
#Lauhul_Mahfudz
#season4
Part 25
BRAKK!!!
Waridi menggebrak meja dengan sekeras- kerasnya.
"Sialan!!! Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?! Bagaimana, bagaimana bisa Willy mengetahui soal Mary?"
Waridi menatap murka layar televisi di depannya. Di layar kaca itu tengah berlangsung acara berita yang sedang menayangkan penangkapan Willy di sebuah ladang ganja miliknya. Dan sialnya Willy juga ikut membawa- bawa namanya. Meski mariyuana itu ditanam di lahan milik Willy dan untuk sementara dia bisa aman tetap saja itu berpengaruh pada opini masyarakat. Sebagian masyarakat akan meragukannya.
"Brengsek!!!!" Makinya lagi.
Padahal kampanye terakhir akan diadakan besok!!
"Martin!!!" panggilnya pada salah seorang anak buahnya.
Seseorang laki- laki berusia kurang lebih sekitar 28 tahunan segera datang begitu Waridi memanggilnya.
"Bisa kau cari tau apa yang sedang terjadi? Kenapa Mary bisa ketahuan? Dan kenapa Willy bisa ada di sana? Lahan itu dia sudah lama melupakannya karena tempatnya yang sangat jauh dari pemukimana. Bagaimana ini bisa terjadi?!!"
Rasanya Waridi ingin melampiaskan kemarahannya pada siapa saja kali ini.
"Bos, rasanya saya tau siapa dalang di balik ini semua," kata Martin.
Sedari tadi malam dia memang sudah tau tentang berita ini, tapi dia tidak berani mengusik Waridi yang tengah sibuk mempersiapkan kampanye akbar yang akan di adakan untuk terakhir kalinya.
"Katakan! Katakan sekarang juga, siapa orang yang sedang ingin bermain- main denganku! Aku akan menghabisi dan mengulitinya sampai dia menderita! Berani- beraninya dia mengusikku!!!"
Martin menghela napasnya. Mendengar hal ini Waridi pasti akan semakin menggila.
"Bang Akbar, Bos!" jawab Martin hati- hati.
"Akbar???!!!"
Mendengar nama itu Waridi seakan bertambah murkanya berkali- kali lipat.
"Iya, Bos! Dua hari yang lalu kami melihat Fuad dan Bang Akbar bertemu di sebuah kafe. Seperti perintah Bos untuk mengikuti Fuad, kami melakukannya. Dan mereka terlihat seperti orang yang telah kenal baik sejak lama," kata Martin melaporkan.
"Dua hari yang lalu?? Lalu kenapa kau baru memberi tahu aku sekarang, haaa?!!!" teriak Waridi marah.
"Waktu itu, Bos sedang sibuk," kata Martin memberi alasan.
"Ahhhh! Alasan aja kamu!" Waridi dengan geram melempar asbak rokok pada Martin.
"Maaf, Bos! Saya salah, tapi waktu itu memang Bos lagi sibuk!"
"Diam! Kamu memang nggak becus! Kamu lamban! Kamu tidak sama dengan Akbar dan Gogo!" dengus Waridi jengkel.
Dia merasa heran kenapa anak buahnya ini tidak segesit Akbar dan Gogo. Menyebalkan, bahkan tangan kanan kepercayaannya kini harus menjadi musuhnya dan sekarang di sisinya hanya tersisa orang- orang lamban.
"Gogo bagaimana kabarnya? Apa dia belum sehat?" tanya Waridi akhirnya dengan suara melunak.
Sejak Waridi menugaskan Gogo terakhir kali untuk memata- matai Fuad, lelaki itu tidak pernah lagi datang untuk bekerja padanya. Yang dia dengar, Gogo ginjalnya kambuh lagi. Tapi kini tanpa bantuan Gogo sepertinya sulit bagi Waridi untuk mengatasi musuh- musuhnya.
"Penyakit ginjalnya masih sering kambuh- kambuh, Bos. Jadi dia belum bisa bekerja entah untuk waktu yang berapa lama," kata Martin menjelaskan.
Brengsek! Jadi sekarang Akbar memihak pada Fuad? Baiklah aku akan memberikan perhitungan pada Fuad dulu, nanti giliran Akbar terakhir saja, pikir Waridi.
"Nadya, kalian masih memantau anak itu, kan?" tanya Waridi lagi pada Akbar.
"Masih, Bos!" jawab Martin.
"Aku ingin kalian menangkap anak itu tanpa diketahui oleh siapa pun. Bawa dia ke rumah markas," perintah Waridi.
