I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Stase Ilmu Penyakit Dalam


__ADS_3

Pov Mahfudz


Aku bersandar di dinding sedang menunggu dr. Ali dengan 14 anak koas lainnya. Sebagiannya lagi koas cewek duduk di kursi panjang di luar ruangan dr. Ali. Kami semua akan koas di stase IPD atau PDL atau yang biasa juga disebut interna.


Dokter koas atau dokter muda yang akan menjalani pendidikan profesi di stase ilmu penyakit dalam sepertinya lebih banyak daripada di stase obgyn.


Setelah menunggu hampir satu jam akhirnya dr. Ali datang juga.


"Kalian yang mau koas?"tanyanya pada kami.


"Iya, Dok!"jawab teman-teman koas serentak.


Sepertinya dia belum menyadari kehadiranku disana. Segera dr. Ali membuka pintu dan masuk ke ruangannya. Sesaat dia meletakkan tasnya di dalam dan kembali menemui kami.


"Sudah ketemu sama konsulen interna yang lain?"


"Belum, dok!"


"Ok, ayo ikut saya" ajaknya sambil menutup kembali pintu ruangan.


Saat dr. Ali membalikkan badan, dia bertemu pandang denganku.


"Kamu... disini?"tanyanya antara heran dan kaget.


"I-iya, Dok!" jawabku.


Meski masih merasa kaget, namun dia tetap mengajak kami berjalan ke arah bangsal sambil masih sesekali menoleh ke belakang untuk melihatku.


"Ini dr. Harun, dokter residen penyakit dalam."katanya memperkenalkan dokter residen itu. "Harun, mereka dokter muda yang akan koas di sini. Kamu nanti antar mereka keliling departemen, kamu jelaskan pembagian kamar dan bangsal dan jangan lupa pertemukan mereka dengan dokter konsulen yang lain, setelah itu suruh mereka pre-test dulu!"


"Ok. Siap, Dok!"kata Harun.


"Dan kamu, Mahfudz...." dr. Ali membaca namaku pada bed name yang melekat di baju koassku. "Saya perlu bicara denganmu. Ikuti saya"


Dr. Ali segera beranjak keluar bangsal dan kembali ke ruangannya. Aku mengikutinya. Aku sudah menduga dia pasti akan mengajakku bicara. Entah akan membicarakan apa. Tapi yang jelas itu pasti ada hubungannya dengan dr. Raya.


"Jadi apakah ini suatu kebetulan atau memang kamu sengaja ingin ditempatkan di departemen saya agar kamu bisa menunjukkan ke saya bahwa kamu adalah orang yang dipilih Raya?"


Aku menghela napas. Andai aku bisa memilih pun aku tidak mau ditempatkan di stase yang ada dia. Hanya akan mengganggu konsentrasiku dalam menjalani koass saja. Hanya akan membuat aku berada dalam tekanan kepentingan pribadi yang tak ada hubungannya dengan pekerjaanku sebagai dokter muda.


"Ti-dak, Dok!"kataku singkat.


"Kamu tau aku mantannya Raya?" Dr. Ali mengubah tuturnya dari 'saya' ke 'aku'.

__ADS_1


Aku mengangguk.


"Akhir-akhir ini aku mengajaknya menikah tapi dia tidak mau. Katanya dia ingin menikah denganmu. Kamu kira itu masuk akal? Kamu serius ingin menikah dengannya?"


Aku mendengus.


"A-ku a-kan me-ni-kahi-nya"kataku pasti.


Dr. Ali tertawa terkekeh.


"Kamu membuatku ingin tertawa. Jangan bilang kamu ingin menikahi Raya karna ingin menumpang hidup padanya. Kamu masih koass bagaimana caramu akan menafkahi Raya. Apa mungkin kamu akan merengek dan menadahkan tanganmu pada orang tuamu agar memberikan kalian makan?" katanya sambil tersenyum sinis.


Aku harus bisa berusaha sabar menghadapi dia. Bagaimana pun selama 12 minggu aku harus bergantung pada dr. Ali.


