
#Lauhul_Mahfudz
#season4
Part 24
Pov Raya
"Jadi bagaimana tentang perkembangan rencanamu untuk menjatuhkan Waridi?" tanyaku pada Fuad.
Hari ini berketepatan hari Minggu. Berhubung hari ini aku libur, Fuad libur, kami memutuskan untuk pergi refreshing ke sebuah wahana pemandian umum bersama Ayuni, Nadya dan Rahmat. Hal ini kami lakukan rutin untuk menunjukkan kasih sayang pada Nadya pasca Waridi bermaksud mendekatinya beberapa waktu lalu. Kami tidak mau membuat Nadya seakan kekurangan kasih sayang. Jadi, meski pun hari ini Mahfudz sibuk dan Mama harus menghadiri acara arisan di rumah temannya, kami memutuskan untuk tidak melewatkan kesempatan ini untuk berekreasi kecil- kecilan.
"Apa maksudmu?" tanya Fuad pura- pura tak mengerti.
"Ya ampun, sampai kapan kau akan berpura- pura di depanku?" kataku sebal. "Jangan kau kira aku nggak tau rencanamu itu."
"Dari mana kau tau?" bisik Fuad.
Dia mungkin takut kalau rencananya akan terdengar oleh Ayuni, padahal Ayuni sedang asyik berenang bersama Nadya dan Rahmat. Sementara aku dan Fuad enggan ikut masuk ke dalam air.
"Aku bertemu Akbar beberapa waktu lalu, dia memberi tahuku," jawabku santai.
"Ahh, orang itu. Memang nggak bisa dipercaya," sungut Fuad.
Aku cuma tersenyum.
"Tapi dia orang yang menepati janji kok," kataku. "Terus sudah sampai mana?"
"Apanya?"
"Ya, perkembangannyalah," kataku sebal karena dia masih saja berusaha seperti pura- pura tidak tau.
"Oh, itu entahlah ...." jawabnya bingung. "Semua yang kurencanakan berjalan lambat dan seolah tak pasti. Terkadang aku juga ragu apa si keparat itu akan mendapat karmanya suatu saat nanti. Dia seolah selalu bernasib baik. Huffft ...."
Aku menatapnya sesaat sebelum hatiku memantapkan sesuatu.
"Kalau aku bilang aku bisa membantumu mendapatkan rahasia Waridi yang bisa langsung menjatuhkannya, apa kau bisa berjanji sesuatu padaku?" tanyaku.
Fuad menatapku heran sebelum akhirnya dia menjawabku.
"Janji apa?" tanyanya.
"Berjanji padaku kalau kali ini dia benar- benar hancur dan tak ada lagi yang bisa dia ganggu. Aku sudah lelah hidup seperti ini. Rasanya telah lama aku hidup tanpa kekhawatiran yang berarti. Sejak aku bertemu dengannya, hidupku tidak pernah tenang. Entah bagaimana psikopat itu ditakdirkan menjadi musuhku. Aku tau sampai saat ini dia masih mengawasiku. Itu sama sekali tidak membuatku tenang," ujarku.
Fuad sesaat memandangku.
"Insyaallah Kakak Ipar, aku janji. Kali ini dia akan benar- benar akan jatuh. Jangan khawatir, kita akan hidup tenang setelah ini," katanya menenangkanku.
Aku mengangguk.
"Kalau begitu, aku akan mengenalkan Ali padamu. Dia tau apa yang menjadi rahasia Waridi," kataku dengan Nada berat.
"Ali?"
Aku mengangguk lagi.
"Ya, kau mengenalnya. Dia pengantin mempelai pria di pesta pernikahan anaknya Sekda beberapa bulan lalu." jawabku.
"Dia mantanmu, kan?" tanya Fuad tiba- tiba membuatku sampai terperanjat.
"Kenapa kau bisa tau?" tanyaku balik setelah berhasil menguasai keterkejutanku.
"Aku sempat mencuri dengar obrolan tamu undangan lain waktu itu," katanya.