"Ba- baik, Bos!"
Fuad, kau kukira aku akan berhenti hanya karena kau menyuruhku berhenti. Lihat apa yang bisa kulakukan pada keponakan tersayangmu itu! Batin Waridi.
Sementara itu di tempat lain, seseorang tengah menonton televisi. Dia terlihat tidak sedang menikmati acara televisi itu. Melainkan sedang menatap pada orang di layar kaca dengan hati yang gelisah. Dia adalah Gogo yang telah tiga bulan ini vakum bekerja karena seseorang yang dia lihat di layar kaca.
"Ok, masih bersama saya dr. Handsome, seperti yang saya janjikan tadi tema kita di segment kedua ini adalah tentang manfaat ...."
__ADS_1
Gogo menatap Mahfudz yang sedang membawakan acara dr. Handsome di televisi. Sejak Waridi menyuruhnya memata- matai Fuad, sejak itu juga dia tau kalau orang yang ingin dimata- matai dan dicelakai Waridi adalah saudara kembar dr. Mahfudz. Kelemahan Fuad berarti adalah merupakan kelemahan dr. Gagu itu juga. Dan yang lebih terburuk adalah orang yang menjadi kelemahan keduanya adalah seorang ibu dan seorang keponakan yang umurnya kira- kira sebaya dengan putrinya Gogo. Itu membuat dia berdalih dan beralasan tidak bisa bergabung untuk bekerja dengan Waridi karena penyakit ginjal yang dideritanya kambuh dan untungnya Waridi percaya.
Dan kini apa yang harus dilakukannya? Dia tau lelaki itu sedang mengincar Nadya, keponakannya Mahfudz. Perlukah dia memperingatkan mereka?
"Ayo cepat habiskan sarapannya, kamu bawa bekal aja ke sekolah ya, Vi," kata- kata itu membuyarkan lamunan Gogo. "Maaf, Ibu nggak bisa bekalin kamu jajan. Kamu kan tau, bapak sedang nganggur beberapa bulan ini."
"Iya, Bu!" Jawab Evi patuh.
Tempat bekal warna ungu dengan gambar karakter smile pada tutupnya dan bertuliskan Raya di samping kota bekal itu mengingatkan lagi Gogo pada pasangan suami istri dokter itu. Ah, apa sudah saatnya aku mengikuti jejak Akbar? pikirnya
\*\*\*\*\*\*
"Buat apa kamu ke sini, Ray?" tanya Marhamah ketus begitu melihat siapa yang datang.
Raya dan Fuad sengaja datang ke kediaman Marhamah untuk menanyakan sesuatu. Hubungan Ali dan Marhamah jelas terlihat renggang sekali pun hanya dilihat dari kacamata orang lain. Hal itu nampak dari posisi duduk mereka yang walaupun tidak terlalu berjauhan namun terlihat sangat menjaga jarak.
"Aku ke sini untuk menanyakan sesuatu tentang alamat villa pamanmu yang pernah kau berikan padaku." jawab Raya tenang walaupun sikap Marhamah yang ketus terhadap dirinya sangat membuatnya tida enak hati.
"Oh, jadi kau telah memutuskan untuk memanfaatkan aib dari keluarga mantan pacarmu, begitulah?" tanyanya sinis.
"Mar ...." tegur Ali.
"Ya, ya, ya. Aku tau Raya sangat penting bagimu. Kamu pasti tidak tega kan kalau aku terus- terusan menekan dia. Baiklah, baiklah! Aku memang harus selalu mengalah. Katakan, apa yang ingin kau tanyakan!" suruhnya.
Raya yang mendapat respon seperti itu cuma bisa tersenyum kecut dan menelan ludah, tidak menyangka Marhamah bisa Setega itu padanya.
"Mar, aku ke sini menemuimu tidak bermaksud jelek. Aku hanya ingin tau dimana tepatnya alamat rumah itu berada. Setelah kutelusuri, ternyata alamat yang kamu berikan adalah alamat tempat dulu aku pernah disekap beberapa hari oleh pamanmu. Tapi tempat itu sekarang sudah kosong, dan lagi pula rumah itu bukan atas nama pak Waridi. Sekarang bisakah kamu beri tau aku dimana alamat rumahnya yang baru selain rumah dinas dan rumah pribadinya beserta bibimu. Aku curiga, rumah itu memang dibuat semacam markas oleh pamanmu untuk melakukan hal- hal jeleknya dan menyembunyikan aib- aibnya,"
bujuk Raya.
