I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Still Birth


__ADS_3

Pov Raya


Mobil yang membawaku akhirnya berhenti.


"Sa-bar, sa-yang. A-ku jem-put brankar du-lu un-tuk-mu."


Sayang? Kau bilang tadi aku tak boleh memanggilmu sayang ....


Mahfudz meninggalkanku sendirian di mobil ini. Mungkin saat ini kami sedang di depan IGD. Mungkin dia sedang meminta bantuan perawat untuk memindahkanku ke dalam.


Benar saja, tak lama Mahfudz kembali dengan membawa perawat yang kukenali wajahnya. Fahmi, Hamid, dan .... Aku tak sanggup mengingat siapa nama perawat yang satu lagi.


"Astaghfirullah, dokter! Dr. Raya!" jerit Fahmi histeris dengan keadaanku.


Ini sangat sakit. Rasanya seperti perut dan bagian bawah tubuhku ada yang meremas dan menghancurkannya. Tak cuma itu perutku juga terasa mulas. Apa ini yang dikatakan kontraksi? Ya, Allah selamatkan bayiku. Kau harus kuat sayang, demi bunda. Kalau kau kuat maka bunda juga akan kuat.


"Dokter, bertahanlah. Dokter akan baik- baik saja," kata Fahmi.


Dia terlihat ingin menangis melihat kondisiku yang bahkan terlihat bernafas pun susah. Kami memang sudah seperti kakak adik di rumah sakit ini. Bertahun- tahun jadi partner kerja membuat kami seperti saudara.


Mahfudz dan Fahmi membantuku duduk di jok mobil dan perlahan menarik tubuhku sampai ke dekat pintu mobil, kemudian mereka bertiga mengangkat tubuhku ke brankar dan mendorongnya ke IGD. Semua orang di IGD juga sangat panik dengan keadaanku.


"Gus, panggil dr. Gayatri! Sekarang Gus. Katakan ini CITO!" teriak dr. Mila pada Agus.


Ini masih saja sakit, sangat sakit. Ya Allah, tolong pingsankan saja aku, buat aku tidak sadar! Kontraksi yang kurasa semakin menjadi-jadi. Dan sekarang bisa kurasakan, gaun hamil yang kupakai untuk acara 7 bulananku di bagian bawahnya terasa basah dan lengket oleh darah. Apa yang terjadi, kenapa pendarahan sebanyak ini? Apa ini solutio placenta?


Dr. Mila dan perawat segera memberikan pertolongan pertama padaku serta tak lupa memberikan alat bantu oksigen padaku. Tak berapa lama dr. Samuel datang memeriksaku.


"Kenapa ini bisa sampai terjadi pada Raya?" tanya dr. Samuel pada Mahfudz yang masih berdiri panik menemaniku.


"Di-a ter-ja-tuh di tang-ga," jawab Mahfudz pelan.


"Bagaimana bisa kau mengijinkan dia naik turun tangga dengan kondisi hamil seperti ini?" dr. Samuel terdengar menyalahkan Mahfudz. "Harusnya ini tidak boleh terjadi."


Aku melirik Mahfudz. Dia terlihat menunduk sambil mengangguk. Raut bersalah nampak di wajahnya.


"Ok. Kita periksa dulu," kata dr. Samuel sambil meminta fetal doppler pada salah seorang bidan.


Bidan itu hendak menyingkap bajuku yang telah diganti dengan baju pasien. Tapi aku menolak. Dr. Samuel bukan muhrimku. Mahfudz sudah sangat marah karena masalahku karna tak bisa menjaga kehormatanku dengan Ali yang buka muhrimku. Bagaimana kalau nanti dia tambah marah lagi karna aku diperiksa dr. Samuel?


"Dr. Gayatri ...." bisikku lirih. Namun aku yakin mereka tidak kesulitan mendengarnya.


"Dr. Gayatri masih ada tindakan, Ray. Kita harus periksa detak jantung janinmu dulu. Baru kita tau separah apa kondisimu saat ini," kata dr. Samuel.


Aku hendak menolak diperiksa, namun Mahfudz memaksaku.


"Ka-mu i-tu a-pa- a-pa-an, Ray. Bi-ar-kan dr. Sa-m-uel me-me-rik-sa-mu!" suruhnya.


