
#Lauhul_Mahfudz
Part 30 (the end)
Aku sudah ada di ruanganku lagi ketika seseorang mengetuk pintuku lagi. Ternyata Cleaning Service lagi. Namun beda dengan orang yang tadi.
"Ini punya dokter?"tanyanya sambil menyerahkan kotak bekal berwarna ungu itu.
Aku menerima kotak bekal itu dengan heran.
"Iya, Mas! Ini punya saya" kataku. "Ketemu dimana?"
Aku memeriksa kotak makanan itu. Masih ada isinya dan masih utuh. Kotak bekal berwarna ungu dengan karakter smile pada tutupnya. Di bagian samping kotak bekal itu ada namaku Raya. Kotak bekal ini kenang-kenangan semasa koas. Kotak bekal yang kami yang kami buatkan khusus sama dengan sesama anggota kelompok koas. Tapi ini kan sudah lama tidak kupakai. Apa tadi Ummik kesini?pikirku.
"Saya ketemu di kursi taman belakang, Dokter"
"Oh iya, Mas! Terima kasih. Ini memang punya saya" kataku.
Setelah memastikan bekal makanan itu memang punya saya, cleaning service itu pun berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya lagi.
Aku lanjut dengan sholat dzuhur. Kemudian ke kantin untuk meminjam sendok dan membeli air minum. Ummik pasti tadi ke sini ingin menemuiku. Namun karena aku lagi ada tindakan jadi Ummik pergi deh, pikirku.
Aku membuka bekal makanan itu, dan tiba-tiba merasa sangat lapar melihat menu favoritku cumi asam pedas ada dalam bekal itu. Wah, tumben Ummik baik banget ngantar bekal makanan kesukaanku ke rumah sakit.
Baru dua sendok aku makan, pintu ada yang mengetuk lagi. Siapa lagi itu.
"Masuk!" kataku.
Aku terkejut melihat sosok orang yang ingin sekali ku hindari berada di depanku.
"Mah-fudz?? Ke-kenapa?" Aku gugup
dan di mulutku penuh makanan juga.
Mahfudz mendengus, melihat pada kotak makananku.
"I-ni pu-nya-ku" katanya sambil mengambil kotak makananku dan menutupnya.
Aku kaget. Jelas-jelas itu bekal makananku.
"Punyamu gimana? Jelas-jelas itu punyaku. Itu kotak bekal makananku kenang-kenangan waktu aku koass dulu. Kamu nggak lihat, di situ ada namaku?"
"Ti-dak! I-ni pu-nya-ku. A-ku ta-di ting-gal se-ben-tar- di ta-man be-la-kang ru-mah- sa-kit. Ta-di a-ku ke- to -i-let"
Mahfud menjelaskan memakai bahasa isyarat dengan lancar. Aku memahaminya.
"Itu punyaku, Fud! Masa kamu nggak lihat ada nama Raya gede di situ?"
Mahfud menggerakkan jarinya kiri kanan. "No-no-no i-ni pu-nya-ku"
Tanpa mempedulikanku dia pergi membawa bekal makananku.
Aku terpana melihat kelakuan Mahfudz ini. Makin lama kok makin ngelunjak sama konsulennya. Ok, benar kami terlibat perasaan pribadi, tapi harusnya mana boleh dia bersikap begini pada konsulennya. Bisa-bisanya dia merampas makananku, bahkan ketika aku masih memakannya. Ah!!!Lancang sekali! Ummik, jangan khawatir. Aku pasti akan merebut makan siangku kembali. Padahal Ummik sudah repot-repot masakin masakan kesukaanku dan jauh-jauh ngantar kesini. Mahfudz, keterlaluan kamu!
Aku keluar hendak mencari Mahfud. Aku pasti akan merebut makan siangku kembali. Ok kalau kamu mau makan makanannya, tapi kotak bekalnya itu punyaku. Itu kenang-kenanganku semasa koas dengan teman-temanku!
Aku segera keluar ingin mengejar Mahfudz. Tapi aku menyempatkan diri bertanya pada staf poliklinik apakah tadi Ummik datang kesini.
"Al, Ummik tadi ada kesini? Kok kamu nggak kasih tau aku?" tanyaku pada Alya.
"Iya, Dok! Soalnya tadi Ummik bilangnya kesini bukan mau ketemu dr. Raya"jawabnya.
Haa??" Terus mau ketemu sama siapa?"tanyaku meringis.
"Beliau kesini nyariin adek koas Mahfudz, jadi saya suruh Pak Budi antarin ke nurse station, habis itu saya nggak tau deh kelanjutannya" jawab Alya.
Haaah?! Ummik kesini mau nemuin Mahfudz?Buat apaan?
__ADS_1
Seketika aku memukul jidatku sendiri. Kepalaku tiba-tiba terasa migrain. Ummik... Apaan sih?
Sambil berjalan mencari Mahfudz, aku menelpon Ummik. Tidak lama Ummik mengangkat telponnya.