"Kenapa menurutmu aku harus peduli? Bagaimana pun dia adalah pamanku. Tentu aku akan memihak padanya. Kamu terlalu naif Raya!" cercanya.
Raya mendesah.
"Karena kamu perempuan juga, Mar. Andai kamu tau apa yang dilakukan pamanmu itu pada Ayuni, atau pada anak- anak angkatnya yang lain aku yakin hati nuranimu pasti tidak akan bisa menerima perbuatan bejatnya pada wanita lain terlebih pada gadis di bawah umur cenderung masih anak- anak." ujar Raya menjabarkan.
"Cukup, Ray! Aku tidak tau apa yang telah dikatakan Ali padamu, tapi rasanya kau terlalu lancang mengurusi keluargaku apalagi itu keluarga pamanku. Kalau memang kamu ada masalah dengannya, kenapa kamu tidak langsung datang ke rumahnya? Kenapa harus melibatkan aku?" Marhamah tampak marah.
"Ali belum sempat mengatakan apa- apa padaku hari itu, Mar. Dia hanya mengatakan kalau pamanmu mungkin punya rahasia sehingga mau membantu ayahmu menjadi sekda. Tapi kemudian kamu datang dan salah paham atas semuanya. Tapi karena kita membahas ini sejauh ini, maukah kamu mendengarkan aku? Aku ingin menceritakan padamu apa yang telah dia lakukan pada Ayuni, anak angkatnya sendiri. Kau pasti kenal Ayuni kan? Dan kau juga perlu tau apa saja yang telah dilakukannya padaku. Setelah itu kau boleh memutuskan apa kau akan membantu atau tidak." kata Raya sedikit kesal.
"Kalau kau tidak percaya padaku, bisakah kau percaya pada Fuad? Dia suaminya Ayuni. Dia tau persis apa yang terjadi pada Ayuni, bahkan kalau kau masih tidak percaya, kita bahkan akan mempertemukan kami dengan Ayuni. Apa yang dilakukan pamanmu sudah di luar batas toleransi kemanusiaan," kata Raya frustasi.
Sesaat sikap Marhamah terlihat sedikit melunak.
"Tolong dengarkan sebentar aku bercerita, ya!" kata Raya sembari melihat ke arah Fuademinta persetujuannya untuk menceritakan aib yang menimpa istrinya sebelum mereka menikah.
Fuad mengangguk. Dan jadilah Raya menceritakan asal muasal bagaimana dia bertemu Ayuni, hingga diculik dan mengetahui kalau yang menculiknya adalah wakil walikota Waridi. Cerita itu berlanjut hingga Fuad tak sengaja mengambil penampakan dirinya melalui drone dan mengunggahnya di channel YouTubenya pada akhirnya Mahfudz menolongnya dan kemudian dijebak oleh Waridi seakan dia tidur bersama dengan mahasiswa koasnya. Singkat cerita Raya juga menceritakan akhirnya dia menikah dengan Mahfudz dan mengenal adik iparnya dan berencana ingin mendapatkan informasi dari Ayuni tentang kejadian apa yang menimpanya di hari dimana dia dilarikan ke umah sakit karena bunuh diri, sehingga Fuad pada akhirnya menolongnya yang sedang kabur dan membawa lari Ayuni hingga mereka saling jatuh cinta dan menikah. Raya menceritakan semuanya dengan terbuka dan sesekali ditanggapi oleh anggukan oleh Fuad.
"Itu yang sebenarnya terjadi, Mar," kata Raya menutup ceritanya.
Respon Ali dan Marhamah sangat tercengang mendengar cerita Raya.
"Oh, jadi itulah yang sebenarnya terjadi kenapa kamu selalu terlihat bersitegang dengan Pak Waridi?" tanya Ali masih dengan nada tak percaya terhadap apa yang di dengarnya.
Raya mengangguk.
"Jadi bagaimana? Bisakah kamu membantuku mendapat alamat rumah markas pamanmu yang baru?" tanya Raya penuh harap.
Marhamah menggeleng pelan.
