
Seusai sholat maghrib aku kembali ke ruanganku di poli obgyn. Aku menghela nafas berat melihat siapa yang duduk di kursi kerjaku sambil mengotak-atik mejaku dan membongkar-bongkar laciku. Sungguh menyebalkan, gumamku. Namun aku berusaha mengendalikan emosiku, toh aku juga baru selesai sholat dan beristighfar tadi.
"Kamu ngapain di sini, Tya?" tanyaku gusar.
"Maaf, dr. Raya! Ibu Tya memaksa masuk kesini" kata Winda merasa bersalah.
Yap, benar! Dia istri dr. Ali mantan kekasihku yang sekarang lebih suka kuanggap rekan kerjaku.
"Aku mau kontrol" katanya sambil mengelus-elus perut buncitnya yang sudah tinggal menunggu hari saja.
Mungkin dia melakukan itu dengan niat pamer padaku.
"Lah terus ngapain bongkar-bongkar laciku segala, kamu nyari apaan?" tanyaku kesal.
"Nggak ada apa-apa juga di lacimu. Tadinya aku mau lihat-lihat siapa tau di dalamnya ada fotomu dan kekasihmu" jawabnya dengan intonasi yang antagonis persis peran tokoh-tokoh jahat di sinetron.
"Nyatanya kamu masih tetap jomblo, dr. Raya, dr. Raya .... Kamu masih cinta sama suamiku ya?Kamu memang pelakor!" tuduhnya.
Aku menghela nafas lelah, dan ini terjadi lagi. Tiap minggu selama masa kehamilannya dia selalu menerorku seperti ini. Aku mengangkat telepon di mejaku dan menekan kode 3. Itu kode yang menyambungkanku ke departemen penyakit dalam.
"Tolong berikan telponnya ke dr. Ali!" perintahku pada seseorang yang mengangkat telepon. Dia pastinya asisten dokter Ali.
"Maaf, dr. Raya, dr. Alinya lagi ada tindakan operasi dengan dr. Faisal. Ada pesan yang dokter ingin saya sampaikan ke dr. Ali?" tanya suara di seberang sana.
"Tidak usah, biar nanti saya yang sampaikan sendiri!" kataku menutup telepon.
"Wah, wah, sekarang kamu makin berani nelpon suamiku di depan istrinya sendiri."
"Sudah cukup Tya, ya! Sekarang kamu pulang karena aku masih banyak kerjaan, aku nggak ada waktu meladeni sifat kekanak-kanakanmu itu" kataku kesal.
"Kamu sombong sekali, Raya!" bentaknya. "Aku udah bilang kalau aku mau kontrol kehamilanku. Kamu mau menolak pasien karena urusan pribadi? Kamu lupa?? Rumah sakit ini punya kakekku. Kalau aku mau dalam sekejab aku bisa meminta kakek mengeluarkanmu dari rumah sakit ini!!!"
"Ya, sudah. Lakukan saja apa yang kamu mau namun sebelum itu ijinkan aku mengerjakan tugasku dulu, keluar dari sini, masih ada banyak antrian di luar!" usirku tak peduli.
Entah sudah yang ke berapa kali dia membuat masalah seperti ini di rumah sakit. Toh, kalau pun dia benar ingin meminta professor untuk memecatku aku yakin kalau profesor Ayyub bukan tipikal orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan yang logis. Kalau pun benar sekalipun aku dikeluarkan dari rumah sakit, masih banyak sekali rumah sakit di provinsi ini yang masih mau menerimaku. Toh, Indonesia ini masih selalu kekurangan tenaga medis khususnya dokter spesialis apalagi aku yang sedang mengambil subspesialis dan tidak akan lama lagi akan selesai.
"Aku sudah bilang, aku mau kontrol dr. Rayaaaaaa!!!" jeritnya marah.
"Kalau mau kontrol nanti kamu kubikinkan janji sama dr. Gayatri untuk besok pagi, sekarang pulanglah!" suruhku.
"Aku tidak mau!!! Aku maunya diperiksa sama kamu!!!!" jeritnya.
Ohh, sungguh kekanak-kanakan, geramku dalam hati.
"Kamu kalau mau kontrol denganku kamu ikut prosedurku. Ikut antrian, yang hamil bukan kamu aja, dan yang lebih penting jangan cari gara-gara di tempat kerjaku." kataku kesal.
__ADS_1
"Aku sudah menyuruh Ali untuk bikin jadwal temu dengan kamu, tapi dia malah menyuruhku kontrol ke dokter lain. Aku tau dia melakukan itu untuk melindungimu kan, iya kan??" katanya marah.
"Terserahlah," kataku acuh."Win, tolong antar bu Tya ke luar" kataku pada Winda.
"Oh, iya" sahut Winda. "Ayo, Bu Tya saya antar"
"Nggak usah. Saya tau jalan keluar!" kata Tya jutek.
\*\*\*\*
Tinggal 4 orang lagi yang harus aku temui untuk jadwal kontrol malam ini. Aku melirik jam tangan di pergelangan tanganku meski sudah ada jam yang menempel di dinding. Jam menunjukkan pukul 21.09.
