I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Debu


__ADS_3

#Lauhul_Mahfudz


#season4


Part 26


"A- apa? Nadya menghilang? Maksudnya?" tanya Fuad saat menerima berita mengejutkan itu dari istrinya. "Bagaimana bisa dia menghilang?"


"A- aku nggak tau. Aku cuma minta tolong Nadya jaga Rahmat sebentar karena aku mau mandi. Tapi pas aku keluar dari kamar mandi, dia sudah nggak ada. Cuma ada Rahmat sendirian, pintu juga kebuka. HP-nya ada diteras, sudah kucariin kemana- mana tapi nggak ada. Aduuh, gimana ini? Aku harus gimana papanya Rahmat? Mama akan membenciku kalau ada apa- apa sama Nadya." kata Ayuni panik. Dia bahkan menangis.


"Oke, oke. Kamu yang tenang. Aku akan segera pulang ke sana. Kamu jangan beri tahu Mama dulu."


Ayuni mengangguk. "I-iya"


Dia bingung, sungguh Ayuni bingung sekarang.


Sementara itu di dapil tempat Fuad hendak berkampanye terakhir, Fuad juga merasa pusing dengan semua yang terjadi. Sambil menggertakkan giginya, Fuad mengambil ponsel di kantongnya. Dan mencari kontak Waridi. Segera dia memanggil pria tua itu dengan panggilan telepon. Butuh tiga kali dial, barulah Waridi mengangkat teleponnya. Waridi sendiri sedang berada di lokasi kampanye akbar tempat dia untuk terakhir kalinya mempromosikan dirinya sebagai calon gubernur. Dan saat- saat ini penting baginya karena ini menentukan pilihan masyarakat agar mau memilihnya menjadi gubernur untuk periode 5 tahun ke depan.


"Apa yang kau mau? Kenapa kau meneleponku?" tanya Waridi terdengar dingin.


"Kamu kemanakan Nadya? Kamu sembunyikan di mana dia?" tanya Fuad langsung tanpa basa basi.


"Apa maksudmu? Nadya? Bukankah dia keponakanmu? Kenapa kau bertanya padaku?" tanya Waridi balik sambil tertawa terkekeh-kekeh.


"********! Hanya kau yang sanggup melakukan hal serendah ini. Hal yang pernah kau lakukan pada Raya, menculik dan menyekapnya, kau juga melakukan itu pada Nadya! Aku tidak akan membiarkanmu!" kata Fuad tegas.


Waridi kembali terkekeh.


"Kau yang bermain- main denganku lebih dulu. Aku hanya meladeni permainanmu, Fuad! Aku sudah peringatkan kau jangan menentangku. Dan asal kau tau antara apa yang kulakukan pada dr. Raya dan yang akan kulakukan pada Nadya tentu saja berbeda. Tenang saja, aku akan memperlakukan keponakanmu itu dengan cara yang lebih spesial," katanya dengan intonasi yang bisa membuat orang yang mendengarnya menjadi jijik.


"Kau jangan berani menyentuh Nadya sehelai rambut pun. Kau berani menyentuhnya aku berjanji akan membunuhmu dengan cara yang mengenaskan!" ancam Fuad geram.


Sungguh sekarang emosinya berani ditingkat yang paling tinggi. Dan Fuad benar- benar akan menepati janjinya andai terjadi apa- apa pada keponakan semata wayangnya itu.


Waridi lagi- lagi terkekeh.


"Wow, aku sangat takut mendengarnya! Kalau begitu sebelum kau membunuhku, bagaimana kalau aku mencicipi dulu keponakanmu itu? Sepertinya dia lebih lezat dari Ayuni. Atau kau juga ingin ikut mencobanya?"


"Keparat! Kau memang manusia paling menjijikkan. Kau pantas mati!" maki Fuad.


"Ayolah, kau mengatakan itu karena kau belum pernah mencoba dan mengalaminya sendiri. Incest tidak seburuk itu. Hahaha," katanya dengan gelak tawa seolah- olah tanpa beban sama sekali.


