
"Nirmala???"
Deg! Deg!
Ayuni mengenali wajah itu. Dia pernah melihatnya di ponsel Fuad dulu. Dia kekasihnya Fuad kan?
"Fuad??"
Ayuni seketika langsung melepaskan tangannya yang bergelayut manja pada Fuad. Kenapa ini? Kenapa dia merasa bersalah? Dia kan sudah menikah dengan Fuad? Tapi kenapa perasaan ini seperti merasa telah mengambil milik orang lain!
"Fuad kamu sama siapa?" tanya Nirmala bingung.
Bukan. Dia bukan bingung. Dalam hatinya pun pasti punya firasat kalau wanita yang tengah menggandeng pacarnya ini adalah seseorang yang dia ingin tepis kebenarannya.
Ayuni bimbang.
"A- aku tung-gu di parkiran. Kalian bicaralah dulu," kata Ayuni tergagap.
Ayuni tidak tau harus melakukan apa. Dia tidak sanggup kalau harus melihat wanita cantik itu berengkar dengan suaminya. Terlebih dia tidak sanggup harus melihat ekspresi keduanya yang mungkin masih saling cinta. Bukankah dulu Fuad bilang kalau dia mencintai pacarnya yang bernama Nirmala itu? Dialah yang tidak tau diri. Hadir begitu saja dalam kehidupan Fuad, menerima segala belas kasih pria itu, bahkan menikah dengannya tanpa sekalipun mau tau apa yang terjadi dengan kekasih suaminya itu. Ayuni sadar dia tidak pernah menanyakan pada Fuad bagaimana hubungan antara Fuad dengan Nirmala sebelum memutuskan untuk menikah dengannya. Dia hanya begitu senang saat pria itu memperlakukannya dengan baik dan mulai mencurahkan kepedulian dan kasih sayang yang banyak padanya, hingga mereka menikah. Ya Tuhan .... Ayuni meras egois sekarang.
Ayuni akan segera meninggalkan Fuad dan wanita itu. Tapi baru selangkah Fuad menahannya. Fuad menarik tangan istrinya itu.
"Tetaplah di sini. Aku tidak mau kau salah paham nanti," kata Fuad.
"Ti- tidak. Aku tidak apa- apa. Aku tidak akan salah paham, aku duluan," katanya sambil melepaskan tangannya dari Fuad.
Ayuni segera pergi. Matanya berkaca- kaca. Dia tidak boleh membiarkan air matanya jatuh di depan Fuad dan wanita itu. Itu akan membuatnya terlihat bodoh.
"Ayuni!!!!!" teriak Fuad memanggil Ayuni.
Fuad masih tidak bergeming di tempatnya. Dia tau dia harus memberikan penjelasan pada Nirmala. Bahwa dirinya sudah menikah.
"Ayuni!!!!!" panggilnya lagi.
Ayuni tidak menghiraukan. Dia tetap berjalan tanpa menoleh. Air matanya menetes sekarang.
"Fuad! Siapa dia?" tanya Nirmala menuntut penjelasan.
Fuad tidak menjawab. Dia memperhatikan punggung istrinya yang semakin berjalan menjauhi mereka. Dengan sebelah tangannya dia memeluk Rahmat yang berada di gendongannya.
"Sayang!!! Mamanya Rahmat!!" panggilnya dengan tegas.
Ayuni menghentikan langkahnya. Nirmala terperanjat mendengar panggilan Fuad pada wanita itu.
"Fu- ad!!! Ka-kamu???"
Fuad menatap Ayuni yang kini kembali melanjutkan langkahnya menjauh dari mereka.
"Maafkan aku, Nir. Aku telah menikah. Dia istriku," kata Fuad mengakui semuanya pada Nirmala.
Bagai disambar petir di tengah hari, Nirmala terkejut mendengar pengakuan Fuad. Tubuhnya seketika lemas mendadak.
"A- apa? Menikah? Menikah, Ad?"
Fuad menghirup napasnya dalam- dalam dan membuangnya begitu saja. Dia tau dia salah. Dia menikahi Ayuni tanpa memutuskan hubungannya terlebih dahulu dengan Nirmala. Kondisinya waktu itu mereka memang sedang dalam komunikasi yang tidak intens, jarang bertemu akibat sibuk masing- masing dengan urusan skripsi. Dan saat Fuad membawa lari Ayuni, dia sempat mengganti nomor ponselnya. Hilang begitu saja, tanpa sekalipun menghubungi Nirmala lagi. Jatuh cinta pada Ayuni membuatnya tak bisa memikirkan wanita lain saat itu. Fuad tau dia salah.
"Maafkan, aku Nir ...."
