
Siang ini Raya sedang berada di kantin rumah sakit Medika Rahayu. Tujuannya berada di sini tidak lain dan tidak bukan tentunya untuk bertemu dengan sahabat tercintanya, Siti Hawa.
"Tumben Dokter Kepala datang kesini?" cibir Hawa. "Aku nggak bisa lama-lama loh. Aku masih harus memantau anak-anak koas."
Raya mengernyitkan keningnya.
"Kok kamu yang mantau? Residen dan konsulennya mana emang?" tanya Raya.
"Konsulennya lagi partus. Kalau residennya sih ada. Tapi ah, you know- lah. Kamu kayak nggak tau aja kalau residen tu kadang ya begitu deh ngurusin anak koas. Bukannya dikasih ilmu gitu, malah cuma buat disuruh-suruh, tanpa dipantau lagi ..." oceh Hawa.
"Ciee... ibu bos udah mulai nunjukin powernya nih ... marahin bu, marahin aja tuh residen tengil," gelak Raya dengan tawanya yang terdengar sumbang.
Hawa ikut tertawa meski dia tahu Raya datang ke sini pasti karena ada yang ingin dicurhatinya.
"Memang residennya siapa sih?" tanya Raya. Beberapa dari staf rumah sakit Medika Rahayu dia mengenalnya juga.
"Dirga," jawab Hawa.
"Dirgahayu Indonesia Merdeka?" tawa Raya dengan terpingkal-pingkal.
Mereka pun kembali tertawa. Lalu mulai merumpi ngalor ngidul, menggibah salah satu dokter residen rumah sakit Medika Rahayu yang bernama Dirgahayu Indonesia Merdeka.
"Sumpe, ketahuan banget tu si Dirga lahirnya pas hari kemerdekaan. Lucu banget dah orang tuanya ngasih nama ke anak sampai segitunya. Cinta negara sih cinta aja tapi nggak gitu juga, kan? Nggak kebayang aku gimana si Dirga tuh pas masih sekolah. Pasti jadi bahan olokan-olokan temannya deh," tebak Raya.
"Justru karena dia sering diolokin mungkin makanya bertekad untuk bisa menunjukkan pada orang-orang yang mengejeknya kalau dia bisa jauh lebih sukses dari pada mereka. Kayak kamu ini nih mulutnya, suka usil ngetawain orang. Padahal nama dia sendiri Raya, Indonesia Raya, merdeka, merdeka, tanahku negeriku yang kucinta ..." senandung Hawa.
__ADS_1
"Tapi namaku Raya Effendi, weeee," sangkal Raya. "Kamu juga ikut ngetawain tadi, huuu!" Raya balas cibir.
Hawa tersenyum melihat Raya yang mulai bisa tersenyum cerah. Tadi Raya terlihat sangat murung ketika dia baru datang. Tetapi untungnya awan mendung itu bisa ia singkirkan sejenak dengan hanya membahas Dirga, salah seorang staf dokter residen yang bernama unik, yakni Dirgahayu Indonesia Merdeka. Raya sudah sering bertemu dengan Dirga secara langsung dan saat pertama kali dia mengetahui Dirga memiliki nama ini, rasanya Raya tidak lernah tertawa selepas ini. Ada apa ini? Tetapi kali ini dia tertawa seolah nama Dirga ini lucu baginya.
"Jadi, Ray. Kamu kesini mau curhatin apa?" tanya Hawa.
Dan senyum merekah Raya kembali kecut seolah mengingatkan dia kembali atas masalah rumit yang tengah di hadapinya dengan Mahfudz saat ini.
"Mahfudz, Wa! Kami ada masalah rumit saat ini. Aku pusing bagaimana cara mengatasinya," keluh Raya.
Dan Hawa saat ini berada dalam posisi siap mendengarkan seperti biasa bagaimana mereka saling berperan menjadi sahabat satu untuk yang lainnya.
"Sekarang cerita deh, emang ada masalah apa?" tanya Hawa.
Raya menatap Hawa sebelum menghembuskan napasnya.