"Tutup mulutmu, tua bangka! Sebaiknya kau pergunakan mulutmu itu dengan sebaik-baiknya, sebelum aku datang ke sana untuk merobeknya!" maki Fuad lalu dia menutup telepon.


Percuma, tak akan ada gunanya menelepon ******** itu untuk mengetahui dimana Nadya berada. Hanya membuat Fuad tambah naik darah.


Masih dengan hati yang berkecamuk, akhirnya Fuad kembali memencet ponselnya. Dia harus menelepon Akbar.


"Abang dimana?" tanya Fuad begitu telepon itu tersambung.


"Aku lagi di mobil, sebentar lagi sampai." kata Akbar dengan nada lesu. "Ada apa, Fuad?"


"Bang, Nadya hilang, Bang! Tolongin Bang, aku nggak tau harus cari kemana. Ini pasti kerjaan Waridi. Tolong, Bang! Kalau itu kira- kira memang perbuatan Waridi, kemana dia akan membawa Nadya?" tanya Fuad panik.


Informasi dari Fuad kini membuat Akbar jadi melek kembali, padahal sedari tadi dia sangat mengantuk karena urusannya ke kota T dan ke ibukota untuk mencari Rudi. Karena waktu yang singkat dan mepet membuat Akbar tak bisa tidur. Bahkan saat ini di perjalanan pulang pun dia tidak bisa tidur karena harus mengawasi dr. Kim yang dibawanya ikut bersamanya.


"Ehmm, coba ceritakan kronologisnya bagaimana Fuad. Aku tidak bisa konsentrasi kalau kau mengatakannya dengan terburu- buru begitu," pinta Akbar.


Fuad menarik napasnya mencoba untuk menenangkan diri.


"Baiklah, Bang. Aku sedang ada di dapil, dan Ayuni baru saja meneleponku. Katanya Nadya hilang. Nadya tidak ada dimana- mana bahkan hp- nya pun tergeletak begitu saja di teras. Bagaimana ini, Bang? Aku sudah menelepon Waridi, dan kelihatannya memang dia yang melakukannya. Kira- kira kemana dia membawa Nadya, Bang? Kita harus menemukannya sebelum dia melakukan sesuatu yang buruk. Tolong bantu aku menemukan Nadya, Bang!" kata Fuad penuh harap.


Akbar memijat- mijat pelipisnya.


"Ok, Fuad. Sepertinya masalah ini tidak berjalan sesuai rencana kita. Aku juga gagal menemukan Rudi, duplikat Waridi ini. Soal Nadya, aku rasa kita bisa minta bantuan Gogo. Aku sendiri sudah tidak tau markas barunya Waridi. Gogo pasti tau. Dia bukan orang yang mudah. Tapi dia orang yang sangat tau membalas budi. Mungkin jika kita minta tolong pada Mahfudz untuk membujuknya, dia mungkin bisa saja menunjukkan kita jalan untuk bertemu dengan Nadya," kata Akbar.


"Apa? Abang gagal menemukan duplikatnya Waridi? Bukannya Abang yang bilang kalau dokter itu menyuruh Abang datang dalam jangka 3 hari?" tanya Fuad dengan hati yang semakin galau.


Niat untuk menjatuhkan Waridi sirnalah sudah. Yang ada sekarang keponakannya sendiri yang sedang berada dalam bahaya.


"Ya, itu betul. Tapi aku tidak menyangka kalau dokter ini membohongiku," kata Akbar sambil melirik geram pada dr. Kim yang sedang berada di sampingnya.


Merasa dipelototi Akbar, wanita itu balas mempelototi Akbar.


"Hey, aku tidak bohong. Dia memang meneleponku dan mengatakan padaku kalau dia akan datang dalam waktu tiga hari, mana ku tau kalau akhirnya dia nggak datang dan nomornya tidak bisa dihubungi," kata dr. Kim membela diri.


