
Pov Mahfudz
Sudah lebih setengah jam aku duduk disini sambil membuka aplikasi WA. Mengetik, lalu ku hapus lagi, mengetik lalu dihapus lagi, begitu seterusnya. Hatiku galau kalau mengingat-ingat kejadian ini. Ada apa ini? Kenapa bisa ada kejadian seperti ini?Sebenarnya siapa dalang penculikan dr. Raya. Saat diinterogasi di kantor polisi sebagai saksi aku sempat mendengar dr. Raya mengatakan pada polisi bahwa yang menculiknya adalah Bapak Wakil Walikota Waridi. Apakah itu mungkin? Sementara selama ini setahuku bapak wakil walikota itu adalah bapak yang penyayang bagi masyarakat, senang membantu, bersosialisasi dan senang menyantuni anak yatim sehingga beliau juga termasuk pemimpin yang dicintai masyarakatnya. Tapi dilihat dari sudut pandang dr. Raya apa mungkin dia berbohong?Untuk apa? Aku juga jelas-jelas mendengar anak buah penculik itu mengatakan pada dr. Raya kalau Pak Waridi sebentar lagi akan bertemu dengan kami.
"Fud.."mama membuyarkan lamunanku.
"Hmmm..."sahutku.
Hari ini aku minta ijin sehari dari rumah sakit karena ada urusan. Dan sepertinya orang rumah sakit juga tau masalah yang ku hadapi dengan dr. Raya.
"Dr. Raya itu...." mama seperti ragu-ragu melanjutkan kata-katanya. "...Apa kamu benar nggak ada hubungan dengan dia?"
"Ck..."mulutku berdecak sebal mendengar pertanyaan itu. Dari tadi di kantor polisi hanya pertanyaan itu terus yang diulang-ulang. Sekarang pun sama di rumah juga begitu.
"...maksud mama itu begini, Fud. Kejadian yang menimpa kamu dan dr. Raya itu kan memalukan, Fud. Mau ditaro dimana wajah mama Fud, kalau tetangga, keluarga kita teman-teman mama juga mengungkit-ungkit masalah ini, kan malu, Fud. Ini aib yang besar.."kata mama hati-hati.
"Llla..lu..mau... mma..ma..appa...?"tanyaku to the point.
"Gini, Fud..."Mama mendekatkan duduknya padaku. Dia memelankan suaranya dan masih dengan intonasi yang hati-hati. Aku pun siap mendengarkan.
"Bagaimana kalau kita datang ke rumah dr. Raya meminta maaf dengan tulus dan membicarakan soal ini dengan keluarganya? Waktu di kantor polisi tadi sebelum kamu datang, mama sempat ngobrol sama ibunya. Ibunya dr. Raya itu baik kok"
"Laa...lu?"
"Kita bicarakan masalah ini baik-baik, dan...kalau.. kalian setuju..Kamu setuju, Raya setuju, ibunya setuju. Kalian dinikahkan saja. Bagaimana?"
Fuad yang sedari tadi sibuk mengedit-edit vidionya terkekeh mendengar kata-kata mama. Dia menggeleng-gelengkan kepala memikirkan betapa tak masuk akalnya pemikiran mama.
"Ma..ma..."
"Ini demi kebaikan bersama, Fud. Kita juga tak perlu malu, mereka juga kan? Lagi pula mama rasa kalian juga cocok. Tadinya mama berpikir kalau konsulenmu di rumah sakit orang yang sudah tua, tapi ternyata mama lihat di kantor polisi, Raya itu masih muda. Ya..meski usianya lebih tua dari kamu, tapi tidak terlalu mencolok kok. Kalian mama lihat serasi. Mama nggak keberatan menjadikannya menantu"
"Ya iyalah mama nggak keberatan" celutuk Fuad. "Sekelas dr.Raya mah menantu idaman semua mertua di muka bumi ini. Nah, sekelas kembaranku yang gagu ini apaan? Yang keberatan mereka kali mah, siapa juga mau punya menantu anak koas gagu pula"
"Fuaaaad!!!"jerit mama marah.
Aku mengelus punggung tangan mama agar beliau tenang. Aku mengakui kali ini Fuad benar kok. Mama yang tidak masuk akal.
"Ma..."
"Fud..."potong mama sebelum aku mulai mengatakan sesuatu. Mama mendelik jengkel pada Fuad. Mama merapikan rambutku dengan sayang.