"Dok-ter, a-pa mung-kin an-da yang seper-ti i-tu? O-rang yang se-la-lu ber-bu-ruk sang-ka pa-da o-rang la-in bi-asa-nya a-da-lah o-rang yang se-per-ti dia tu-duh-kan."


Aku memperhatikan raut wajah dr. Ali yang terlihat tersinggung. Yah, aku sempat mendengar gosip itu dulu dari Anita bahwa dr. Ali meninggalkan dr. Raya demi menikah dengan cucu pemilik rumah sakit yaitu Bu Tya cucu dari professor Ayyub.


"Ak-hir bu-lan i-ni sa-ya a-kan me-ni-ka-hi-nya. Ka-rena sa-ya men-cin-tainya bu-kan ka-rena i-ngin num-pang hi-dup a-tau yang la-in-nya. Da-tang-lah ka-lau an-da sem-pat, dok-ter."


Dr. Ali memandangku tersenyum dengan sebelah ujung bibir terangkat.


"Kalau begitu sudah jelas, kamu tidak cocok ada di sini. Ajukanlah tempat koass dimanapun yang kamu mau asal bukan disini. Kamu boleh di rumah sakit ini tapi tidak di departemenku. Tidak di departemen penyakit dalam. Aku mencintai Raya tapi aku lebih mencintai profesiku. Ada kamu disini akan membuatku melakukan sesuatu padamu yang bisa mengotori nilai-nilai dan prinsip-prinsipku dalam bekerja."katanya dengan geram


"La-ku-kan sa-ja-apa yang i-ngin an-da laku-kan dok-ter. Se-la-gi i-tu ma-sih be-ra-da dan ti-dak ber-ten-ta-ngan da-lam ru-ang ling-kup ke-dok-te-ran. Sa-ya a-kan be-ru-sa-ha me-mak-lu-mi an-da. Sa-ya ti-dak a-kan pin-dah sta-se da-ri si-ni, kar-na itu su-dah pi-li-han ran-dom da-ri kam-pus. Dan la-gi sa-ya bu-kan o-rang yang suka la-ri da-ri ke-nya-ta-an" jawabku.


"Harun, untuk pre-testnya anak koas suruh mereka buatkan DOPS...." dr. Ali menelpon sambil melirikku.


Aku tersenyum dalam hatiku. Buat DOPS doank mah gampang. DOPS adalah singkatan dari Direct Observation of Procedurals Skills. DOPS ini adalah salah satu assasment yang menjadi alat ukur bagi mahasiswa yang sedang menjalani pendidikan profesi untuk berhadapan langsung melakukan pemeriksaan sesuai prosedur dan di akhir sesi akan dinilai oleh penguji. Bahasa gampangnya mah, ini cuma soal bagaimana cara kami sebagai koas dalam memeriksa pasien dan tentu saja diawasi langsung oleh residen atau konsulen.


"....dan khusus buat koass yang bernama Mahfudz. Hmm.. iya. Yang tadi dia ikut bersama saya, suruh dia buatkan mini CEX (cara pemeriksaan beserta interprestasi sesuai diagnosis), refleksi kasus (membahas sesuatu kasus sampai pengobatan dan edukasi) dan CBD (mengikuti harian pasien sampai pulang), saya suruh dia selesaikan dua hari, paling lambat lusa. Tolong kamu minta lusa ke dia."


Haaa?Sebanyak itu? Ini kan masih pre-test bukan ujian akhir stase, keluhku dalam hati.


"Kenapa?"tanyanya meremehkan. "Ini masih awal. Dan masih dalam ruang lingkup kedokteran kedokteran. Ini belum seberapa. Kalau kamu mau lihat betapa jahatnya aku, lihatlah sebentar lagi apalagi yang bisa kulakukan padamu" ancamnya.


Dia tertawa kecil. Tawa jahat.


\*\*\*\*\*


Aku menyambut anak-anak koas untuk kedua kalinya di stase obgyn.


