
"Sayang, bangun ...."
Aku menggoncang bahu Mahfudz pelan agar dia terbangun. Mahfudz membuka matanya terlihat berat, sepertinya dia sangat mengantuk.
"Ke- na- pa, Ray? Ka- mu nggak bi-sa ti-dur? Ka-mu la-par? I-ngin ma-kan se-su-a-tu?"
Aku menggeleng. Sebenarnya aku kasihan melihatnya. Dia sangat berusaha keras menjadi suami siaga.
"Aku ingin kamu menemaniku menemui seseorang ke suatu tempat."
Mahfudz mengernyitkan keningnya.
"Me-ne-mui si-a-pa?" tanyanya.
Entah harus mulai dari mana aku menjelaskannya, tapi yang jelas ini membuatku galau.
"Nanti di sana, kamu akan tau."
Meski bingung Mahfudz tetap menuruti permintaanku. Dia mencuci muka, dan memasangkan padaku jaketnya. Aku benar- benar tersanjung bagaimana dia memperlakukanku. Namun entah bagaimana nanti kalau dia tau siapa yang ingin kami temui. Aku benar- benar harus mempersiapkan mentalku kalau Mahfudz marah akan hal ini. Kalau aku jujur aku masih berurusan dengan masalah Waridi, dia mungkin marah tapi dia tidak akan sampai menceraikanku, kan?
Kami tiba di sebuah warung tenda pinggir jalan. Ini tempat bertemu yang ditentukan oleh Akbar, namun sesuai permintaanku tempat ini ramai di pinggir jalan sehingga aku tidak khawatir kalau mereka mungkin akan mencelakai aku dan Mahfudz nanti.
Aku mencari- cari dengan mataku sampai aku menemukan Akbar di pojokan sendirian. Tentu saja dia akan sendirian duduk di sana, orang normal yang tidak mengenalnya pasti ketakutan melihat wajahnya yang terlihat kejam dan menakutkan itu.
Aku segera menarik Mahfudz dan duduk di hadapan Akbar. Mahfudz sepertinya tidak kenal dengan Akbar. Dia memandangku seperti ingin bertanya siapa Akbar.
"Kau tidak mengenalku?" tanya Akbar pada Mahfudz.
Mahfudz dengan ragu menggeleng.
Akbar menghisap rokoknya sebelum bicara lagi.
"Aku anak buah Waridi, yang dulu sempat menjebak kamu dan dr. Raya di rumah gudang itu," jawabnya tanpa beban.
Aku dan Mahfudz terkejut. Mahfudz bahkan sudah berdiri hendak menghajarnya kalau aku tidak menahannya dan menyuruhnya kembali duduk. Dan Akbar sama sekali tidak bergeming dengan sikap Mahfudz yang marah.
"Ka-u be- ra- ni se- ka- li ...." Mahfudz sangat geram pada Akbar yang terlihat santai walaupun tau kata- katanya sangat berefek pada kami.
"Kenapa kau lakukan itu?"tanyaku. "Bukankah aku sudah menawarkan padamu akan mencarikanmu pekerjaan yang halal dan membantu meringankan ekonomimu kalau memang kamu dalam situasi yang sulit? Kenapa kau melakukan itu padaku? Kau menjebakku dan Mahfudz. Ya Allah, apa kau tau situasiku saat itu dan Mahfudz? Itu benar- benar sangat memalukan!"
Akbar tersenyum sementara Mahfud semakin terlihat kesal karena senyuman itu.
"Walau memalukan tapi ada hikmahnya juga kan? Kalian akhirnya menikah. Dan mungkin tidak akan lama lagi kalian akan memiliki baby. Dan aku belum mengucapkan selamat untuk itu. Kalau begitu sekalian di sini aku ucapkan selamat atas pernikahannya dan kehamilannya dr. Raya."
Ya Tuhan, apa dia bercanda?
"Hikmah sih hikmah. Jodoh itu sudah ada yang mengatur. Maksudku adalah efek perbuatan kalian itu. Apa kau tidak berfikir betapa malunya aku saat itu? Ya Allah ...."
Aku benar- benar depresi mengingatnya.
"Aku minta maaf kalau itu benar- benar sangat membuatmu malu. Tapi aku sudah berusaha semaksimal mungkin untuk meminimalkan hal yang memalukan itu terjadi. Asal kau tau saja, Waridi menginginkan kau dan Mahfudz di buat dalam kondisi tak mengenakan apa- apa sama sekali, kau mengerti maksudku? Polos .... Tanpa sehelai benang pun," katanya dengan gerak penyerta yang membuatku sampai menganga.
