I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Harapan itu do'a


__ADS_3

Kami baru saja selesai bersih-bersih setelah melewatkan malam yang panas dan bergairah. Baru aku menyadari ternyata menjadi seorang istri secapek itu. Dimana aku sudah capek setelah bekerja. Dan malam harinya aku masih harus melayani suamiku di atas ranjang. Ini sungguh melelahkan. Namun aku berusaha menikmatinya. Dan hubungan kali ini aku memang bisa sedikit menikmati dari yang sebelumnya. Walaupun aku masih rada-rada takut. Namun kali ini, Mahfudz lebih pengertian dan berusaha membuatku senyaman mungkin. Aku juga berusaha sebisa mungkin menepati janjiku kalau aku akan memberikan seutuhnya diriku padanya. Termasuk mempercayakan tubuhku sepenuhnya padanya tanpa ada keraguan.


"Ra-ya, a-da yang be-lum ku ka-ta-kan pa-da-mu" katanya.


Aku menunggu perkataannya selanjutnya. Namun perhatianku lebih terfokus pada piyama couple berwarna biru tua dengan motif doraemon yang saat ini sedang kami kenakan. Rasti yang memberikannya sebagai kado. Ini manis sekali. Pasti lucu kalau kami berfoto berdua sedang mengenakan ini.


"A-ku be-rang-kat ke ru-mah sa-kit je-ja-ring ha-ri sab-tu- nan-ti. A-ku di-sana 3 ming-gu"


Aku kaget. Segera aku melepaskan pelukanku. Baru saja aku berbaikan dengannya dan akan menikmati indahnya masa-masa pengantin baru, kenapa dia ingin pergi.


"Kamu ingin pergi ke rumah sakit jejaring?!"tanyaku dengan nada tak rela.


"Ka-mu yang su-ruh kan?"


Aku meringis menyesali kebodohanku. Aku memang kemarin menyuruhnya rotasi ke rumah sakit jejaring agar kami bisa berjauhan sementara aku mempersiapkan mentalku untuk bisa berhubungan pasutri dengannya dan juga karena aku tak rela dia direndahkan terus oleh Ali. Tapi kenapa sekarang disaat aku sudah siap dia malah ingin pergi?


"Cu-ma ti-ga ming-gu" katanya sembari menarikku lagi ke pelukannya.


"Tapi tiga minggu itu kan lama" keluhku. "Memang benar aku yang minta kamu untuk rotasi ke rumah sakit jejaring. Tapi itu karena kemarin-kemarin aku takut sama ka...mu, Fud!"


"Ta-kut ke-na-pa?" godanya dengan senyum nakalnya.


Wajahku memerah mendengarnya. Dia sudah tau tapi masih bertanya.


"A-pa ka-mu ta-kut a-ku me-ma-kan-mu hi-dup-hi-dup?"


"Ck ... kamu pura-pura nggak tau atau apa? Aku takut berhubungan pasutri sama kamu!" jawabku jujur.


"Oooo ka-lau se-ka-rang ti-dak ta-kut la-gi? Bo-leh donk se-ka-li la-gi?"


Mahfudz melihat nakal pada tubuhku.


Aku spontan mencengkram kancing piyamaku.


"Fud .... Aku masih capek ...."kataku pelan.


"Ka-ta-nya ta-kut me-no-lak s-ua-mi? Kata Um-mik nan-ti di-ku-tuk dan di-lak-nat ..."


Aku meringis. Belum juga selesai setengah jam yang lalu. Sudah minta lagi. Jangan-jangan Mahfudz ni hyper, kataku dalam hati curiga.


"Ya, sudah. Terserah kamu aja" kataku pasrah.


Aku memejamkan mataku menunggu aksi Mahfudz lagi. Hawa bilang. Kalau aku takut aku cuma perlu rebahan, pejamkan mata. Nanti juga selesai sendiri. Beberapa menit tak terjadi apa-apa. Aku membuka sedikit kelopak mataku. Memicingkan mata, untuk mencari tau apa yang sedang dilakukan Mahfudz.


Mahfudz menjentikkan jarinya di keningku sampai aku mengaduh kesakitan.


