
Pov Mahfudz
Kami masih di sini, di ruang praktek dr. Gayatri. Masih bingung antara percaya atau tidak dengan apa yang diberitakan oleh dr. Gayatri beberapa saat lalu. Jadi, Raya sedang hamil sekarang? Bukan ektopik? Bagaimana bisa? Bahkan aku tidak pernah mendengar ada kasus seperti ini sebelumnya. Maka nikmat Tuhan yang mana lagi yang bisa kami dustakan?
"Jadi, Ya. Ini lagi-lagi akan menjadi kehamilan yang cukup beresiko. Kamu harus pintar-pintar menjaga kandunganmu. Dan soal repture (robek) di tuba falopi-mu, kita secepatnya harus mengatasi ini karena sudah pasti telah terjadi pendarahan internal di abdomen (rongga perut) yang butuh penanganan segera. Jadi kalau menurutku hari ini juga kita harus melakukan tindakan. Untuk opsi kamu bisa pilih sendiri salpingektomi atau salpingostomi," kata dr. Gayatri sambil memberi pilihan.
Salpingektomi adalah pembedahan untuk menyingkirkan/membuang Tuba Fallopi. Sementara salpingostomi adalah metode membuka Tuba Fallopi, tetapi tanpa menyingkirkan tuba. Salpingostomi dikenal juga dengan sebutan neosalpingostomi atau fimbrioplasti. Disebut demikian karena prosedur ini merupakan prosedur rekonstruksi tuba dengan cara membuka fimbriae tuba dan memperbaikinya.*
"Gimana, Yah?" tanya Raya padaku.
Aku menatap dr. Gayatri sejenak.
"Menurut dr. Gayatri sendiri baiknya gimana, Dok?" tanyaku.
"Yah terserah kamu dan Raya lah, Fud! Pada perempuan tanpa faktor risiko infertilitas atau sudah tidak berkeinginan untuk memiliki anak lagi, salpingektomi lebih dianjurkan. Nah menurut kamu dan Raya gimana? Kalau kita buang dan singkirkan tubanya, jika di lain waktu kamu sama Raya pengen punya momongan lagi, nambah adek buat Haikal dan Yaya, gimana? Atau, kalau nih ya, kalau! Ini bukan saya yang menginginkan atau mendoakan. Jika kehamilannya kali ini tidak seperti yang kita inginkan hingga mungkin kehamilannya berakhir sebelum mencapai HPL (Hari Perkiraan Lahir), sementara tuba-nya Raya udah dibuang, gimana kalau kalian masih ingin nambang momongan? Kamu sendiri kan tahu, Raya sudah dua kali riwayat SC, belum lagi riwayat lemah kandungan, hingga servical cerclage, jadi akan sangat mungkin kalau kehamilannya kali ini berkali-kali lebih beresiko dari sebelumnya," jelas dr. Gayatri.
Aku menarik napas dalam dan membuangnya secara perlahan. Sementara aku mengabaikan dr. Gayatri dan kini berpaling pada Raya. Dengan penuh penyesalan aku meraih tangannya dan menautkan jarinjemari kami.
"Ini memang salahku, aku begitu egois menginginkan anak lagi dari kamu tanpa mempertimbangkan riwayat kesehatanmu. Maafin aku, Ray," kataku dengan rasa penuh penyesalan. "Padahal kita sudah punya Haikal dan Laila, harusnya itu cukup. Tetapi Aku ini terlalu serakah." akuku.
Raya mengelus punggung tanganku.
"Udah sih, jangan disesali, Yah. Bagaimana pun dia kini telah ada di sini. Jangan sampai gara-gara mendengar kata-kata ayah, anak bunda jadi sedih, ya!" kata Raya seolah janin itu sudah hadir di antara kami sebagai wujud seorang anak.
"Betul kata Raya, Fud. Yang penting sekarang ini kita pikirkan tindakan yang tepat untuk Raya. Kalian berunding dulu, gih. Aku persiapkan OK dulu untuk Raya. Apa pun pilihannya kalian, biar kita bisa lakukan laparaskopi secepatnya," ujar dr. Gayatri.
Laparoskopi memang lebih sering digunakan karena tindakannya tidak terlalu memakan waktu yang lama dan selain itu cenderung memiliki efek samping yang lebih rendah dibandingkan oleh laparatomi.
