
"Dek, bantuin kakak pasang selang NGT donk!" pinta salah seorang perawat saat aku baru saja ingin kembali ke kamar koas.
Di Interna ini dokter muda diberi kamar khusus koas. Mungkin tujuannya agar lebih gampang dihubungi jika sewaktu-waktu para koas diperlukan mengingat tingginya tingkat mobilitas di departemen ini.
"Ok. Ta-pi se-te-lah i-tu a-ku bo-leh kembali ke ka-mar-ku du-lu kan? A-ku ma-u man-di dan ma-kan ju-ga. I-ni su-dah so-re" kataku.
"Iya. Nggak masalah. Cuma bantuin kakak sebentar kok. Soalnya pasiennya agak gemuk. Jadi mau ditinggiin posisi kepalanya agak susah. Pasiennya nggak sadar soalnya."
"Ok. A-yo"kataku.
Aku mengikuti perawat itu ke ruang ICU. Setelah melakukan beberapa prosedur sterilisasi aku segera membantunya memasang selang NGT (Nasogastrik Tube) pada pasien tidak sadar. Salah satu fungsi NGT adalah sebagai alat bagi pasien yang memiliki kesulitan menelan atau tidak memiliki kemampuan makan melalui mulut. Jadi semua nutrisi baik berupa makanan atau obat-obatan diberikan melalui selang yang dimasukkan melalui hidung terus ke kerongkongan hingga masuk ke lambung.
Pasien ini adalah pasien meningitis dengan keadaan koma alias tidak sadar. Disebelahnya duduk istrinya dan satu orang anak lelakinya berusia sekitar 11 tahunan. Terlihat kantong matanya yang menghitam akibat terlalu banyak menangis.
"Kamu aja yang pasang, Dek" kata kakak perawat memberiku kesempatan.
Sebagai seseorang yang haus ilmu tentu saja aku menerima kesempatan ini. Dengan bermodalkan teori saat masih di FK dan bimbingan dari kakak perawat akhirnya aku bisa memasang selang NGT dengan benar walaupun pemasangannya sungguh sangat jauh lebih sulit daripada teorinya. Apalagi dengan kondisi pasien yang tidak sadarkan diri.
"Ok, dek. Makasih ya!"kata perawat itu ketika aku sedang merekatkan plester pada selang agar menempel pada hidung pasien. Tujuannya agar selang NGT tidak bergeser dari posisinya.
"Kakak, duluan ya. Soalnya buru-buru. Nanti kamu beresin aja sampah plastiknya. Di depan ada tempat sampah"katanya.
Aneh, aku yang bantuin dia tapi dia yang duluan pergi. Tapi ya sudahlah, pikirku. Aku segera mengumpulkan bungkus selang NGT dan sampah lainnya yang tidak dibawa pergi oleh perawat itu.
Tiba-tiba istri pasien itu menarik lenganku. "Dok, suami saya masih ada harapan sembuh kan?"tanyanya terisak.
Aku menangkap raut wajah yang sangat sedih dari ibu itu. Dan yang kepikiran olehku saat itu adalah aku ingin menghapus rasa sedih di wajah ibu itu.
"In-sya-Al-lah, Bu. Ibu ban-tu de-ngan do-a. Ha-ra-pan i-tu se-la-lu a-da." kataku mencoba memberi kekuatan pada istri pasien itu.
Ibu itu menyeka air matanya. Terlihat hatinya lebih tenang saat aku mengucapkan kata-kata penghiburan itu.
"Dok-ter bi-su?" tanyanya.
Aku tersenyum memilih tak menjawab pertanyaan itu.
"Sa-ya be-gi-ni karena ke-ce-la-ka-an i-tu. Ka-kak sa-ya me-ning-gal. Sa-ya ju-ga ha-mpir ma-ti. Tapi li-hat-lah Al-lah mem-be-ri-kan sa-ya ke-sem-pa-tan ke-dua me-la-lui do-a-do-a ma-ma sa-ya. Ja-di i-bu ja-ngan pu-tus a-sa, ber-do-a sa-ja yang ter-ba-ik, Bu."