"Aw ....!"


Mahfudz tertawa meledek. "A-ku cu-ma ber-can-da ta-pi ka-mu se-ri-us. Ka-mu i-ngin la-gi Ray? A-duuh gi-ma-na ya? A-ku le-lah, be-sok a-ja ya?"


"Nggak. Aku nggak bilang aku mau!" bantahku. "Kan kamu yang bilang ...."


"Ka-mu ju-jur a-ja ka-lau ma-u ju-ga ngga a-pa-a-pa" Mahfudz masih terus mengolokku.


"Ih, Mahfudz!" Aku kesal dan memukulkan bantal guling berulang kali padanya.


Dia cuma tertawa dan kemudian mencoba menghentikanku dengan memelukku.


"Su-dah sa-yang. Ki-ta ti-dur yuk. Be-sok se-be-lum su-buh a-ku ha-rus ke ru-mah sa-kit la-gi un-tuk fol-low up pa-si-en. Ka-mu ju-ga be-sok ma-suk pa-gi kan?"


Aku mengangguk namun masih merengut padanya.


Dia tertawa kecil melihatku. Dia menarikku kembali tidur ke pelukannya. Aku merasakan dia mengecup rambutku dengan penuh rasa sayang.


"A-yo ti-dur-lah!"


\*\*\*\*\*


Sebelum subuh Mahfudz sudah kembali ke rumah sakit. Layaknya istri aku menyiapkan semua keperluannya. Setelah dia berangkat aku segera mandi dan menunaikan sholat subuh sendiri. Mahfudz bilang dia sholat di rumah sakit saja.


Usai menunaikan sholat subuh aku langsung masuk dapur untuk mengecek lemari es apa ada yang bisa aku masak. Aku akan membuatkan bekal untuk Mahfudz lagi seperti kemarin. Dan akan aku antar ke departemen penyakit dalam.


"Ada sesuatu yang baik terjadi?" Ummik tiba-tiba nongol di dapur saat aku sedang memotong-motong sayuran.

__ADS_1


"Oh, Ummik. Aku sedang membuatkan makanan buat Mahfudz, Mik"jawabku.


"Oh, jadi cuma buat Mahfudz aja" goda Ummik.


Aku tersipu malu. Ummik pasti melihat lagi gulungan handuk di rambutku. Ummik tau aku sudah berbaikan dengan Mahfudz. Meskipun aku dan Mahfudz semalam melakukannya dengan tidak berisik. Tapi pasti Ummik tau saat kami bersenda gurau sambil tertawa cekikikan di kamar.


"Ya, bukan cuma buat Mahfudzlah, Mik. Buat sarapan Ummik dan Raya juga" kataku.


"Ya, sudah sini Ummik bantuin biar cepat. Kamu kan masuk pagi juga ini" kata Ummik.


Aku menyerahkan sayuran untuk dipotong-potong oleh Ummik. Sementara aku menghidupkan kompor untuk menggoreng ikan.


"Ray, Ummik senang kamu akur sama Mahfudz. Rasanya nggak lama lagi Ummik keinginan Ummik buat momong cucu bakal terkabul nih"


Aku tersenyum. "Mudah-mudahan aja, Mik."


" Iya, Ray. Tadi malam Ummik bermimpi melihat bulan purnama besar sekali Ray, indah sekali Nak. Itu pasti pertanda baik kan ya?"


"Ya Allah, Mik. Raya sama Mahfud itu loh baru nikah seminggu. Kok mikirnya udah kesana aja sih?"


Berhubungan pasutri baru juga dua kali, eh tiga kali deh. Tadi kan sebelum kerja. Dia .... yah tapi nggak mungkin jugalah aku langsung hamil secepat itu pikirku.


"Ya nggak apa-apa donk Ummik berharap. Harapan itu adalah do'a, Nak!"


"Iya, Mik, iya! Amiin" kataku tak mau membantah Ummik yang ngarep betul punya cucu.


"Aamiin ya robbal alamin"


Aku geleng-geleng kepala melihat Ummik.


Selesai masak, aku segera berkemas-kemas ke rumah sakit. Aku menelepon Mahfudz. Tapi dia cuma mengirim chat.


