I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Perdebatan


__ADS_3

Raya menghembuskan napas untuk menghilangkan sesak dalam hatinya saat melihat suami yang telah menikahinya selama 8 tahun ini terlihat rapuh. Sungguh dia tidak pernah melihat Mahfudz seperti ini sebelumnya.


Perlahan Raya duduk di ranjang, di samping Mahfudz. Pria itu tampak frustasi memikirkan cobaan yang menimpanya kali ini. Raya mengelus-elus pundak Mahfudz seakan ingin menenangkan hati prianya itu.


"Ayah, kenapa bicaranya seperti itu? Kenapa Ayah ingin meninggalkan Bunda, sementara Bunda tidak pernah meninggalkan ayah? Bukankah kita telah berjanji akan bersama-sama selamanya? Apa pun yang terjadi dalam suka maupun duka," kata Raya mengingatkan.


Mahfudz menggeleng.


"Aku hanya ingin membahagiakan kalian. Hanya ingin kau dan anak-anak berada dalam suka. Tidak dalam duka, Ray!" kata Mahfudz kali ini masih dalam intonasi yang depresi akan masalah yang menimpanya itu.


Raya menggenggam tangan Mahfudz dan menautkan jari jemari mereka berdua hingga telapak tangan mereka berdua bersatu.


"Itu egois, Fud. Kamu tahu itu? Kau tidak boleh serakah atas nikmat yang telah diberikan oleh Allah pada kita. Selama ini, sejak kita menikah, sejak Waridi hilang dalam hidup kita, bukankah hidup kita pun telah membaik selama 7 tahun terakhir?Hampir tak ada masalah yang terjadi. Karir kita berdua lancar. Kita dikaruniai anak-anak yang sehat lagi cerdas juga tak kalah handsome dari ayahnya. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang ingin kita dustakan, Sayang? Apakah salah jika Allah ingin menguji kita lagi kali ini setelah sekian lama? Jangankan hidup, bahkan sekolah pun ada ujian per semester. Dan ini sudah lebih 8 tahun, Fud. Jika Allah ingin menguji kita lagi, bukankah lebih baik kalau kita fokus menghadapi ujian itu dan mencari solusinya? Jangan mengeluh, Sayang ... Bunda tahu ayah tak selemah itu," bujuk Raya sambil menyandarkan kepalanya di pundak Mahfudz. Kedua tangannya pun kini melingkar memeluk pinggang Mahfudz.


"Ray ... aku tidak tahu, apa aku bisa. Kamu tahu kan, ini kasus serius," kata Mahfuz.


Raya mengangguk.


"Aku tahu itu. Tetapi aku juga tahu, kita masih punya Allah tempat kita meminta dan memohon agar Dia memberikan jalan keluar di setiap persoalan kita. Dan juga kau masih punya aku, Fud!Kau masih punya anak-anak sebagai motivasi dikala kau merasa down seperti ini," kata Raya.

__ADS_1


"Justru itu, Ray. Karena pasien itu anak-anak aku menjadi lebih tak sampai hati. Dia hanya anak yang kira-kira hanya berusia satu tahun lebih tua dari Haikal. Dia anak perempuan, Ray! Sama seperti Laila. Melihatnya berada di ruang ICU membuatku ingin bertanggung jawab dan mendatangi keluarganya. Tapi pak Prabu melarang. Dia takut jika aku bertemu dengan orang tua si anak, salah-salah mereka langsung akan menjebloskan aku ke penjara. Belum lagi jika rumah sakit juga terkena dampaknya. Itu yang dikhawatirkan pak Prabu. Itulah sebabnya pak Prabu ingin aku mengambil cuti dan tidak bekerja dulu selama beberapa waktu ke depan. Dia ingin menyelesaikan dulu masalah ini secara kekeluargaan dan membujuk keluarga pasien untuk tidak memperpanjang kasus ini hingga ke meja hijau," kata Mahfudz menjelaskan.


Raya mengangkat kepalanya yang sedang bersandar di pundak Mahfudz.


"Maksudnya menyelesaikan secara kekeluargaan itu gimana?" tanya Raya mengerutkan keningnya.


Sepertinya dia bisa langsung paham apa maksud kekeluargaan yang dimaksud Pak Prabu.


"Memberi santunan dan sejumlah uang?" tebaknya.


Mahfud mengangguk.


"Dengan kata lain Pak Prabu ingin menyogok keluarga pasien?" tanya Yola mulai gusar.