Ibu itu menegakkan kepalanya. "Dokter benar. Saya tidak boleh putus asa. Saya akan mendoakan yang terbaik agar suami saya segera bisa sembuh. Terimakasih, Dokter!"
"Aa-miin. Sa-ma-sa-ma, Bu!"kataku.
Rasanya bahagia bisa memberi semangat pada orang lain yang sedang terpuruk.
\*\*\*\*\*
Pov Raya
"Tika, katamu kamu punya teman yang koas di interna kan?"tanyaku pada Kartika. Anak koasku yang baru.
"Iya, Dok! Memangnya kenapa?"tanyanya.
"Aku bisa minta tolong sama kamu dan temanmu itu nggak?"
"Minta tolong apa, Dok?"
__ADS_1
Aku menghela napas dan menjelaskan keinginanku padanya.
"Hmmm.... Saya coba tanya dulu ke dia ya, Dok?" jawabnya ragu.
Aku mengangguk.
Mahfudz sangat susah dihubungi. Kenapa dia sangat sibuk sekali melebihi dokter sesungguhnya? Bahkan berkali-kali kuhubungi pun sama sekali tidak diangkat. Dichat juga sama sekali tidak diread. Aku sampai depresi memikirkannya. Apa Ali tidak memperbehkan dia memegang handphone? Pernikahan kami bahkan tinggal 7 hari lagi. Kenapa sepertinya ini tidak penting baginya? Kalau memang tidak sepenting itu, buat apa dia mengajakku menikah dan menyanggupi permintaan Ummik. Kenapa sepertinya koas ini sangat mendominasi hidupnya?
Aku mendesah memandang paper bag berisi undangan tercetak di lantai di dekat meja kerjaku. Di sebelahnya ada baju pengantin pria miliknya. Hal yang sangat lucu adalah baju pengantin itu diukur dengan ukuran tubuh Fuad, kembarannya, karena ukuran tubuh mereka hampir sama. Aku bahkan menjahitkan baju pengantinku dengan Mahfudz sendirian ke boutiq. Fitting baju pun aku sendirian. Dan sekarang aku harus memberikan baju itu agar Mahfudz bisa mencobanya. Pas atau tidak. Mumpung masih ada beberapa hari lagi untuk memperbaikinya jika memang ukuran bajunya belum cocok. Dan aku juga harus menyerahkan beberapa undangan dengan nama tujuan yang kosong, agar Mahfudz bisa memberikannya pada teman-temannya, kenalannya atau pasiennya sekalipun.
Aku harus menemuinya. Dan untuk itu aku butuh bantuan teman Kartika di Interna.
\*\*\*\*\*
Aku sudah selesai mandi dan siap kembali menjalankan tugas dan tanggungjawabku sebagai dokter muda. Sebenarnya kepikiran mau menghubungi Raya setelah selesai makan. Namun saat itu baru ingat kalau ponselku ku titip di nurse station dari sejak tadi pagi untuk pengisian ulang baterai.
"Dek, kamu Mahfudz kan?"tanya seorang perawat.
"I-ya"jawabku.
"Tadi dr. Harun bilang kamu jangan lupa beri obau diuretik secepatnya buat pasien atas nama Tn. Gogo. Jangan sampai terlambat kasihnya." kata perawat itu mengingatkan.
"I-ya, Kak!"jawabku.
Setelah mencabut HP ku, aku bergegas ke ruangan Tn. Gogo untuk memberikan obat diuretik. Preman pasar itu sepertinya beruntung gagal ginjal yang dideritanya belum sampai stadium akhir sehingga ia tak perlu melakukan cuci darah. Dia hanya perlu mengkonsumsi obat-obatan secara intensif baik obat gagal ginjal maupun obat jantung.
Ketika aku berjalan di koridor aku melihat dua orang perawat mendorong pasien di atas brankar. Aku memperhatikan seorang ibu dan anaknya yang mengikuti para perawat itu. Astaga itu kan... Ibu yang tadi aku hibur?
Ibu itu terlihat menangis amat sedihnya sambil terus berjalan dengan anaknya mengikuti brankar yang membawa jenazah suaminya. Tangisnya terasa amat memilukan. Melihatku saat berpapasan dengan mereka membuat Ibu itu sejenak berhenti dan menangis.