Aku tak bisa menolak lagi, kalau sudah Mahfudz yang suruh. Dr. Samuel dengan bantuan bidan memeriksa detak jantung janinku dengan fetal doppler. Aku mendengar detak jantung lemah yang lambat dan terdengar samar- samar. Aku ingin menangis mendengarnya.


Ya, Allah masih bisakah bayiku bertahan?


Dr. Samuel menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan- lahan.


"Kita perlu USG lagi untuk melihat penyebab pendarahannya. Kita tunggu sebentar sampai sesak napasnya membaik, mungkin nanti kau perlu melakukan operasi secar, Ray! Meskipun kemungkinan janinnya selamat kecil. Tapi kau harus tetap kuat."


Aku menggeleng. Aku tidak bisa kuat kalau sampai anakku sampai ada apa- apa. Aku hanya seorang ibu, Tuhan.


Setelah melakukan USG, dr. Samuel mengajak Mahfudz untuk berbicara di luar. Dan aku bisa menebak apa yang akan mereka bicarakan.


Kedatangan Ummik, Mama dan Nadya membuatku tambah menangis menjadi- jadi. Ummik memelukku. Terlihat air mata yang ditahannya menggantung di kelopak matannya.


"Nggak apa- apa. Nggak apa- apa, Nak. Semua akan baik- baik saja. Kau dan cucu Ummik akan baik- baik saja. Banyak- banyak berdoa pada Allah, Ray ...."


Air mataku semakin banjir saat mendengar kata- kata Ummik. Ummik tidak tau, kalau keinginannya memiliki cucunya ini sebentar lagi hanya tinggal harapan.


\*\*\*\*\*


Fuad Pov


Sialan! Cepat sekali dia lari, makiku dalam hati.


Bedebah itu berhasil kabur setelah dia berhasil mendorong Raya sampai terjatuh dari anak tangga paling atas hingga ke bawah, bagaimana keadaan Raya?

__ADS_1


Aku segera mengatur napasku yang ngos-ngosan akibat saling kejar dengan lelaki brengsek itu. Kini aku ada di pasar dan kehilangan jejaknya. Aku mengambil ponselku dan akan menelepon Mahfudz. Tapi kupikir- pikir lagi sebaiknya aku tidak usah menelepon dia. Dia pasti sedang sibuk mengurus istrinya sekarang. Aku lebih baik menelepon Ayuni saja. Mungkinkah mereka sudah tau?


"Ayuni, Ummik dan Mama ada di mana? Apa kalian sudah tau kalau Raya jatuh dari tangga. Mungkin sekarang Mahfudz sudah membawanya ke rumah sakit," kataku.


"Iya, Ummik, Mama sama Nadya sudah berangkat ke rumah sakit. Tadi aku mau ikut, tapi nggak dibolehkan sama Ummik karena ada Rahmat. Dan acara di rumah juga terpaksa dibubarkan. Aku sedih Kak Raya harus mengalami ini di acara 7 bulanannya." kata Ayuni terdengar terisak.


Aku terenyuh mendengar isakannya. Mungkin dia sedang menahan tangisnya sekarang. Andai aku di sana aku akan mengusap air mata itu.


"Berdoa yang baik- baik saja, sayang. Semoga Kak Raya nggak kenapa- kenapa. Soal acara itu gampang nanti kalau kesehatannya pulih lagi, kita bisa bikin lagi acara 7 bulanan untuknya," hiburku.


Sesaat Ayuni terdiam sebelum akhirnya dia bertanya lagi.


"Kau dimana? Kenapa tak ikut ke rumah sakit?"


"Hmmm ...." Aku tidak mau menjelaskan kalau aku sedang mengejar lelaki ******** itu, karena Ayuni pasti akan menjadi khawatir karena hal itu.


"Aku tadi ada sedikit urusan soal administrasi hotel itu, sayang."


"Terus gimana? Dapat nggak lelaki itu?"


"Dia kabur." kataku kesal.


"Terus Tiwi itu gimana?"


Oh, iya benar. Tiwi gadis sumber keributan itu sepertinya masih ada di hotel. Semoga masih ada. Siapa tau aku bis mengorek keterangan darinya dimana dia tinggal.


