendengar kamu ...."


"Dr. Raya!"


Masih sekitar 4 meter dari tempat dudukku, Professor tiba- tiba datang menghampiriku. Spontan aku dan Mahfudz melepaskan rangkulan tangan kami masing- masing. Untunglah Professor tidak terlalu memperdulikannya. Sepertinya beliau sedang serius. Karena kalau tidak, Professor akan menggodaku mati- matian kalau melihat hal ini.


"Ikut aku sebentar! Mahfudz kalau mau ikut juga boleh!" ajaknya.

__ADS_1


Professor berjalan menuju satu ruangan. Dan aku begitu pun Mahfudz dengan patuh mengikuti beliau. Sepertinya ini ruang direktur utama rumah sakit.


"Duduk!" katanya mempersilahkan.


Kami pun duduk sesuai keinginan beliau.


Professor menghela. napas berat.


"Bagaimana? Apa semua para korban telah ditangani dengan baik?" tanyanya.


Aku mengangguk.


"Ya, Prof. Selain dua korban jiwa yang meninggal di tempat, semua korban yang telah dibawa ke sini sudah ditangani sebagaimana mestinya. Jumlah korban yang dibawa ke sini ada 14 orang. 9 korban masih anak- anak, dan sisanya korban dewasa. Guru, sopir dan pengendera motor yang terlibat langsung dalam kecelakaan itu." kataku melaporkan.


Professor Ayyub mengangguk.


"Baik. Kalau begitu bukankah ini berarti kamu sudah memutuskan untuk kembali ke rumah sakit?" tanya Professor tiba- tiba.


Itu membuatku dan Mahfudz seketika tertegun dan saling memandang.


"Ma- maksudku bukan seperti itu, Prof!"


Kok jadi seperti ini sih tanggapannya Professor, pikirku.


"Begini dr. Raya," Professor berbicara denganku dengan nada formal. " Rumah sakit ini hingga hari ini belum diresmikan. Dan hari ini aku dengan wewenangku membuka rumah sakit ini atas permintaanmu. Seperti kamu tau RSIA Satya Medika adalah rumah sakit yang bekerja sama dengan pemerintah kota. Ini bukan rumah sakit yang aku dirikan secara pribadi seperti Siaga Medika. Kamu tau, untuk membuka rumah sakit ini perlu persetujuan dari kedua belah pihak antara pihak saya dan Pemkot. Kamu tau resiko apa yang saya ambil saat membuka rumah sakit ini hari ini?"


Aku menghembuskan napasku dan menunduk bersalah. Ya, aku telah menempatkan Professor di posisi serba salah.


"Maafkan saya, Prof." ucapku dengan nada yang sangat bersalah.


Professor mengangguk- angguk dan menatapku lama.


"Namun, masalah ini akan terkendali kalau kita punya alasan yang sangat kuat sehingga sangat harus membuka rumah sakit hari ini, sehingga pihak pemerintah kota tidak menyalahkan keputusan kita membuka rumah sakit sebelum peresmian. Apalagi kasus ini disorot oleh media," kata Professor menjelaskan.


"Kita kan memang punya alasan kuat, Prof. Ini kecelakaan beruntun. Kasus serius yang bahkan telah memakan korban jiwa." kataku mencoba meyakinkan.


Professor menggeleng.


"Tidak ada alasan membuka rumah sakit hari ini, kalau hanya berdasarkan itu saja. Mereka bisa dilarikan ke rumah sakit lain."


"Tapi rumah sakit lain selain ini jauh, Prof. Bisa memakan waktu setengah jam lebih untuk mencapainya. Keburu jatuh korban tidak terselamatkan, lebih banyak dari yang seharusnya," bantahku.


"Iya, saya tau. Tetapi mereka tidak akan mengerti Raya. Jalan pikir politisi dan tenaga medis itu berbeda."


Aku tak percaya ini. Lalu maksud Professor apa sebenarnya? Dari nadanya bicara sepertinya Professor ingin aku bertanggungjawab.


"Kecuali, ada seseorang dokter penanggung jawab yang menghandle semua pasien korban kecelakaan ini dan dia punya posisi kuat dan berwenang di RSIA Satya Medika ini," kata Professor hati- hati.


Aku mengernyitkan keningku. Maksudnya?


"Dr. Raya, tolong terima tawaranku. Jadilah, Dokter Kepala Obstetri dan Ginekologi di RSIA Satya Medika."


Aku dan Mahfudz saling pandang. Sama- sama terkejut.


"Prof ....!"


Aku ingin protes. Kembali menjadi dokter Sp.OG biasa saja belum terpikirkan olehku. Jadi Dokter Kepala?


"Kalau kau menolak itu artinya saya berada dalam masalah, Raya. Tolong, sedikit berbelas kasihlah pada orang tua ini."


Ahhh aku tak percaya ini.


"Tapi, Prof. Masih ada yang lebih kompeten dari saya, ada dr. Gayatri dan dr. Samuel .... Bukankah dr. Samuel yang harusnya dimutasi ke sini?"


"Dr. Samuel tidak mau mempertanggung jawabkan apa yang tidak dikerjakannya. Bagaimana pun, pasien kecelakaan beruntun adalah operasi penyelamatan pertama yang dilakukan di rumah sakit ini. Sekaligus menjadi grand opening yang dipimpin langsung olehmu terlepas kau sadar atau tidak atas tindakanmu. Kamu lihat betapa banyak wartawan di luar sana yang menanti penjelasan? Tolong diterima penawaran dari saya. Atau biarkan saja orang tua ini terjerumus dalam masalah." kata Professor sembari bangkit dari duduknya dan berlalu menuju pintu.


"Prof! Professor!" rengekku mencoba membuatnya mengurungkan niat ingin memberiku posisi sulit ini.


Tapi Professor Ayyub tak menghiraukan rengekanku.


Aku menatap Mahfudz dan membenturkan kepalaku di meja. Mahfudz kini melihatku bimbang antara iba atau mendukungku. Iba karena dia tau aku belum ingin bekerja. Dan rasa ingin mendukungku karena pastinya ini jenjang karir yang bagus.

__ADS_1


__ADS_2