I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Sok Ganteng!


__ADS_3

Pov Raya


Saat aku pulang kerja, di rumah sudah ramai. Ada paman, bibi, bu lik, dan sepupu-sepupuku. Mereka datang ke sini tentu saja dalam rangka urusan pernikahanku. Ummik telah memberi kabar pada mereka. Besok adalah hari dimana keluarga Mahfudz menyerahkan seserahan padaku. Tidak ada lagi proses lamaran, atau dianggap sepaket aja dengan penyerahan serahan aku pun kurang mengerti. Ummik bilang, aku cuma perlu hadir, dan kalau memang masih ditanya apa aku bersedia menikah dengan Mahfudz, tinggal jawab iya. Atau kalau aku malu menjawab langsung seperti itu, aku cuma perlu diam. Sebab diamnya wanita, katanya Ummik adalah pertanda dia bersedia.


"Kak Raya" Sepupuku Rasti mendekatiku.


"Hmmmm" sahutku acuh sambil mengotak atik ponselku. Aku mencoba kepo pada story WA Mahfudz. Tapi tidak ada apa-apa di situ. Dia sama sekali tidak menghubungiku sejak kami bertengkar sore tadi. Membuatku semakin ill feel padanya.


"Kak Raya kok nikahnya milih sama brondong sih? Kan nggak asik" celutuknya.


Andai aku tidak sedang bertengkar dengan Mahfudz, dan suasana hatiku tidak buruk aku pasti akan ngomelin Rasti.


"Rasti! Kamu kok ngomong gitu"tegur Bu Lik, ibunya.


"Nggak apa-apa, Bu Lik!"jawabku santai tak bersemangat.


"Eh, Kak Ray, Memangnya calon kakak ipar itu ganteng banget ya?"


"Tergantung yang melihat sih"kataku acuh.


"Tapi kan aku jadi bingung manggilnya gimana. Calon kakak ipar umurnya 23, aku 25 tahun. Masa sih aku panggil dia kakak?"


"Ya. Tetap harus kamu panggil kakak donk!"celutuk Ummik.


"Nah, itu yang bikin nggak nyaman, Mik." Rasti juga memanggil Ummik sama sepertiku, sepupu-sepupu lain juga begitu.


"Rasti kan lebih tua, masa manggil kakak? Udah gitu mana calonnya Kak Raya masih koas. Mana kondisinya...." Rasti tak melanjutkan omongannya dan melihat reaksiku. Aku tau yang dimaksudnya adalah kekurangan Mahfudz yang penyandang tunawicara.


Ummik terlihat sebal sama Rasti sementara Bu lik melempar bantal sofa pada Rasti agar anak itu bungkam dan menjaga mulutnya.


"Iya juga, ya" jawabku. "Terus apa sebaiknya kita batalin aja pernikahannya?" kataku tiba-tiba.


Mereka semua yang ada di ruangan ini kaget mendengar kata-kataku. Terlebih-lebih Ummik yang langsung kelihatan marah.


"Kamu itu ngomong apa, Ray? Jangan main-main sama ucapan! Perkataan itu adalah doa, bisa terkabul kalau diaminkan sama malaikat"


Suasana berubah tegang seketika.


"Ahh, Ummik, aku cuma bercanda, kok. Serius amat, Ummik. Ya ampun, Mik! Hehehe... Tetap jadi nikahnya sama anak kesayangan Ummik Mahfudz itu. Raya kan cuma anak pungut."jawabku mencoba mencairkan suasana.

__ADS_1


Aku tertawa untuk menenangkan hati Ummik walaupun hatiku galau.


Hingga besok harinya acara terima seserahan berlangsung sederhana antara keluargaku dan Mahfudz. Entah mengapa meski hatiku mulai ragu pada Mahfudz aku tetap melakukan prosesi itu meski tak dihadiri oleh calon pengantin prianya. Mereka semua terlihat bahagia. Hanya aku yang merasa galau sendirian.


"Waduuh kenapa calon pengantinnya murung ini?" tanya Hawa yang turut ku undang sebagai salah satu anggota keluarga yang menerima seserahanku. Dia sahabat rasa saudara bagiku.