"Maaf, Ray. Sekali pun aku ingin membantumu, sepertinya aku tidak akan mendapat informasi apa pun tentang itu bahkan papaku juga tidak akan tau soal alamat rumah baru mereka. Papaku tidak sengaja mengetahui tentang rahasia paman karena kejadian beberapa tahun lalu,. Waktu itu papa dan paman sedang menghadiri acara kumpul- kumpul bersama teman- teman mereka. Dan paman Waridi saat itu sedang mabuk berat sehingga papa waktu itu harus mengantar paman pulang ke rumahnya. Tapi disaat mabuk itu, paman tidak mau diantar ke rumah pribadinya melainkan ke sebuah rumah. Itu rumah yang alamatnya kuberikan padamu. Papa mengantarnya hingga ke kamar dan terkejut melihat ada anak kecil di situ. Anak itu sedang ketakutan. Papa dengan iseng menyentuh banyak barang- barang di situ dan dia menemukan sesuatu yang membuatnya sangat shock, terkejut dan membuat dia terpukul. Entah apa itu, papa juga tidak pernah memberi tahukan pada kami apa itu, bahkan pada mama pun papa rahasiakan. Jadi kalau semisalnya dia sudah memindahkan tempat itu pun, aku yakin papa juga nggak bakal tahu alamat yang baru, sebab tidak mungkin paman akan memberi tahunya aibnya yang kedua kali. Apalagi dia telah berkorban banyak menjadikan papa Sekda," kata Marhamah.
Raya menghembuskan napasnya frustasi sambil memandang Fuad meminta pendapat.
"Tapi kalau kamu mau mungkin kamu bisa mencoba mendekati anak buahnya atau menyogok mereka? Mungkin saja mereka mau," kata Marhamah mengeluarkan idenya.
Raya tiba- tiba teringat sesuatu.
"Iya benar. Kita bisa melakukan itu," kata Raya pada Fuad.
"Memangnya kamu kenal anak buahnya Waridi? Bukannya Akbar sudah berhenti?" kata Fuad pesimis.
"Aku masih kenal satu lagi. Tapi kau harus membantuku pura- pura menjadi Mahfudz," kata Raya girang membuat ketiga orang lainnya memandangnya sebagai orang aneh.
Sepeninggalan Raya dan Fuad, Marhamah segera masuk ke dalam kamar dan diikuti oleh Ali.
__ADS_1
"Mar, terima kasih," ucapnya.
"Kau sebegitu cintanya pada Raya sampai- sampai kau berterima kasih mewakili dia padaku?" balas Marhamah sarkas.
"Astaga, Mar! Sudah donk. Aku sudah tau apa salahku. Aku memang tidak peka pada perasaanmu. Maafkan aku, hmm?"
Marhamah menatap tajam pada Ali.
"Apa gunanya maaf? Bagimu pernikahan kita nggak penting, kan?"
Ali tersenyum dan membelai rambut Marhamah.
"Pernikahan kita penting bagiku, Mar. Sangat, sangat penting. Kamu membantuku move on dari Raya. Aku menyadarinya selama kamu cuekin aku selama berbulan-bulan, Mar. Kamu istriku. Dan asal kamu tau aku juga baru menyadari, kalau apa pun sikapku selama ini pada Raya yang sering disalah artikan oleh semua orang bahkan olehku sendiri sebagai cinta, ternyata itu hanya perasaan bersalahku saja padanya."
"Perasaan bersalah?" gumam Marhamah bingung.
"Ya, dulu aku berhubungan dengannya sebagai seorang kekasih, lalu dia kutinggalkan begitu saja demi menikah dengan almarhumah Tya. Selama bertahun-tahun dia menderita secara emosional karenaku dan tekanan yang dilakukan Tya secara terus menerus. Sampai akhirnya Tya meninggal, aku mengejarnya lagi untuk menebus rasa bersalah itu, namun dia telah ada Mahfud dan perasaan bersalah itu kemudian tumbuh menjadi keegoisan karena tidak mau kalah bersaing dengan seorang junior yang tidak ada apa- apanya dibandingkan aku. Hingga ...."
Ali tidak melanjutkan kata- katanya lagi.
"Hingga apa?" tanya Marhamah penasaran.
"Hingga akhirnya keegoisan itu berubah kembali menjadi rasa bersalah. Raya kehilangan bayinya dikarenakan aku," kata Ali sedih. "Dia keguguran karena aku."
Marhamah mengernyitkan keningnya.
"Keguguran? Karena kamu? Kamu apakan dia?" desak Marhamah sedikit marah.
"Aku menciumnya tanpa sepengetahuan dia, suaminya tau dan mereka bertengkar hingga akhirnya Raya jatuh dari tangga," jawab Ali terus terang.
"Kau menciumnya??!! Saat dia sudah jadi istri orang? Kamu itu ya, benar- benar brengsek! Kalau aku jadi Mahfudz, aku tidak akan cuma memukulmu. Mungkin aku juga akan membunuhmu!!" kata Marhamah geram.