[Aku ronde keliling dulu sama dr. Ali. Nanti kalau sudah selesai ya sayang]


Ya, sudah. Aku juga segera mengerjakan tugasku melakukan ronde keliling dan memeriksa hasil follow up para dokter muda dan anak akbid.


Dekat jam makan siang aku baru memiliki jam senggang. Aku mengirim pesan chat lagi pada Mahfudz untuk mengetahui apakah dia sudah ada waktu untuk bertemu denganku.


[Aku di parkiran, sayang]


"Aku duluan, Win. Kalian juga langsung aja istirahat. Nanti kita lanjut lagi!"kataku pada Winda dan para mahasiswa bimbinganku.


"Ya, ya ngerti. Nggak sabaran amat ketemu sama suami tercinta" cibir Winda.


Aku nyengir padanya.


"Iri kamu, Win? Nikah sana!" kataku sambil buru-buru pergi tak peduli lagi respon Winda saat aku membalasnya.


Di parkiran aku melihat Mahfudz sedang berbicara dengn seseorang lelaki berusia separuh baya. Tubuh pria itu penuh tato.


Mahfudz dengan sumringah menyambutku.


"I-ni is-tri-ku, Bang!" Kata Mahfudz memperkenalkan aku pada lelaki itu.


Lelaki itu terlihat menakutkan. Pandangannya tajam. Terlebih-lebih saat dia melihatku. Entah apakah ini hanya perasaanku saja. Tapi sepertinya dia terkejut melihatku. Meski aku melihatnya hanya dari gerakan alisnya yang tiba-tiba terangkat, tapi aku yakin dia mengenalku. Setidaknya pernah melihatku.


"Maaf, kita pernah bertemu sebelumnya?"tanyaku sopan.


Aku merasa belum pernah melihatnya. Walaupun aku sudah berusaha keras mengingat-ingat.


"Belum" jawabnya.


"Sayang, i-ni na-ma-nya bang Go-go. Di-a yang mem-be-ri-mu ha-di-ah set pan cook i-tu."


Mahfudz memberi tahuku.


"Oh, benarkah?" kataku takjub.


Sepertinya hatinya lebih baik dari penampilannya.


"Saya benar-benar berterima kasih atas kado dari Bapak. Itu benar-benar sangat membantu saya dalam memasak. Tadinya saya agak malas memasak. Tapi sejak ada seperangkat panci itu rasanya memasak lebih mudah dan gampang. Matangnya lebih cepat" kataku.


"Oh, syukurlah kalau benda itu bermanfaat untuk Bu Dokter. Saya menyuruh seseorang membelinya karena sangat berterimakasih pada Pak Dokter Gag .... eh Pak dr. Mahfudz. Dia sangat sabar mengurus orang tua yang rewel ini" katanya tulus. "Saya ucapkan selamat atas pernikahannya. Dan semoga kalian berbahagia selalu, Bu Dokter!"

__ADS_1


"Terima kasih, Pak!"jawabku.


"Panggil saya abang saja kalau dokter berkenan. Orang-orang memanggil saya Bang Gogo"


"A-abang? Oh, baiklah bang Gogo. Terima kasih" kataku meski aku risih harus memanggilnya abang.


Ngomong-ngomong soal panggilan abang, aku jadi ingat pada Akbar anak buah Waridi. Dia juga biasa dipanggil bang Akbar. Bagaimana kabarnya sekarang ya? Dia benar-benar tak tertarik tawaranku sepertinya. Dia sama sekali tak pernah menghubungiku walaupun aku sudah memberi nomor Hpku padanya.


"Ok, Pak Dokter! Sepertinya saya harus pergi sekarang. Terimakasih untuk semua bantuannya selama saya ada di rumah sakit"


Gogo berpamitan pada Mahfudz membuat lamunanku tentang waktu-waktu aku diculik buyar seketika.


"Ok, Bang. Sa-ma sa-ma. A-bang ja-ngan mi-num mi-num al-ko-hol la-gi Bang. Ja-ngan sa-kit la-gi, Bang. Se-mo-ga ki-ta bi-sa ber-te-mu la-gi. Da-lam ke-a-da-an se-hat pas-ti-nya"


Laki-laki bernama Gogo itu menepuk-nepuk pundaknya Mahfudz.