"Ummik dimana?"tanyaku cepat sampai lupa ngucapin salam.
"Ummik di jalan, Ray!" jawab Ummik dari seberang sana.
"Ummik dari rumah sakit?"tanyaku.
"Iya"jawab Ummik singkat.
Aku melihat Mahfudz ada di kantin. Aku menuju kesana sambil menelpon.
"Ummik, ngapain Mik, ketemu Mahfud segala?"tanyaku frustasi.
"Ummik pengen ketemu langsung sama calon menantu Ummik"
Aduuh Ummik ini....
"Calon menantu apaan sih, Mik? Raya sama Mahfudz nggak ada hubungan apa-apa, Mik! Aduuuh... Ummik bikin Raya malu banget deh"
"Kamu bilang kamu bingung sama perasaan kamu, jadi Ummik pengen tau bagaimana perasaan Mahfudz ke kamu"
"Aduuuh, Mik... Kok Ummik bawa serius sih kata-kata Raya? Raya bilang kan seandainya, Mik? Bukan beneran. Cuma perumpamaan aja, Mik. Seandainya, semisalnya, Mik" kataku berusaha ngeles.
Aku sampai di kantin, tepat di depan Mahfud.
"Sudahlah Ray, Ummik sudah cukup tau. Kamu suka sama Mahfudz, Mahfudz juga sayang sama kamu, karena itu dia sampai mencarimu ketika kamu di culik. Ummik setuju kalau kamu dengan Mahfudz..."
"Ummik..."pekikku frustasi. Mana mungkin Ummik begitu gampangnya menyimpulkan dan memutuskan sesuatu?
"Satu lagi ya. Itu makanan Ummik bawa buat dia, bukan buat kamu!"
"Tapi itu kotak bekalku Ummik!"protesku.
Ummik makin nggak masuk akal. Sebenarnya anaknya itu siapa? Kok aku jadi merasa kayak anak tiri?
Aku menarik kursi dengan sebal dan duduk di hadapan Mahfudz. Dia terlihat lahap makan masakan Ummik. Membuatku tambah lapar saja.
"Kamu jangan ambil hati kata-kata Ummik ke kamu, ya Fud"kataku menegaskan. "Ummik cuma salah faham. Dia mengira kamu menyukai aku. Kalau sudah suka sama seseorang biasanya Ummik akan bersikap berlebihan ke orang itu. Aku harap kamu juga jangan memberi harapan palsu ke Ummik. Ummik sudah lama ingin aku menikah, jadi responnya jadi berlebihan ke lelaki yang dia kira dekat denganku" kataku menjelaskan.
Mahfudz berhenti menyuap makanan ke mulutnya. Aku memandangnya dengan perasaan tak masuk akal. Nasi itu sudah sempat aku makan dan aku aduk-aduk sedemikian rupa. Bisa-bisanya Mahfudz masih bisa makan dengan lahap walaupun makan dengan sisa makananku. Apa dia sedemikian laparnya atau karena dia nggak punya uang lagi buat beli makanan baru?
"A-ku me-nyu-kai Um-mik, a-ku- ti-dak mem-be-ri ha-ra-pan pal-su pa-da um-mik" sangkal Mahfudz dengan bahasa isyarat.
Aku geram dengan sangkalan Mahfudz sampai aku tidak ingat lagi kalau kantin sedang ramai karena memang sekarang jam makan siang. Beberapa pasang mata juga sedang melihat pada kami.
"Kamu menyukai Ummik. Tapi tidak menyukaiku. Kamu tidak memberi harapan palsu pada Ummik tapi memberi harapan palsu padaku, apa gunanya Mahfudz?"tanyaku gemas.
"Ka-pan a-ku mem-be-ri ha-ra-pan pal-su-pa-da-mu, dok-ter?"tanya Mahfudz seolah tak bersalah.
"Kapan?" Aku mengulangi pertanyaan itu dengan geram. "Kamu mengajak aku menikah di VK, dan semua orang tahu soal lamaran itu. Lalu ketika aku mengambil hati kata-katamu itu, dan mengajak kamu menikah di atap, kamu mengabaikanku. Kamu nggak ingat? Apa itu namanya bukan memberi harapan palsu?"tanyaku sebal.
Aku tidak menyadari kalau sekarang meski kantin ramai, tapi suasana mulai hening karena mereka semua yang ada disini menyimak perdebatanku dengan Mahfudz.
"A-ku ti-dak- mem-be-be-ri ha-ra-pan pal-su. A-ku bi-lang- aku -a-kan-me-ni-ka-hi-mu ka-lau- ka-mu cin-ta pa-dak-ku. Ta-pi dok-ter- ti-dak men-ja-wab-per-ta-nya-an-ku."