"Diamlah! Pokoknya sampai di sana nanti, kamu harus mau menjelaskan di kantor polisi, kalau Waridi memiliki duplikat. Kau harus membuat kesaksian, kalau lelaki itu memang memiliki seseorang yang mirip dengannya," kata Akbar.


Akbar memang berencana ingin membawa dr. Kim ke kantor polisi atau ke kantor Kopilum untuk membuat kesaksian kalau Waridi tidak layang menjadi calon gubernur karena tidak memiliki kelakuan yang baik. Dan hal itu salah satunya dibuktikan dengan menghadirkan saksi yang melemahkan Waridi. Akbar sendiri tidak yakin rencananya akan berhasil karena saksi pentingnya Rudi tidak berhasil dia tangkap.


"Bang! Bang!" panggil Fuad menyadarkan Akbar kalau Fuad masih melakukan panggilan telepon dengannya.


"Oh, iya Fuad. Aku hampir lupa. Tapi tak bisakah kita panggil Mahfudz untuk meminta tolong pada Gogo?" tanya Akbar.


"Mahfudz, sepertinya ada di ibu kota, Bang! Nunggu dia datang, keburu telat. Keburu Nadya diapa- apain Waridi nanti," tanya Fuad khawatir.


"Terus bagaimana? Kalau menurut perhitunganku sih sampai ajara kampanye Akbarnya selesai, Nadya masih aman. Soalnya Waridi tidak akan mungkin meninggalkan acara itu. Itu penting baginya. Tapi lewat dari jam itu, aku tidak yakin, Fuad." kata Akbar.


Fuad nampak berpikir sejenak.


"Oke, Bang! Begini aja, acara kampanye akbar itu kan berlangsung dari jam satu siang hingga selesai ya, sekitar 2 atau 3 jam. Sementara ini masih jam 11. Berarti masih ada waktu 4 sampai 5 jam sampai acara itu selesai. Kalau aku pulang sekarang ke sana, hanya membutuhkan 2 atau paling lama dua setengah jam. Itu artinya kita masih punya waktu bertemu dengan orang itu yang Abang maksud. Gigi maksudku. Aku akan pura- pura jadi Mahfudz untuk membujuknya, bagaimana?" tanya Fuad setelah memberikan idenya.

__ADS_1


"Terus kampanyemu?" tanya Akbar.


"Aku nggak mikirin itu lagi, Bang! Biarkan aja. Menang atau kalah biarkan aku menyelamatkan Nadya dulu." kata Fuad. "Tapi ngomong-ngomong, bagaimana kalau Waridi mengganggu dan menjahati Nadya sebelum acara, Bang?" tanya Fuad.


Akbar menarik napas.


"Dia tidak akan melakukan apa- apa pada Nadya sebelum selesai acara itu. Aku hapal kebiasaannya. Kau berdoa saja tidak terjadi sesuatu yang buruk. Dan jangan terlalu khawatir," kata Akbar.


"Baiklah, Bang! Aku akan tutup teleponnya dulu. Aku mau menjelaskan sebentar ke panitia dan tim sukses, kalau aku tidak bisa melanjutkan acara kampanye ini," kata Fuad.


"Oke," jawab Akbar.


Begitulah, usai menelepon Fuad pun langsung menemui panitia dan tim sukesnya untuk menjelaskan kalau dia harus kembali dan tak bisa melanjutkan acara kampanye karena ada hal yang mendesak. Setelah itu Fuad pun langsung tancap gas kembali ke kota XXX.


\*\*\*\*\*\*


Sementara itu Nadya di sebuah mobil yang melaju cepat dengan mata ditutup dan mulut disumpal kain, kelihatan sangat ketakutan. Dia diapit oleh dua orang laki- laki seperti preman.


"Menurutmu, apa yang kira- kita akan Boss lakukan pada gadis kecil ini?" tanya salah seorang dari mereka.