Ibu itu menangis meraung-raung dan kembali berjalan meninggalkanku yang terpaku di sepanjang koridor.
Aku merasa speechless. Aku merasa berdosa, kenapa aku memberi kata-kata harapan padanya meski aku tau kondisi suaminya saat aku membaca monitor patient di ICU? Waktu itu yang terpikir olehku hanya ingin memberinya kekuatan Namun siapa sangka kata-kata penghibur dariku malah semakin melukainya yang terlanjur berharap suaminya masih ada harapan sembuh?
Aku merasa berdosa, Tuhan! Bagaimana aku bisa menghilangkan penderitaan Ibu itu? Karenaku dia semakin menderita.
Hatiku sangat galau dan tiba-tiba merasa lesu. Ini salahku.
"Mahfud!!!!" Di tengah kegalauanku ada yang memanggil. Aku menoleh.
Seorang anak koas di Interna memanggilku. Aku tidak tau siapa namanya. Yang pasti beda kamar denganku.
"Kamu Mahfudz kan?"tanyanya.
Aku mengangguk. Masih merasa sedih yang tak bisa kuabaikan.
"Dr. Ali memanggilmu di atap sekarang"
Sekarang? Tapi aku harus memberi obat pada Tn. Gogo.
"Se-ka-rang? Un-tuk a-pa?"tanyaku.
"Ya, iyalah sekarang. Masa tahun depan? Mana ku tahu untuk apaan? Aku cuma disuruh panggilkan saja"katanya sambil berlalu pergi.
Untuk apa dr. Ali memanggilku kesana? Itu kan tempat yang biasa dr. Raya datangi kalau lagi ada masalah. Apa mereka punya kenangan di atap dan dr. Ali ingin memperlihatkan dan membuat aku cemburu?
__ADS_1
Aku kepikiran belum memberi Tuan Gogo obat. Tapi ya sudahlah, toh yang memanggil dr. Ali juga. Yang menyuruhku memegang Tn. Gogo sebagai pasien juga dia. Biarlah kutemui sebentar saja. Aku juga penasaran dia mau apa.
\*\*\*\*\*\*
Aku tertegun sesampainya di atap. Di sana tak ada dr. Ali. Yang ada hanya sesosok wanita sedang memandang ke bawah ke arah jalanan di depan rumah sakit.
Dia dr. Raya. Meski hanya melihatnya dari belakang, aku akan langsung mengenalinya. Tiba-tiba aku merasa marah dan merasa dipermainkan.
"Eh, kamu sudah datang, Fud?" sapanya sambil tersenyum padaku. Dia menyadari kehadiranku.
Senyum itu seperti oase di tengah gurun bagiku. Amarahku sedikit mereda. Namun aku kembali ingat aku harusnya sedang memberi Tn. Gogo obat sekarang.
"Ka_mu nga_pain di si ni? Ke- na- pa ka-mu bi-sa me-nyu-ruh a-nak ko-as in-ter-na me-mang-gil-ku ke si-ni dan ke-na-pa ha-rus ber-bo-hong?" tanyaku tidak suka.
Dr. Raya sepertinya menyadari ketidaksenanganku akan kehadirannya yang tidak tepat.
"Aku sudah menelponmu dari tadi pagi, tapi kamu tak mengangkat. Kamu nggak pernah hubungi aku lagi sekarang sejak kamu sibuk di Interna."
"A-ku V-C ka-mu be-be-ra-pa ma-lam yang la-lu ta-pi Um-mik yang ang-kat" kataku membela diri.
"Itu karena aku yang chat duluan. Kalau aku tidak mengabarimu apa kamu ingat memberi kabar padaku? Beberapa kali aku chat kamu, tapi kamu tidak balas! Sesibuk itukah kamu sampai kamu tidak punya kesempatan untuk membalas tiap chatku?"
Aku benar-benar sibuk sampai aku selalu tak punya kesempatan menghubunginya. Terkadang juga aku lebih memilih meninggalkan HP di kamar koas daripada membawanya ke sana kemari. Aku pernah dimarahi dr. Harun hanya karena ketahuan sedang bermain Hp padahal aku sedang balas chat WA mama tentang baju pengantin dan seserahan yang akan diberikan pada Raya. Saat itu aku cuma bisa menyerahkan semua urusan pada Mama. Aku benar-benar tak punya waktu bahkan untuk diri sendiri.
