
Lelaki tampan itu sedang berjalan beriringan denganku tampak seperti di sebuah hutan di pinggir sungai. Dia menoleh padaku.
"Namaku .... Mahfudz."
Pria itu tersenyum padaku. Senyum yang menenangkan dalam pandangan mata teduhnya.
"Mahfudz?" gumamku.
Mahfudz, Mahfudz, Mahfudz. Aku mengulang berkali- kali nama itu.
Lalu seekor serangga tiba- tiba terbang menuju leherku dan menggigitnya. Aku mengaduh sambil memegangi leherku.
"Awww .... "
"Sakit?" tanya pria itu.
\\\*
Hmmmm. Siapa tadi nama pria itu?
"Mahfudz?"
"Hmmm i-ya, sa-yang?"
Aku merasa seseorang menyentuh bibirku.
Hmmmm?
Lagi aku merasakan sentuhan itu.
Aku membuka mataku. Dan melihat Mahfudz sedang memandangiku.
"Pa-gi, sa-yang! Mor- ning kiss!"
Sebuah kecupan mendarat di bibirku.
Oh, tadi aku mimpi? Aku terpaku. Mimpi yang aneh. Kenapa dalam mimpi itu aku seperti baru pertama mengenal Mahfudz ya? Ah, mimpi yang aneh.
"Ka-mu me-nye-but na-ma-ku ber-kali- ka-li. Ke-na-pa? A-pa ka-u me-rin-du-kan-ku?" godanya sambil jempolnya mengelus bibirku.
Aku memukul dadanya pelan. Dia terkekeh. Aku ingin bangkit dan mandi melihat jam sudah menunjukkan pukul setengah 5 subuh. Namun Mahfudz menahan ku dalam kungkungannya.
"Kenapa?" tanyaku pura- pura bingung.
Padahal aku tau dari sorot matanya yang terlihat amat sedang ingin menerkamku apa yang ingin dilakukannya.
"Nan-ti a-ja man-di-nya se-ka-li-an. Be-lum ad-zan ju-ga," bujuk Mahfudz.
Dan lihatlah tangannya sudah tidak bisa dikondisikan lagi.
"Hey, kamu nggak ingat, kata dr. Gayatri. Besok atau lusa, sayang ...." kataku geli.
"Di-a me-nga-ta-kan i-tu ke-ma-rin, be-rar-ti i-ni su-dah be-sok. Dan la-gi a-ku ba-ca di in-ter-net hab-is pa-sang spi-ral bi-sa lang-sung ber-hu-bu-ngan, kok!" jawabnya tak peduli.
Dan Mahfudz kembali ke dirinya yang dulu. Menggebu- gebu dan sangat bersemangat menuntut haknya yang ini. Dan sebenarnya sebagai dokter aku dan dr. Gayatri mengetahui kalau setelah pemasangan spiral bisa langsung berhubungan, namun dr. Gayatri hanya ingin berjaga- jaga untuk memastikan kalau IUD sudah terpasang dengan benar. Makanya dia memberikan nasehat untuk memberi jarak waktu untuk berhubungan setelah memasang IUD.
Namun biarlah, memang ini yang aku inginkan. Aku ingin dia tak menahan hasratnya lagi padaku. Dan saat nanti aku melepas IUD ini tanpa sepengetahuannya, dia tak akan ragu lagi menabur benihnya di rahimku.
Maafkan aku, sayang, aku tau ini tidak benar. Tapi aku benar- benar ingin sekali memiliki pengganti Annisa. Kalian tidak akan mengerti perasaan bersalahku pada Annisa bukan semata- mata karena kecerobohanku menjaga kandunganku. Aku merasa bersalah karena dulu aku tidak menginginkan kehamilanku dengan sepenuh hati. Bahkan meski Ummik, Hawa juga Ali sudah memberi tahuku, aku tetap tidak antusias. Bahkan meski aku sudah tau aku hamil, tetap saja aku masih kurang bahagia. Dan mungkinkah Allah menghukumku karena itu? kataku membatin dalam hatiku.
