I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Masa Lalu Bersama Ali


__ADS_3

"Dokter! Dr. Raya nggak apa- apa?"


Para staf dan beberapa orang di ruang tunggu langsung menghampiriku yang sedang muntah- muntah. Beberapa orang langsung membimbingku ke kursi agar duduk dan bisa menenangkanku. Namun aku masih ingin muntah lagi. Aku segera bergegas ke ruanganku. Di toilet dalam ruanganku itu aku muntah sejadi- jadinya sampai perutku terasa kosong dan tubuhku serasa lemas.


"Dokter, nggak apa- apa?"


Dwi, salah satu staf FO mendatangiku di ruanganku dan memberikanku minyak kayu putih.


Aku menggeleng.


"Tolong panggilkan CS untuk bersihkan muntahanku di depan, Dwi. Aduuh, aku jadi ngerepotin kalian, kan?"


"Dr. Raya jangan bilang gitu, ah! Dr. Raya itu nggak ngerepotin. Yang jahat itu yang ngirim paket itu. Siapa kira- kira dok yang sampai hati mengirim paket begitu ke dokter?" tanyanya prihatin.


Aku menggeleng. Terbersit di pikiranku, dia mungkin saja Ali. Terakhir ketika aku ke ruangannya aku tau kalau dia datang ke pesta pernikahanku tanpa menemuiku. Dan wajar kan, kalau aku curiga dia pelaku pengirim kado kucing mati itu?


Segera aku bergegas keluar lagi. Kulihat di ruang tunggu cleaning service itu sudah selesai membersihkan bekas muntahanku.


"Maaf ya, Mas! Aku jadi ngerepotin," kataku.


"Ngga apa- apa, Dok!" kata cleaning service itu.


Cleaning service itu segera memungut dan membawa kotak yang berisi bangkai kucing itu.


"Mas, tunggu dulu!" panggilku.


"Aku minta ini sebentar," kataku dan meraih kotak itu dari tangan cleaning service.


Segera aku pergi membawa kotak itu ke departemen penyakit dalam. Aku harus menemui Ali! Dia mana boleh mengintimidasi aku seperti ini. Apa salahku padanya?


Di koridor aku bertemu dengan Mahfudz dan temannya.


"Sa-yang, ka-mu nga-pa-in di si-ni?" tanya Mahfudz.


Aku seperti akan menangis melihatnya. Namun aku memilih untuk tidak menjawabnya. Aku tetap berjalan dengan penuh emosi menuju ruangannya Ali. Mahfudz mengikutiku setelah memberi pengertian pada temannya untuk pergi duluan.


"Ra- ya, kau k-ena-pa, a-pa i-tu?" tanyanya menunjuk kotak yang ku bawa.


Aku sungguh tidak peduli untuk menjawabnya lagi. Sesampainya di depan ruangan Ali. Aku menggedor pintu itu keras- keras. Mahfudz sampai heran melihatku. Dia khawatir melihat sikapku.


"Masuk!" terdengar nada suara Ali juga terlihat heran ingin mengetahui siapa yang menggedor pintu ruangannya sekeras itu.


Aku segera membuka gagang pintu itu dengan keras. Dengan marah aku menatapnya yang sedang duduk membaca beberapa lembaran- lembaran kertas yang entah apa isinya.


Aku meletakkan kardus itu di meja tepat di hadapannya.


"Apa itu?" tanyanya bingung.


Aku tersenyum padanya dengan pandangan tidak masuk akal.


"Kamu ingin tau?" tanyaku.


Aku membuka tutup kardus itu dan menunjukkannya pada Ali. Ali terlihat membuang muka, seolah tak tega melihatnya.


"Astaga .... Berhenti bersandiwara di depanku!" kataku muak. "Kamu mengirim ini untukku tujuannya apa? Kamu mau buat aku stress? Kamu mau mengintimidasiku?!!" teriakku marah.


"Apa maksudmu Raya? Aku tidak pernah mengirimmu itu! Kamu kira aku sudah tidak punya akal sehat melakukan itu pada hewan terus mengirimkannya padamu? Buat apa?" balasnya.