Wajahku merah dibuatnya. Ya Tuhan, aku tidak bisa membayangkan kalau benar yang Akbar katakan, aku akan lebih sangat- sangat malu daripada yang kurasakan dulu.
"Aku tidak bermaksud sombong, tapi kalian harusnya berterima kasih padaku. Karna aku hanya membuka jilbabmu, dan membuka baju suamimu. Itu tidak seberapa, Waridi bahkan tidak peduli seandainya waktu itu salah satu dari kami anak buahnya atau mungkin ramai- ramai memperkosamu. Kau tidak tau Waridi, ketidakmanusiawiannya sudah sampai pada level yang mungkin tidak bisa diterima oleh akal sehatmu," kata Akbar membuatku merinding.
"La-lu tu-ju-an kit-a ber-te-mu di si-ni a-pa?" sela Mahfudz terdengar tak suka.
Aku meraih tangannya dan menggenggamnya untuk menenangkannya.
Akbar menghisap lagi rokoknya dan menyemburkan asapnya membuatku khawatir dan spontan mengambil tissue untuk menutup sistim pernapasanku.
"Aku ke sini sesuai apa yang dijanjikan dr. Raya di rumah gudang waktu itu. Dia bilang dia akan memberikanku pekerjaan kalau aku berhenti bekerja pada Waridi. Aku ingin berhenti mengerjakan pekerjaan- pekerjaan kotor di sisi Waridi," kata Akbar.
Mahfudz menatapku. Aku menghela napas melihat tatapan tajam itu. Dia pasti sedang berusaha mengontrol dirinya untuk tidak memarahiku.
"Bukankan janji itu harusnya sudah kadaluawarsa?" kataku. "Aku menawarkannya padamu saat itu karena terharu pada niat baikmu yang ingin menolongku keluar dari situ. Tapi lihat? Pada akhirnya aku keluar dari situ dengan kondisi yang tidak baik- baik saja. Pertolonganmu pada akhirnya tidak dibutuhkan disitu."
__ADS_1
"Apa penjelasanku tadi kurang? Apakah usahaku membuatmu untuk tidak terlalu malu dan mencegah anak buah Waridi yang lain melakukan hal yang buruk yang mungkin akan kau sesali tidak layak untuk diapresiasi? Ahh, baiklah. Berarti pertemuan kita ini tidak mencapai kesepakatan. Dan .... Aku juga sedikit menyesal mengirim saksi kunci Ayuni padamu. Kalau begitu aku pergi saja ...."
Akbar akan bangkit dari duduknya dan Mahfudz terlihat marah sekali karena akhirnya apa yang selama ini membuat Mama khawatir dalangnya adalah Aku.
"Ra-ya!!!!" kecamnya dengan geram.
Aku hampir tidak berani melihat pandangan Mahfudz.
"Kau duduklah dulu! Kita bicarakan ini lagi," kataku pada Akbar.
Aku beralih pada Mahfudz yang terlihat sangat geram padaku. Dia pasti sangat marah mengetahui keterlibatanku lagi dalam urusan Waridi.
Aku menyentuh lengan Mahfudz. "Sayang, maafkan aku. Aku tadinya sudah tidak ingin lagi meneruskan ini. Tapi Fuad, dia keras kepala sekali. Entah, bagaimana ceritanya dia bisa bertemu Ayuni. Tapi sumpah itu bukan aku yang suruh! Aku juga sudah melarang Fuad membawa Ayuni tapi dia tidak mendengarkanku."
"La- lu ke- na- pa ka- u ti- dak me-nga- ta- kan i- ni pa- da- ku? Ka- u bah- kan mem- be- ri me-re- ka u-ang ? Ke- na- pa ti- dak ki- ta kem- ba- li- kan sa- ja A-yu-ni i-tu pa- da Wa-ri di?"
Ya ampun, dari mana Mahfudz tau aku memberikan Fuad uang?
"Sayang, aku rasa mengembalikan Ayuni ke sana bukan hal yang tepat. Kau tidak tau apa yang dilakukan Waridi padanya. Dia melecehkannya, memperkosanya sampai hamil, dan tidak tau apa yang akan dilakukannya nanti kalau Ayuni kembali padanya. Mungkin dia akan lebih menyiksanya, aku tidak bisa membayangkannya ...."
"Ting-gal la-por po-li-si. Ma-ka se-mu-a be-res. Ja-ngan mem-ba-ha-ya-kan di-ri de-ngan ber-u-ru-san sa-ma Wa-ri-di, ku mo-hon ...." bujuk Mahfudz.