"Sayang, aku matikan dulu, ya! I love you."


Segera kembali aku berlari menuju hotel Sekar. Benar saja, Raya dan Mahfudz sudah tidak ada lagi di sana. Dari keterangan karyawan hotel, Raya sudah dibawa oleh suaminya ke rumah sakit. Dan Tiwi anak yang chek- in dengan seseorang yang mirip dengan aku dan Mahfudz sudah pergi sedari tadi. Ahhh, sial.


"Mas, kembar tiga sama saudara mas yang tadi?" tanya petugas house keeping yang mengantar kami tadi.


Aku tiba- tiba terpikir untuk mengangguk.


"Iya, kami triplet. Maaf sudah membuat keributan di sini ya, Mas. Tapi kami terlanjur geram sama kelakuannya. Dia berpacaran sama anak di bawah umur, dan dibawa ke hotel begini. Itu membuat kami sekeluarga marah," jawabku berdusta.


Pria yang berprofesi sebagai house keeping itu meminta sesuatu pada resepsionis hotel.


"Bisa tolong kembalikan ini, pada Pak Anton," katanya sambil menyerahkan KTP dan sebuah handphone. "KTP itu sebagai jaminan untuk menginap di sini. Handphonenya tertinggal di kamar tadi. Pacarnya sendiri sudah check out. Siapa tau mas Antonnya nggak ke sini lagi."


Dengan senang hati aku menerima KTP dan handphone itu. Harus ada sesuatu yang tersimpan di ponsel ini. Dan KTP ini, aku memperhatikan foto yang tertera di situ. Ini foto tidak terlalu mirip dengan aku dan Mahfudz, tapi kenapa aslinya mirip sekali dengan kami?


\*\*\*\*\*\*


POV Mahfudz


Alat bantu oksigen pada Raya sudah dilepas ketika dr. Gayatri datang di sore hari.


"Ya, kenapa ini bisa terjadi?"


Raya sesenggukan.


"Kata dr. Samuel kamu nggak mau di-SC."


Raya menggeleng, "Percuma, dokter! Anakku aku tahu tetap saja tidak bisa diselamatkan, kan? Aku cuma ingin melahirkannya secara normal. Aku ingin menyelesaikan kehamilanku sebagai seorang ibu."


"Raya ...." Dr. Gayatri memeluk Raya.


Suasana mengharu biru menyelimuti ruangan ini.


"Kau sudah siap?" tanya dr. Gayatri di sela isak tangisnya.


"Apa ada seorang ibu yang siap kehilangan anaknya, Dokter?" tanya Raya pilu.


"Raya dan bayinya akan baik- baik saja, kan Dokter?" tanya Ummik dengan rasa cemas mendengar percakapan antara dr. Gayatri dan Raya.


"Kita akan segera tahu, Mik," jawab dr. Gayatri.


Aku menghela napas berat, terasa berat. Dr. Samuel sudah menjelaskan padaku hasil USG seberapa parah cedera yang Raya alami pada kandungannya. Plasenta janinnya bahkan sudah terlepas dari dinding rahim. Itu yang menyebabkan dia mengalami pendarahan. Selain itu posisi jatuhnya yang tertelungkup apalagi jatuh dari anak lantai paling atas hingga bawah sangat berpengaruh pada keselamatan ibu dan janin. Janin itu saat dibawa ke sini masih memiliki detak jantung yang lemah, namun kata dr. Samuel kemungkinan untuk janinnya bertahan hidup sangat kecil, kalau pun bertahan sampai dilahirkan besar kemungkinan, bayi itu tetap akan meninggal setelah persalinan, belum lagi dengan resiko cacat yang akan dimilikinya. Ini membuatku sedih. Ya Allah, aku sangat- sangat menginginkan bayi itu. Dia buah cintaku dan Raya.


Tanpa terasa air mataku menetes membayangkan yang akan terjadi beberapa jam ke depan. Namun, apa pun itu aku akan ikhlas. Sekarang aku hanya ingin fokus pada keselamatan Raya saja. Raya harus baik- baik saja dan sembuh seperti sedia kala. Soal bayi kami bisa mengupayakannya lagi di lain waktu. Tapi kalau aku harus kehilangan Raya, sungguh aku tidak sanggup.