"Astaga, di pesta pernikahan pun mereka masih sempat aja menggosip," keluhku.
"Kalau boleh kutebak dia pasti masih ada perasaan padamu, kan? Makanya dia bersedia membantumu? Atau kau juga masih ada perasaan padanya, Kakak Ipar? Jangan macam-macam! Jangan berani- berani mencoba untuk mengkhianati Mahfudz," ancam Fuad geram.
"Kamu jangan sembarangan ngomong!" balasku tak kalah geram. "Aku cuma mencintai Mahfudz. Antara aku dan Ali cuma masa lalu."
"Lalu kenapa wajahmu terlihat muram saat ingin memberi tahu rahasia Waridi? Apa dia meminta sesuatu padamu agar mendapatkan rahasia itu?" tebak Fuad.
Aku menggeleng.
"Aku hanya merasa tidak enak hati karena telah membuat kesalahpahaman antara dia dan istrinya karena rahasia itu," kataku.
"Kesalahpahaman?"
Entahlah, aku tidak tau apa namanya tapi yang jelas ini membuatku merasa bersalah.
*Flashback on*
"Jadi mertuamu, maksudku papanya Marhamah menjadi Sekda berkat bantuan Waridi karena hal itu?" tanyaku masih tak percaya.
Ali mengangguk sambil mendesah. Bagaimana pun sulit dipercaya hal seperti ini bisa terjadi.
"Iya. Aku akan berusaha mengorek informasi lain dari ...."
Kata- kata Ali langsung terhenti saat melihat raut wajahku yang memucat tatkala melihat sosok yang berdiri di pintu.
"Mar ...." gumamku.
Rasanya aku ingin menjelaskan sesuatu. Ali pun spontan ikut menoleh ke arah pintu tempat aku melihat istrinya yang kini mematung melihat kami berdua dengan benci.
"Marhamah, kamu bukannya kamu sedang ....?"
Marhamah langsung masuk ke dalam ruangan ku tanpa sempat kupersilahkan. Dia meletakkan kunci mobil Ali persis di hadapan suaminya itu.
__ADS_1
"Kunci mobilmu ketinggalan. Tadinya aku mau ngantarin ini ke kamu. Tapi ternyata suamiku malah sedang asyik mengumbar aib mertua dan keluarga istrinya pada mantan pacarnya." tudingnya.
"Mar, ini nggak seperti yang kamu pikir," kataku mencoba menenangkannya.
"Nggak seperti yang kupikirkan bagaimana maksudmu, Ray? Kamu sendiri yang bilang antara kamu dan Ali sudah nggak ada apa- apa, tapi ternyata apa yang terjadi di ruangan ini? Aku bisa menyaksikan dia begitu peduli padamu bahkan mengurusi masalah keluargamu bahkan tanpa menghiraukan apakah itu aib ayah mertuanya sendiri ataupun keluarga istrinya. Astaga, Ray! Kamu begitu naif! Tidak bisakah kamu lihat kalau suamiku ini masih sangat mencintaimu, mantan kekasihnya? Dan kamu masih pura- pura tidak melihat dan kamu dengan senang hati masih menerima perlakuannya itu ke kamu?? Haaa? Kamu itu masih punya hati nurani nggak sih?!!" jeritnya.
"Ini tidak seperti yang kamu pikir, Mar! Aku ingin membantu Raya semata- ma ...."
"Alaah, kamu nggak usah munafik, Ali! Apa perlu aku bilang ke Raya, bahkan di malam pertama kita saja, yang keluar dari mulutmu hanya namanya. Kamu hanya ingin memanfaatkan aku untuk memperoleh informasi tentang paman Waridi. Betapa tidak berperasaannya kamu!" makinya pada Ali.
"Astaga, Marhamah! Itu bukan sesuatu yang harus kamu ceritakan pada orang lain. Itu masalah rumah tangga kita. Jangan melibatkan Raya pada hal ini, hmmm?"
Marhamah tertawa miris.