"Kalau begitu, bunuh saja aku, sayang! Aku jujur padamu, tapi kalau kau jadi marah atau cemburu karena itu aku bisa apa selain minta maaf? Kalau kamu tidak memaafkan ku, kau boleh membunuhku asal kamu senang," kata Ali setengah menggombal.
Diam- diam dia memperhatikan wajah merona Marhamah ketika dia memanggilnya sayang.
"Ja- jangan mencoba merayuku, ya! Aku tidak akan tersentuh hanya karena kamu panggil sayang," kata Marhamah pura- pura ketus dan membuang muka.
Ini pertama kalinya Ali memanggilnya sayang. Biasanya Ali hanya memanggilnya dengan nama saja.
Ali menarik pinggang Marhamah dan memeluknya dari belakang. Di telinga Marhamah dia berbisik.
"Memangnya kenapa kalau aku merayumu, sayang? Kau istriku. Bukankah sekarang ini waktunya kita berbaikan? Jangan membuatku menunggu lama, Marhamah sayang. Aku benar- benar sayang padamu." katanya sambil mengecup tengkuk istrinya itu.
Marhamah sampai merinding dibuatnya kemudian berbalik dan mendorong Ali.
"Aku nggak bilang aku sudah maafin kamu, ya!" katanya pura- pura jutek dan segera beranjak naik ke tempat tidur.
"Kalau begitu aku harus berusaha keras untuk mendapatkan maaf dari istriku, hmm? Baiklah! Sayang, aku datang!"
\*\*\*\*\*\*
"Nad, tolong bantu Tante jagain Rahmat main sebentar, ya. Tante Ayuni mau mandi dulu," kata Ayuni pada Nadya yang sedang asyik chating dengan teman sekelasnya.
Nadya hari ini tidak masuk sekolah dan ijin pada wali kelas untuk tidak hadir. Hal ini dikarenakan Fuad sedang berada di daerah pemilihan untuk melaksanakan kampanye terakhir, sementara Omanya sedang berada di kota sebelah menemani adiknya yang kebetulan sedang jatuh sakit. Khawatir karena tidak ada yang menjemput Nadya di sekolah, membuat mereka akhirnya memutuskan Nadya untuk ijin dulu hari ini.
"Hmm, okey!" jawab Nadya sambil matanya masih tetap fokus ke ponselnya.
Nadya segera berjalan mendekati Rahmat yang sedang duduk manis di baby walkernya.
"Nanti kalau dia nangis, kasih aja biskuitnya, Nad!" kata Ayuni sambil memberikan sebungkus biskuit bayi yang bungkusnya telah diikat karet gelang.
Nadya mengangguk. Setelah itu Ayuni segera bergegas ke kamar mandi satu- satunya yang ada di belakang.
Saat mandi Ayuni mendengar bel dibunyikan. Siapa ya? Pikirnya. Apa iya Mama sudah pulang? Bukannya katanya baru pulang nanti sore? Memikirkan hal itu Ayuni yang tadinya masih ingin berlama- lama mandi akhirnya mengurungkan niatnya dan segera buru- buru mengguyur tubuhnya dengan cepat. Hatinya tiba- tiba merasa tidak tenang. Usai melilitkan handuk, Ayuni segera bergegas ke ruang depan dan kaget karena pintu sedang terbuka lebar dan Rahmat sedang bermain sendiri di baby Walker tanpa ada yang menemani.
"Nad! Nadya!" panggil Ayuni.
Tak ada sahutan. Ayuni memeriksa kamar mama dan Nadya, juga tidak ada di sana. Akhirnya Ayuni memutuskan untuk memakai baju dulu dan kemudian mencari- cari Nadia ke warung dan rumah- rumah tetangga. Namun Ayuni tetap tidak menemukan Nadya.
Ayuni semakin gemetar, peluh mengucur di pelipisnya. Wajahnya pucat. Dia khawatir Nadya kenapa- kenapa. Ya Tuhan, Nadya kemana? Dia menelepon anak itu namun sepertinya bunyinya berasal tidak jauh dari tempat dia berdiri.
Ayuni semakin panik saat menemukan ponsel Nadya yang tergeletak begitu saja di teras persis di dekat pot bunga. Sepertinya ponsel itu terjatuh. Tapi kemana Nadya?
Dengan rasa tak menentu Ayuni menelepon Fuad. Agak lama suaminya itu baru menjawab. Namun begitu panggilan itu tersambung, Ayuni segera memberi tahu apa yang terjadi.
__ADS_1
"Pa- papanya Rah- Rahmat," katanya terbata. "Nadya menghilang!"