"Waridi bukan orang semudah yang kau pikir," kata Akbar menimpali. "Meski kau sudah tidak mau berurusan dengannya, selama di hatinya ada dendam padamu. Maka itu artinya urusan di antara kalian tidak akan pernah selesai. Kau ingat kado pernikahan berisi bangkai kucing? Dan kado ucapan selamat berisi kucing hamil yang perutnya dikeluarkan semua. Itu kiriman dari Waridi."
Kerongkonganku rasanya tercekat mendengar pengakuan Akbar tentang Waridi. Aku memang sudah menduganya. Tapi aku tetap kaget mendengar penyataan Akbar. Terlebih- lebih Mahfudz dia sangat shock mendengarnya.
"Ka-lau be-gi-tu ki-ta la-por sa-ja ke po-li-si. I-ni ter-ror!" kata Mahfudz dengan marah.
"Polisi?" Akbar tertawa terkekeh. "Polisi di wilayah ini ada di bawah kendalinya. Bahkan Walikota pun yang menggerakkan kekuasaannya adalah dia."
Aku tak bisa berkata apa- apa lagi mendengar kata- kata Akbar.
"Kenapa? Kalian heran? The power of money. Kekuatan uang lebih tinggi dari pada jabatan. Kau tak akan bisa menang darinya kalau kau tak bisa bermain strategi. Waridi itu ...." Akbar memelankan suaranya terdengar lirih hampir tidak kedengaran lagi. "Dia itu punya kelainan."
Aku menutup mulutku sendiri agar tidak sampai mengeluarkan suara yang bisa mengundang perhatian orang lain di sini. Aku tau informasi yang diberikan Akbar harus sebanding dengan yang akan dia terima.
Akbar menghela napas. "Kesembuhan istriku."
\*\*\*\*\*\*
FLASHBACK ON
"Kak Sri, Ayah sudah pulang?" tanya Waridi.
Usianya 9 tahun kala itu. Dia baru pulang sekolah.
"Su- sudah." jawab Sri gugup.
Kak Sri sepertinya hendak mandi. Terlihat dari tubuhnya yang bagian pinggang ke bawah terlilit handuk.
"Oh, sekarang Ayah di mana?" tanya Waridi lagi.
"Ngapain kamu nanya Ayah?"
Tiba- tiba sosok Ayah yang dicari Waridi muncul dari dalam kamar. Hanya memakai sarung saja. Sepertinya Ayah sedang tidur siang dan terbangun mendengar suaranya.
"Ayah, Waridi minta uang jajan. Sore ini Waridi mau ke tempat Ibu, nginap di sana. Besok baru pulang."
"Ah, kamu itu. Giliran akhir pekan maunya sama Ibumu. Tapi minta uang jajannya sama Ayah, kamu ini gimana sih?"
Waridi tertawa. Dia tau meski Ayahnya ngomong begitu, tetap saja uang yang di mintanya akan diberi.
Waridi anak yang tumbuh tanpa pernah kekurangan uang. Ayahnya adalah salah satu pejabat penting di kecamatan ini. Orang yang juga memiliki tanah dan kebun yang luas di daerah sini.
Ayah dan Ibunya memutuskan bercerai tahun lalu. Entah karena apa. Tapi Waridi lebih suka ikut dengan Ayahnya. Karena dia dimanja. Dan lagi dia diperbolehkan mengunjungi atau menginap di rumah Ibunya yang hanya berjarak beda dua desa dari rumahnya kapan pun dia mau.
Di rumah ini mereka hanya tinggal berempat. Waridi, Ayah, Kak Sri dan pembantu rumah tangga Bik Sumi. Kak Sri adalah anak kandung Ayah dari istrinya yang pertama. Usianya masih sekitar 13 tahun.
__ADS_1
"Bik Sumi nggak bisa pulang aja setelah ngantar Waridi ke tempat Ibu?" tanya Sri.
"Tidak bisa, Non. Bapak bilang Bik Sumi harus jagain Den Waridi."
Sri terlihat gelisah.
"Lagi pula kenapa sih, Non? Kan Bibik cuma semalam aja di sana. Besok juga pulang!"
"Bingung aja mau makan apa besok pagi, Bik. Nggak ada yang masakin," jawabnya kelu.
"Oalah masalahnya itu saja, toh? Dadarin telor aja, Non. Atau beli lontong sayur di ujung jalan pasti ada."
Sri tersenyum kelu. Malam ini akan menjadi malam yang terasa sangat panjang dan menyakitkan untuknya.