Kalau Nadya tak salah dengar pertanyaan itu pasti berasal dari salah seorang dari mereka yang duduk di kursi di sebelah supir.


"Kamu kayak nggak tau aja, ya mantap- mantaplah. Apa lagi Bos kan paling suka daun muda," celoteh pria yang duduk disebelah Nadya.


"Hahaha, berarti pulang dari kampanye, dia bisa penyegaran donk dengan gadis ini. Wah, Tiwi aja nggak abis- abis masih nambah lagi satu gadis cantik lagi tuh tua Bangka." sahut orang yang di depan lagi.


"Iri bilang, Bos! Makanya kaya! Biar bisa berbuat apa aja! Tapi ngomong- ngomong kasihan juga nih anak. Andai aku jadi Bos, aku nggak bakal sampai hati juga sama anak sekecil ini. Jadi teringat adikku di rumah," katanya.


"Iya juga sih. Si bos mah sampai hati banget. Mentang- mentang dia nggak punya anak kandung sendiri."


Nadya masih larut dalam mendengarkan percakapan orang- orang ini. Dia merinding dan ketakutan pasti. Dia kini berada di dalam sebuah mobil yang isinya adalah 4 orang lelaki dewasa. Tapi untungnya dari percakapan mereka, setidaknya Nadya tau untuk sementara dia aman karena mereka kasihan padanya.


Dan mengenai lelaki tua bernama Waridi itu, Nadya tidak menyangka kalau orang yang selalu bersikap baik dan sempat dipanggilnya ayah itu sampai hati melakukan hal ini padanya. Dan mungkin orang itu akan melakukan hal yang lebih kejam dan gila lagi seperti yang pernah dilakukannya pada Tante Ayuni.


Tidak bisa seperti ini, sesegera mungkin Nadya harus berusaha untuk kabur. Kalau tidak, lelaki licik itu akan membuatnya menjadi seseorang yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya olehnya.


Ya Tuhan, Nadya masih ingat tadi saat Tante Ayuni menyuruhnya menjaga Rahmat. Ada tamu yang membunyikan bel. Nadya masih sempat mengintip dari kaca jendela. Dia melihat seorang ibu- ibu berada di depan pintu. Nadya berpikir itu temannya Oma dan membukakan pintu, namun yang terjadi dari samping rumah keluar lagi dua pria dan membekap mulutnya. Dan mereka berdua mengangkat Nadya ke mobil. Setelah berada di tengah jalan, barulah sang ibu tadi diturunkan setelah dibayar upahnya sebelumnya. Benar- benar licik!


Deru mobil itu akhirnya berhenti. Entah dimana mereka kini tapi yang pasti, Nadya mereka tuntun keluar dari mobil dan berjalan hingga masuk ke dalam rumah. Nadya sempat mendengar suara kunci di putar dan perlahan terdengar suara derit pintu terbuka.


"Masuk!" perintah salah seorang dari mereka sekaligus mendorongnya sampai masuk dan melangkah beberapa langkah ke dalam ruangan itu.


Dimana ini, ya Tuhan .... Nadya membatin dalam hati.


Usai membuatnya masuk ke dalam ruangan itu, Nadya mencoba berjalan perlahan dan mencoba menggerakkan bahunya mencari- cari tempat bersandar. Dia mencari di dinding karena khawatir ia akan menabrak sesuatu.


Kekhawatirannya semakin memuncak saat ia merasakan ada seseorang menyentuh bahunya. Nadya kaget dan mencoba bergerak menyingkirkan tangan itu. Hingga kemudian dia tak berdaya saat orang itu menuntunnya dan mendudukkannya ditempat empuk seperti ranjang.


"Ughh ....Ummm ...." Nadya mencoba berteriak pada orang itu.


Tapi eh, Nadya merasa tangan itu meraih dan mencoba membuka ikatan kain yang menutup matanya. Dan lagi pula Nadya bisa merasakan kalau tangan yang menyentuh pundaknya tadi, seperti tangan milik perempuan. Bukan tangan lelaki dewasa.