Karena itu aku akan benar- benar menginginkannya sepenuh hati kali ini. Aku akan memperjuangkan kehamilanku kali ini. Bahkan meski Mahfudz atau Ummik tidak setuju.
Dan benar saja meski sesekali Mahfudz agak meringis, akhirnya dia menabur benih itu meski di lahan yang tak memungkinkan benih itu akan tumbuh di rahimku.
"Ke-na-pa kok se-per-ti a-da yang me-nu_suk- nu-suk di da-lam?" keluhnya begitu kami selesai melakukannya.
Aku tersenyum.
"Itu benang IUD, sabarlah. Nanti juga lama- lama benangnya melunak." jawabku.
__ADS_1
"Aku mandi duluan," kataku.
"Ba-re-ngan," jawabnya.
Dan ini tak seperti kalian pikirkan, karena ketika kami di kamar mandi kami memang hanya benar- benar mandi. Palingan kegiatan romantisnya adalah saling bergantian menggosok punggung masing- masing.
Namun saat aku sudah selesai dan sedang memandang bayangan diriku di cermin, mataku memicing siap menghakimi Mahfudz.
"Kamu yang lakuin ini?" tanyaku sambil melotot sembari menunjuk tanda biru kehitaman di leherku.
Mahfudz tertawa, "A-ku ti-dak ta-han ta-di pas ka-mu ti-dur. Ja-ngan ma-rah sa-yang, la-gi pu-la i-tu kan nan-ti ke-tu-tu-pan sa-ma jil-bab yang ka-mu pa-kai."
"Aiiissss ...." desisku kesal. "Kamu tau aku tidak suka ini, Fud. Ini merusak pembuluh darah kapilerku. C*pang itu cedera yang disengaja, memar. Apa bagusnya melakukan ini," kataku kesal.
"Ma-af, sa- yang. A-ku ti-dak a-kan me-la-ku-kan-nya la-gi," janjinya sambil mengacak- acak rambut basahku.
Aku kesal kalau Mahfudz mulai meninggalkan jejak seperti ini ditubuhku. Itu akan butuh beberapa hari untuk bisa menghilangkannya. Dulu dia pernah melakukannya sekali dan selama beberapa hari aku bahkan tidak bisa membuka jilbabku di dalam rumah sekalipun karena malu kalau dilihat Ummik.
"Kak Raya, tumben nggak buka kerudungnya? Biasanya kalau Fuad sudah pergi kerja, Kak Raya buka kerudungnya. Kan cuma ada aku, sama Ummik dan Rahmat di sini," celutuk Ayuni.
Aku mendesah. Gara- gara Mahfudz nih. Kan aku nggak enak, kalau sampai orang lain lihat tanda itu. Di saat aku kebingungan ingin menjawabnya, aku mendapat telepon dari Professor. Aiss, benar- benar deh. Telepon ini membuatku pusing pagi- pagi.
"Ya, Prof," sapaku setelah mengangkat telepon itu.
"Bagaimana? Apa sudah kamu pikirkan baik- baik?"
"Emmm ...." Aku masih bingung.
Professor menangkap kebingunganku.
"Kamu ke Siaga Medika sekarang. Terlepas dari apa pun keputusanmu nanti, kita bicarakan ini dulu."
"Baiklah, Prof!" kataku.
"Kenapa, Ray?" tanya Ummik melihat kebingunganku.
Aku menghirup napas panjang dan membuangnya.
"Professor, Mik. Professor mau aku jadi Dokter Kepala Obgyn di Rumah Sakit baru itu." kataku berat.
"Kok bisa?" tanya Ummik.
Aku menceritakan tentang kejadian kemarin. Ummik tau tentang kecelakaan beruntun itu, tapi dia tidak tau masalahnya akan jadi sebesar ini.
"Bukannya bagus, Kak Raya? Artinya Kak Raya dipromosikan donk. Dapat jabatan baru berarti yang lebih tinggi."