"Justru itu yang mau aku tau, untuk apa kamu melakukan itu semua? Kau dendam padaku? Kamu benci pada Mahfudz?"


Mahfudz menyentuh pundakku hendak menenangkanku.


"Kau sepertinya ingin sekali merusak hidup dan pernikahanku. Kemarin juga kamu memprovokasi Mahfudz di kantin kan? Kamu yang membuat dia berpikir kalau aku selingkuh dengan saudara kembarnya. Hanya kamu yang melihat aku menyerahkan print USG itu pada Fuad ...."


Ali terhenyak mendengarku.


"Raya, aku tidak bermak ...."


"Apa salahku padamu? Apa salah Mahfudz padamu? Apa dia merebutku darimu? Sadarlah Ali, sebelum aku kenal dengan Mahfudz, kita sudah berakhir lama sekali. Dia tidak merebut siapa- siapa darimu! Kenapa kamu perlakukan kami seperti ini? Ketika kau menikah dengan Tya, apa pernah aku mengganggu hidupmu dengan Tya? Kenapa sekarang kau mengganggu hidupku seperti ini? Tidak bisakah kamu anggap aku orang lain? Anggap saja aku tidak pernah ada!" jeritku frustasi.


"Aku tidak bisa!!!" teriak Ali tak kalah keras membuat aku dan Mahfud kaget.


Aku tidak percaya ini. Sepertinya Ali sudah gila! Aku melihat pandangan Mahfudz yang juga terlihat kesal pada Ali. Dia mulai menggenggam tanganku dan bersiap mengajakku pergi dari situ.


"Aku tidak bisa menganggapmu orang lain! Aku tidak bisa berhenti mencintaimu! Aku tidak bisa melupakanmu! Kau tau kenapa?"teriaknya padaku. "Mahfudz, kau tau kenapa?"


Mahfudz menatap Ali dengan pandangan menantang. Dia menunggu alasan Ali, kenapa lelaki itu masih mencintai istrinya.


Ali mendekatkan dirinya padaku, sangat dekat. Dia berkata tepat di hadapanku.

__ADS_1


"Karena aku tau, kamu masih mencintaiku Raya!"


Aku terhenyak mendengar kata- katanya. Ali ini benar- benar tidak masuk akal. Mahfudz yang mendengarnya juga sepertinya tidak sabar dan ingin memukul Ali andai aku tidak menahannya.


"Kau benar! Aku yang membuangmu dan meninggalkanmu begitu saja demi Tya, dan seonggok gelar kedokteran. Tapi kenapa kau tidak mau melepaskanku? Kau yang tidak mau kubuang!"


"Ali! Kamu jangan mengada- ada!" kataku muak. "Aku sudah lama melepasmu, aku sudah lama mengikhlaskanmu. Jangan memprovokasi hubunganku denganku Mahfudz!"


Ali tertawa terkekeh.


"Kenapa? Kamu takut suamimu tidak percaya lagi padamu? Kamu takut dia mengetahui kemunafikan istrinya? Akuilah setidaknya pada dirimu sendiri, kalau kamu masih mencintaiku Raya, mungkin belum terlambat bagi kita untuk kembali pada perasaan kita masing- masing. Aku bisa menerimamu apa adanya, walaupun kamu sudah mengandung anaknya orang lain!"


Sampai di situ Mahfudz tak bisa lagi menahan emosinya.


"Breng-sek! Be-ra-ni se-ka-li ka-u ber-ka-ta be-gi-tu di de-pan-ku!"


Sebuah pukulan mendarat di wajah Ali. Ali tak terima. Dia balas memukul Mahfudz.


"Aku tidak bicara padamu! Kau jangan ikut campur! Ini antara aku dan Raya!"


Perkelahian itu tak dapat dihindari. Aku berusaha melerai mereka. Setelah aku berhasil memisahkan mereka aku hendak membawa Mahfud dari situ.


"Kenapa dulu kau tidak menerima tawarannya mertua Hawa untuk bekerja di rumah sakit Medika Rahayu? Medika Rahayu jauh lebih besar dari Siaga Medika. Aku dengar kau bahkan direkomendasikan untuk bekerja di rumah sakit pusat di ibu kota. Kenapa Ray?"