"Ya- su-dah. A-ku me-min-ta ma-af. Ta-pi a-ku ha-rus per-gi se-ka-rang. A-da pa-si-en In-ter-na yang ha-rus ku-ber-i o-bat se-ka-rang."
"Mahfudz! Sesusah ini aku sampai menyuruh orang lain berbohong untuk bisa memanggilmu kesini, hanya ini saja yang bisa kamu katakan padaku?"
"A-ku ti-dak me-nyu-ruh-mu ber-bo-hong dan a-ku ti-dak su-ka ka-mu ber-bo-hong."kataku marah. "Ad-a pa-sien yang san-gat mem-bu-tuh-kan a-ku se-ka-rang!Ta-pi ka-re-na ka-mu me-nyu-ruh o-rang ber-bohong me-nga-ta-kan dr.- A-li a-da di si-ni, ma-ka-nya a-ku ke-si-ni. Ke-se-la-ma-tan pa-si-en a-dal-ah prio-ri-tas, bu-kan-kah ka mu yang bi-lang be-git-u?"
"Oh, jadi karena Ali kamu patuh datang ke sini. Dan kamu kecewa ternyata aku yang ada disini. Jadi kalau Ali yang ada disini, pasienmu bukan prioritas. Baiklah aku mengerti! Ini ciri-ciri kamu sangat cinta pekerjaanmu. Kamu workaholic. Sama seperti Ali dulu meninggalkanku karena tergiur oleh jenjang karir yang menjanjikan di departemen penyakit dalam. Dia sangat cinta ilmu penyakit dalam, sampai dia lebih memilih meninggalkanku...."
"A-ku ti-dak se-per-ti i-tu. Ja-ngan sa-ma-kan a-ku de-ngan di-a. Ka-u ti-dak me-nger-ti po-si-si-ku."
Aku sepertinya sia-sia menjelaskan semua ini padanya. Biarlah aku tinggalkan saja dia dulu, aku harus ke Tn. Gogo dulu, memberi obat. Aku bisa minta maaf dan membujuk Raya nanti.
Aku membalikkan badanku dan akan pergi. Dan itu membuat Raya semakin marah.
"Tunggu dulu, Mahfudz! Aku belum selesai." Dia mengejarku dan mencegatku.
"Tadinya aku kesini, karena aku rindu padamu. Aku ingin bertemu Mahfudzku. Aku membawa ini sebagai alasanku, tapi ternyata ini tidak berguna sama sekali."katanya putus asa sambil meletakkan 2 paper bag di depanku.
Aku sempat melirik ke dalamnya. Sepertinya itu berisi undangan dan baju pengantin?
"Kamu melukai perasaanku Mahfudz. Aku merasa seperti hanya aku yang ingin menikah disini. Hanya aku yang menginginkan pernikahan ini. Aku mengurus semuanya sendiri. Kamu? Kamu hanya sibuk dengan pekerjaanmu sebagai koas. Kamu hanya sibuk dengan Ali dan pasien-pasiennya. Aku juga punya banyak pasien yang harus kuurus tapi aku masih menyempatkan diri mengurus pernikahan ini seorang diri. Dan, aku tidak mau menikahi diriku sendiri di pelaminan nanti. Sebaiknya kita akhiri saja pernikahan bodoh ini!!"katanya marah.
"Ra-ya...."
Aku harus berusaha membujuknya. Ini kacau sekali. Aku tak menduga dia semarah ini.
"Panggil saja aku dr. Raya seperti biasa. Kamu tak perlu panggil aku dengan sebutan apa? Sayang?" Dia tertawa, terdengar frustasi. "Itu bullshit!"
Baru kali ini aku mendengar dia bicara sekasar itu.
Dia pergi. Aku berusaha mengejarnya namun sepertinya tak berhasil. Jadi aku kembali lagi untuk mengambil paper bag berisi kartu undangan dan baju pengantin yang dia tinggalkan di atap.
__ADS_1
Aku merasa hari ini sangat buruk!