"Kau sangat melindungi Raya, heh? Kalau begitu kejarlah dia terus, sampai kamu mati sekalian. Pernikahan kita tak ada gunanya dipertahankan!"
Mengatakan hal itu Marhamah langsung pergi berlalu meninggalkan aku dan Ali saat itu.
Keesokan harinya dia mengunjungiku di ruanganku. Dengan wajah datar dan tidak bersahabat dia meletakkan secarik kertas di hadapanku.
"Ali benar. Ayahku menjadi Sekda berkat bantuan Paman Waridi. Paman memiliki sebuah rumah di perumahan di pinggir kota. Ayah mengetahui rahasia paman, sehingga paman terpaksa membantu ayah untuk naik posisi ke jabatan Sekda. Aku rasa Ali sudah memberi tahu kamu rahasia apa itu. Ini alamat rumah itu."
"Kenapa kamu memberikan ini padaku, Mar?" tanyaku.
Marhamah tersenyum sinis.
"Hanya ingin membuktikan ketulusanmu sebagai teman. Aku sudah memberi tahumu kalau Ayahku terlibat dalam masalah ini walaupun secara tidak langsung. Aku ingin lihat apa kamu setega Ali yang tega menjerumuskan ayah mertuanya sendiri demi mantan kekasihnya," kata Marhamah.Lalu dia meninggalkanku lagi.
*Flashback off
Dan kini tiga bulan telah berlalu, alamat yang tertera pada secarik kertas itu hanya terselip begitu saja di meja kantorku. Hubungan Ali dan Marhamah pun menjadi dingin dikarenakan aku. Aku merasa seperti makan buah simalakama. Antara aku harus menolong keluargaku sendiri, atau menjerumuskan ayah dari temanku masuk ke dalam penjara.
"Tunggu sebentar di sini, saya panggilkan Bapak dulu," kata asisten rumah tangga di rumah Willy.
Akbar mengangguk setuju. Dia menunggu sejenak sembari menyapu semua ruangan ini dengan pandangan matanya.
Willy adalah salah satu pengusaha berdarah Indo- Tionghoa di kota T. Di usianya yang menginjak kepala empat dia cukup sukses sebagai salah satu pengusaha perkebunan kelapa sawit. Namun selain usahanya itu, sudah bukan jadi rahasia umum lagi kalau dia juga memiliki bisnis illegal lainnya. Penyelundupan kulit trenggiling, ileggal logging dan banyak kasus- kasus lainnya telah membuat dia pernah dipenjara beberapa kali.
Akbar menatap dinding di mana banyak foto- foto Willy tergantung di sana. Selain foto- foto ada juga pajangan gading gajah serta tanduk rusa melekat di dinding kayu itu. Ya, Willy punya selera yang unik terhadap gaya rumah idaman. Meski punya banyak uang, nyatanya tak lantas membuat dia menyukai hunian mewah dan modern seperti orang kebanyakan. Willy senang rumah tradisional dengan pekarangan besar namun dipenuhi oleh banyak pengawal di sekitar rumah itu.
"Kau Akbar? Aku kira siapa. Angin apa yang membawamu kemari?" tanya Willy menyentakkan lamunan Akbar terhadap kehidupan Willy.
Akbar tersenyum melihat sosok berwata sipit itu. Hanya mengenakan kaos dan sarung, dia begitu santai menghadapi tamunya.
"Apakah aku perlu berbasa basi dulu, Tuan Willy?" selorohnya.
"Itu tergantung kau. Kalau yang akan kau katakan berita penting, aku akan memaafkan basa basimu. Tapi jika kedatanganmu hanya untuk mengganggu jam istirahatku, sebaiknya kau mencari alasan bagus agar aku tidak melakukan sesuatu yang buruk padamu," kata Willy.
Dia pun ingin mengimbangi Akbar dengan balas bersikap to the point.
Akbar tersenyum kecut mendengarnya. Dia tau Willy punya temperamen yang buruk di saat- saat tertentu. Terlebih- lebih kedatangannya kali ini mengganggu jam istirahat lelaki paruh baya itu.