Deg! Jantungku tiba- tiba berdegup kencang. Itu suara degup jantung dari masa lalu. Aku tidak mau Mahfudz sampai mendengarnya.


"Aku cuma ingin bekerja sesuai kemampuan dan kompetensiku tanpa rekomendasi dari orang yang ku kenal. Kau pikir apa?" tanyaku sinis.


Ali menatapku tak kalah sinis. "Kau masih saja munafik sampai akhir. Hanya satu alasanmu menolak itu semua. Kamu masih cinta padaku. Kamu masih ingin bisa melihatku, kamu ingin berada di sisiku. Sungguh pun kenyataan sangat menyakitkan kalau aku menikahi Tya cucu Professor Ayyub dan dia selalu mengganggumu. Kau tetap bertahan di rumah sakit ini karena aku, karena kau cinta padaku kan?"


Oh, Tuhan. Air mataku seperti mau jatuh. Ini mengingatkanku pada masa- masa itu. Aku menggenggam tangan Mahfudz erat. Mencoba menahannya dari perbuatan yang akan disesalinya kalau dia sampai menyerang Ali.


"Kamu masih belum mau mengakuinya? Kamu masih sering ke atap kalau kamu sedih. Terakhir saat Tya meninggal, aku memakimu dengan kata- kata tak pantas saat kau melayat ke rumah. Aku benar- benar menyesalinya sungguh .... Aku mengejarmu saat kau pulang. Aku tau kau akan langsung ke atap. Benar, kau ada di sana. Bersama Mahfudz. Kau mengajak Mahfudz menikah di tempat kenangan kita dulu. Tempat yang sering kita datangi, dan menghabiskan waktu berjam-jam di sana."


Sampai di situ aku mulai gerah. Apa maksudnya mengatakan itu semua di depan Mahfudz. Itu hanya masa lalu.


"Omong kosong ...." gumamku.


"Kau bilang pada Mahfudz, menikah dengan siapa pun kau tak apa asal bukan denganku. Sebegitu ingin kau membalasku, Ray? Kau menikah dengan Mahfudz hanya ingin membalas sakit hatimu padaku? Baiklah. Kalau sakit hati hanya bisa dibalas dengan sakit hati, pernikahan dibalas dengan pernikahan. Aku ikhlas kamu menikah dengan orang lain. Aku rela kamu menikah dengan Mahfudz meskipun aku punya kesempatan menggagalkannya kalau aku mau. Aku bahkan membawanya ke rumah sakit jejaring sehari sehari sebelum pernikahanmu. Dia terlambat ke pernikahanmu karena ulahku. Kau tau?"


Aku menatap wajah Mahfudz. Wajah itu tidak bisa menutupi sirat kekecewaan di wajahnya. Dia pasti merasa kujadikan pelarian sekarang. Aku menggenggam tangannya erat. Aku mohon, jangan percaya padanya, sayang!


Ali meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Lepasin, Li!" Aku panik sekarang. Aku berusaha melepaskan tanganku. Tapi Ali tidak mau melepaskannya.


Mahfud tidak sabar lagi melihatnya. Dia mendorong Ali keras hingga ke meja hingga meja itu pun bergeser dari posisinya. Sebuah pukulan melayang di wajah Ali.


"Ber-pi-kir se-ka-li la-gi se-be-lum ka-u be-ra-ni me-nyen-tuh is-tri o-rang la-in."


Mahfudz menarikku dari sana. Dia terlihat sangat marah. Dia membawaku ke ruanganku.


"Ja-ngan per-nah ke in-ter-na la-gi" katanya setelah mendudukkan ku di kursi.


"Aku ke sana tidak ada niat apa- apa. Itu cuma karena aku tak tahan lagi. Dua kali sudah dia mnerorku dengan bangkai kucing"


Mahfudz menatapku.


"Ja-ngan be-ra-ni ke in-ter-na la-gi. A-ku me-la-rang-mu. Ku-cing i-tu, bu-kan di-a pe-la-ku-nya."


"Lalu siapa?"


