I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Pembicaraan Sebelum Tidur


__ADS_3

"Bun ...," rengekku sambil mengelus-eluskan kepalaku ke lengannya.


"Raya berusaha menepis kepalaku yang bersandar di lengannya.


"Mau, ya? Satu lagi ...," bujukku sambil mengedipkan mataku padanya.


"Nggak ahh, aku cukup dengan Haikal dan Laila aja dulu. Mereka berdua aja udah cukup buat Ummik kerempongan.Gimana kalau ada adiknya lagi? Ayah jangan aneh-aneh deh, seperti saran pemerintah! Dua anak lebih baik!" katanya sambil menunjukkan dua jarinya padaku.


"Dua anak lebih baik, tapi tiga lebih sempurna," kataku ngeyel.


Raya memutar bola matanya malas.


"Bund ...," desakku lagi.


"Ya Allah, Fud! Please deh, jangan ngeselin! Kayak nggak tau aja gimana permasalahan kita saat ini!" tutur Raya yang mulai jengkel pada desakanku. "Coba kamu mengerti situasi kita dulu gimana! Masalah mal praktik ini dulu dipikirin gimana solusinya, nggak tahu aku lagi puyeng masih aja bisanya gangguin terus," katanya kesal.


Kekesalan Raya mau tak mau terpaksa membuatku diam. Huffft ... akhirnya dia mengakuinya juga, kalau masalahku kali ini sangat membebaninya.


"Maaf," ucapku kemudian kembali lagi ke posisi dimana harusnya aku berbaring. Aku terlentang sambil menutup mata dengan lenganku.


Terdengar Raya menghela napas panjang. Kemudian meluruskan lenganku yang satunya dan menjadikannya bantal, memiringkan tubuhnya hingga ia bisa memeluk tubuhku. Aku membuka lengan yang menutupi mataku.


"Sayang, kau tahu bagaimana kondisi kita saat ini, kan? Aku bukan nggak mau nambah anak satu lagi. Bukan juga karena aku takut sama kondisi kandunganku tapi aku mengkhawatirkan sesuatu yang lain. Kau ingat dulu, apa yang kualami saat mengandung Annisa? Dan Haikal?" tanyanya.


Aku mengernyitkan keningku.


"Dulu Waridi selalu berusaha menyakiti aku saat aku hamil mereka.Bahkan Annisa .... kau tahu apa maksudku, anak buah Waridi membuat kita kehilangan Annisa, Fud. Dan kini pun ... entah ini firasat atau apa, aku merasa kondisi ini sama seperti waktu itu. Aku merasa kita sedang menghadapi seseorang, Fud!" katanya dengan intonasi yang sengaja ditekan dalam, untuk meredam kekhawatirannya.


Aku menariknya ke dalam pelukanku, memberi ciuman yang dalam di puncak kepalanya.


"Itu cuma pikiranmu, Sayang," bantahku mencoba menyangkal kecurigaannya.


Dia menggeleng.


"Nggak, Fud! Sepertinya ini terlalu kebetulan. Afri, anak itu dan .... gubernur Arifin, kau pasti sudah diberitahu oleh Pak Prabu situasinya kan?"


Aku mengangguk.

__ADS_1


"Aku rasa ini nggak se-simple itu. Pak Prabu bilang anak itu yang menjadi target utamanya. Dia ingin melenyapkannya, dan kau yang kebetulan apes sebagai tenaga medis yang melakukan eksekusi padanya, tetapi entah kenapa aku merasa sebenarnya kamulah target utamanya dan Afri hanya alat untuk menjalankan misinya untuk menjatuhkanmu, menjatuhkann kita ...." Raya dengan gelisah mencoba mengeluarkan uneg-unegnya.


Aku pun sebenarnya memiliki kekhawatiran yang sama dengan Raya. Kejadian malaam itu, saat terjadi tindakan apendektomy itu rasanya seperti sebuah skenario yang telah disiapkan untukku, tetapi aku tidak punya bukti dan aku pun tidak boleh membuat istriku resah kan?


"Ray, kau hanya terlalu paranoid. Itu hanya pemikiran Pak Prabu saja, belum tentu itu yang sebenarnya terjadi. Dia hanya menduga-duga, jadi kau jangan khawatir, Ray!" Kucoba untuk menenangkannya.


Raya lagi-lagi menggeleng.


"Kau tahu hal seperti benar-benar pernah ada, bahkan itu terjadi di hidup kita. Almarhum Waridi adalah saksi nyata, ada orang sejahat itu, menggerakkan sesuatu dengan kekuasaannya. Aku yakin kali ini pun bukan tidak mungkin seperti itu juga," katanya dengan raut wajah takut.


Kali ini aku yang menggeleng, namun bukan karena aku tak percaya opininya, melainkan hanya untuk menyanggah pendapatnya dan meyakinkannya kalau kisah Waridi telah usai. Tidak akan terulang kedua kali di hidup kami.