".... untuk kegiatan harian seperti di bangsal atau VK kalian bisa tanya ke dokter residen Sherly apa- apa yang bisa kalian lakukan." kataku. "Sher, lakukan dengan benar kali ini. Bimbing para junior kita ini untuk belajar semua hal yang berkaitan dengan obgyn. Aku tidak mau seperti kejadian koas pertama. Kamu sama sekali tidak mengajarkan apa-apa pada koas" omelku.

__ADS_1


Dr. Sherly hanya menunduk dan mengiyakan. "Iya, dok.


"Maaf, kalau kamu jadi tambah banyak kerjaan" kataku menyesal. "Tapi untuk 2 minggu ke depan sepertinya aku akan sangat sibuk mengurus pernikahanku. Jadi aku nggak akan bisa terlalu fokus pada urusan rumah sakit."


Aku melirik wajah dr. Sherly yang terlihat merah merona mendengar kata-kataku. Entah karena marah atau malu, aku tidak tau. Yang pasti dia jelas merasakan salah satunya. Sesekali aku pamer hubunganku dulu padanya. Siapa suruh kamu berani-berani peluk Mahfudzku, kamu pikir kamu siapa, kataku dalam hati.


"Wah, selamat dokter! Kami turut bahagia untuk dokter" kata salah satu dari anak koas baru itu.


"Maaf, dokter! Kalau boleh tanya calon suami dokter apakah yang kemarin anu... Yang di kantin itu? Siapa ya namanya.... Mahmud ya kalau nggak salah?"tanya seseorang lagi.


Aku tersenyum. Mungkin yang bertanya ini adalah salah seorang yang pada saat itu ada di kantin juga.


"Bukan Mahmud. Tapi Mahfudz" kataku. "Iya. Dia calon suamiku. Nanti kalau sudah hari H, kalian boleh datang juga. Aku mengundang kalian. Kamu juga dr. Sherly, kamu harus datang ke pernikahanku ya. Aku pikir itu perlu mengingat dulu kalian saaaangat dekat" singgungku dengan nada yang kekanak-kanak.


"Iya, Dok! Saya usahakan datang kalau saya sedang tidak ada keperluan" katanya kesal.


"Jadi, Dok! Calon suami dokter sekarang koas dimana?"tanya anak itu lagi.


Sementara itu teman-temannya yang lain sampai terbelalak karena kaget.


"Calon suami dr. Raya masih koas?" tanya mereka. Mereka mungkin tidak tau karena sebelumnya mereka koas di rumah sakit lain.


"Iya, donk!" jawab temannya. "Kisah dr. Raya sama Mahfudz ungkapkan cinta itu loh semua orang di rumah sakit ini tau. So sweet banget. Jadi iri deh, Dok!"


Aku tersenyum tersipu malu. Kulihat dr. Sherly wajahnya memerah juga. Mungkin dia tersipu marah. Hahahaha, masih mau kamu? ledekku dalam hati.


"Sudahlah, tidak perlu membahas itu, ya!"kataku. "Mahfudz sekarang koas masih di rumah sakit ini juga. Dia di stase interna."


"Wow bagus itu, Dok! Saya juga stase pertama di interna juga, Dok! Di sana dokternya baik juga. Apalagi dr. Ali. Dokter favoritku"katanya.


"Oh, ya?"responku singkat. Dia mengangguk.


"Temanku di FK juga dapat stase interna di rumah sakit ini, Dok! Nantilah kalau sempat ku tanya. Siapa tau mereka kelompok dengan Mahfudz di departemen penyakit dalam"katanya menawarkan


Aku cuma tersenyum.


Oh, iya bagaimana dengan Mahfudz ya? Apa dia sudah sampai di rumah sakit ini?Apa dia sudah bertemu Ali? Kenapa nggak menghubungiku kalau sudah sampai di sini.


Beribu pertanyaan lengket di kepalaku. Lalu kuambil ponsel dan menchat dia.


[Kamu dimana?Sudah bertemu dr. Ali belum? Kenapa nggak kabari aku kalau sudah sampai disini]


Lama ku tunggu balas chatnya akhirnya datang juga.

__ADS_1


[Aku sudah di interna]


Sesingkat itu jawabannya. Aku kecewa.


__ADS_2