Perlahan- lahan kain yang menutup matanya itu pun tersingkirkan dan dia bisa melihat jelas siapa yang sedang berada di hadapannya. Dia gadis cantik berusia kurang lebih sebaya dengannya. Gadis itu pun, membuka sumpalan di mulut Nadya.


"Kau siapa?" tanya Nadya.


Gadis itu tak langsung menjawab, melainkan dia membuka ikatan tangan Nadya di belakang punggungnya.


Nadya memperhatikan gadis itu begitu muram dan kurus. Terlihat wajah lelah, dan awut- awutan nun tetap tak bisa menghilangkan aura cantiknya.


"Hey, kamu siapa?" Nadya mengulangi pertanyaannya. Namun lagi- lagi tak digubris.


Hingga akhirnya Nadya mengulurkan tangannya.


"Aku Nadya!" katanya memperkenalkan diri.


Gadis itu menatapnya lekat- lekat. Sebelum dia membuka mulutnya dan membuat Nadya menyadari sesuatu. Gadis ini bisu.


"Kau bisu? Maksudku tidak bisa bicara?" tanya Nadya sambil menggunakan sedikit bahasa isyarat yang dia bisa.


Nadya memang bisa sedikit mempergunakan bahasa isyarat berkat Omnya Mahfudz. Dulu waktu Om Mahfudz baru- baru saja mengalami kecelakaan Nadya yang bersikeras menyuruhnya belajar bahasa isyarat. Dan terkadang mereka suka belajar bahasa isyarat bareng meskipun pada akhirnya karena minder, Mahfudz lebih memilih untuk berkomunikasi lewat tulisan saja.


Gadis itu mengangguk. Dia bisa memperhatikan gerak bibir Nadya dan sedikit bahasa isyarat gadis itu. Dia mengerti apa yang gadis itu tanyakan.


"Siapa namamu?" tanya Nadya untuk kesekian kalinya.


[Tiwi], gadis itu mengeja dengan alfabet bahasa isyarat.


Nadya mengangguk.


"Aku Na-dya! N-A-D-Y-A" Nadya akhirnya pelan- pelan berkomunikasi dengan gadis itu.


Tiwi mengangguk- angguk tanda paham. Dan mengulangi ejaan nama Nadya untuk memastikan.


"Iya, seperti itu." kata Nadya. "Oh, ya Tiwi, tempat apa ini?" tanya Nadya.


Tiwi menggeleng yang berarti dia juga tidak tau.


"Kau juga tidak tau? Apa mereka juga menculikmu?" tanya Nadya tentunya dengan menggunakan sedikit bahasa isyarat dan terkadang mencampurnya dengan alfabet untuk penyandang tuna rungu.


Tiwi mengangguk sedih. Nadya bisa merasakannya. Keluarganya pasti menghawatirkan ya, begitu pikir Nadya.

__ADS_1


"Oke, aku tidak tau tempat macam apa ini. Tapi kita harus keluar dari sini," katanya sambil memegang pundak Tiwi. "Aku akan mencari tau apa bisa keluar dari sini.


Nadya mengitari seputar kamar itu. Dia menyapu pandangan tiap sudut ke sudut.


Tempat ini seperti kamar biasanya. Ada ranjang besar dan lemari. Di situ juga ada rak- rak berisi kaset- kaset CD yang menurut Nadya sudah tidak jamannya lagi. Jaman sekarang, menonton bisa langsung melalui flashdisk, atau streaming dari berbagai aplikasi, kenapa masih butuh kaset VCD? pikir Nadya.


Di samping tempat tidur ada juga sebuah tripod. Ya Tuhan, alat- alat ini digunakan untuk apa? Apa orang yang memiliki kamar ini adalah orang narsis yang suka berfoto atau merekam Vidio untuk konten YouTube seperti om Fuad? pikir Nadya.