"En-tah-lah. Lu-pakan sa-ja. I-tu ha-nya o-rang i-seng"


Aku merasa ada yang berubah dari sikap Mahfudz.


"Soal kata-kata Ali itu, kau tidak percaya padanya kan? Dia bohong. Aku tidak mencintai dia, sayang! Aku cuma mencintai kamu. Jangan dengarkan dia, ya?"


Mahfudz menatap mataku dalam- dalam. Aku hampir saja menunduk karena tak tahan dipandangi seperti itu.


"Kau percaya padaku kan?" tanyaku. Sungguh aku berharap kau benar- benar percaya padaku.


Mahfud mengangguk, meski aku melihat ada rasa yang disembunyikannya di wajah itu.


Aku memeluknya.


\*\*\*\*\*


Sepeninggalan Mahfudz. Aku duduk merenung menunggu dokter anastesi datang untuk konsultasi tentang kondisi pasien dan indikasi yang mungkin terjadi saat operai sc masih berlangsung.

__ADS_1


Angan-anganku melayang pada suatu masa di atap rumah sakit ini. Waktu itu aku dan Ali masih menjadi dokter umum di rumah sakit ini.


Ali adalah orang yang senang belajar. Dia senang berada di atap jika sedang ada waktu luang. Bahkan sepulang kerja dia selalu menyempatkan diri ke sana. Padahal di sana hanya ada banyak jemuran dari laundry rumah sakit. Namun seiring berjalannya waktu aku tau dia menyukai tempat itu, karena tempat itu tenang, jauh dari hiruk pikuk aktivitas rumah sakit. Cocok untuk sekedar menghilangkan kepenatan dan kebosanan setelah 8 jam berkutat dengan segala aktivitas rumah sakit.


Aku menyukainya karena dia humoris. Hampir setahun kami menjalin hubungan yang dinamakan pacaran.


Sore itu aku menyusulnya ke atap. Aku harus bertemu dengannya dulu sebelum aku pulang. Saat itu pun jangan ditanya. Aku mencintai dia.


Dia sedang duduk dan bersandar di tembok sambil membaca sebuah jurnal kesehatan tentang penyakit dalam.


"Kau sudah selesai?" tanyanya.


Aku mengangguk. "Hmmm .... Mau pulang bareng?" tanyaku.


"Nanti aja, duduklah dulu!" katanya sambil menepuk lantai di sebelahnya."


Aku duduk di sebelahnya. Walaupun sebenarnya agak risih karena tempat kami duduk terlalu ditutupi jemuran, sehingga kalau ada orang yang naik ke tempat itu, kami tidak akan bisa melihatnya.


"Bagaimana menurutmu tentang ini?" tanyanya sambil membolak balik bukunya.


"Apa?" tanyaku. Kami memang biasa membahas tentang ilmu kedokteran di sini.


Aku kira dia sedang ingin berdiskusi tentang ilmu penyakit dalam padaku. Namun ternyata aku sampai membelalak kaget saat aku melihat dia menunjukkan selembar kertas majalah yang didalamnya ada gambar orang bule sedang berciuman.


"Astaghfirullah, Ali!"


Aku mendorongnya dengan kesal.


"Kita sudah pacaran hampir setahun, Ray! Tapi aku belum pernah menciummu sekali pun, please ....! Ijinkan aku sekali saja!"


Dia belum menyerah juga meminta ini padaku.


"Itu tidak boleh, Li. Dosa, kita bukan muhrim ....!" jawabku.


"Ck, astaga .... Ini dosa, itu dosa .... Memangnya pacaran nggak dosa? Memangnya bersentuhan tangan nggak dosa? Aku sudah sering menggenggam tanganmu seperti ini. Kamu juga sering menjabat tangan pasien seperti ini. Semua itu dosa?"


"Hmmm .... Iya, itu dosa. Karena itu nanti aku akan mengambil spesialis obgyn saja agar bisa meminimalkan kontak dengan yang bukan muhrim" kataku.


"Kamu mau ambil spesialis?" tanya Ali. Terdengar speechless.


