
"Kamu sudah mau kerja hari ini, Ray? Bukannya ngambil cuti seminggu" tanya Ummik saat melihatku sudah bersiap-siap berangkat ke rumah sakit.
"Raya pikir-pikir mending Raya kerja, Mik. Cuti nikah kan biasanya buat bisa nikmatin bulan madu. Nah, suami Raya lagi di rumah sakit kok. Ya, Raya nyusul ke sana aja" candaku.
Ummik sama sekali tidak tertawa dengan candaanku. Tersenyum pun tidak. Beliau terlihat sangat khawatir sejak penemuan kado bangkai kucing di kamarku.
"Kamu nggak apa-apa ke rumah sakit sendirian?" Ummik antarin ya, Nak?"
"Ummik antarin Raya pake apa, Mik? Naik motor Ummik nggak bisa, mobil apalagi. Ummik di rumah aja. Raya nggak akan kenapa- kenapa. Kan ada Mahfudz yang jaga Raya di rumah sakit, justru Raya khawatir sama Ummik. Siapa yang jaga Ummik kalau di rumah. Atau Ummik aja yang ikut Raya ke rumah sakit?" tanyaku.
"Ummik nggak apa-apa, Ray. Kamu dan Mahfud yang Ummik khawatirin. Kado jelek itu ditujukan buat kalian. Bagaimana kalau kamu diculik lagi?"
"Raya akan hati- hati, Mik"jawabku sambil meraih tangan Ummik dan menciumnya.
Dan akhirnya meski dengan hati yang berat, Ummik akhirnya mengijinkan aku ke rumah sakit. Sebenarnya aku pun gelisah memikirkan siapa yang mengirim anak kucing mati itu pada kami. Apa dia Ali? Sherly? Atau Waridi? Atau ada orang lain? Hatiku bertanya-tanya. Justru itulah yang menjadi alasanku pergi ke rumah sakit pagi ini. Ada yang ingin ku cari tau.
Sesampai di rumah sakit aku langsung disambut godaan rekan-rekan kerja.
"Wah, pengantin baru! Udah nongol aja nih di rumah sakit"goda Pak Septian, salah seorang staf di poliklinik.
Aku tertawa lebar.
"Ya, ngapain libur lama-lama ya, Dok? Mau kelonan di rumah pengantin prianya juga ada di rumah sakit" goda Pak Budi lagi.
"Iya donk, Pak. Pak Budi tau aja urusan begituan" kataku sembari nyengir.
"Taulah, Dok! Urusan kelon-mengeloni mah saya sudah senior, ahlinya, sudah dapat gelar SpKm saya mah" katanya.
"Apa itu SpKM, Pak?"tanyaku.
"Spesialis Kelon Mengeloni" selorohnya yang membuat staf lain yang sedang bekerja ikut tertawa.
Aku juga ikut tertawa. Pak Budi ada-ada saja.
"Ngomong-ngomong, Pak saya kesini bukan mau kerja sih. Saya mau ketemu dr. Sherly? Dia ada?"
"Ada tadi. Kayaknya sih lagi ronde keliling"
"Ohh... Sp.OG yang masuk pagi ini siapa, Pak?"
"Dr. Gayatri, Dok"
"Oh, ya sudah. Saya permisi dulu ya, Pak! Saya mau cari dr. Sherly dulu Pak. Ada urusan sedikit sama dia."
"Wokeeh kalau begitu, Bu Dokter!"
Aku segera berlalu meninggalkan mereka dan mencari dr. Sherly. Hingga akhirnya aku menemukannya dan mengutarakan keinginanku untuk bicara dengannya. Aku harus mencari tau apa dia memiliki kemungkinan sebagai si pengirim anak kucing mati itu.
Dan kini kami duduk di kantin ini sambil menunggu pesanan Bakso.
"Jadi, dokter Raya mau ngomong apa?"tanyanya sambil menyeruput es jeruk di depannya. Dia terlihat acuh.
"Kamu kenapa tidak datang ke pernikahanku?" tanyaku.
Dia tersenyum geli. "Kenapa dr. Raya menanyakan itu? Apa kedatanganku benar-benar diharapkan? Ah, aku tidak percaya. Kita nggak begitu terlalu dekat, Dokter"
"Tapi kamu dokter residenku sudah cukup lama, wajar kalau aku menanyakanmu atau mencarimu kan?" kataku.