Namun sejenak Nadya terkesiap mengingat cerita Ayuni. Waridi, lelaki itu adalah pemerkosa anak- anak seumurannya. Ya Tuhan, Ya Tuhan, ini tidak boleh terjadi. Sebelum dia datang kemari aku harus kabur dari sini, batin Nadya dalam hati.


Segera Nadya memeriksa kembali seluruh ruangan itu. Nadya memeriksa jendela, namun sayangnya jendela itu memiliki teralis besi dan lagi pula jendela itu sangat sulit dibuka karena kuncinya suda berkarat.


Tak ada harapan kabur lewat jendela, Nadya beralih ke kamar mandi. Disana tak ada juga lobang anginnya. Nadya akhirnya frustasi dan kembali ke kamar. Gadis bernama Tiwi itu melihatnya dengan wajah datar. Ya, mungkin sebelumnya dia juga sudah mencari cara untuk kabur namun tak ada celah untuk melaksanakan niat itu.


Nadya kembali duduk berhadapan dengan Tiwi di lantai.


"Apa mungkin, dia, maksudku pak Waridi melakukan sesuatu yang buruk padamu?" tanya Nadya pelan.


Tiwi diam sejenak. Sebelum akhirnya tersenyum pahit dan menangis terisak. Nadya memeluknya. Ah, kasihan sekali. Semakin Nadya bersemangat mencari cara agar mereka bisa kabur.


Usai menenangkan Tiwi, Nadya kembali mengitari kamar itu dan membuka satu persatu laci meja tv, membuka lemari. Tak ada benda tajam apa pun disana. Benar- benar sulit sekali untuk kabur.


Sampai akhirnya Nadya menemukan sebuah flashdisk yang tercolok begitu saja pada sebuah speaker di dekat televisi. Nadya mencabutnya dan mengantonginya. Semoga ada sesuatu yang berguna yang berada dalam flashdisk itu nanti. Dia akan membawanya kabur bersamanya nanti. Tapi bagaimana caranya? Bagaimana?


Nadya berpikir sangat keras agar dia bisa menemukan solusinya. Tanpa sadar tangannya yang menggaruk- garuk meja televisi telah membuat tangannya belepotan debu. Nadya baru akan menepuk- nepuk tangannya dari debu itu saat ia tersadar akan sesuatu. Debu! Dia bisa menggunakannya.


Perlahan Nadya menghampiri Tiwi lagi. Dia memegang tangan gadis itu serius.


"Aku tau caranya agar kita bisa pergi dari sini," kata Nadya. "Mohon kerja samamu!"


Apa maksud gadis ini? Pikir Tiwi. Bagaimana caranya mereka bisa kabur? Dia sudah lama berada di kamar ini tak ada satu pun celah atau cara yang bisa dia pikirkan agar bisa kabur.


"Jadi begini ...." Nadya pelan- pelan menjelaskan rencananya.


Meski harus dijelaskan dengan susah payah, akhirnya Tiwi paham rencana Nadya. Tapi itu sangat beresiko, bagaimana ini?


"Jangan ragu!" kata Nadya. "Aku pasti tidak akan apa- apa. Pokoknya begitu sudah ada reaksinya, kamu gedor pintunya sekencang-kencangnya. Dan saat mereka sibuk mengurusi aku, kamu carilah jalan lain untuk kabur!" kata Nadya.


Tiwi masih ragu dengan rencana itu. Namun sebelum dia mulai protes, Nadya sudah membuka kedua antingnya dan meletakkannya di telapak tangan Tiwi.


"Begitu kamu berhasil kabur dari sini, sesegera mungkin jual saja ini. Agar kamu bisa pakai buat ongkosmu naik taksi, atau terserah mau naik apa pun. Kamu nggak punya uang, kan?"


Tiwi mengangguk lagi. Perempuan di depannya ini kenapa begitu baik, dia juga pintar dan cantik. Wajahnya mengingatkannya pada seseorang.