Ummik menoleh pada kami. Sepertinya ingin tahu juga kenapa sikapku seperti berubah soal pernikahan ini.


Aku tak menjawab melainkan ikut membereskan piring-piring dan snack sisa keluarga Mahfud yang kini sudah kembali pulang setelah menyelesaikan prosesi penyerahan seserahan.


"Kenapa sih?"desak Hawa. "Kenapa, Mik?"tanyanya beralih pada Ummik.


Ummik mengangkat bahu. "Mana Ummik tau, dari tadi malam ngomongnya udah ngelantur. Mau membatalkan rencana pernikahan segala"kata Ummik.


"Haaaa? Kenapa? Astahgfirullah Ray.... Istighfar, Ray. Pernikahanmu tinggal menghitung hari aja lagi. Yang namanya mau menikah itu ya begitu. Banyak godaannya, sayang. Pasti ada aja pertengkaran. Pasti ada aja cara syeitan menggoda anak cucu Adam agar tidak jadi menikah. Agar niat baik menyempurnakan separuh agama tidak terlaksana, bener kan, Mik?"tanya Raya pada Ummik meminta dukungan.


Ya, benar. Syeitannya ya Ali itu, umpatku dalam hati.


"Benar itu yang dibilang Hawa."kata Ummik setuju.


"Iya, Bu Bos!"sahutku. "Tapi aku sebal sama Mahfudz itu. Dia itu seperti nggak peduli tau nggak sama pernikahan ini? Dia cuma pentingkan koasnya aja. Apa-apa aku semua yang ngurusin. Aku tau dia sibuk, tapi aku juga kan sibuk tapi aku masih menyempatkan diri buat ngurusin ini itu apa-apa yang diperlukan. Dia sama sekali nggak ada andil apa pun dalam pernikahan ini. Kamu lihat, ngantar seserahan aja dia nggak bisa datang, bagaimana kalau nanti pas hari H mempelai prianya nggak hadir? Kan lucu?"keluhku.


"Ohh, jadi masalahnya itu. Ya, kamu harusnya ngertilah posisi dia. Kamu kayak nggak tau aja kalau koas itu dianggap kasta paling rendah di rumah sakit?Koas sering dianggap kesetnya keset. Paling dia nggak ada daya untuk membantah konsulennya. Jangan samakanlah dengan dirimu. Posisimu mapan di rumah sakit. Kamu bisa cuti kapan pun kamu mau. Pihak rumah sakit juga pasti akan mengerti apalagi kalau tau kamu mau menikah. Nah, Mahfudz. Jangankan cuti menikah. Ijin libur saat sakit aja belum tentu diijinkan. Lagipula memang nggak pas aja sih waktunya mengingat dia lagi koas. Memang idenya siapa sih mau nikah buru-buru? Kenapa nggak tunggu dia selesai koas dulu?" tanya Hawa.


Ummik buang muka, masa bodo sama cibiranku.


\*\*\*\*\*


Jam menunjukkan pukul 21.18 ketika Mahfudz berusaha menghubungiku dengan panggilan vidio. Berkali-kali, mungkin sampai belasan kali tetap tak ku hiraukan. Hingga akhirnya panggilan vidio itu berhenti, dan terdengar bunyi pesan chat masuk. Pesan chat itu masuk sampai beberapa kali. Aku tak menghiraukan. Tetap lanjut menonton tv.


"Siapa Ray? Kok nggak diangkat?"tanya Ummik.


"Bukan siapa-siapa, Ummik!Cuma pengganggu!"jawabku sambil tetap melihat ke arah TV.


Sepertinya paham siapa maksudku. "Astaga Ray, Sudah- sudah donk ngambeknya, kekanak-kanakan sekali ini anak" kata Ummik kesal sambil mematikan TV dengan remot.


"Ummik, kenapa dimatiin? Raya masih mau nonton"protesku.


"Angkat dulu sana telpon Mahfudz. Siapa tau ada yang perlu."suruh Ummik.

__ADS_1


"Ahhh, Ummik!"keluhku kesal.