Kami berhenti bicara sejenak saat bakso pesanan kami datang.
"Kalau dokter yang jadi aku, apakah dokter akan datang di pernikahan orang yang sudah menolak dokter?"tanyanya.
Dia menyuap sebutir bakso ke mulutnya menunggu jawabku.
"Aku akan datang menunjukkan ke dia kalau pernikahannya itu tak berarti apa-apa bagiku"jawabku.
"Aku benar-benar menyukai Mahfudz. Dr. Raya tau?" tanyanya.
Aku tiba-tiba berhenti mengunyah mie dalam mulutku.
Darahku tiba-tiba memanas mendengarnya mengatakan kalau dia menyukai suamiku.
"Tapi dia tidak menyukaiku" dr. Sherly buru-buru mengatakan itu setelah melihat ekspresiku.
"Ya. Aku sedikit tau tentang hubungan kalian bahkan soal pelukan itu" kataku sinis sambil menatapnya tajam.
Kini cemburu mulai menguasaiku lagi setelah sekian lama. Dia harus tau Mahfudz itu suamiku. Hanya aku yang berhak atasnya. Dan hanya aku wanita yang boleh memeluk dan dipeluk olehnya.
"Oh, itu.... Aku yang memeluknya. Dia tak membalasnya. Dia juga melepaskan pelukanku dengan kasar. Dokter Raya tidak perlu merasa cemburu soal itu. Lagi pula, itu kejadian sebelum kalian menikah" katanya santai.
Enak saja kamu ngomong begitu. Kamu bahkan memeluk suamiku lebih duluan daripada aku, dasar wanita ******!makiku. Tapi itu hanya dalam hatiku saja.
"Walaupun kami belum menikah saat itu, saya rasa, saya berhak cemburu. Karena waktu itu saya dan Mahfudz sudah sama-sama punya perasaan"
__ADS_1
"Saya minta maaf soal itu, Dokter. Jangan khawatirkan hubungan antara saya dan Mahfudz. Kami tidak pernah punya hubungan. Mahfudz itu mencintai dr. Raya. Ahhh, saya sebenarnya tidak suka mengakui hal itu. Tapi ke depannya saya tidak mau ada urusan dengan suami orang. Merebut pacar orang pun saya tidak mau. Apalagi suami orang. Saya tidak mau ke depannya ada masalah dengan dr. Raya apalagi yang bisa mengganggu pendidikan saya dalam mengambil spesialis. Jadi mohon lupakan saja masalah kita, Dokter" kata dr. Sherly serius.
Aku menghela napasku dalam-dalam. Hampir saja aku terbawa emosi kecemburuan lagi. Tapi aku ingat tujuanku bertemu Sherly bukan untuk mengorek-ngorek tentang perasaannya pada Mahfudz. Aku tau Mahfudz sangat mencintaiku. Aku tau bahkan dari caranya memandangku. Dari caranya menginginkanku, setidaknya saat ini hatinya tidak akan tertarik untuk wanita lain selain aku. Aku kesini bukan untuk melampiaskan kecemburuanku. Tapi untuk mencari tau, apakah mungkin dr. Sherly adalah pengirim kado berisi bangkai anak kucing itu.
"Kamu suka kucing dr. Sherly?"tanyaku.
Dia mengangkat sebelah alisnya pertanda heran pada pertanyaanku.
Dia menggelengkan kepalanya. "Saya tidak suka kucing, dokter. Saya bukan cat lover. Saya geli pada kucing. Kenapa?"tanyanya.
"Saya jarang mengungkapkan perasaan pada orang lain. Ini saya katakan hanya padamu. Saya mencintai Mahfudz karena itulah saya menikah dengannya. Dan saya cukup lega atas jawabanmu bahwa kalian tidak ada hubungan apa-apa. Bahwa kamu juga menganggapnya seperti itu. Berarti kamu juga sudah ikhlas melepaskan perasaanmu pada suamiku. Karena itu saya sangat berterima kasih padamu. Tadinya saya berencana memberi anak kucing padamu, dr. Sherly. Mungkin bisa menghiburmu untuk menggantikan Mahfudz" kataku setengah bercanda.