"Jangan buang waktu lagi, keburu lelaki tua itu datang kemari," kata Nadya. " Kamu siap, ya! Jangan kecewakan aku!"


Nadya berjalan kembali ke arah meja televisi. Dia harus mendapatkan banyak debu. Nadya akhirnya menemukan tempat dimana banyak debu menempel. Itu ada dibalik meja televisi. Nadya merengkuh dan meraupnya dengan telapak tangannya. Dan, bismillahirrahmanirrahim ....


Usai mengucapkan basmallah, gadis kecil itu nekad mendekatkan debu di telapak tangannya ke hidungnya. Nadya menghirupnya. Sekali belum terasa apa- apa. Dua kali, Nadya mulai sesak dan yang terakhir .... Akhirnya mengi itu datang.


Nadya berusaha meraup oksigen sebanyak-banyaknya agar ia bisa bertahan untuk bernapas. Rasanya menyakitkan, ya Allah, batinnya. Tapi ini harus!


Tiwi yang melihat kejadian itu sempat panik dan menghampiri Nadya. Tapi Nadya mendorongnya. Menyuruhnya pergi. Ya, Nadya adalah penderita asma atau sesak napas. Dia terpaksa menggunakan penyakitnya untuk kabur dari sini. Walaupun rasanya sungguh- sungguh sangat menyakitkan.


Nadya masih sempat melihat Tiwi yang menggedor- gedor pintu sekuat tenaga bahkan menendang pintu sekencang- kencangnya, hingga mau tidak mau anak buah Waridi membuka pintu dan ingin mendamprat orang yang menggedor pintu begitu kencang itu.


"Apa sih maumu? Kau jangan bertingkah, Bisu! Atau aku akan melaporkanmu pada Bos, agar dia menyiksamu lebih kejam!" maki salah seorang dari anak buah Waridi


Tiwi menggeleng- gelengkan kepalanya dan menunjuk dengan panik pada Nadya.


"Hey bocah! Apa yang terjadi? Kau jangan pura- pura, ya!"


Nadya masih berusaha menarik oksigen sebanyak yang dia mampu. Tapi kini wajahnya tak cuma memucat, kini malah tangan dan kakinya mulai dingin dan membiru karena kekurangan oksigen.


"Sial! Kenapa dengan anak ini? Dito! Heri! Ayo ke sini sebentar! Lihat! Ada apa dengan anak ini?" Kata lelaki tadi dengan panik.


Kedua rekannya itu segera datang begitu dipanggil.


"Ya, ampun. Anak ini sesak napas. Kita harus segera membawanya ke rumah sakit! Dia bisa mati kekurangan oksigen kalau tidak segera ditangani. Bos bisa marah!" kata salah seorang rekannya.


"Tapi kita harus kabari bos dulu!"


"Ya udah cepatan telepon!"


Mereka mendial nomor Waridi beberapa kali namun pria itu tidak menjawab.


"Ya udah, kita bawa ke rumah sakit aja dulu! Aku dan Dito, yang pergi! Kamu Her, tunggu di sini. Sebentar lagi juga Angga balik!"


Nadya hampir kehilangan kesadarannya begitu kedua lelaki itu menggotong dan melarikannya ke rumah sakit.


Sementara itu, Tiwi sepeninggalan Nadya mulai kalang kabut. Benarkah dia bisa kabur sekarang? Bukankah pintu kamar ini sudah mereka tutup kembali? Eh, tunggu dulu! Tiwi harap- harap cemas. Semoga mereka lupa menguncinya.


Perlahan Tiwi mendekati pintu dan meraih daun pintu. Pelan tapi pasti dia menekannya ke bawah, dan ....


Ceklekk!!


Terbuka!


\#bersambung\#


Lauhul Mahfudz menuju part- part ending. Tetap stay tuned ya. Like dan koment yang banyak. meskipun author nggak balas karena banyak kesibukan tapi author sempatin baca kok

__ADS_1


__ADS_2