"Aku ingin menawarkan suatu kesepakatan," katanya pada akhirnya.
Willy mengernyitkan keningnya. Kesepakatan apa yang lelaki ini maksud? pikirnya. Dia tau Akbar hanya orang kepercayaan Waridi. Itu pun sekarang tidak lagi. Kesepakatan semacam apa yang dia punya dan apa yang dia inginkan?
"Kesepakatan apa?" tanya Willy dengan nada penasaran namun tak meremehkan.
"Aku menginginkan pengkhianatan Tuan Willy pada Waridi."
Willy terkekeh-kekeh mendengarnya. Walau belum sepenuhnya mengerti maksud tujuan Akbar.
"Teruskan. Pengkhianatan yang seperti apa yang kamu mau? Kelihatannya menarik."
"Aku ingin Tuan Willy memberikan bukti-bukti keterlibatan Waridi dalam beberapa kasus illegal padaku. Intinya, aku ingin dia jatuh dan terpuruk plus gagal dalam pemilihan cagub nanti."
Willy berhenti tertawa dan sekarang mulaai terlihat serius.
"Menurutmu kenapa aku harus melakukan itu? Kamu tau aku berteman dengannya sejak lama. Dan kerajaan bisnis yang kami bangun tentu atas dasar saling mempercayai. Lalu atas dasar apa kamu percaya diri untuk datang meminta hal ini padaku?" tanya Willy.
"Teman?" kali ini Waridi yang tertawa terkekeh. "Terakhir kali Tuan Willy ditangkap karena kasus kulit trenggiling, sepertinya dia tidak ada di sana untuk Anda. Dia menyelamatkan dirinya sendiri, benar?"
"Ehmm, iya itu benar. Tapi dia memberikan kompensasi yang setimpal padaku dan memberikan fasilitas yang cukup padaku saat aku ditahan, dan aku rasa itu sesuai."
Akbar manggut- manggut.
"Baiklah kalau Tuan Willy merasa begitu. Kalau isu pertemanan tak bisa membuat Anda berkhianat, bagaimana kalau aku bilang, aku tau sesuatu tentang Mary?"
"Mary?" Willy tersentak.
Tentu Willy tau, Mary yang dimaksud oleh Akbar adalah bisnis perdagangan ganja yang telah digelutinya selama belasan tahun, dan bisnis itulah yang menjadi sumber penghasilan utama bagi dirinya selama ini.
Tinggal di suatu kabupaten kecil yang masih sangat jauh dari ibukota provinsi membuat jenis narkotika yang satu itu lebih diminati di daerah ini dibandingkan jenis narkotika lain yang menggunakan bahan sintetis seperti sabu- sabu, heroin dan jenis narkotika lainnya. Selain harganya yang lebih terjangkau terkadang penggunaannya pum sering dipakai untuk masyarakat umum non prandu untuk sekedar dijadikan obat- obatan atau penglaris usaha rumah makan. Di kabupaten ini penggunaan mariyuana masih dianggap lumrah oleh masyarakat walaupun mereka tau barang itu ilegal untuk disalahgunakan.
"Mau kuberi satu rahasia tuan Willy?"
Akbar sudah siap mempergunakan ini sebagai senjata. Dan dia tau ini pasti akan memancing kemarahan Willy.
Willy tak bergeming namun dari sikapnya dia menantikan kalimat Akbar selanjutnya.
"Selama ini Mary yang anda dapatkan dari Pak Toga suplier anda, sebenarnya berasal dari sini bukan dari Sumatera. Dan supplier sebenarnya adalah Waridi yang meminjam identitas Pak Toga untuk meraup keuntungan dari anda. Yah, dengan menambahkan biaya penyelundupan ekspedisi dll, Waridi mematok harganya menjadi lebih sangat mahal dari pada harga yang seharusnya. Padahal dia tidak perlu menyelundupkan Mary dengan sangat repot seperti yang anda bayangkan, karena Mary sendiri ditanam di sini, di tanah anda sendiri," kata Akbar menjabarkan semuanya.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa percaya padamu? Kau bisa membuktikannya?" tanya Willy tajam, efek masih shock mendengar kabar mengejutkan itu.