Fuad tak ingin berlama- lama di situ. Segera dia mengejar Ayuni dan meninggalkan Nirmala yang masih bengong tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Seperti kata Ayuni dia menunggu Fuad di parkiran. Sedih, bingung, galau dan cemburu bercampur aduk yang dia rasa. Nirmala, gadis itu, kekasih suaminya itu memang sangat cantik. Dia lebih cantik aslinya daripada difoto. Apa kira- kira yang mereka bicarakan? Bicara masa lalukah? Akankah Fuad akan kembali mencintai gadis itu setelah bertemu dengannya lagi setelah sekian lama lagi.
"Apa kamu gila? Kamu meninggalkan suamimu di sana dengan wanita lain, apa maksudmu?!"
Ayuni tersentak. Dia yang sedang duduk di taman kecil dekat parkiran mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk.
"A- aku cuma ...."
Ayuni tak melanjutkan kata- katanya. Cepat sekali Fuad kembali dari bertemu dengan Nirmala. Apa mereka tak bicara?
"Cuma apa hmmm? Apa yang kamu pikirkan, Ayuni? Kamu ingin aku melakukan apa dengan Nirmala? Kamu kira aku akan ngapain dengan dia di dalam? Membicarakan masa lalu? Kembali padanya? Kamu ingin aku kembali pada Nirmala?"
Ayuni menunduk. Dia menggeleng.
Sepertinya Fuad tau kalau istrinya ini sedang sensitif. Ya, Ayuni sedang mengandung anaknya sekarang. Jadi wajar saja kalau Ayuni menjadi lebih perasa.
Fuad kini duduk di samping Ayuni. Dia menatap istrinya ini dalam.
"Hey, lihat aku!"
Ayuni tetap menunduk.
"Mama, lihat aku! Sayang, honey ...."
Fuad menghujaninya dengan panggilan- panggilan sayang. Fuad tau istrinya ini sepanjang hidupnya banyak mengalami penderitaan. Bukan hanya tidak disayang, dia juga dilecehkan dan tidak dihargai. Itu membuat Fuad ingin menebus semua kesakitan itu dengan banyak curahan kasih dan sayang yang dia punya. Bahkan seandainya pun semua cinta yang dia miliki bisa dihitung rasanya tetap tidak akan cukup menebus semua penderitaan yang istrinya itu alami. Dia ingin memberikan sebanyak- banyaknya penghargaan untuk Ayuni. Perempuan tegarnya ini pantas mendapatkan itu.
"Ayuni Mita!!!" panggilnya dengan tegas.
__ADS_1
Itu membuat Ayuni terkejut. Sontak dia langsung menoleh pada suaminya itu.
"Aku telah memilihmu. Apa yang kamu khawatirkan?" tanya Fuad lirih.
"Di- dia sangat cantik," kata Ayuni
"Kau lebih cantik!" jawab Fuad tegas.
"Mama pasti senang punya menantu seperti dia."
Fuad menghela napas. Ternyata ini masih tentang perasaan Ayuni pada Mama, batin Fuad.
"Nirmala bukan type menantu idaman Mama," jawab Fuad.
"Tapi, tapi dia cantik, berpendidikan dan ...."
Fuad mengecup bibir istrinya singkat. Untung parkiran sepi.
"Aku mencintaimu, Ayuni. Tidakkah itu cukup? Jangan membandingkan dirimu dengan dirinya. Kalau cuma kasih sayang Mama yang kamu inginkan, aku juga akan mengusahakannya untukmu. Anything for you, honey. Jangan memikirkan hal yang tidak perlu. Kasihan dedeknya Rahmat nanti," Fuad mengelus perut Ayuni sayang.
Ayuni terkesiap mendapat perlakuan seperti itu.
"Ayo, pulang!"
Fuad kini berdiri dan membantu Ayuni berdiri. Tanpa mereka sadari dari kejauhan seseorang menatap mereka sedih.
"Tega kamu, Ad!" gumamnya lirih sambil memandang pada Ayuni dan Fuad yanag masuk ke dalam mobil.
Nirmala mengambil ponsel dari tasnya. Dia menelepon seseorang.
"Hallo, Mon. Kamu punya nomornya Andra nggak? Iya, iya. Ok. Ok. Kirimkan segera, ya!"
Sementara itu di mobil, Fuad membuka gendongan yang melekat padanya dan menyerahkan Rahmat pada Ayuni. Fuad menyalakan mesin mobil dan menyetir mobil menjauh dari pusat perbelanjaan itu.
"Kamu bilang dulu kamu mencintai dia?"
Ayuni mulai memberanikan diri membahas masalah itu.
Fuad masih fokus menyetir.
"Hmmmm? Maksudmu Nirmala?"tanyanya balik.