__ADS_1
Usai memberikan dan memaparkan dua opsi itu, dr. Gayatri pun lalu meminggalkan kami sejenak di ruangannya.
"Gimana, Ray?" tanyaku.
"Menurut baiknya gimana aja, Yah," kata Raya padaku.
"Kira-kira kamu bisa nggak menjalani kehamilan ini. Kalau kamu nggak bisa Ray, aku nggak keberatan kalau ...."
"Ayah!" sela Raya cepat.
Dia tahu dan bisa menebak apa yang akan menjadi kata-kataku selanjutnya.
"Please, jangan sarankan itu lagi padaku. Kamu yang pengen punya anak lagi. Setiap perkataan akan jadi doa. Dan doamu ingin memiliki anak lagi terkabul, Yah. Tolong jadilah lelaki bertanggungjawab. Jangan sarankan abortus padaku. Dan lagi pula, kita sudah melewati masa mengkhawatirkan saat ini. Dia sekarang ada di uterus, tidak lagi di tuba falopi. Yah, memang ini masih sedikit beresiko, tetapi kita akan pikirkan itu nanti. Selama ada ayah di samping bunda, bunda akan kuat. Kamu nggak akan ninggalin aku, kan Yah?" tanya Raya, ibu dari anak-anakku ini.
Sungguh dia istri idaman dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Namun dia selalu mampu menonjolkan lebih banyak sisi lebihnya dibandingkan sisi lemahnya. Begini pun, meski dia tahu resiko apa yang akan dihadapinya selama hampir sepuluh bulan ke depan, dia selalu berusaha menunjukkan kalau dia kuat. Begitulah Raya, sesuai filosofi nama yang tersemat dirinya. Besar, kuat dan mampu menguatkan.
Aku mengecup keningnya dalam.
"Maafin aku, Ray. Aku selalu menyusahkanmu," ucapku.
"Menyusahkan apaan sih? Is, melankolis banget ayah ni, baperan...." ledeknya.
Aku tidak menghiraukan ledakannya itu. Aku masih fokus menatap wajahnya itu dan menyentuh pipi yang entah bagaimana selallu mulus seperti kulit bayi itu.
"I love you, Bun," ucapku.
Rasanya seberapa banyak pun aku mengucapkan cinta, semua itu rasanya tidak akan pernah cukup untuk mengungkapkan semua rasa yang kupunya padanya. Aku benar-benar sangat mencintainya.
__ADS_1
Raya tertawa kecil, "Apaan sih, Ayah? Udah kayak ABG aja," katanya dengan tawa geli.
"Biarin aja, kamu kalau nggak mau balas ungkapan cinta dari aku diam aja, jangan merusak suasana donk," protesku.
Raya malah semakin tertawa mendengarnya.
"Hahaha, gitu aja ngambek. Terus gimana? Apa kita singkirkan tubanya aja, Yah?" tanya Raya padaku, kembali fokus pada solusi yang harus kami ambil kali ini.
Aku mengangguk.
"Aku udah siap dengan semua kemungkinan, kalau pun memang kita nggak berejeki dengan anak ini, aku tidak akan menyesalinya, Ray. Kamu, Haikal, dan Laila cukup bagiku di keluarga kecil kita. Aku tidak akan menuntut kamu untuk memberikan aku seorang anak lagi. Tapi kalau semisalnya kehamilanmu sehat hingga lahiran, Alhamdulillah berarti dia akan menjadi penyempurna keluarga kita," kataku dengan ikhlas dan setulus-tulusnya.
Raya tersenyum padaku. Jawabanku mungkin sudah cukup memuaskannya.
"Ayah," panggilnya.
Aku menoleh, menatap wajah cantik itu, yang melihatku dengan tatapan penuh kasih itu.
"I love you more," ungkapnya.
Secepat kilat aku mencuri kecupan di bibirnya, sebelum dr. Gayatri datang memergoki kami.
"I know it," jawabku.
***
*referensi diambil dari situs alodokter
__ADS_1
Hai.... Raya Mahfudz lama upnya ya? maaf beib lagi fokus di aplikasi sebelah. Kalau mau author cepat upnya... like dan komentnya dibanyakin dulu, biar aku semangat update... 😁