Willy tau Waridi orang licik, tapi dia tidak tau kalau lelaki itu securang itu padanya hanya demi sebuah keuntungan. Dan itu berlangsung selama bertahun-tahun. Apakah hanya seperti ini persahabatan mereka?
"Aku jelas bisa membuktikannya. Aku tau dimana Mariyuana itu ditanam. Aku bisa mengantarmu ke sana," kata Akbar.
"Kenapa kau melakukan ini?" tanya Willy pada Akbar. " Apa untungnya bagimu aku mengkhianati Waridi?"
Akbar memperlihatkan dua jarinya yang kini tidak bisa digerakkan lagi.
"Hanya sedikit dendam dan aku ingin dia jatuh sampai dia tak bisa bangkit lagi," jawab Akbar tanpa beban.
Willy memandang Akbar dengan pandangan tak terbaca.
"Aku dengar kau sudah tak lagi jadi anak buahnya. Kau tidak berminat bekerja denganku?" kata Willy menawarkan.
Akbar tersenyum.
"Aku lelah bekerja dengan orang lain. Saat ini aku ingin bekerja untuk diriku sendiri," jawabnya.
\*
Persis seperti yang dikatakan Akbar, dia tidak berbohong, akhirnya Willy dan beberapa anak buahnya dibawa oleh Akbar ke ladang ganja yang dimaksud.
Perjalanan selama 1,5 jam melalui kenderaan darat hingga akhirnya mereka berjalan kaki melewati hutan dan menyeberangi sungai, hingga akhirnya sampailah mereka di sebuah lereng perbukitan yang tersembunyi sangat jauh dari jangkauan masyarakat.
"Brengsek! Ini kan tanahku?!!" kata Willy geram.
Sedari tadi di perjalanan ia memang agak heran, kenapa Akbar membawanya ke arah yang sama dengan tanah yang dimiliki oleh Willy. Willy memiliki sangat banyak tanah. Saking banyaknya, terkadang malah ia sampai lupa dan hampir tak pernah mengurusnya sama sekali. Begitu pun dengan lahan ini. Mana dia tau, kalau Waridi dengan lancangnya dan tanpa sepengetahuannya menggunakan properti miliknya untuk menanaminya dengan tumbuhan ganja dan dengan tidak tahu malunya menjualnya kembali pada dirinya dengan harga yang sangat mahal. Brengsek itu!
"Tuan Willy terkejut?" kata Akbar dengan nada mengejek.
Willy menatapnya tajam.
"Mau kejutan lagi?" tanya Akbar misterius.
Willy mencoba menebak- nebak apalagi kejutan yang ingin diberi Akbar padanya.
Tanpa menunggu jawaban dari Willy, Akbar mengambil ponselnya dan menelepon seseorang.
"Keluarlah," katanya.
Willy menatap waspada sekelilingnya. Siapa lagi yang disuruh Akbar keluar? Batinnya dalam hati.
Pertanyaannya itu tidak lama terjawab saat dari balik semak- semak, dan rerimbunan pohon dan bahkan dari balik tanaman ganja itu, berkeluaran banyak orang.
"Saudara Willy! Jangan bergerak! Angkat tangan Anda! Anda akan kami tahan atas kepemilikan ladang ganja ini!"
"Kau! Kau menjebakku?!"tuding Willy pada Akbar.
Akbar tersenyum tipis.
"Ya!"
"Tapi kenapa? Bukannya yang kau inginkan agar aku mengkhianati Waridi? Kau tidak harus melakukan ini padaku!" teriak Willy geram.