"Kamu nggak seburuk itu sayang. Kamu jangan dengarkan Fuad!Kamu juga calon dokter, kamu juga bisa menjadi dokter yang hebat, kamu cerdas, kamu anak mama yang ganteng dan juga anak mama yang baik hati. Kamu sangat pantas menjadi calon suami dan calon menantu semua oraaang di muka bumi ini"mama melirik Fuad yang mencibir.
"Ma...Mah...fud..ma..sih..ko..as..be..lum ter..pi..kir..pu..nya..is..tri.."
__ADS_1
"Kamu memang masih koas. Tapi usiamu udah hampir 24 tahun, kan bisa tunangan dulu. Kalian bisa nikah kalau kamu sudah lulus koas. Nanti kalau sudah lulus koas, kamu bisa langsung kerja jadi dokter umum sembari kamu lanjutin pendidikanmu biar setara dengan dokter Raya. Apa sulitnya? Kalian beda usia, tidak ada yang memalukan dengan itu bahkan Rasulullah saja menikah dengan khadijah terpaut usia yang jauh. Lagi pula, cinta tidak mengenal usia."
Aku mengingat kembali kata-kata dokter Raya saat marah ketika polisi menginterogasiku. Waktu itu dia bilang, apa yang diharap dengan hubungan antara konsulen dan anak koas, dia bisa mendapat lelaki yang lebih baik dan lebih layak. Kata-kata itu masih terngiang di telingaku. Itu membuatku merasa malu dan menyedihkan.
"Dr.Ray..ya ..ti..dak...cinta..pa..da..ku... Ma..ma stop..ba..has..i..ni..a..ku ma..lu.. i..ni..ti..dak pan..tas.."
Aku beranjak dari sofa tempatku duduk. Aku bahkan merasa malu membahas ini dengan mama apalagi dengan dr. Raya. Jangan sampai ide gila mama ini di dengar dokter Raya dan keluarganya. Aku tidak tahu lagi mau ditaro lagi dimana mukaku.
"Tapi kamu cinta kan, Fud???!!"tanya mama sambil teriak padaku yang masuk ke dalam kamar.
Pertanyaan itu, apakah perlu kujawab? Aku bahkan tidak tahu jawabannya. Apa itu cinta?Cinta itu apa? Aku mengulang-ulang pertanyaan itu dalam hatiku.
Aku berbaring di tempat tidur setelah meletakkan ponselku. Terbayang sesosok wanita berambut pendek sebahu yang sedang tidur dalam pelukanku. Dia membuka matanya, tersenyum padaku memamerkan lesung pipinya yang indah itu.
Astagfirullah, Mahfudz...Kau pasti sudah gila berani membayangkan dr. Raya!!
Segera aku mengusap wajahku kesal berharap bayangan itu hilang. Karena itu tak berhasil aku berjalan ke kamar mandi. Aku harus berwudhu dan minta petunjuk dari sang Maha Cinta.
\*\*\*\*
Pov Raya
Hari ini aku ke rumah sakit menggunakan mobil, motor matic kesayanganku terpaksa harus nganggur dulu. Aku merasa nyaman terlindung di dalam mobil ini tanpa ada yang melihat-lihat ke arahku di sepanjang jalan.
Sesampai di parkiran rumah sakit, aku memarkirkannya di tempat parkiran khusus pegawai rumah sakit. Sedikit terkejut ada banyak wartawan di sana. Setiap ada kenderaan masuk mereka berlari mengejarnya. Begitu pun saat aku datang...Mereka berlari ke arahku bahkan sampai aku kesulitan membuka pintu mobil.
"Apa benar yang menculik anda salah seorang pejabat?"
"Dokter Raya bagaimana tentang kabar kedekatan anda dengan mahasiswa koas anda? Apa benar tentang berita kalau anda punya hubungan intim dengannya?Apa benar kriteria lelaki idaman anda adalah yang lebih muda? Seperti brondong manis itu, bu dokter?"seloroh salah seorang wartawan
Pertanyaaan itu disambut tawa wartawan lain. Di telingaku itu seperti olok-olokan walau tau mereka hanya bercanda.
Aku menggeram kesal karena pertanyaan itu.
