
"Gimana? Istirahat selama dua hari udah cukup bikin fit belum?" tanya Raya di subuh buta ini saat Mahfudz sudah bangun dari ranjang.
Pria berjarak usia 7 tahun darinya itu kini melakukan peregangan otot untuk meluweskan otot-ototnya yang kaku. Banyak tidur selama dua hari cuti di rumah, rasanya membuat tubuhnya segar kembali.
Mahfudz tersenyum dan mendekati sang isteri yang masih berselonjor di ranjang.
"Ho oh, cukup fit untuk bisa memproduksi adiknya Laila lagi," jawabnya sambil menggerak-gerakkan alisnya nakal.
Raya menempelkan telapak tangannya di wajah tampan itu dan mendorongnya.
"Kalau ayah di sini langsung deh tujuan hidupnya berubah arah ke sana," omel Raya.
"Iya, donk. Mumpung Ayah di sini, Nda! Nanti kalau ayah nggak minta, Bunda curiga ayah jajan di luar lagi. Bunda kan cemburuan," tuding Mahfudz nakal.
"Ayah ngomong gitu, bunda makin curiga loh. Jangan-jangan minta karena modus biar nggak ketahuan selingkuh di belakang bunda lagi, iya kan?" tuduh Raya dengan matanya yang memicing.
"Nggak donk, sayang. Masa ayah begitu? Bunda 8 tahun lebih menikah dengan ayah memang belum kenal karakter ayah gitu?" tanya Mahfudz.
"Hmmm ...." Raya pura-pura berpikir. "Gimana ya?"
"Ayah kangen loh sama Bunda, Bubunnya ayah, nda-ndanya ayah," goda Mahfudz sambil mencolok-colok lesung pipi sang istri yang ada di sebelah kiri pipinya itu.
Raya terdiam sesaat menatap sang suami yang sedang memandangnya penuh cinta itu. Hingga kemudian dia pun balas menangkup pipi Mahfudz.
"Aku juga kangen sama kamu, Sayang, Fud," kata Raya sambil mengecup bibir Mahfudz.
Rasanya baru kemarin mereka menikah. Dan kini tak terasa telah 8 tahun pernikahan mereka dan dari pernikahan itu telah memberikan mereka 2 orang anak, 1 putra dan 1 putri. Tidak, andai Annisa masih ada mereka pasti telah memiliki 3 orang anak sekarang.
Raya melepaskan kecupannya tadi dan kembali memandang Mahfudz.
"Terima kasih telah hadir di hidupku, Fud," kata Raya lagi.
Dia rindu memanggil pria ini dengan nama aslinya. Kesehariannya mereka selama ini saling mrmanggil ayah bunda untuk mengajarkan tutur kata yang baik pada Haikal dan Laila.
Mahfudz menyibak rambut Raya yang sedikit berantakan di keningnya. Dengan penuh kasih lelaki itu kini melabuhkan sebuah ciuman yang dalam pada bibir tipis itu.
"Ray, aku mencintaimu," ucapnya sebelum akhirnya dia tak bisa mengontrol diri untuk tidak berbuat lebih pada sang istri.
__ADS_1
"Aku tahu, Fud. Aku pun mencintaimu," balas Raya.
Dan kemudian tak terelakkan lagi di subuh buta itu keduanya melepas rindu dengan aktivitas pasutri yang selama ini sering tak bisa lagi mereka lalukan akibat aktivitas Mahfudz yang sering mondar mandir ke luar kota sekarang.
Aktivitas panas itu akhirnya berhenti beberapa menit sebelum adzan memanggil keduanya untuk menunaikan kewajiban sholat. Setelah mandi mereka pun kemudian sholat secara berjama'ah. Tak lupa membangunkan Haikal untuk ikut bersujud dan bersyukur atas nikmat dan karunia yang telah diberikan sang Khalik selama 8 tahun pernikahan mereka ini.
"Ayah, kapan donk kita bisa main ke Lego Land? Teman-teman Haikal udah pada pernah ke sana semuanya. Malah ada yang udah pernah pergi ke Disney land Hongkong. Kita kapan?" rengek putra sulungnya itu pada Mahfudz saat mereka menikmati sarapan.
Raya sendiri sedang sibuk memangku Laila putri bungsunya sembari menyuapinya makan.
"Nanti ya, Kal. Ayah belum ada cuti yang agak panjang. Nanti kalau ayah dapat cuti tahunan 2 mingguan, kita pergi sama-sama semuanya, sama nenek dan oma juga," kata Mahfudz sambil tersenyum dan melirik pada Ummik.
