I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Tindakan Apendektomy


__ADS_3

Setelah mencuci mukanya di toilet Mahfudz merasa sedikit lebih segar dari pada yang tadi. Lalu tanpa menunggu lama dia pun segera menemui pasien dan orang tuanya itu dengan diantar oleh dr. Fauzi.


"Arghhh ... sakiiit!!! Ibu ini sakiiit sekali ... Afri nggak tahaaan ..." jerit gadis kecil itu mengaduh kesakitan.


"Sabar ya nak, sabar ya sayang. Ibu ada di sini," kata sang Ibu sambil memeluk bocah kecil berusia 9 tahunan itu.


"Ini pasiennya, Dok!" kata dr. Fauzi.


Mahfudz mengangguk-angguk. Lalu dengan senyum dia kemudian berusaha membujuk sang anak sebelum memulai pemeriksaan.


"Hey, cantik, sakit banget ya, Nak?" tanyanya prihatin.


Anak itu mengangguk.


"Sakiit bangeeet ...." keluhnya masih meringis.


"Mau Om sembuhin nggak? Tapi kamu harus diperiksa dulu. Siapa namamu, sayang?" tanya Mahfudz sambil tangannya mulai menyingkap sedikit baju sang anak.


"A- Afri, Om," jawab anak itu terbata.


Masih mengajak pasien kecil itu berkomunikasi, Mahfudz segera menyingkap sedikit baju sang anak. Melihatnya sekilas saja, perut yang tampak sedikit mengeras dan bengkak itu, Mahfudz bisa mengetahui kalau memang gadis kecil itu sedang mengidap penyakit usus buntu.


"Sakitnya di mana, Sayang? Apa di sini?" Mahfud menyentuh sedikit area di sekitar pusar pasien itu.


Gadis itu meringis lagi. Dia nampak kesakitan saat Mahfudz mencoba menyentuh sedikit di area pusarnya.


"Di sini?" tanyanya lagi sembari meletakkan dua jarinya di perut kanan bagian bawah pasien itu.


Kali ini sang anak menyingkirkan tangan Mahfudz.


"Jangan, Om. Sakiiit ...." rengeknya kesakitan.


Mahfudz pun mengangguk-angguk melihat reaksi kesakitan gadis kecil itu. Sepertinya dr. Fauzi benar. Anak itu mengidap penyakit usus buntu.


"Sejak kapan ini, Bu?" tanya Mahfud.


"Dari dua hari yang lalu, Dok!" jawab sang Ibu.


"Demam?"

__ADS_1


"Sampai 40° derajat, Dok!" Kali ini dr. Fauzi yang menyahut.


"Mual, muntah, diare disertai lendir?" tanya Mahfudz lagi.


Ibu itu mengangguk mengiyakan.


Mahfudz mengangguk-angguk paham. Saat menyentuh perut anak itu tadi, Mahfudz bisa merasakan kulit anak itu terasa panas.


"Kita perlu melakukan tes penunjang untuk benar-benar memastikan kondisi Afri dulu, Bu!" kata Mahfudz pada ibu si anak.


"Sebelum menelepon dokter, kami sudah lebih dulu melakukan tes darah dan USG, Dok!" kata dr. Fauzi meyakinkan.


"Oh, begitu?" gumam Mahfudz sambil manggut-manggut. "Boleh lihat mana hasil tes darahnya?"


"Sebentar, Dok saya ambilkan. Tadi ketinggalan di IGD," kata dr. Fauzi buru-buru meninggalkan Mahfudz dan pasien untuk mengambil hasil laporan tes darah sang anak.


Lalu tak lama pun dia kembali dan menyerahkan selembar kertas itu pada Mahfudz. Mahfudz pun membaca tulisan-tulisan di kertas kecil itu dengan seksama sambil masih menguap sesekali.


"Oke, kita akan lakukan apendektomi saat ini juga," kata Mahfudz memutuskan. Dan Ibu silahkan ikut saya dulu. Ibu perlu menandatangani surat persetujuan untuk melakukan operasi ini."


Lalu sang Ibu mengikuti Mahfudz ke ruangannya dan Mahfudz pun mulai menjelaskan prosedur operasi, proses hingga komplikasi yang mungkin terjadi pasca tindakan apendektomi.


"Tapi, Dok? Apa mungkin ada kemungkinan penyakit lain selain usus buntu? Masalahnya anak saya selama ini tidak pernah mengeluh sakit perut, Dokter! Baru 2 hari ini aja dia mengalami kesakitan seperti ini," kata Sang Ibu.


"Sakit yang diderita anak ibu ini usus buntu akut bukan kronik. Akut artinya tiba-tiba, sementara kronik merupakan penyakit yang sudah ada sejak kurun waktu yang cukup lama. Dan ini adalah kondisi darurat yang butuh penanganan segera. Jadi jika Ibu sudah mengerti dan paham, silahkan ibu bisa tanda tangan segera. Oh, iya bapaknya mana? Suami Ibu maksud saya?" tanya Mahfudz karena sedari tadi nampaknya dia tidak melihat bapak dari sang anak.