"Jangan lupa besok pagi untuk follow up pasien di bangsal, seperti biasa tanyakan keluhan apa yang mereka rasakan, dan tindakan apa yang telah di lakukan, tapi jangan sekali-sekali menanyakan pada perawat, kalian harus bertanya langsung pada pasien, minimal keluarganya. Dan besok pagi jam 7, saya sudah harus menerima hasil foll up kalian" kataku sambil menunggu pasien berikutnya dipanggil oleh Winda.
"Tapi, Dok. Kalau hasilnya diterima pagi jam 7, berarti kami harus foll up dari subuh donk, kan biasanya jam segitu pasien masih banyak yang tidur, Dok!Masa sih harus dibangunkan dok?" jawab salah seorang koas.
"Yah, bangunkan saja, atau tanya pada keluarganya yang jaga, biasanya sih mereka juga tau keluhan dari pasien dan tindakan terakhir apa yang telah dilakukan perawat, bisa kalian tanya ke suaminya, ibunya atau siapa ajalah yang ada disitu" kataku.
"Ibu Sri Mayaa ...! Astaggfirullah ...!" Winda berlari keluar pintu.
Aku celingak celinguk dari balik mejaku.
"Kenapa Win?" seruku. Sepertinya ada sesuatu yang terjadi di ruang tunggu.
Para koas dan anak akbid ikut berlarian ke pintu melihat apa yang terjadi, termasuk Mahfudz juga.
"Ibu siapa?" tanyaku khawatir sambil bergegas keluar.
Astaga, di luar aku melihat Tya sedang dibopong oleh Mahfudz dan Winda. Beberapa pasien yang sedang antri juga terlihat ikut cemas. Di antara mereka ada yang membantu mengambilkan tas Tya.
"Bu Tya pecah ketuban, Dok!!" seru Winda.
"Bawa kesini, Win!!" sahutku cemas.
Meski sekesal-kesalnya aku pada Tya tapi dia tetap pasien dalam kondisi seperti ini.
"Ngapain coba kamu masih ada di sini? Ku kira kamu udah pulang" omelku pada Tya yang meringis kesakitan dan semakin lama malah semakin nangis menjerit-jerit.
"Bu Tya ikut antrian, Dokter. Tadi kata salah seorang pasien, Bu Tya baru balik dari toilet. Pas mau duduk lagi eh, ketubannya pecah, dia kesakitan...." kata Winda menjelaskan.
Mahfudz dan Winda membantu Tya berbaring di ranjang.
"Kamu tensi dia, Fud!" suruhku.
Mahfudz manut apa yang kuperintahkan.
__ADS_1
"Berapa Win?" tanyaku pada Winda.
Winda merebut tensimeter dari tangan Mahfudz dan mengulangi lagi mengukur tensinya Tya.
"180/100, Dok!" jawab Winda.
Mataku berkedip berapa kali karena kaget "Yakin kamu, Win?" tanyaku.
"Iya, Dok. Aku sudah ukur tensinya dua kali, hasilnya sama" jawab Winda.
Aku memperhatikan kaki Tya. Iya memang kakinya bengkak begitupun pipinya, tadi aku yang tidak terlalu memperhatikan. Dia hipertensi dan ini sangat membahayakan.
"Periksa udah bukaan berapa, Win!" suruhku.
Sambil menunggu Winda memeriksa Tya, aku segera mengambil gagang telepon lagi dan memencet beberapa nomor.
"Halo, halo...! Dr. Ali apa sudah selesai operasinya??"
"Oh, belum, Dok! Nanti saya sam..."
"...ok, nanti kalau dr. Ali sudah balik, suruh hubungi saya segera" kataku yang langsung dijawab "Ok, Dok" dari seberang sana.
"Sudah, Win?" tanyaku saat melihat Winda melepas sarung tangannya.
"Sudah, Dok!Ini sudah bukaan 8." katanya.
Waduhh, ini benar-benar gawat.Tapi aku tak boleh panik.
"Adek koas!" panggilku. "Tolong carikan kursi roda dan bawa ke sini."
"Iya, Dok!"
Dua orang dari mereka langsung berlari mencari kursi roda yang ku minta.
Sekali lagi aku meraih telepon di atas meja, begitu tersambung aku langsung menanyakan sesuatu.
"OK apa ada yang kosong?" tanyaku.
OK adalah singkatan dari Operatie Kamer yang berarti ruang operasi.
"OK semuanya full, Dok!Kan memang malam ini nggak ada jadwal SCnya Dokter?" kata seseorang di ujung sana.
"Iya, tapi ada pasien gawat darurat ini, butuh penanganan segera" kataku sambil melirik Tya yang meringis-ringis kesakitan.
Aku memejamkan mata sejenak, dilema. Ibu hamil yg mengalami hipertensi sangat beresiko melahirkan normal, sementara ruang operasi semuanya penuh. Dan Tya sudah sampai pada pembukaan 8 yang artinya sedikit lagi akan mencapai pembukaan sempurna untuk melahirkan bayinya.
__ADS_1
Aku menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Aku harus mengambil keputusan.