Sakit hati Ayuni setiap kali mendengar suaminya menyebut nama itu.
"Kalau aku begitu mencintainya, aku tidak akan menikah dengan kamu, Ney, Ayuni, Honey," jawab Fuad santai.
Fuad menyetir dengan sebelah tangannya sambil tangan yang satunya mengusap air mata di pipi Ayuni.
"Menggoda, hmmm?"
Fuad tiba- tiba menghentikan mobilnya. Dia masih ingat saat pertama kali dia berdebat dengan Ayuni tentang cinta. Gadis itu bahkan sampai membuka bajunya di hadapannya, membuang semua malunya dengan perut buncit dan setengah b*gil
"Seperti ini?"
Fuad memajukan tubuhnya dan mendekatkannya bibirnya pada Ayuni. Dengan lembut Fuad mencium Ayuni. Ayuni hanya terdiam menerima ciuman itu.
"Balas, Hon. Ini bukan ciuman pertamamu lagi seperti waktu itu, harusnya kamu sudah lebih mahir, kan?" goda Fuad di sela- sela ciumannya.
"Ke- kenapa kamu bisa tau?"
Ayuni mendorong bibir Fuad yang terus nyosor padanya dengan telapak tangannya.
"Kenapa? Maksudmu kenapa aku bisa tau kalau itu ciuman pertamamu?" tanya Fuad.
Ayuni mengangguk malu. Dia malu akan kelakuannya waktu itu. Andai dia tidak menikah dengan Fuad entah akan ditaruhnya kemana lagi wajahnya. Berani- beraninya dia mencium lelaki itu yang baru dikenalnya beberapa hari.
"Tentu saja aku tau kalau itu ciuman pertamamu, kamu melakukannya dengan sangat kaku. Begitu pun kamu masih sok ingin menciumku," ledek Fuad.
Dia sangat menikmati wajah merona istrinya itu sekarang.
"Ya, maaf. Aku tidak seberpengalaman pacarmu itu," jawab Ayuni kesal.
Fuad tersenyum. Istrinya sedang cemburu. Dia tidak memungkiri kalau dia dan Nirmala sering berciuman saat mereka berpacaran dulu. Berpengalaman?Dia tidak membutuhkan itu sebagai syarat untuk pendamping hidupnya. Fuad hanya butuh Ayuni.
"Jangan cemburu padanya, sayang. Aku tidak mencintai Nirmala," jawab Fuad yakin. "Aku mengatakan begitu hari itu, karena kau terus mendesakku. Kamu bertanya apa ada orang yang kucintai, jadi aku jawab saja aku mencintai Nirmala."
"Apaa? Kamu tidak mencintai dia? Tapi kamu berpacaran dengannya? Ya Tuhaaan, kenapa kau jahat sekali?"
Astaga? Kenapa ini jadi salahku lagi? Dijawab aku tidak mencintai Nirmala salah. Nanti kujawab aku cinta pada Nirmala makin salah lagi, batin Fuad.
"Itu masa lalu , Hon. Waktu itu aku tidak serius karena kami masih kuliah. Aku pacaran dengannya hanya sebatas status biar diakui sebagai cowok ganteng yang berhasil menaklukkan bunga kampus. Sekarang aku mencintaimu dan hanya akan mencintaimu. Puas? Sekarang ayo kita pulang!" kata Fuad kesal.
Ayuni tidak berani menjawab lagi. Kalau Fuad sudah setegas itu, itu artinya Fuad memang hanya mencintainya.
__ADS_1
POV Raya
"Raya kebetulan sekali kamu menelepon!"
Suara Professor Ayyub di seberang sana terdengar sangat serius.
"Ah, iya Prof. Aku menelepon karena aku mau menanyakan hasil MRI- nya Mahfudz. Mahfudz sudah menceritakan semuanya padaku kalau Professor banyak membantu dia selama proses penyembuhan gangguan wicaranya. Sebelumnya aku sangat berterima kasih pada Professor."
"Oh, itu.... Iya. Itu bukan apa- apa. Ngomong- Raya. Kita bisa bahas itu nanti. Ada hal yang paling penting yang kita bahas saat ini dari pada itu," kata Professor terdengar bimbang.
"Apa itu, Prof?" tanyaku.
Terdengar hembus napas Professor Ayyub dari seberang telepon.
"Apa kamu sudah sehat?" tanyanya.
Aku mengernyitkan keningku.
"Ya, aku merasa sedikit lebih baik. Tapi dokter Gayatri menyuruhku bedrest total, Prof. Dan ini memang sedikit membosankan," keluhku sambil terkekeh.
Terdengar hembus napas itu lagi.
"Apa besok kamu bisa ke RSIA?"