"Oh ... suami saya, dia ... dia ... tidak ada di sini. Dia bekerja di luar kota, Dok, makanya nggak bisa ikut nemenin," jawab sang Ibu.


"Oh, begitu? Kalau begitu Ibu bisa hubungi suami Ibu dulu sebentar, Ibu berembuk dulu membicarakan tentang persetujuan tindakan operasi ini, kita nggak punya banyak waktu" kata Mahfud.


"Nggak usah, Dok. Saya sendiri aja yang tanda-tangan sama aja. Suami saya bekerja di tambang. Sering nggak ada sinyal telepon di sana," kata si Ibu.


Mahfudz mengangguk-angguk.


"Tapi benar, nggak apa-apa ni, kalau suami Ibu nggak diberi tahu sebelumnya?" tanya Mahfudz meyakinkan.


"Nggak apa-apa, Dok. Jadi saya harus tanda tangan di mana?"


"Di sini," Mahfudz menunjukpada lembar surat persetujan itu dengan jari telunjuk kanannya, sementara tangan kirinya menutup mulutnya yang menguap lebar.

__ADS_1


Dan akhirnya tindakan apendektomi itu pun akhirnya berlangsung di salah satu OK (Operatie Kamer) Rumah Sakit Pahlawan Medical itu.


Saat Mahfudz masuk ke ruang operasi, gadis kecil itu telah terbaring di meja operasi bersama dokter Musa, dokter Anastesi Rumah Sakit Pahlawan Medical. Gadis kecil bernama Afri itu pun telah dipasangi infus di tangannya dan selang oksigen yang dipasang melalui tenggorokan untuk membantu pernapasannya.


"Oke, kita mulai. Dek, baca Bismillah ya ... Om,akan mulai. Ini nggak akan sakit kok, sakitnya cuma dikiiit kayak digigit semut," kata dr. Musa sesaat sebelum dia memberikan anastesi untuk membius total anak itu.


"Bismillahirrohmanirrohim," ucap gadis kecil itu.


Dr. Musa mengacungkan jempolnya, dan mulai menyuntikkan anastesi melalui intravena pasien kecil itu. Hanya butuh beberapa menit bagi obat bius itu untuk bereaksi, tak lama Afri pun tertidur dalam pengaruh anastesi.


Tak lupa mengucapkan basmallah, mahfudz pun memulai operasi dengan membuat beberapa sayatan kecil di perut bagian kanan sang pasien. Gas karbondioksida pun dialirkan ke dalam perut Afri untuk memperlebar ruang dalam rongga perut. Dengan begitu, Mahfudz pun dapat melihat organ dalam perut dengan lebih jelas dan memiliki lebih banyak ruang untuk bekerja.


Mahfudz memasukkan alat laparaskop melalui salah satu sayatan untuk mencari lokasi usus buntu sementara alat lain yang diperlukan selama operasi di masukkan melalui sayatan yang lain.


Selang beberapa lama, Mahfudz pun menemukan apendiks (usus buntu). Apendiks merupakan organ berbentuk kantong kecil dan tipis, berukuran sepanjang 5 hingga 10 cm yang terhubung pada usus besar.


Usus buntu yang telah dia temukan melalui kamera laparaskop, lalu diikatnya dengan jahitan dan dia angkat lewat sayatan.


Tak ada masalah yang berarti, usus buntu yang membuat sang pasien akhirnya berhasil diangkat dengan lancar. Setelahnya laparoskop dan peralatan lainnya pun dikeluarkan. Begitu pun gas karbondioksida yang dikeluarkan melalui sayatan melalui selang kecil yang diletakkan pada sayatan untuk mengeluarkan cairan dari dalam rongga perut.


Setelah tindakan apendektomy itu selesai nantinya usus buntu yang diangkat itu akan dikirim ke laboratorium untuk diperiksa.


Sebagai tindakan akhir sayatan pun ditutup dengan jahitan dan penutupan luka jahitan dengan perban oleh asisten operator yang bertugas mendampingi Mahfudz selama tindakan.


Tak ada sesuatu yang janggal malam itu hingga Mahfudz kembali pulang ke rumahnya. Hingga selang beberapa hari kemudian Mahfudz di telepon oleh pihak Rumah Sakit Pahlawan Medical menghubunginya. Pimpinan rumah sakit langsung menghubunginya.


"Mahfudz, kamu yang jadi operator untuk tindakan apendectomy pasien anak bernama Afri Maharani dua malam yang lalu?"


"Iya, Pak. Kenapa?" Nada khawatir tersirat di setiap kalimat Mahfudz.


"Anak itu kritis, Fud. Dia koma, orang tuanya menuduh kamu melakukan mal praktik," kata dr. Prabu.


"Haaa? Apa?"


Mahfudz tercengang. Bagaimana bisa?Dia melakukan setiap pekerjaannya dengan sangat hati-hati selama ini.


***


Genre berat ini tak cukup sehari membuatnya. Hadehhh, maafkan aku reader beib. Jangan lupa dukungannya lewat like dan komentnya yaak...qj

__ADS_1


__ADS_2