Aku meringis. Masalahnya kalian tidak tau. Saat ini yang kubutuhkan adalah seorang bayi yang memanggilku bunda. Bukan jabatan, jeritku dalam hati.
"Ya, tapi jabatan yang tinggi harus dibarengi oleh tanggungjawab yang besar, Ayuni. Dan aku belum siap untuk itu." jawabku. " Ah, sudahlah. Kamu tidak akan mengerti. Aku mau ke rumah sakit dulu."
Aku segera meninggalkan Ummik dan Ayuni di meja makan. Dan bergegas mengganti dasterku dengan baju yang akan kupakai ke rumah sakit nanti. Setelah mengganti baju, aku pun memilih jilbab yang akan ku pakai. Dan mengeluh saat jarum pentulku habis. Kebiasaan deh ini, jarum pentul satu per satu hilang tak tau kemana perginya.
Aku segera bergegas keluar ingin meminta beberapa jarum pentul pada Ummik.
"Ummik, aku minta jarum pentulnya Ummik, donk." pintaku pada Ummik di dapur.
"Ambil di kamarlah, Ray. Minta kok ke dapur sih," kata Ummik yang terlihat sangat asyik bermain- main dengan Rahmat di meja makan.
"Ya, Ummiknya kan ada di sini. Nanti kalau sudah diberi baru Raya ke kamar ngambilnya," jawabku.
Aku hendak berlalu saat Ayuni tiba- tiba berdiri.
"Ciee Kak Raya .... Apaan nih?" Ayuni menyibak rambutku dan menemukan bekas c*pang Mahfudz di leherku. "Pantas tadi nggak mau buka kerudungnya, ternyata ada tanda cinta disitu," godanya.
"Apaan sih Ayuni," Aku berusaha menutupi leherku dengan rambutku.
Sekarang wajahku terasa panas dan aku malu.
Ayuni tertawa terkekeh saat melihat godaannya padaku berhasil. Aku tak menghiraukannya melainkan bergegas masuk ke kamar Ummik mengambil beberapa biji jarum pentul. Setelah itu aku kembali ke kamar.
Saat aku sedang memakai jilbabku dan menjepit beberapa jarum pentul di situ, Ummik datang dan duduk di ranjang. Beliau memperhatikanku yang sedang memoles sedikit lipstik di bibirku.
"Ray ...." panggilnya hati- hati.
__ADS_1
"Iya, Mik." sahutku sopan tanpa melihat padanya.
"Ummik senang hubunganmu dengan Mahfudz kembali harmonis, tapi kamu .... Tidak lupa pake KB kan, Nak?"
Seketika aku berhenti meratakan lipstik yang baru saja kupakai. Pertanyaan Ummik kembali membuatku sensitif.
"Kenapa sih Ummik, nanyanya begitu? Ummik segitu nggak pengennya pengen cucu lagi dari Raya? Mentang- mentang Ummik udah ada Rahmat dan Ayuni sedang hamil lagi sekarang. Jadi Ummik nggak butuh cucu lagi dari Raya?"
"Raya, kamu kok nuduh Ummik begitu sih, Nak? Tentu Ummik masih ingin donk cucu dari kamu. Darah daging Ummik sendiri. Ummik cuma nggak mau terjadi hal yang buruk kalau kamu hamil sekarang ...."
"Jadi, kalau semisal Raya hamil sekarang, Ummik menganggap anak Raya adalah hal yang buruk begitu, Mik?" selaku.
"Raya ...."
"Sudahlah, Mik. Raya mau berangkat sekarang," kataku sambil buru- buru meraih tangan Ummik dan menciumnya. Aku malas berdebat dengan Ummik. Hanya akan membuatku semakin durhaka nanti.
\\\
Sebelum aku bertemu dengan Professor, aku terlebih dahulu bertemu dengan dr. Samuel. Aku ingin membujuknya untuk menerima posisi dokter kepala di RSIA Satya Medika.
"Maaf, Raya. Untuk beberapa alasan saya tidak bisa. Kalau saran saya, terimalah posisi itu. Itu baik untuk jenjang karirmu ke depannya."