"No. Terima kasih untuk tawarannya, Dokter! Saya tidak suka kucing. Benar-benar tidak suka. Menyentuh bulu-bulunya pun saya tidak akan mau. Ihh....gelinya. Kalau memang dokter mau berterima kasih cukup traktir saya makan bakso ini saja. Itu sudah cukup."katanya.
Aku menatapnya lega. Sepertinya bukan dr. Sherly.
"Makanlah. Biar saya yang bayar" kataku.
\*\*\*\*\*
Pelaku pengirim kado bangkai kucing itu pastilah psikopat yang tidak suka pada kucing. Sehingga dia tega membunuh dan memutilasi anak kucing itu. Beda dengan dr. Sherly, dia tidak suka hanya karena geli pada bulunya. Dan jika dia geli pada bulu kucing dia tidak akan mau menyentuh kucing itu sampai membunuh dan memutilasinya kan? Dia tidak mungkin juga menyuruh orang lain melakukannya karena itu berarti akan menunjukkan betapa psikopatnya. Atau jika dia ingin menerorku toh, dia bisa menggunakan hewan lain yang lebih biasa disembelih seperti ayam mentah untuk dikirim padaku.
Seusai menemui dr. Sherly kini aku menuju ke Sub bagian kepegawaian rumah sakit. Aku menemui Pak Heri. Aku ingin mencari seseorang yang sudah lama ingin ku cari. Tapi baru kali ini aku ingat dan menyempatkan diri.
"Wah, ada apa pengantin baru pagi-pagi berkunjung ke sini?"kelakar Pak Heri.
Aku tertawa seadanya. Aku sudah mulai terbiasa dengan godaan seperti ini.
"Aku butuh bantuan Pak Heri"kataku.
Pak Heri mengernyitkan keningnya. Aku mulai menjelaskan maksud dan tujuanku. Aku datang ke situ ingin mencari staf atau perawat yang bernama Rini.
"Ada banyak yang bernama Rini di sini, Arini Veronika, Rini Anita, Marini Devika. Yang mana yang kamu maksud?" kata Pak Heri menunjukka hasil pencarian dengan kata kunci "Rini" di komputernya.
Aku melihat bingung pada komputer. Aku tak menyangka akan banyak hasil bernama Rini yang keluar.
Aku menggerak-gerakkan mouse komputer.
"Kamu benar-benar nggak tau Rini yang kamu maksud ditugaskan di departemen apa?"tanyanya.
Aku menggeleng.
"Lah, memangnya ini siapamu? Kok bisa nggak tau nama lengkapnya siapa, ditugaskan di departemen apa...."kata Pak Heri bingung.
"Aku ada sedikit urusan dengannya, Pak Heri. Sayangnya aku cuma dapat info itu aja kalau namanya Rini kerja di rumah sakit ini sebagai perawat"kataku memberi penjelasan.
"Memang ada urusan apa? Penting banget ya?"tanya Pak Heri kepo.
"Aku belum bisa bilang, Pak Heri" kataku menolak menjawab pertanyaannya.
"Jangan-jangan masalah asmara ini. Yang namanya Rini ini punya affair sama suamimu?"tebaknya.
Aku langsung menggeleng-geleng menyangkal tebakannya. "Ahh, nggak kok, Pak! Kok Bapak bisa mikir gitu sih?" kataku sambil tertawa.
"Ya. Siapa tau saja. Namanya lelaki kita nggak tau kelakuannya di dalam atau di luar kita sama atau nggak"
"Ya, nggaklah, Pak. InsyaAllah suami saya nggak seperti itu. Naudzubillahi mindzalik"
"Iya, iya! Bapak tau kisah romantis cinta kalian. Udah dengar."katanya. "Tapi barangkali itu wanita yang mau ganggu suami kamu, tapi dia nggak mau gimana? Saran aja nih, ya. Coba cari Rini itu di departemen suamimu koas. Suamimu sekarang koas di departemen penyakit dalam kan?"
Oh, iya benar. Waktu ada kejadian Ayuni bunuh diri itu kan, Ayuni jadi pasien rawat bersama penyakit dalam dan obgyn. Ayuni juga diberikan obat tukak lambung yang bisa berefek pada keguguran janin yang kuduga pelakunya adalah Rini anak asuh GNOTA-nya Waridi. Berarti saat kejadian Ayuni dibawa ke rumah sakit harusnya Waridi sudah menelpon Rini untuk siap-siap melancarkan rencananya menggugurkan janin Ayuni. Berarti perawat itu harusnya berasal dari perawat departemen penyakit dalam atau obgyn. Ya, ya, ya.... Aku sedikit paham sekarang.