"Dia sudah lama berpulang, Ray. Jangan diungkit lagi. Meski dia jahat, tetap saja tak baik membicarakan keburukan orang yang telah meninggal. Lupakan dia, Sayang. Maafkan apa yang terjadi di masa lalu. Bahkan kalau kau ikhlas, doakan saja agar dosanya diampuni oleh Allah SWT, dilapangkan kuburnya. InsyaAllah doa yang baik akan kembali pada kita juga," nasehatnya.


"Aku sudah lama tidak mengingatnya lagi, mengikhlaskan semua yang telah terjadi, termasuk ... Annisa kita," katanya sendu. "Tetapi Fud ... kali ini aku benar-benar khawatir akan terjadi hal-hal seperti ini lagi. Dan ... dan ... aku takut salah-salah kamu akan mereka jebak lagi hingga harus bersangkutan hukum seperti itu, dan saat itu terjadi ... apa yang harus kulakukan, Fud ... kalau sampai aku hamil lagi?"


Raya menyeka matanya yang basah.


"Sssst ...sssst ...." Aku mencoba mendiamkannya, menenangkannya seperti seorang bayi agar tidak menangis.


"Aku pusing ... tadi para wartawan datang ke rumah sakit. Awalnya mereka hanya menanyakan berita bodoh tentang hubunganmu sama dr. Jasmine, hksss .... tapi lama-lama nggak tahu bagaimana ... nggak tahu meteka dapat info dari mana ... salah satu dari mereka ada yang menanyakan tentang kasus malpraktik yang menimpamu itu, Fud! Aku harus gimana? Untung tadi ada ..." Raya tak melanjutkan curhatannya. Dia urung menceritakan padaku siapa yang menolongnya tadi saat berada di antara kerumunan wartawan.


"Tadi ada apa? Ada Ali yang menolongmu?" tanyaku.


Raya tersentak. Dia menarik kepalanya yang sedari tadi bersandar di dadaku. Kemudian dia duduk dan menatapku dengan pandangan menuduh.


"Ayah tahu dari mana? Ayah udah nonton beritanya ya? Tuuu kan ... nggak ngomong-ngomong! Ayah pasti mengira Bunda selingkuh lagi sama Ali, kan?" katanya sedih.


Aku tertawa terkekeh dan kini ikut duduk di hadapannya.


"Ya nggaklah! Ayah nggak nuduh bunda macam-macam kok. Serius! Ayahnya harusnya berterima kasih sama Ali donk?" kataku.


"Nggak usah! Nggak ada juga yang minta bantuan dia!" jawab Raya ketus.


"Tetap aja dia udah nolongin kamu. Udah terima kasih belum sama Ali?" tanyaku.


"Udah!" jawabnya ketus.

__ADS_1


Sungguh saat ini jujur aku berterima kasih pada Ali brengsek itu. Kalau bukan karena ada dia, pasti Raya akan semakin down lagi karena diserang pertanyaan oleh para wartawan itu tentang kasus malpraktik yang saat ini tengah kualami.


"Ya sudah, sekarang balik tidur sini!" kataku sambil menepuk-nepuk bantal yang sama dengan bantal yang biasa kutiduri.


Aku berbaring kembali lebih dulu, lalu diikuti oleh Raya yang kini telah merebahkan tubuhnya lagi di sampingku.


"Ray, maaf ya, aku sudah buat kesulitan untuk karir kamu," kataku dengan tulus, sambil mengambil posisi tidur menyamping berhadapan dengannya.


"Apaan sih, minta maaf segala. Garing tau nggak, kayak lagi ngomong sama orang lain aja," omelku.


Aku lagi-lagi tertawa.


"Soal adik untuk Yaya ...'


"Fud! jangan mulai!"


"Oke, kalau kamu nggak mau lepas IUD, tetapi jatuh ayah masih ada donk? Jadi double harusnya. Jatah harian dan dispensasi karena udah bikin ayah kecewa karena permintaan ayah ditolak," pintaku dengan muka yang sangat tembok.


"Ihh, maunya!!! Modus banget ayah ini. Dispensasi apaan? Mana ada dispensasi-dispensasian kayak gitu. Bisa-bisanya ayah aja tuh!" cibirnya.


Tetapi aku tetaplah aku, Raya tak akan sanggup menolak kalau aku sudah bawa-bawa nasihatnya Ummi.


"Kata Ummik menolak suami itu bisa dikutuk malaikat sampai pagi loh ..." kataku seolah-olah bukan dia orang yang kuajak bicara.


Dan lihatlah muka cemberutnya itu.


"Senyum dan menyenangkan suami itu juga pahala, loh ..." kataku lagi sambil melihat ke langit-langit kamar.


"Ya udah, ya udah. Ayah ini! Tapi jangan lama-lama. Bunda capek soalnya. Besok masih harus kerja!" gerutunya.


"Ahhhsyiiiap, Bunda!" kataku sembari duduk dan langsung membuka kaos oblong yang membalut tubuhku sedari tadi.


Dan you know-lah selanjutnya apa.


****


Hai, hai ... jangan pelit like dan komentarnya ya beib ...

__ADS_1


__ADS_2