Di depan Mahfudz Raya memang harus tegar agar bisa menguatkan sang suami. Tetapi di depan sahabatnya ini dia bisa menunjukkan sisi lemahnya.
Hawa yang tadi duduk di hadapan Raya, kini memilih bangkit dari duduknya dan berpindah ke bangku di sebelah Raua. Dengan sayang Hawa mengelus-elus punggung sahabatnya itu dengan lembut, seolah memberi kekuatan dan dukungan.
"Kamu yang sabar ya, Ray. Kamu dan Mahfudz pasti bisa mengatasi ini. Kamu ingatlah kalau Allah tidak akan menguji manusia di luar batas kemampuan ummatnya, dalam hal ini aku yakin Mahfudz dengan didampingi kamu bisa kuat. Kamu yang kuat, Sayang. Calon besan aku nggak boleh gampang mewekan," selorohya.
Raya mengangguk, mengiyakan petuah dari sang sahabat.
"Memang kasus medisnya apa, Ray?" tanya Hawa ingin tahu.
__ADS_1
"Apendisitis akut, Mahfud melakukan tindakan apendektomi tetapi ternyata kasusnya berubah menjadi peritonitis," kata Raya menjelaskan.
"Loh, kok bisa?" tanya Hawa.
"Itulah yang kami tidak mengerti. Mahfudz sangat yakin kalau dia mengangkat apendiks-nya anak itu dalam keadaan utuh dan tak ada pecah sama sekali. Tetapi hasil dari laboratorium mengatakan apendiksnya anak itu memang sudah pecah saat apendiks itu mereka terima. Memang kuakui, Mahfudz dalam keadaan tidak fit malam itu. Dia sangat mengantuk karena jarangnya mendapat cuti dari rumah sakit. Kamu tahu dia sesibuk apa. Tetapi aku tahu dia, Wa. Bukan karena dia suamiku makanya aku membela. Tetapi aku menilai dia objektif sebagai sesama tenaga medis. Dia tak pernah melakukan tindakan ceroboh seperti itu. Kalau pun memang dia mengantuk berat, dia akan memilih untuk tidak melanjutkan pekerjaannya yang dapat membahayakan pasien. Dan aku juga tahu dia tidak suka berbohong," tutur Raya pada Hawa.
"Terus baiknya bagaimana? Kamu dan Mahfudz udah memikirkan bagaimana solusinya?" gumam Hawa, dia takut omongannya akan kembali membuat Raya down.
Raya mengangguk.
"Kami sudah menemui orang tua pasien, dan aku juga udah menjenguk Afri. Kondisinya tidak baik sama sekali. Itu membuatku khawatir. Jika anak itu kenapa-kenapa sebelum Mahfudz bisa membuktikan kalau dia tidaka bersalah, alamat Mahfudz yang akan menanggung semua ini," keluh Raya.
"Saat bertemu orang tua pasien itu, apa kalian telah berbicara dari hati ke hati? Hasilnya gimana?" tanya Hawa lagi.
"Ini salah satu poin yang membuat aku bingung, Wa. Ibu itu sepertinya merasa tidak nyaman berada di Pahlawan Medical. Katanya dia merasa diawasi. Dan dia juga bilang kalau dia akan memaafkan Mahfudz asal aku mengatur anaknya dipindah ke RSIA Satya Medika," tutur Raya menjelaskan.
"Nah kalau udah gitu, tunggu apa lagi? Pindahin aja lagi," kata Hawa dengan nada enteng.
"Aku merasa nggak enak sama Pak Prabu," kata Raya. " Seakan aku ngerebut pasiennya, donk?"
"Dih sempat-sempatnya mikirin kayak gitu, kalau aku nih ya, ini kalau aku. Aku akan mengamankan anak ini dulu, pindahin ke RSIA, habis itu ...."
Bruughh!!!
Belum sempat Hawa berbicara, tiba-tiba seorang lelaki tak sengaja tersandung dan menumpahkan jatah makan siangnya ke arah Raya dan Hawa!
__ADS_1
***
Siapa kira-kira ya guys orang itu?