I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Rapat Tim Dokter


__ADS_3

Pov dr. Ali


Kekacauan di rumah sakit kembali terjadi di pagi ini. Pasalnya subuh ini pasien atas nama Ayuni tiba-tiba berada dalam kondisi gawat darurat dan harus ditempatkan lagi di ruang ICU. Entah bagaimana kejadiannya tak seorang pun tau, kenapa wanita berusia 20 tahun itu mengalami pneumonia aspirasi. Yaitu, kondisi di mana paru-parunya kemasukan benda asing. Setelah dilakukan tindakan beberapa waktu benda asing itu akhirnya berhasil dikeluarkan yakni berupa cairan dan sebutir tablet tukak lambung. Kondisinya yang sedang tidak sadarkan diri membuat dia tidak memiliki kemampuan untuk menelan sehingga yang harusnya obat dan air minum yang tadinya harus masuk ke lambung malah masuk ke paru-paru.


Rapat tim dokter pagi ini digelar pagi sekali, masih dipimpin oleh aku, dr. Ali selaku dokter spesialis penyakit dalam. Keadaan serius ini bahkan sampai membuat Professor Ayyub selaku Kepala Rumah Sakit turut ikut menghadiri rapat. Ia mungkin merasa perlu menghadirinya karena ini bersangkutan dengan nama baik dan keselamatan rumah sakitnya di masa depan. Selain itu hadir pula dokter-dokter lain yang kira-kira dibutuhkan untuk penanganan pasien lebih lanjut.


Di baris kursi sebelah kanan urutan kedua, ada dr. Raya yang duduk dengan santai sambil memutar-mutar kursinya sekali-sekali ke kiri dan ke kanan. Duduk sambil berpangku kaki membuat Ia terlihat lebih manis. Ah, tidak, dari dulu dia memang sudah kelihatan manis. Kelihatannya Ia sedang chatan dengan seseorang. Dalam hatiku sedikit terbersit keingintahuan dengan siapa Ia sedang chatan itu.


"Ehmmmm!"


Deheman keras professor membuyarkan perhatianku dari Raya. Aku gugup seperti maling tertangkap basah. Sepertinya professor melihatku dari tadi mencuri pandang pada dokter Obgyn andalan rumah sakit ini.


"Jadi, adakah yang bisa menjelaskan, kenapa salah seorang pasien yang bahkan berada di ruang VVIV berada dalam kondisi bahaya di rumah sakit ini???!!!"


Professor Ayyub menatap satu-satu orang yang ada di ruangan ini.


"Pasien tidak sadarkan diri, diberi minum obat tukak lambung yang notabene bisa menyebabkan keguguran? Kira-kira kenapa hal tersebut bisa terjadi? Selemah apa sistim kemanan kita sehingga ada kejadian seperti ini? Bahkan saya sendiri tidak bisa tenang memikirkannya. Karena cucu saya sendiri sedang dirawat intensif di ruang ICU, bagaimana kalau hal begini menimpa dia? Apakah saya harus mengirim cucu saya sendiri ke rumah sakit lain, karena sistim keamanan di rumah sakit saya sendiri tidak bisa diandalkan???!!!"


"Maafkan saya, Prof. Ini semua salah saya, harusnya saya lebih mendengarkan dr. Raya waktu dia mengatakan kalau ini adalah kasus percobaan pembunuhan bukan kasus percobaan bunuh diri."


Aku menatap dr. Raya yang juga sedang melihat padaku. Senyum tipis mengembang di sudut bibirnya, seolah berkata, kau tidak percaya padaku kan?


"Benar yang dr. Ali katakan?"tanya professor pada dr. Raya.


Dia mengangguk. "Ya, benar, Prof, soalnya ketika saya memeriksanya saya melihat ada tanda-tanda kekerasan di tubuh pasien, saya juga menemukan tanda-tanda kekerasan seksual, makanya saya berpendapat dan menyimpulkan seperti itu." jawab dr. Raya.


"Hari ini juga saya akan melaporkan kasus ini ke kepolisian sebagai kasus percobaan pembunuhan, Prof," kataku mencoba menenangkan Professor Ayyub.