"Hmmm .... Iya. Ummik menyuruhku segera ambil pendidikan spesialis. Saran Ummik sih aku ambil Obgyn. Walaupun sebenarnya sih aku pengen ambil spesialis kulit dan kelamin, tapi you knowlah..... Mendengarkan orang tua akan membuatmu selamat dunia akhirat. Jadi sepertinya nanti aku akan ambil obgyn."


"Oh, begitu ...." gumamnya.


"Kamu nanti akan ambil spesialis apa, Li?"


Ali menggeleng.


"Aku belum kepikiran ke arah sana. Karena belum ada harapan dalam waktu dekat aku bisa ambil spesialis. Kamu tau sendiri, adikku banyak dan semua masih sekolah" katanya.


Aku tersenyum. "Kamu jangan patah semangat. Ambil spesialis nggak harus secepatnya kan? Masih banyak waktu untuk bisa ambil pendidikan spesialis. Bisa aja nanti di tahun kedua atau ketiga kamu jadi dokter umum yang hebat. Kamu bisa ngumpulin uang biar bisa ambil spesialis penyakit dalam? Nggak ada yang nggak@a mungkin kan?" kataku menyemangatinya.


Ali hanya mengangguk. Entah kenapa pembicaraan itu membawa ke suasana yang tidak menyenangkan. Apa harusnya aku tidak cerita kalau aku akan mengambil pendidikan spesialis begitu jadi dokter? Sepertinya Ali jadi sedih mendengarnya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan. Kembali ke pembicaraan awal kita. Ijinkan aku sekali saja, Ray. Ijinkan aku menciummu, kita sudah sama- sama dewasa. Astaga kalau ada yang tau aku pacaran denganmu sudah setahun tapi biar cuma sekedar ciuman saja nggak pernah ini pasti akan jadi bahan olok- olokan" rengeknya.


"Kenapa?" tanyaku heran. "Bagus donk berarti. Itu artinya kamu menjaga kehormatan pacarmu."


Ali mendesah kesal. "Lalu dimana bedanya kalau aku memegang tanganmu? Sama saja dengan ciuman. Sama-sama bukan muhrim, Ray. Kalau pegangan tangan. Tangan yang bersentuhan. Kalau ciuman, bibir yang bersentuhan." katanya sambil mempraktekkan dengan tangannya.


"Yah, dilihat dari segi agama sama- sama dosa karena bukan muhrim. Tapi dari sudut pandang umum, pegangan tangan hanya wujud kontak fisik bukti dari sebuah kesepakatan, atau untuk mempererat hubungan emosional antar dua individu. Sedangkan ciuman, itu aktivitas yang menjuru@ ke arah hubungan intim. Dia memicu hormon oksitosin dan endorfin. Hormon yang sangat dibutuhkan untuk aktivitas pasutri. Kalau aku mengijinkanmu, kau akan meminta sesuatu yang lebih dan lebih nanti. Aku tidak mau, Ali ...."


Ali mendesah.


"Baiklah, aku akan melakukannya tanpa nafsu. Hanya sekedar kecupan saja, bagaimana? Nempel dikit aja, nanti langsung udahan. Bukti kalau kita beneran pacaran, ya ...?"


Wajah itu semakin mendekat, mendekat, semakin terasa hembusan nafasnya di pipiku. Dan .... Aku memalingkan wajahku.


"Astaga, Ray. Kamu itu sulit sekali. Ahhh.... Perlukah kita menikah secepatnya agar aku bisa melakukan hal sesederhana ini saja?"


Aku tertawa dan berdiri. "Perlu sekali."


Ali terlihat gemas sekali.


"Ok, nanti malam aku akan ke rumahmu. Aku akan bilang ke Ummik agar sebaiknya dia puas-puasin memeluk anak semata wayangnya. Karena bulan depan, anaknya ini akan ku sunting dan ku boyong ke rumahku."


Lamunanku bayar saat suara telepon di atas mejaku berbunyi.


"Dr. Raya, dr. Firman sudah datang, Ada yang perlu saya sampaikan, Dok?"

__ADS_1


"Oh, iya. Saya aja yang nemuin dr. Firman, Al. Makasih, ya!"


__ADS_2