"Saya hanya tenaga medis, mas. Kenapa kalian harus memburu saya seperti ini? Apakah mencari makan memang harus sampai seperti ini?Apakah urusan pribadi saya bagi kalian adalah hiburan buat orang lain?Sehingga perlu kalian konsumsi dan kalian beritakan terus menerus?Kalian carilah berita dari artis-artis sana, saya hanya pekerja medis. Tolong jangan ganggu saya, saya hanya ingin bekerja."pintaku marah.
Aku bergegas meninggalkan parkiran rumah sakit dan meninggalkan kerumunan wartawan itu. Mereka masih akan mengejarku kalau tidak dihalangi oleh security.
Di rumah sakit ini pun semua memandangiku. Mereka menyapaku dengan ucapan selamat pagi, namun setelah aku lewat mereka akan kembali menggunjingkanku lagi.
Aku menuju ruang Professor. Professor Ayyub menyambutku dengan hangat seperti biasa.
"Aku turut prihatin akan kejadian yang menimpamu, dr. Raya!"kata professor.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Aku ingin membantumu mengusut kasus penculikanmu itu pada salah seorang keponakanku yang kerja di polres, tapi mereka bilang kasusmu adalah kasus yang sulit ditangani karena tidak ada barang bukti"
Aku menghela nafas pasrah.
"Bagaimana kabar Bu Tya?"tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Dia tidak begitu baik, dia ingin kamu merawatnya sampai akhir."
"Sampai akhir bagaimana maksudnya?"tanyaku mengernyitkan dahi.
Professor Ayyub menjelaskan kondisi Tya yang semakin memburuk dan harus kembali ke ruang ICU.
"Entah berapa lama lagi anak itu akan bertahan"keluh professor. Air mata menggantung di pelupuk matanya. Baru kali ini aku melihat professor menangis.
"Prof..." Aku menyentuh dan mengelus punggung tangan professor untuk menenangkannya.
"Aku akan merawat Bu Tya semampu yang aku bisa"janjiku.
Aku jadi bingung. Tadinya aku ke rumah sakit hanya ingin mengajukan cuti kerja untuk menenangkan diriku, sampai semua orang berhenti membicarakan kejadian kemarin. Tapi mendengar kondisi Tya aku tak sampai hati mengabaikannya. Apalagi melihat wajah professor yang sedih seperti itu. Professor Ayyub sudah seperti ayah bagiku.
Tok!Tok!
Suara ketukan di pintu terdengar membuatku menarik tangan dari tangan professor Ayyub.
"Masuk!!"
Professor Ayyub menyeka air matanya.
Aku terkejut melihat siapa yang datang. Wajahku langsung merah padam. Rasanya aku ingin menyembunyikan wajahku di lobang semut. Sampai lelaki di hadapanku ini tak pernah lagi melihat wajahku.
"Masuk, Fud!"
Mahfudz masuk. Sekilas memandangku dan berusaha menjauhkan pandangannya dariku.
"Saya duluan aja, Prof. Saya nggak enak ganggu."kataku.
"Tidak apa-apa dr. Raya. Duduk saja, kami cuma sebentar. Duduk, Fud!"katanya mempersilahkan Mahfudz duduk di sampingku.
Aku merasa gerah berada di dekatnya. Aku merasa malu yang tak bisa kuungkapkan pada professor.
"Nggak apa-apa, prof. Saya masih banyak kerjaan di bangsal dan poly juga. Saya juga harus periksa keadaan Bu Tya"kataku sambil memperhatikan jam tanganku.
Professor Ayyub sepertinya memperhatikan ketidaknyamananku berada di samping Mahfud.
" Baiklah, jangan terlalu dipikirin masalah yang menimpamu kemarin-kemarin, kalau kamu butuh sesuatu, silahkan beritahu saja dr. Raya. Jangan sungkan"
__ADS_1
"Baik, Prof."jawabku.
Saat aku hendak berdiri pandanganku bertemu dengan mata Mahfudz. Wajah lugu itu sepertinya menahan malu juga bertatapan denganku. Jantungku berdebar-debar kencang. Aku memalingkan wajah dan segera berlalu dari ruangan dr. Ayyub. Jangan sampai mereka mendengar debaran jantungku.Sesampai di luar, aku menghembuskan nafas yang dari tadi ku tahan. Aku mengelus dadaku. Sebelum akhirnya melangkahkan kaki ke poli.