Mulutku sampai menganga mendengarnya. Ya. Bagaimana bisa aku melupakan pekerjaanku. Ini memang sudah masuk hari ke 6 aku libur bekerja sejak pasca aku pendarahan itu. Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku menyadari betapa beratnya masalahku kali ini. Aku terikat kontrak kerja tetapi aku harus bedrest total.
"Prof ...."
Sekarang aku yang menghembuskan napas berat. Professor tidak menyahutku.
"Apa ada solusi atas permasalahan ini?" tanyaku. "Sepertinya aku benar- benar tidak akan bisa pergi bekerja untuk waktu yang tidak sebentar."
Professor mendengus kasar.
"Kamu datanglah dulu besok. Aku tidak tau kamu ada permasalahan apa dengan Pak Walikota dan wakilnya. Tapi sepertinya mereka menanggapi sangat serius permasalahanmu ini. Mereka dan mitra KSO yang bisa berkesempatan hadir besok ingin membahas hal ini. Datanglah besok!"
"Ngggg ...."
Aku ragu- ragu bisa datang. Aku tidak bisa bepergian saat ini.
"Aku akan mengirimkan seseorang untuk menjemputmu besok. Kamu bisa pakai kursi roda saja, Raya."
Ya, Tuhan. Apakah harus seperti ini? Aku baru saja libur 6 hari mereka sudah harus melakukan pertemuan seolah ingin mengadili aku.
"Itu tidak perlu, Prof. Aku bisa datang sendiri. Aku rasa aku tidak membutuhkan bantuan kursi roda. Aku akan meminta Mahfudz untuk mengantarku." tolakku.
"Oh, ya sudah kalau begitu," jawab Professor menyudahi panggilan telepon itu.
Saat malam, sepulang Mahfudz dari rumah sakit, aku memberanikan diri untuk meminta ijinnya untuk pergi ke rumah sakit. Dan seperti ku duga, jawabannya adalah, tidak!
"Tidak, Raya! Kamu sudah janji padaku akan akan stay di rumah sampai kamu melahirkan. Kenapa kamu begitu pembangkan?!" jawabnya murka.
"Astaghfirullah, sayang! Aku bukannya ingin membangkang atau membantahmu. Tetapi aku terikat kontrak kerja, biar bagaimana pun masalah ini harus aku selesaikan. Tidak bisa didiamkan begitu saja. Ini berkaitan dengan masalah hukum. Kamu mau aku hamil dan melahirkan di penjara?"
Kata- kataku sontak membuat Mahfudz dan Ummik yang sedari tadi cuma mendengarkan jadi kaget.
Aku menggenggam lembut lengan Mahfudz.
"Ijinkan aku sehari saja ke rumah sakit. Aku akan menyelesaikan ini," bujukku.
"Caranya?" tanya Mahfudz pesimis
"Aku akan berhenti kerja seperti yang pernah kujanjikan padamu. Aku akan di rumah saja, fokus pada kehamilanku dan menunggu kamu pulang dari rumah sakit. Jadi ibu dan istri yang baik."
Mahfudz terpana mendengarku. Senyum sumringah mengembang di sana.
"Kamu sudah pikirkan ini baik- baik, Ray?" tanya Ummik.
Aku mengangguk yakin.
"Iya, Mik. Kali ini Raya akan menjaga cucu Ummik baik- baik." janjiku.
Ummik tersenyum.
"Baiklah, Ummik yang akan bayar pinaltinya kalau memang harus ada denda yang kamu bayar," kata Ummik.
Aku mengangguk. "Terima kasih, Ummik."
Tentu aku tidak bisa menolak kebaikan hati Ummik. Aku anak Ummik satu- satunya. Dan aku tidak pernah menolak pemberian Ummik, meskipun aku mampu untuk membayarnya sendiri. Aku ingin bisa memberikan kebahagiaan pada Ummik. Beliau begitu bahagia jika pemberiannya tidak ditolak oleh siapa pun. Itu kebahagiaan tersendiri baginya.
Dalam diam aku menghela napas. Untuk sementara waktu aku terpaksa menarik diriku dari dunia kedokteran. Aku pernah resign sebelumnya, tapi sepertinya ini akan lebih lama.
"Aku janji, kamu boleh bekerja lagi, Ray. Kalau kamu sudah melahirkan dan anak kita sudah cukup besar untuk ditinggal kerja. Ini cuma sementara, jangan sedih." hiburnya sambil mengelus punggungku.
Ya, mau bagaimana lagi? Ngomong- ngomong berapa ya pinaltynya? batinku dalam hati. Aku lupa isi perjanjian kontrak kerja itu. Aku ingin membacanya ulang, sayangnya aku menyimpannya di ruang kerjaku di rumah sakit.
__ADS_1