"Dok, saya benar- benar belum siap dapat posisi seperti ini. Please ...." rengekku.
Dan hanya gelengan yang kudapat.
"Itu bukan jabatan yang sulit. Hanya memimpin departemen obgyn dan memimpin beberapa dokter SpOG dengan lebih sedikit tindakan, banyak waktu untuk keluarga dan penghasilan lebih besar. Kamu masa tidak tertarik, Raya? Lebih banyak waktu untuk suami. Dan saat kamu siap untuk promil lagi, tenagamu tidak akan terkuras banyak untuk tindakan di lapangan. Yah memang lebih banyak tanggung jawab. Kamu akan lebih banyak bertemu orang- orang penting daripada pasien."
Aku berpikir- pikir lagi. Lebih banyak waktu, sedikit bekerja fisik akan membuat aku tidak terlalu lelah dan aku bisa menjaga kandunganku dengan hati- hati kalau misiku berhasil.
Sebelum akhirnya aku memutuskan aku bertanya pada dr. Samuel.
"Kenapa dokter tidak tertarik?" tanyaku.
Dr. Samuel tersenyum. "Saya sudah belasan tahun bekerja di Siaga Medika, saya merasa nyaman di sini. Pindah ke tempat baru akan membuat saya beradaptasi lagi dengan lingkungan kerja baru. Memulai lagi dari nol. Itu membuat saya lelah. Dan saya tidak terobsesi dengan jabatan."
"Saya juga tidak terobsesi dengan jabatan, dokter," kataku menimpali.
"Iya, saya tau, Raya. Tapi kamu masih muda. Kelak kamu akan punya anak- anak yang kamu akan besarkan, kamu sekolahkan, jabatan dan penghasilan memang bukan point utama. Tetapi itu juga berguna untuk anak- anakmu di masa depan. Sementara saya? Semua anak saya sudah berkeluarga, sudah memiliki kehidupannya sendiri. Cukup bagi saya menjalani hidup seperti ini di hari tua saya."
Dan akhirnya sekarang aku sedang berjalan menuju ruangan Professor. Menarik napas dan membuangnya perlahan.
"Jadi bagaimana? Kamu sudah memutuskan?"
Aku membuang napas lagi dan mengangkat bahuku. Aku tidak punya pilihan lain kan?
"Baiklah, kita ke RSIA Satya Medika sekarang. Rapat antara pihak Pemkot dan pihak kita akan digelar sekarang untuk membahas ini, sekalian setelahnya kita perlu mengadakan konferensi pers dengan wartawan. Di situ kamu boleh mengatakan keputusanmu, apakah kamu akan menyelamatkan saya dan RSIA Satya Medika atau sebaliknya kamu akan mendorong saya ke dalam jurang masalah."
"Prof ...."
"Ayo!" ajak Professor tak menghiraukan rengekanku.
Dan akhirnya kami tiba di rumah sakit ibu dan anak ini. Para wartawan pun spontan mengejar mobil kami. Oh Tuhan, aku benci wartawan.
Begitu mobil kami melewati gerbang dan berhenti di parkiran, kilatan lampu blits kamera tak henti- hentinya ke arah kami. Membuatku silau saja.
"Pak! Bagaimana pendapat bapak tentang kecelakaan beruntun ini?"
"Kenapa para korban di bawa ke rumah sakit bersalin?"
"Siapa yang membuat keputusan untuk membuka rumah sakit sebelum launching?'
Bla.... Bla .... Bla....
"Dokter! Dr. Raya! Apa anda bla ... bla..."
Sial! Kenapa mereka harus ingat namaku sih?
Aku dan Professor memilih untuk tidak menjawab. Kami segera berlalu menuju ruang pertemuan, sementara security menahan wartawan untuk tidak mengejar kami
__ADS_1
Dan di ruangan rapat ini telah hadir lebih dulu Bapak Walikota dan wakilnya siapa lagi kalau bukan Waridi? Dan nampak satu sosok yang terlihat tersenyum padaku. Dia Fuad.