"Pak, coba cari perawat bernama Rini dari departemen penyakit dalam, divisi gastroenterologi"pintaku.
"Sebentar...." Pak Heri kembali menggerak-gerakkkan mouse komputer itu.
"Ada tiga orang. Rini Maulida, Marini Devika, dan.... Rini Febriani Malik. Yang mana? Mereka bertiga ini dari departemen penyakit dalam"
"Semua Rini ini dari divisi gastroenterologi?" tanyaku heran.
Pak Heri mengangkat bahunya. "Entahlah. Yang jelas mereka bertiga ini perawat dari departemen penyakit dalam. Kalau data mereka yang tersimpan disini cuma sampai situ. Selanjutnya kalau soal pembagian divisi, itu wewenang dari departemen mereka. Soalnya mereka sering rolling. Kadang mereka gantian ditempatkan di divisi-divisi yang berbeda setiap minggunya. Dr. Raya kan tau tiap departemen punya kebijakan sendiri-sendiri dalam mengatur staffnya. Sementara di sini kita Sub Umum bagian kepegawaian cuma diberi laporan garis-garis besarnya saja." kata Pak Heri menjelaskan.
"Ok, Pak! Kalau boleh saya mau minta nama mereka. Kalau soal data misal latar belakang keluarga atau latar belakang pendidikan seperti lulusan sekolah mana ada nggak ya, Pak?"
Pak Heri menatapku penuh tanda tanya dan penasaran. Dia terlihat curiga.
"Sebenarnya kamu ke sini untuk mencari orang, atau.... untuk menyelidiki seseorang?"
"Pak Heri.... "rengekku manja.
"Oh, ya ampun. Anak ini...."
Pak Heri tidak akan sanggup menolakku. Aku pernah menolong persalinan anak semata wayangnya yang hampir meninggal karena pendarahan.
__ADS_1
\*\*\*\*\*
Aku ragu-ragu melangkah ke departemen penyakit dalam. Bagaimana caraku menyelidiki ke tiga perawat bernama Rini ini ya?pikirku.
Apa sebaiknya kutanya pada sesama perawat? Atau ku tanya ke bagian kepegawaian departemen penyakit dalam saja? Tapi aku tidak begitu kenal staff kepegawaian di sana. Aku harus cukup alasan untuk bisa mendapatkan informasi yang kuterima.
Andai aku masih berbaikan dengan Ali, setidaknya seperti sebelum Tya meninggal, aku pasti bisa meminta tolong bantuannya. Ali adalah wakil kepala departemen penyakit dalam.
Saat aku sedang bimbang antara lanjut masuk ke dalam atau pulang. Tiba-tiba aku bertemu dengan Ali.
"Wah, wah, wah!!! Ada tamu istimewa dari departemen Obgyn di sini. Dr. Raya, apa kabarmu? Kenapa pengantin baru belum selesai cuti bulan madu tapi sudah berkeliaran di sini? Kamu mencari suamimu?"tanya Ali sinis terkesan merendahkan.
"Aku ada sedikit keperluan di sini" kataku.
"Baiklah" katanya. "Segala sesuatu yang berurusan tentang departemen penyakit dalam berarti adalah urusanku, kamu bisa katakan semuanya padaku! Let's go! Mari kita bicarakan di ruanganku!" ajaknya sambil berjalan.
Aku ragu-ragu mengikuti ajakannya. Bagaimana kalau Mahfudz tau aku kesini. Apa yang akan dipikirkannya. Tapi aku perlu menyelidiki kasus Ayuni yang belum terungkap. Kalau tidak selamanya aku akan diteror Waridi. Aku tau hanya dia yang bisa melakukannya. Hanya Waridi yang memiliki bakat psikopat. Sebenci-bencinya Ali padaku aku tau dia sosok penyayang. Dia tak akan sanggup membunuh seekor anak kucing dan memutilasinya menjadi beberapa bagian.
"Ayo!!" ajak Ali yang sudah berjalan beberapa meter dariku.
