I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kehamilan Ektopik


__ADS_3

"Ray, kamu kenapa?" tanya Ummi khawatir.


Aku masih terus memuntahkan isi perutku yang sebenarnya masih kosong. Sesuatu dalam perutku mendesak untuk mengeluarkan apa saja yang ada di sana.


"Hueeghhh!! Hueeghh!!"


Ummik segera menyusulku dengan tak sabar ke kamar mandi. Dengan khawatir beliau memijat-mijat tengkukku.


"Kenapa Raya, Mik?" Mahfudz yang mendengar Raya seperti muntah-muntah, segera mendatangi sang istri.


"Entahlah,tiba-tiba aja mual-mual dan muntah pas masakin telur buat sarapan Haikal tadi," kata Ummik menjelaskan.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Mahfudz begitu aku selesai dengan urusan mual-mual dan muntah-muntah ini.


Aku menggeleng. Kepalaku mendadak pusing saat ini. Pusing bukan dalam artian kata yang sesungguhnya, tetapi aku pusing karena sepertinya kekhawatiranku yang berbanding terbalik dengan keinginan Mahfudz sepertinya berkemungkinan besar akan menjadi kenyataan.


Ya Tuhan? Apakah aku sedang hamil? Aku memijat-mijat pelipisku, sementara Mahfudz mencoba mengelus-elus punggungku untuk membuatku merasa lebih baik. Ummik sendiri mengambilkan air putih hangat untukku.


Mahfudz menatapku. Pandangan matanya itu seperti sedang bertanya padaku, apakah ini seperti yang dia pikirkan. Dan itu membuat suasana hatiku terasa lebih buruk dari sebelumnya.


"Ini, minumlah dulu!" Ummik menyodorkan air putih hangat itu padaku.


Mahfudz yang menerimanya dan membantuku mendekatkan gelas itu ke mulutku. Aku menyesap air hangat itu pelan-pelan. Terasa nyaman saat rasa hangat menjalar di lambungku ketika air hangat itu kuteguk perlahan.


"Merasa lebih baik?" tanya Mahfudz sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


Aku mengangguk. "He em,"jawabku.


"Kalau kamu sedang nggak enak badan, nggak usah ke rumah sakit dulu, istirahat," kata Mahfudz penuh dengan perhatian.


Aku tidak menjawab. Pikiranmu saat ini dipenuhi oleh rasa paranoid takut hamil di kondisi tak tepat waktu seperti ini. Aku bahkan tak menghiraukan lagi saat Ummik melempar pandang pada Mahfudz seolah bertanya apa dugaannya saat itu benar. Insting mereka pasti sama denganku kalau aku sedang hamil saat ini. Bagaimana ini?


"Ray, aku telepon ke Satya Medika ya, ngasih tahu kalau kamu nggak bisa masuk hari ini," katanya menawarkan.


Aku menggeleng.


"Nggak usah, Yah. Cuma mual dikit aja kok," tolakku. "Lagi pula aku harus ke dr. Gayatri juga hari ini. A-aku mau periksa."


Mahfudz mengangguk-angguk.


"Ihh, apaan sih, Ayah," rengekku dengan nada memprotes.


"Periksa dulu makanya, ya kan, Mik? Kali aja bisa nambah anggota baru keluarga kita," kata Mahfudz meminta dukungan Ummik.


Dan Ummik tentu saja mengangguk setuju. Ah, mertua dan menantu yang kompak satu dengan yang lainnya.


"Aamiin, semoga ya, Ray. Ummik senang kalau kamu hamil lagi. Nambah cucu lagi deh Ummik, senangnya," kata Ummik dengan perasaan yang teramat sangat bahagia.


Belum bisa dipastikan kalau soal itu, Mik. Raya harus periksa dulu sama dr. Gayatri. Takutnya nanti Ummik kecewa lagi," balasku


Ummik senyum sumringah mendengarnya.

__ADS_1


"Ya dicoba aja dulu. Kalau semisal positif, kamu harus jaga kandungan kamu dengan baik, dijalani dengan sepenuh hati, walaupun ini di luar rencana kami. Jangan kayak dulu, Ray!" nasehat Ummik. Yang beliau maksud pastinya tentang kejadian saat aku mengandung Annisa


"Iya, Mik." jawabku.


Benar juga apa kata Ummik. Aku tidak boleh lagi bersikap apatis seperti waktu itu. Bersikap tidak peduli pada kandunganku yang berakhir pada penyesalan. Sekali pun nanti saat aku periksa hasilnya positif, aku harus menjalaninya lagi dengan ikhlas. Aku tidak mau lagi setengah hati seperti dahulu dalam menjalani kehamilanku. Biar bagaimana pun toh dia tetaplah darah dagingku, buah cinta antara aku dan Mahfudz meskipun ini sebenarnya berada di luar rencana ku.


Ahhhg,tapi apakah aku benar-benar sungguh hamil? Kenapa kali ini aku merasa sangat percaya diri sekali? gerutuku dalam hati.


Bagaimana kalau ini tidak benar seperti dugaanku? Ya Tuhan, kenapa sekarang aku jadi berdebar-debar, berharap kalau itu benar? Aisss, ya sudahlah. Positif pun tak apa. Toh, Laila usianya juga sudah hampir 4 tahun.


Maka begitu aku selesai mandi , Mahfudz tanpa bisa ditawar-tawar lagi segera mengantarku menuju rumah sakit Siaga Medika dengan tujuan untuk tes kehamilan padaku sekaligus untuk mengetes posisi alat IUD yang sedang berada di dalam tubuhku saat ini.


Sesampainya kami di tempat praktek dr. Gayatri, dan menunggu beberapa pasien yang ingin konsultasi padanya, tibalah giliranku. Seperti biasa, meski dr. Gayutri mulai menua tapi kami biasa saling bercanda satu sama lain. Dia sangat menyambut kedatanganku. Senda gurau itu kembali menghiasi ruagan dr. Gayatri. Apalagi saat dia tahu aku ingin melakukan tes kehamilan sekaligus pengecekan posisi IUD, makin menjadi-jadi dia mengangguku.


Tawa canda kami sampai juga pada saat dr. Gayatri mencoba mlakukan USG padaku. Awalnya dia masib terus menggodaku dan Mahfudz yang katanya produksi terus dan disambut oleh tawa lepas Mahfudz mendengarnya. Hingga akhirnya tiba-tiba saja wajah dr.Gayatru diliputi kecemasan.


"Kenapa, Dok?" tanyaku ragu.


"Ini kehamilan ektopik, Ray!" katanya dengan wajah prihatin.


Spontan aku dan Mahfudz menoleh ke layar monitor. Dan benar apa kata dr. Gayatri. Kehamilan ektopik!


****


Hai gengs jangan lupa bagi author koment dan likenya donk..

__ADS_1


__ADS_2