"Hah?? Alasanmu banyak sekali"kataku jengkel. "Kapan aku tidak menjawabmu? Aku cuma bilang tidak tau. Artinya aku butuh berpikir. Tapi kamu meninggalkanku. Dan bagaimana dengan kamu? Kamu tanya apa aku cinta padamu, kamu sendiri bagaimana? Apa kamu pernah bilang kalau kamu cinta padaku? Atau kamu cuma main-main saja saat mengajak seorang wanita menikah? Sudah berapa banyak perempuan yang sudah kamu ajak menikah tanpa ada kata-kata cinta? Cih, aku nggak tau sudah berapa banyak wanita yang kamu tipu dengan tampang pura-pura polos dan wajah tampanmu itu, dasar playboy!"
Rasanya aku puas sudah menyampaikan seluruh uneg-uneg yang ada di hatiku.
Mahfudz tersenyum dan kembali melanjutkan sisa makanan yang belum sempat dia habiskan tadi.
Lihatlah betapa menjengkelkan lelaki ini. Dia bahkan tak peduli betapa aku sudah membuang banyak harga diriku dengan mengungkapkan hampir seluruh perasaanku di khalayak ramai seperti ini.
Percuma rasanya ngomong panjang lebar pada bocah tengil ini. Aku sudah tidak peduli lagi pada omongan orang. Toh aku sudah berlatih menebalkan wajah dan telingaku beberapa minggu terakhir ini. Aku segera bangkit dari dudukku.
__ADS_1
Mahfudz yang sedang minum menarik tanganku dengan tangan kirinya. Selesai minum dia memaksaku untuk duduk kembali di hadapannya.
Di hadapanku dan di hadapan banyak orang akhirnya dia menyatakan kata-kata itu.
Dengan bahasa isyarat dia meletakkan kepalan tangannya di dada, membuat simbol hati dengan jarinya dan menunjuk padaku.
"A-ku cin-ta ka-mu, bu dok-ter. Ba-ru -ka-mu sa-tu -sa-tu-nya yang per-nah ku a-jak me-ni-kah. Ja-ngan pang-gil a-ku play-boy"
Aku melongo mendengar pernyataan itu dari mulut Mahfudz. Rasanya aku sangat bahagia mendengarnya. Seakan semua beban dalam hidupku tiba-tiba terangkat semua. Namun detik berikutnya aku menjadi sangat malu ketika mendengar suitan dan godaan dari orang-orang di kantin ini.
"Cie... dr. Raya... !!!!
"Suit!!Suit!!!"
Mahfudz menatapku tak menghiraukan orang-orang di sekeliling kami.
"A-ku su-dah me-nga-ta-kan-nya. A-da yang mau dok-ter bi-lang pa-da-ku?"
"Jawab!Jawab!Jawab!"
"Dokter Raya! Ayo, donk ungkapin balik perasaan dokter!"
"Balas!Balas!Balas!"
Suara riuh rendah di kantin yang mendesakku untuk mengungkapkan perasaanku pada Mahfudz malah membuatku merasa tambah malu.
"Kamu bilang, baru aku yang pernah kamu ajak menikah?"
Mahfudz mengangguk yakin.
"Berarti kalau baru aku, tidak menutup kemungkinan donk bakal ada orang setelah aku yang kamu ajak menikah nanti?"
Seketika kantin kembali sepi karena kata-kataku.
"Ah, dokter Raya nggak asyik" bisik salah seorang.
"Nggak ada romantis-romantisnya. Kasihan Mahfudz"
Aku memang sengaja mengatakan itu untuk meredam euforia dari orang-orang di kantin ini. Untuk meredam maluku juga.
Perlahan-lahan satu persatu orang yang tadi cuma sekedar ada numpang dengar ungkapan hati Mahfudz mulai bergegas meninggalkan kantin. Di antara mereka ada yg menepuk pundak Mahfudz dan berbisik.
"Yang sabar, Bro. Wanita memang kebanyakan gitu. Aneh."
"Fahmi..." gertakku pada perawat yang mengatakan itu.
"Ampun, Dok! Saya hilaf!"ledek Fahmi padaku.
Aku bangkit dari dudukku dan meninggalkan Mahfudz yang masih duduk bengong karena kata-kataku.
Sesampai di parkiran aku menatap ke kantin. Aku mengambil ponselku dan menelponnya dengan aplikasi WA.
Mahfudz mengangkat telponku.
"Mahfudz lihat ke parkiran"kataku.
Kulihat Mahfudz berdiri mencari-cari aku dengan matanya. Setelah kupastikan dia menemukan aku dengan matanya, aku mengepalkan tanganku di dada, menyilangkan kedua tanganku dan menunjuk kedua jari telunjukku padanya.
"Aku sayang padamu, Mahfudz"kataku di telepon.
Dari jauh kulihat dia memberi bahasa isyarat "sama-sama"
Di telepon dia mengatakan. "Sa-ma. A-ku ju-ga"
Ahh, hari ini rasanya aku bahagia sekali.
\#THE END\#
__ADS_1
Season 1 tamat dulu ya. sebenarnya ini sampai 4 season masing2 babnya sebanyak 30 part. dan saat ini saya sedang menuju ending di season terakhir di tempat lain. jadi di mangatoon tinggal pindahin aja.