"Saya juga telah menyuruh tim keamanan untuk memeriksa cctv dan jejak pelakunya serta akan mencari tahu siapa-siapa yang mengambil obat tukak lambung sejenis merk itu di apotik kemarin. Selain itu sepertinya kita juga perlu melakukan konferensi pers dengan media, saya dan dr. Raya akan mewakili rumah sakit menjelaskan ke publik situasi yang sedang terjadi saat ini," kataku.


"Ok, saya percaya pada kalian, lakukan yang terbaik!"


Professor Ayyub tanpa menunggu rapat selesai meninggalkan tempat itu.


\*\*\*\*


Pov Mahfudz


[Km dimana?]


Aku membaca pesan WA yang masuk. Chat dari dr. Raya. Belum sempat kubalas, chat dari dr. Raya masuk lagi.


[Aku sudah selesai rapat, kumpulkan semua temanmu dan serahkan hasil follow up kalian sekarang juga.]


Aku menunjukkan chat dari dr. Raya ke teman-teman koas yang sedang sibuk memperbaiki penulisan di lembar hasil follow up yang akan diserahkan ke dr. Raya.


"Aduuh .... Matilah aku! Tulisan hasil foll up-ku masih amburadul. Duuhhh, kok bisa kesiangan sih kita, untungnya dr. Raya tadi lagi ada rapat jadi kita masih sempat ke bangsal nanyain pasien. Tapi kalau tulisannya jelek dan amburadul kayak gini, apa bisa dibaca dr. Raya?" keluh Desi.


"Kamu nggak tidur semalaman fud? Kamu nggak ngajak-ngajak aku juga foll up di bangsal. Tega banget nih Mahfudz, kita semua bangun kesiangan tau nggak?" kata Abidzar dengan nada kecewa.


"Iya nih, tadi malam kita disuruh jagain bangsal, bersihkan bangsal, eh Mahfudz sendirian yang ngilang nggak kelihatan batang hidungnya. Pasti habis kamu disuruh perawat senior, kamu langsung pulang terus tidur kan?Makanya kamu bisa foll up nggak kesiangan kayak kita, ahhhh .... Mahfudz, kamu nggak setia kawan...!!!" omel Anita.


Aku cuma terkekeh sambil mengatupkan kedua telapak tanganku. Dan mengeluarkan kata "sorry" tanpa suara.


Chat WA masuk lagi.


[Kamu dimana?]


[Nggak ngebalas nih anak, mau ngeles dari tugas ya .... Mau main-main sama aku ya kalian dedek koas ....]

__ADS_1


Aku panik dan menunjukkan lagi pesan WA pada teman-temanku.


"Aduuuhh Mahfudz, ulur sedikit waktu lagi donk, tinggal dikit lagi ini, katakan apa kek, apa kek, bisa tewas aku kalau ini belum selesai," rengek Desi.


Aku membalas chat dr. Raya.


[Maaf, Dok, sebentar lagi kami datang, kami lagi di kantin]


[Oh, jadi aku harus nunggu kalian selesai makan gitu?]


[Nggak kok dok, ini udah selesai. Tinggal bayar aja]


Aku harus berbohong demi menyelamatkan teman-temanku.


[Kalian di kantin mana?]


Sebentar aku berpikir, ngapain dr. Raya nanyain kami di kantin mana?Emangnya mau nyusulin kami ke sini?


[Dimana?]


[Di kantin dekat fotocopy, Dok]


Sesaat hening, namun kemudian chat dr. Raya masuk lagi.


[Jangan ada satu pun yang meninggalkan tempat dari sana, tunggu aku di situ!!!!]


Aku menunjukkan lagi ke mereka isi chat itu dan membuat mereka makin panik gelabakan.


"Aduuh gimana nih, aaaa ..... Matilah aku!"


Mereka segera membereskan kertas-kertas di meja. Desi bahkan tidak jadi menyalin hasil foll upnya ke kertas baru.


Dan 6 pasang mata langsung menatapku dengan pandangan menyelidik.


"Iya nih, pas perkenalan sama dr. Raya, dr. Raya langsung tau namanya Mahfud, ada apa ini. Jangan-jangan ...."


Aku menggeleng-geleng menolak pendapat dari mereka.Lalu aku mengetik sesuatu di kolom sms.


[Ini tidak seperti yang kalian pikirkan, dr. Raya menyuruhku mengerjakan sesuatu makanya perlu nomorku sewaktu-waktu.]