Ummik yang semakin hari semakin tua itu pun mengangguk.
"Betul kata ayahmu, Kal. Sambil menunggu ayah dapat cuti, kamu belajar dulu yang benar. Kalau nggak, nggak usah dibawa Yah Haikalnya," kata sang nenek.
"Iya donk. Kalau nilainya jelek, nggak jadi jalan-jalannya. Eh, tunggu sebentar ... ada telepon!" katanya.
Mahfudz yang mendengar suara ponselnya yang berdering di kamar langsung menghentikan sarapannya. Dia segera bangkit dan buru-buru mengambil ponsel dan mengangkat panggilan telepon.
"Halo?" sapanya.
"Iya, Pak. Kenapa?" Nada khawatir tersirat di setiap kalimat Mahfudz.
"Anak itu kritis, Fud. Dia koma, orang tuanya menuduh kamu melakukan mal praktik," kata dr. Prabu.
"Haaa? Apa?"
"Makanya kamu cepat datang kemari dulu," kata pemimpin rumah sakit itu.
Mahfud terhenyak? Mal praktik? Pikirannya tak karu-karuan sekarang. Segera dia kembali ke meja makan. Tapi tidak untuk melanjutkan sarapan melainkan untuk berpamitan untuk ke rumah sakit detik itu juga.
"Maaf Mik, Bun. Ayah harus ke rumah sakit sekarang," pamitnya dengan raut wajah yang gelisah.
Raya bisa menangkap itu dari ekspresi Mahfud?
"Kenapa, Yah? Apa ada masalah?" tanyanya khawatir.
__ADS_1
Ummik tak ikut bertanya. Cukup baginya pertanyaan yang ada di hatinya diwakili oleh Raya.
Mahfudz tersenyum kelu.
"Pak Prabu menelepon, katanya pasien apendectomi yang ayah tangani 2 malam lalu, kritis. Mereka menuduh ayah melakukan mal praktik," kata Mahfudz gelisah.
Raya terkejut mendengarnya. Dia tak percaya Mahfudz bisa terjebak dalam kasus mal praktik seperti ini.
"Mereka nggak salah? Ayah melakukan mal praktik? I-itu nggak mungkin! Aku nggak percaya," kata raya shock.
Dia tahu betapa rumitnya kalau seorang tenaga kesehatan sudah mengalami kasus mal praktik atau pelanggaran kode etik kedisiplinan profesi dokter. Itu adalah momok yang menakutkan bagi setiap dokter.
Mahfudz menelan salivanya yang terasa pahi.
"Ayah juga merasa nggak melakukan sesuatu yang salah selama tindakan. Tapi untuk memperjelas ayah haru ke rumah sakit sekarang," kata Mahfudz.
"Bunda ikut, yah!" kata Raya.
Mahfudz menggeleng.
"Bunda kan mesti kerja juga. Biar ayah aja dulu, kalau nanti masalahnya serius ayah bakal telepon bunda," kata Mahfudz yang membuat Raya mau tak mau akhirnya mengikuti maunya Mahfudz.
Setelah berpamitan pada Raya dan Ummik akhirnya Mahfudz pun melaju ke Rumah Sakit Pahlawan Medical dan langsung menemui Pak Prabu selaku pimpinan rumah sakit.
"Kamu datang, Fud?" sapa pria itu panik.
"Iya, Pak! Apa yang terjadi?" tanya Mahfudz.
"Anak yang kamu operasi apendectomy kemarin kritis, Fud, koma. Setelah dilakukan pemeriksaan ternyata terjadi peritonitis (usus buntu pecah) sebelum kamu melakukan tindakan apendectomi. Di dalam perut pasien di temukan banyak nanah dari pecahnya apendiks pasien," kata Pak Prabu menjelaskan.
Mahfudz menggeleng.
"Tidak mungkin, Pak. Apendiksnya saya angkat dalam keadaan baik-baik saja, tidak ada yang pecah," bantah Mahfudz.
Pak Prabu mengeluarkan secarik kertas dari amplop di atas mejanya.
"Kalau memang begitu, kenapa hasil pemeriksaan laboratorium juga mengatakan kalau apendiks yang dikirim kesana kondisinya sudah pecah? Hmm?" katanya dengan raut wajah yang sangat marah.
__ADS_1
***
Syedih sekalee nasib abang Mahfudz ni. Sebenarnya apa yang terjadi gengs? Oh iya. Rajin-rajin koment dan likenya donk. Kalau likenya banyak author semangat nge upnya. btw, maaf upnya belum bs tiap hari disinim