"Memang! Tapi aku tidak percaya padamu. Jadi aku memakai cara ini. Tanah ini atas namamu, tetapi kau tidak mungkin mau terjerumus sendirian kan? Apalagi atas kesalahan yang tidak kau lakukan! Maka kau tidak punya pilihan lain selain membawa Waridi terlibat bersamamu," jawabku. "Maka jelaskan saja di kantor polisi apa yang kau tau tentang sahabatmu itu!"
"Brengsek! ******** kau Akbar!!!" teriaknya.
Akbar tidak menghiraukan lagi Willy dan anak buahnya yang telah diringkus oleh polisi. Dia memandang puas pada hamparan ladang ganja seluas satu hektar di hadapannya ini.
"Kau orang yang mengerikan."
Akbar menoleh pada seseorang yang mengatakan itu. Alex, dia berdiri di sampingnya kini.
"Bolehkah, aku anggap itu satu pujian?" kekehnya. "Aku kira kau juga tidak sesetia kelihatannya. Kau akhirnya mengkhianati Kapolres juga. Kenapa? Demi uang? Atau demi rekaman vidio mesramu dengan wanita itu?"
"Kau memang brengsek! Bisakah sekarang aku meminta baik- baik padamu untuk memberikan Vidio itu padaku?"
Akbar semakin tertawa lebar. Kemudian kembali memasang wajah datar.
"Tidak bisa! Aku sudah memberikanmu hadiah atas kerja samamu. Kau tidak berhak meminta lebih," kata Akbar. "Bukankah sebentar lagi berkatku kau akan dipromosikan?"
"Ck!" Alex berdecak jengkel.
Dia mengikuti permintaan Akbar karena takut vidionya itu tersebar atau jatuh ke tangan istri dan mertuanya. Karena itu dia terpaksa mengkhianati Kapolres, dan meminta bantuan polisi setempat untuk meringkus pemilik ladang ganja itu yang ternyata adalah Willy. Menangkap basah Willy tentu saja sama halnya menangkap ikan besar, apalagi dia di tangkap bersama bukti di tempat. Itu menguntungkan. Tapi Vidio itu, itu tetap bisa menghancurkan karirnya kalau sampai itu tersebar.
"Baiklah, aku akan melakukan apa lagi yang kau mau asal kau memberiku Vidio itu," katanya menawarkan diri.
"Kalau begitu jangan khianati istrimu lagi dan berhentilah bermain perempuan, maka aku akan menjamin videomu itu tidak akan sampai ke tangan orang lain. Atau kalau tidak, atau kalau sempat aku tau, aku jamin kau akan menyesalinya nanti."
"Ta- tapi ...."
"Sudahlah, aku masih ada urusan lain," kata Akbar sambil menepuk bahu Alex.
Sesungguhnya Alex tidak tau, kalau malam itu yang sebenarnya terjadi, Akbar tidak benar- benar merekam adegan panas antara dia dan Lucy. Akbar hanya meminta Lucy melepas semua pakaian Alex agar ketika Alex terbangun seperti dia telah menghabiskan malam bersama gadis kupu- kupu malam itu. Akbar berbohong hanya agar bisa mengendalikan Alex.
Dan kini dia hanya perlu membereskan Rudi, orang yang mirip Waridi itu. Ini melelahkan karena dia harus melakukan perjalanan panjang lagi ke tempat dr. Kim di Ibu kota. Tapi Akbar cukup puas, membayangkan besok penangkapan Willy akan menjadi sorot utama berita nasional, dan Waridi pasti akan terbawa- bawa. Entah apa reaksi Waridi nanti saat mengetahuinya. Membayangkan hal itu senyum merekah diam- diam bertengger di wajah sangarnya.
Waktunya akan tiba!
***
__ADS_1
Ayolah! jangan pelit like dan komentnya. udah sampai sini.6 episode lagi bakal tamat loh. tapi karena kalian malas koment dan like author sulit dapat level karya di MT. Sedih author jadinya.
btw, jangan lupa baca novelku yang satunya ya Jodoh dari Malaysia. Novel itu lolos kontes noveltoon writing academy loh. Masuk 100 besar dari 1451 author yang mendaftar. Dukung author donk 😒😒😒