Aku mengikutinya sampai ke depan ruangannya.
"Masuk!" katanya memprsilahkan.
Aku ragu-ragu mengikutinya masuk ke dalam. Aku berdiri bengong di depan ruangannya. Kami bukan muhrim. Ini bisa jadi fitnah kalau hanya berduaan di ruangannya.
"Masuklah, kamu pikir aku akan ngapain kamu Ray, kalau kamu masuk ke dalam?"
Aku melangkah masuk. "Pintunya bisa dibiarkan terbuka saja kan?"tanyaku.
Ali geleng-geleng kepala sambil tertawa geli padaku.
"Kalau ditutup memangnya apa yang kamu pikir bakal terjadi? Aku bakal menggerayangimu gitu? Memperkosamu? Raya, aku masih punya adab. Kalau aku punya kebutuhan biologis pun ada banyak wanita yang bisa kuajak begitu. Aku tidak tertarik pada istri orang"
"Baguslah. Aku hanya tidak ingin ini jadi fitnah saja"
Ali menatapku seolah aku ini tak masuk akal.
"Ok. Baiklah buka saja pintunya"katanya mengalah.
Aku membiarkan pintu terbuka dan duduk dihadapannya tanpa dipersilahkan.
"Pertama-tama aku ucapkan selamat menempuh hidup baru, maaf aku tidak bisa mendoakanmu bahagia, walaupun aku tidak tega mendoakan yang buruk juga padamu"
Kali ini aku yang geleng-geleng kepala.
"Sekarang katakan padaku apa keperluanmu! Oh, iya tunggu sebentar. Kamu mau minum apa?"tanyanya.
"Tidak perlu, aku cuma sebentar" kataku.
"Tidak bisa begitu.Tunggulah sebentar."
Ali mengambil ponsel dari kantongnya. Dia menghubungi seseorang.
"Fud! Tolong bawakan dua minuman dingin kesini. Saya kedatangan tamu istimewa. Yang cepat, ya!"katanya ditelepon.
Harusnya aku sudah menduga ini akan terjadi. Dia menelepon Mahfudz.
"Perlukah kamu melakukan ini?"tanyaku marah.
"Melakukan apa, Raya? Aku hanya menyuruh anak koasku. Itu pekerjaan ringan. Cuma mengambil minum di pantry. Semua anak koasku kuperlakukan sama tanpa pilih kasih. Kamu mau aku mengistimewakan suamimu? Atas dasar apa? Kau juga sering menyuruh-nyuruh anak koasmu kan? Yang jadi pagar ayu di acara pernikahanmu adalah para dokter muda juga. Bukankah lebih capek menjaga pos penerimaan kado dari pagi sampe sore. Aku hanya menyuruh Mahfudz mengambil air minum saja kau marah."
"Aku mempekerjakan anak koasku dengan memberikan mereka gaji. Lalu kamu apa? Kamu menyuruh-nyuruh Mahfudz hanya untuk merendahkan dia di depanku. Oh.... tunggu dulu.... "
Aku baru menyadari sesuatu.
"Kau datang ke pernikahanku? Aku tidak melihatmu. Kau tau semua tentang pagar ayuku segala. Jadi, kamu yang memberikan kado bangkai kucing itu???? Biadap sekali kau!!!!"
"Apa maksudmu? Aku tidak...."
"....sudah cukup!"selaku. "Gara-gara kamu Ummik sampai lemas karena ketakutan! Sekarang aku tau ternyata kamu yang melakukannya! Cukup aku tau betapa piciknya kamu! Jangan ganggu aku dan keluargaku lagi!"
Aku segera bangkit dari dudukku dan keluar dari ruangannya.
Ali mengejarku. "Ray, tunggu dulu. Apa maksudmu? Aku tidak..."
Aku tidak menghiraukan kata-kata Ali lagi.
Aku melihat kira-kira dua meter di depanku ada Mahfud. Dia memegang dua tangkai gelas berisi es teh dengan sebelah tangannya. Aku menghampirinya dan mengulurkan tanganku. Mahfudz sempat bengong namun dia tetap memindahkan dua tangkai gelas itu ke tangan kirinya. Aku meraih tangan kanannya dan mencium tangan itu.
Di hadapan Ali aku berkata,
"Sayang, dari tadi aku mencarimu...."
__ADS_1