Aku menunjukkan tulisan yang ku ketik pada mereka.


"Memangnya yang kami pikirkan apa?"


"Kok yang disuruh dr. Raya cuma kamu aja?"


"Jangan-jangan kamu koas punya jalur koneksi sehingga lebih diperhatikan konsulen?"


Aku menggeleng membantah argumen mereka semua. Tak lama sesosok dokter cantik nongol dari balik pintu kantin, menyelamatkanku dari pertanyaan-pertanyaan memojokkan itu.


"Hallo, assalamualaikum, selamat pagi semuanya!" sapa dr. Raya.


"Waalaikumsalam"


"Pa- pagi? Dok!"


Tanpa basa basi dr. Raya langsung duduk di sebelahku. Membuat aku spontan menggeser dudukku ke arah Abidzar yang semakin terpojok di dekat dinding.


"Ibuuu!!!" panggil dr. Raya ke ibu kantin.

__ADS_1


Suaranya nyaring sehingga membuat seisi kantin menatap ke arahnya.


"Upss," dr. Raya spontan menutup mulutnya sendiri, sadar kalau suaranya terlalu nyaring.


"Kalian sudah makan?"


"Sudah, Dok!" Bagai koor paduan suara kami serempak menjawab dan mengangguk.


"Beneran nih? Nggak mau pesan lagi? Saya mau makan soalnya. Dari kemarin siang saya belum makan, lapeeer ...."


"Nggak, Dok! Kita baru aja makan, beneran. Kalau gitu dokter makan aja dulu, kami nggak akan ganggu kok!"


Dr. Raya tersenyum dan bergegas mendatangi ibu kantin memesan makanan dan minumannya.


"Sepanjang makanannya belum datang, mana coba hasil follow up kalian biar saya periksa!"


Kata-kata itu sepertinya memiliki kekuatan membuat Desi menjadi pucat pasi. Dengan ragu-ragu ia mengambil lembaran hasil foll up-nya dan menyerahkannya ke dr. Raya diikuti oleh teman-teman koas lain.


Dr. Raya memeriksa lembaran follow up itu satu-satu.


"Desi Ayusinta, kamu memang berbakat jadi dokter, ya!"


"Haa ....Ya??? Yang benar, Dok?"tanya Desi malu-malu.


"Ya .... Soalnya tulisanmu jelek sekali. Apoteker membaca resep darimu pun pasti akan kesulitan kalau tulisannya kayak begini, dibagusin lagi tulisannya dikit."


"I- Iya, Dok!" jawab Desi di antara gelak tawa Abidzar.


"Anita Suherman."


"Iya, Dok!"


"Saya ingin follow upnya yang sesuai SOAP, subjektif, objectif, assasment, dan planning, tapi disini kami tidak menyertakan planning, bagaimana ini?"


"Maaf, Dok! Nanti saya lengkapi."jawab Anita.


"Rindu Maharani"


"Tulisanmu rapi, tapi banyak coretan sana sini, lain kali dirapikan, biar yang baca nggak sakit kepala pas membacanya."


"I- iya, dok!"


"Mahfudz ...."


Aku sudah siap mendengarkan koreksi dari dr. Raya ketika pesanannya datang. Semangkok soto ayam lengkap dengan nasi putih dan es teh sebagai minumannya.


"Nanti kita lanjut lagi ya, saya makan dulu. Beneran nih nggak ada yang mau makan lagi? Nanti nyesel, loh!"


Kami menolak dan mengucapkan terimakasih.


Entah mengapa melihat dr. Raya yang makan dengan begitu lahap aku merasa begitu kasihan, juga melihat mata pandanya yang kurang tidur berwarna agak kehitaman di pelupuk matanya.


"Jangan pandang lama-lama Fud, nanti kamu khilaf" bisik Abidzar menggodaku.


Astaghfirullah, anak ini. Aku menyikut lengannya.


"Selesai saya makan, kalian semua ikut saya keliling bangsal umum dan ruang perawatan untuk cek kondisi pasien. Nanti tugas kalian di sana, perhatikan dan catat hal-hal yang berhubungan dengan kondisi pasien, ok? Faham kan?"


"Iya, Dok!" koor paduan suara anak koas berbunyi lagi.

__ADS_1


__ADS_2