"Jaga diri dan istrimu baik-baik" katanya sebelum dia naik ke mobil pick up yang akan membawanya pulang.


"Eh, tunggu sebentar, Bang!"panggilku saat supir yang mengemudikan mobilnya mulai menghidupkan mesin.


Mereka berhenti dan menatapku heran.


"Ini buat abang saja. Anggap aja ucapan terimakasih atas pemberian set cook pannya. Ini tadi saya buat untuk suami saya. Nggak apa-apa kan sayang kalau bekal makan siangmu aku berikan untuk abang ini aja? Nanti aku bisa masakin lagi di rumah untukmu. Siang ini kita makan di kantin aja" kataku.


"I-ya. Nggak a-pa a-pa. Ta-pi ko-tak be-kal-nya, ka-mu nggak a-pa-a-pa, Ray? I-tu kan ke-nang-ke-na-ngan-mu wak-tu ko-as" kata Mahfudz.


"Nggak apa-apa. Itu cuma kotak bekal aja aja kok. Lagi pula jarang ku pake dan lagi pula di rumah masih ada tiga lagi dengan ukuran yang berbeda."kataku.


"Kalau ini sesuatu yang penting sebaiknya tidak usah"tolak Gogo.


"Nggak. Nggak apa-apa. Ambil saja. Mohon jangan ditolak pemberian saya. Ini hanya makanan. Saya tak bisa memberi lebih soalnya" kataku.


"Baiklah. Terima kasih kalau begitu" Bang Gogo menerima kotak bekal itu sebelum akhirnya mereka pergi meninggalkan kami.


"Oh, ja-di i-tu bu-kan ko-tak be-kal sa-tu sa-tu-nya. Ka-lau be-gitu ke-na-pa ke-ma-rin du-lu ka-mu pe-lit se-ka-li tak ma-u mem-be-ri-kan ko-tak be-kal-mu i-tu pa-da-ku?" Mahfudz protes padaku.


"Kenapa? Kamu cemburu?"kataku sambil memeluk lengannya.


Mahfudz merengut.


"Widiiiihh, cemburu!"olokku sambil tertawa. "Baiklah, aku bilang ya. Aku tidak mau kamu memiliki kotak itu, aku maunya aku yang dimiliki olehmu"


"Mak-sud-mu, ka-mu cem-bu-ru pa-da ko-tak be-kal?"tanya Mahfudz tak percaya.


Aku tertawa dan mengangguk. Dan tawaku makin berderai saat dia menaruh jari telunjuknya miring di keningnya yang berarti dia memberi isyarat kalau aku sudah gila.


Lalu kami segera berjalan bergandengan untuk makan siang ke kantin.


\*\*\*\*\*


Mobil pick up hitam ini sudah 10 menit berjalan meninggalkan rumah sakit saat Gogo menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Ya, Go? Kamu sudah sehat?" Suara seseorang di seberang sana terdengar peduli.


"Sudah, Bang. Dokter yang kemarin itu .... tawanan Pak Waridi, apa namanya Raya?"


Gogo melirik kotak bekal berwarna ungu dengan karakter smile di tutupnya. Ada nama Raya di bagian samping kotak bekal itu.


"Hmmm kenapa? " suara di sana terdengar ingin tau.


"Aku bertemu dia."


"Kamu dirawat di rumah sakit Siaga Medika?"


"Iya, Bang."jawab Gogo.


"Dia tau kamu siapa?"


"Nggak, Bang. Bang Akbar tenang aja. Waktu di gudang juga, dia tak sempat melihatku kok. Aku cuma melihatnya sekilas ketika dia baru diturunkan dari mobil".


"Oh, baguslah. Kamu juga tak perlu ceritakan ini pada anak-anak yang lain. Mengerti?"


"Iya, Bang."

__ADS_1


Gogo terpaku menatap kotak bekal itu. Dia tau Waridi masih menyimpan dendam pada wanita itu. Dan juga pada Pak Dokter .... Gagu!"


__ADS_2