"Nggak begitu apanya? Jelas-jelas dia ingin menyelesaikan ini dengan jalur pribadi yang hanya menguntungkan rumah sakit secara sepihak. Dan pasien dapat apa? Uang santunan? Uang permohonan maaf? Memangnya berapa banyak yang bisa Pahlawan Medical beri? 10 juta? 20 juta? Apa uang sejumlah itu bisa menghargai nyawa anak mereka yang terancam gara-gara kelalaian operator medis atau pun human error yang bisa dilakukan oleh siapa saja petugas medis di rumah sakit sana? Yang benar itu kalau ada masalah seperti ini, kita harus rundingkan melalui musyawarah dengan keluarga pasien, bagaimana sebaiknya. Jalan tengah seperti apa kira-kira yang mereka mau tetapi tetap meminimalkan resiko kita terkena kasus hukum," kata Raya sebal.


"Kok kamu malah jadi nggak mendukung aku gini sih?" tanya Mahfudz ikut-ikutan jengkel pada Raya. Tak menyangka kalau istrinya itu akan bereaksi seperti itu.


"Karena cara yang kamu tempuh salah. Dan aku tidak akan pernah membiarkanmu menempuh cara seperti ini, Fud. Bersembunyi dan menghindar dari keluarga pasien, serta menyogok keluarga pasien dengan sejumlah uang agar menutup mulutnya pada media, itu bukan jalan yang benar, Fud! Please! Kamu masih Mahfudz yang kukenal, kan? Sejak kapan kamu berubah pengecut seperti ini?" kata Raya kecewa.

__ADS_1


Mahfudz menarik napas dalam-dalam. Teringat olehnya kemarahan orang tua pasien itu tadi siang saat melihatnya. Apalagi jika bertatap muka langsung dengannya dan merundingkan hal ini? Bisa-bisa Mahfudz akan dicakar dan dicabik-cabiknya hingga ke ginjal. Memikirkannya saja, Mahfudz sudah bergidik.


"Kau tidak tahu betapa ganasnya ibu dari pasien itu? Tadi siang tak sengaja dia melihatku saat mengunjungi anaknya di ruang ICU. Dia langsung meneriaki dan ingin mengejarku, Ray. Aku yakin andai tadi perawat itu tak menghalanginya, mungkin saat ini aku akan berbaring di ICU di sebelah putrinya itu," keluh Mahfudz sambil bercerita.


"Itu karena dia seorang Ibu, Fud. Jangankan manusia, hewan pun punya naluri ingin melindungi dan menyerang siapa pun yang menyakiti anaknya. Aku juga akan seperti itu andai itu terjadi pada anak-anakku. Naudzubillahi mindzalik," kata Raya. "Kamu yang seorang ayah pun pasti akan melakukan hal yang sama kan andai Haikal dan Laila ada di posisi itu?"


Dalam hatinya Mahfudz merasa sangat tersenggol, akibat ucapan dari Raya itu. Tentu saja jika itu menimpa Haikal dan Laila dia sebagai ayah tidak akan segan-segan memukul dan menghajar dokter yang membuat anaknya koma dan kritis.


"Benar kan apa kata Bunda Ayah? Ayah pun pasti akan melakukan hal yang sama," tebak Raya dan kembali mengganti panggilannya dengan panggilan ayah dan bunda agar Mahfudz tersentuh dan sadar kalau dia juga adalah orang tua.


Mahfudz mengangguk dan sadar apa maksud Raya menanyakan itu.


"Lalu Ayah harus gimana, Bun? Kalau ayah sampai dipenjara gimana dengan nasib kalian, istri dan anak-anak Ayah?" tanya Mahfudz sedikit sendu.


"Seperti yang bunda bilang tadi, Yah. Kita masih ada Allah tempat kita meminta pertolongan. Jangan takut! Bunda akan selalu mendampingi Ayah. Tak akan pernah meninggalkan Ayah. Besok Bunda temani mengunjungi keluarga pasien itu, ya? Jika memang harus melalui jalur kekeluargaan. Maka kita sekeluarga harus menunjukkan itikad baik kita," kata Raya.


Meski berat hati akhirnya Mahfudz pun mengangguk.


"Baiklah, besok kita pergi menjumpai mereka, Bun!"

__ADS_1


***


Hai, hai ... Jangan lupa like dan komentar ya beib. Oh iya btw, jangan lupa baca juga novel karya author yang lain ya... Jodoh dari Malaysia dan Assalamualaikum, my CEO! Ditunggu, ya!


__ADS_2