Mataku kini tertuju saat dr. Gayatri memeriksa Raya kembali. Beliau meletakkan fetal doppler itu di perut Raya. Dan meski sudah sudah memindahkan alat itu beberapa kali tidak terdengar suara detak jantung janin sama sekali.

__ADS_1


Dr. Gayatri memeriksa lagi detak jantung Raya dan perutnya dengan stetoskop. Sebelum akhirnya dia memejamkan matanya dan membuang napasnya perlahan- lahan.


"Still birth ...." ucapnya lirih. "Tolong siapkan VK," katanya pada seorang bidan yang sedari tadi ikut dengannya.


Still birth adalah istilah kelahiran dengan kondisi janin meninggal. Ini berbeda dengan keguguran. Dikatakan keguguran jika usia kehamilan 20 minggu ke bawah dan still birth jika usia kehamilan telah mencapai 20 minggu ke atas.


Raya yang mendengar itu tak kuasa menahan tangisnya. Belum pernah aku melihat dia menangis sampai meraung- raung seperti ini.


"Huuuuu .... Kenapa kamu tinggalin Bunda, Nak!!! Bunda belum sempat menunjukkan kalau bunda sayang sama kamu. Bunda belum sempat beli apa- apa buat kamu. Bunda belum sempat kenalin kamu sama nenek .... huuuu .... Nenek akan marah sama bunda karena nggak bisa jaga kamu Naaak ...." ratap Raya, membuat hatiku pilu mendengarnya..


"Raya, istighfar, Nak!" Ummik mendekati Raya dan memeluknya.


"Ummiiiik .... Raya nggak bisa jaga cucu Ummik. Huuu .... Raya ini ibu yang seperti apa, Mik?!!!" tangisnya tersedu- sedu.


Ummik semakin erat memeluk Raya.


"Raya adalah bunda terbaik, Nak! Hanya saja Allah lebih sayang pada dia dibandingkan kita menginginkan dia. Kelak dia akan jadi penyelamat untuk ayah bundanya di akhirat nanti, ikhlaskan Ray. Ummik nggak apa- apa, Nak. Ummik bisa menunggu punya cucu lain waktu."


Setelah sedu sedan yang mengharu biru itu, tibalah saatnya Raya akan melahirkan janin itu lewat persalinan pervaginam atau persalinan normal. Karena pembukaannya tidak juga mengalami kemajuan meski telah merasakan kontraksi berkali- kali akhirnya dr. Gayatri memutuskan melakukan tindakan induksi untuk mengeluarkan janinnya.


Sungguh aku tak bisa berkata apa pun lagi saat Raya terlihat kesakitan saat menjalani proses persalinan itu.


"Ayo, Ya. Kamu bisa, sayang. Bunda Raya pasti bisa keluarkan dedeknya."


Dr. Gayatri terlihat sangat berusaha menyemangati Raya. Sementara Raya terlihat sangat bergantung pada Ummik yang menemaninya di samping kanannya. Dia cenderung lebih condong ke arah Ummik daripada ke arahku. Bahkan saat aku menggenggam tangannya untuk memberinya kekuatan. Raya terlihat menepis tanganku dan menolakku. Sepertinya dia sangat marah dan kecewa padaku. Karena aku mencoba meninggalkannya di hotel itu, tak menjaganya, bahkan tak menghiraukan dia yang mengejarku. Oleh sebab itu dia sampai terjatuh dan kejadiaan naas ini merenggut anak yang di kandungnya. Ini memang salahku. Kesalahannya karena mengkhianatiku dengan dr. Ali apakah setimpal dengan kehilangan bayi kami? Kini penyesalan itu datang menghantuiku.


Aku mengingat di ruangan bersalin inilah dulu aku melamarnya.


"Ka- lau be-gi-tu a-yo ki-ta me-ni-kah, dok-ter!" kataku kala itu.


Saat itu dia sedang mengobati lukaku di VK dan bercerita kenapa dia menghindariku. Katanya dia malu karena semua orang tau tentang kami yang dijebak Waridi dengan posisi tidur berpelukan.


Wajah itu aku masih ingat betapa kagetnya dia saat aku mengucapkan kata- kata itu.