Kusambar ponselku dari meja dan masuk ke kamar. Hp ini sudah berhenti berdering. Ku tunggu beberapa saat lagi sampai aku benar-benar yakin Mahfudz tidak online lgi di WA.


Perlahan kubuka aplikasi WA. Ada 7 kali panggilan vidio dan 4 kali panggilan telepon tak terjawab. Setelah itu aku membuka fitur chat.


Ada beberapa kiriman vidio. Dan beberapa chat tertulis.


[Terima kasih untuk hari ini]


[Terima kasih karena masih mau menerima seserahan itu. Itu berarti kamu masih bersedia menikah denganku kan?


Mama bilang semua berjalan lancar]


[Ada beberapa vidio dokumentasi dari mama, kamu cantik sekali]


[Maaf, aku nggak bisa datang, sayang]


[Ku panggil sayang, karena aku beneran sayang, itu bukan bullshit. Aku sayang kamu Raya!]


Aku menghela napas panjang. Dan kini membuka kiriman vidio. Di vidio itu terlihat Mahfudz sedang berada dalam sebuah kamar (sepertinya itu kamar koas) sedang memakai baju pengantin yang kuantar padanya. Baju setelan pengantin berwarna putih gading kombinasi gold. Senada dengan peci berwarna serupa. Itu warna pilihanku. Yang pastinya warna dan modelnya disesuaikan dengan baju pengantinku.


Sesekali dia tersenyum Dia tampan sekali mengenakannya. Beberapa kali juga dia membolak balikkan badannya. Berfose narsis seperti di catwalk menunjukkan kalau baju itu pas sekali di badannya walaupun di vidio terdengar suara temannya gedor-gedor pintu mau masuk ke dalam kamar. Mungkin sepanjang dia mengabadikan moment "fitting alone" dia mengunci dirinya sendiri dalam kamar sementara teman-temannya berada di luar.


Lalu aku membuka vidio kedua. Di vidio itu terlihat Mahfudz masih mengenakan baju pengantin itu dengan posisi duduk di atas tempat tidur. Dia mengucapkan kata "sorry" dengan kode meletakkan kepalan tangannya di dada, dan mengusapnya berbentuk lingkaran di dada sampai beberapa kali. Lalu mengucapkan I love you juga masih dengan bahasa isyarat.


Mungkin dia bermaksud membuatku tersentuh dengan melakukan itu dan akhirnya memaafkannya. Tapi sayangnya..... Ah, hatiku memang tersentuh melihatnya. Dia manis sekali melakukan itu. Oh, hati ! Kau tak bisa diajak kooperatif! Padahal aku ingin marah lebih lama lagi, sampai Mahfudz datang sendiri padaku dan merayuku agar tetap mau menikah dengannya.


Aku gemas pada diriku sendiri. Betapa gampangannya aku kalau berhubungan dengan segala hal tentang Mahfudz. Aku gampang menyukainya, gampang cinta padanya, gampang sayang, gampang marah, gampang cemburu dan gampang berbuat bodoh dan kekanak-kanakan. Dan sekarang segampang itu aku memaafkannya. Gampangan sekali bukan?


Aku membuka 3 foto lagi yang dikirim Mahfudz. Foto pertama tangan terkepal di dada, foto kedua, kedua tangan dikepal bersilang di dada, foto ketiga dengan fose sedang menunjuk ke kamera, yang pasti itu ditujukan padaku. Dan aku tau arti ke 3 foto itu. Yaitu Aku sayang padamu.


Akhirnya benteng pertahananku untuk jual mahal padanya runtuh juga saat aku mengirim chat.


[Sok ganteng!!!]


Aku pikir dia sudah tidak online lagi. Namun ternyata secepat kilat dia membalas chatku.


[😁😁😁 Aku memang ganteng dari lahir, Bu Dokter! Selera Bu Dokter memilih calon suami, bagus sekali 😉]

__ADS_1


Sisakan sedikit gengsimu, Raya! Aku membujuk diriku sendiri dalam hati. Aku tidak membalasnya lagi.


Tapi aku tau, Mahfudz pasti sedang senang sekarang karena aku tak marah lagi.


__ADS_2