"Apa katamu tadi? Kau sedang melamarku?" tanyanya dengan wajah yang sangat heran sampai mulutnya menganga.


"Ya, ka-lau dok-ter Ra-ya ma-u. Ma-ma-ku ju-ga ma-lu ka-ta-nya, a-yo ki-ta me-ni-kah, dok-ter!"


Aku mengatakannya sambil tertawa. Sebenarnya aku sedang menertawai ketidaktahudirianku yang cuma anak koas dan berani mengajak seorang dokter spesialis obgyn yang juga konsulenku untuk menikah. Namun itu semua kulakukan karena aku jatuh cinta padanya.


Dan dr. Raya kala itu sampai ternganga dan salah memahami tawaku sebagai candaan saja. Dia mengetok jidatku.


"Kau jangan sembarangan mengucapkan kata- kata itu pada gadis mana pun. Bagaimana kalau ada yang menganggap serius ucapanmu itu?" omelnya.


Dan sekali lagi tangan itu ingin mengetok jidatku, namun kali ini dengan sigap aku menangkap tangan itu. Lalu dengan bersungguh- sungguh aku mengucapkan padanya, kata- kata lamaran itu.


"A-ku se-ri-us. A-yo ki-ta me-ni-kah, Dok-ter!"


Lama kami saling tatap. Di VK ini. Verlos Kamer atau kamar bersalin. Adalah tempat pertama kali aku mengajaknya menikah.


Dan ....


Hari ini di ruangan VK ini pula dia sedang menahan sakit yang teramat sangat. Sakit karena ulahku yang menanam benih di rahimnya dan aku pula yang jadi penyebab benih ini tak akan pernah sempat memanggilnya Bunda. Aku menyakiti jiwa dan raganya.


Aku tersentak dari lamunanku saat mendengar erangan kesakitannya ketika dr. Gayatri bersama tim bidan mencoba mengeluarkan janin itu menggunakan ektraksi vakum yang dimasukkan ke dalam organ kewanitaannya. Itu artinya kepala bayi sudah mulai terlihat di jalan lahir. Aku beringsut mendekati dokter Gayatri untuk melihat proses itu.


"Ayo, Ya! Kamu pasti bisa. Sedikit lagi." kata dr. Gayatri menyemangati.


Terlihat Raya begitu letih mengejan. Dia sangat berusaha namun sepwrtinya Raya kehabisan tenaga dr. Gayatri memutuskan untuk menggunakan instrumen porcef untuk membantu mengeluarkan bayi itu. Porcef adalah instrumen persalinan berbentuk penjepit yang menyerupai sendok yang fungsinya memang untuk menarik bayi atau janin yang sulit dikeluarkan saat proses kelahiran normal terjadi.


Akhirnya dengan usaha dan kesabaran dr. Gayatri, bayi itu bisa keluar dari rahim Raya.


"Dia bayi perempuan yang cantik, Ya." kata dr. Gayatri melaporkan jenis kelamin bayi itu pada Raya setelah sesaat menimbangnya dan hasilnya berat bayi itu hanya seberat 1,8 kg.


Sementara aku, dengan gemetar aku menggendong bayi itu. Tak ada suara tangis bayi. Dia hanya sangat cantik. Seperti boneka mungil yang sedang tertidur.


Air mataku menetes melihatnya. Harusnya beberapa bulan lagi, ayah akan menggendongmu dalam pangkuan ayah, Andai tak ada kejadian seperti ini, sesalku dalam hati.


Ummik menghampiriku dan mengambil alih jenazah bayiku.


"Dia mirip Mahfudz, Ray." kata Ummik sambil menunjukkannya pada Raya.


Raya hanya mengangguk. Terlihat tak peduli saat namaku disebut Ummik. Dia terus menatap bayinya dan mengelus kulit bayi itu seolah bayi itu masih bernyawa.

__ADS_1


Aku memahami kebenciannya padaku. Apalagi setelah itu, dokter memutuskan Raya harus menjalani kuretase lagi karena plasenta yang tertinggal di rahimnya setelah persalinan dan juga untuk membersihkan sisa- sisa jaringan yang tertinggal. Dan lagi- lagi Raya hanya pasrah menerima semua kesakitan itu.


Maafkan aku, Raya!


__ADS_2