Setiap sabtu malam Waridi selalu menghabiskan malamnya di rumah Ibunya yang telah bersuami lagi. Namun malam itu berbeda dari malam- malam biasa dia menginap di sini. Ibu dan bapak tirinya kebetulan bertengkar habis- habisan karena masalah perempuan. Masalah orang dewasa adalah masalah yang rumit. Dan lebih rumit lagi kalau kebetulan dilihat oleh anak- anak. Demikian pun yang dirasakan Waridi. Pertengkaran sang Ibu dan suaminya pun sangat mengganggu ketenangan hatinya. Dia gelisah berada di sini, dia ingin pulang saja ke rumah, ke tempat yang lebih tenang. Dan tanpa menghiraukan Bik Sumi lagi Waridi menyambar sepeda milik Ibunya dan mengayuhnya pulang ke rumah sendiri.
Sesampai di rumah pun, rumah terlihat sepi. Waridi mengetuk pintu. Tak ada yang menjawab. Apa Ayah dan Kak Sri sudah tidur? Tapi kenapa cepat sekali? Ini baru jam 8 malam.
"Kak Sri?!! Ayah!!"
Tak ada jawaban.
Waridi memutuskan untuk masuk lewat pintu belakang. Dengan menggunakan kawat sebagai pengait, Waridi berhasil membuka pintu dapur meski pintu itu terkunci dari dalam. Dapur dalam kondisi gelap karena kalau malam sudah tak ada aktivitas di dapur atau di ruangan lain, lampu memang selalu dimatikan di rumah ini.
"Ayah .... Ampun ayah .... Jangan .... Sri mohon jangan! Sudah!"
Sayup- sayup Waridi mendengar suara itu dari arah kamar Bik Sumi. Kamar Bik Sumi memang ada di ruangan paling belakang rumah ini, persis di dekat dapur.
Waridi mendekat ke asal suara itu. Lampu kamar itu menyala dan dia bisa melihat dengan jelas apa yang terjadi di kamar itu tanpa sepengetahuan Ayah dan Kak Sri. Sesuatu yang membuat batin dan mentalnya terpukul dan mengubahnya menjadi seseorang yang berbeda di kemudian hari. Seseorang yang bejat dan tak berprikemanusiaan.
Waridi bersembunyi di bawah kolong meja makan saat dia melihat Ayahnya keluar dari kamar itu dan memperbaiki sarungnya. Keberadaannya terlindung karena cahaya lampu tidak menyentuh dirinya.
"Kau jangan coba- coba berani mengatakan ini pada siapa pun! Atau aku tidak akan segan- segan membunuhmu, memotong- motong tubuhmu dan membuangnya ke hutan!!!" ancam Ayahnya pada Kak Sri.
Sri dalam kamarnya hanya bisa menangis dan entah mengapa suara tangisan Sri itu terdengar merdu di telinga Waridi. Dari celah pintu kamar yang terbuka, Waridi bisa melihat Sri yang tanpa busana menangis dan perlahan- lahan mengumpulkan bajunya satu persatu.
Tak ada satupun yang melihat seringai di senyum anak kecil itu dari gelapnya dapur. Tak ada satu pun yang menyadari setelah malam itu, Waridi selalu mencari- cari tau kapan moment seperti itu bisa disaksikannya lagi. Dan beberapa kali dia memiliki kesempatan untuk melihat lagi moment hubungan incest itu berlangsung. Mengintip bagaimana Ayah memperkosa kak Sri yang mana adalah putri kandungnya sendiri.
Hingga di suatu waktu, Waridi menyaksikan sendiri ayahnya mencekik Sri hingga tak bernapas. Dan menggantungnya di pohon belakang rumah. Gadis malang yang diketahui tengah hamil itu oleh masyarakat dikira bunuh diri karena tak kuat menanggung aib, hamil di luar nikah yang entah oleh siapa. Dan pada saat itu pun Ayahnya bisa membereskan kekacauan itu tanpa bantuan polisi.
FLASHBACK OFF
Dan Waridi? Dia menikmati hidupnya dengan menuruni bakat psikopat Ayahnya. Mengangkat dan mengadopsi anak- anak panti asuhan dan menjadikan mereka objek kelainan seksualnya karena dia sendiri tidak memiliki anak perempuan. Dengan mengangkat anak- anak panti itu sebagai anaknya dan memanggil dia ayah, dia bisa berfantasi seolah- olah dia melakukan hubungan incest dengan mereka.
Setelah Ayahnya meninggal, dialah satu- satunya pewaris dari kekayaan ayahnya, dia mengembangkan bisnisnya di berbagai sektor dan maju mencalonkan diri sebagai Wakil Walikota selama dua periode. Targetnya berikutnya akan mencalonkan diri sebagai gubernur tahun depan.
Waridi tidak bisa tidur mengenang itu semua. Dia menatap istrinya yang tidur di sebelahnya itu. Istri boneka yang telah memberikan dia putra. Istri yang tidak pernah dia tertarik padanya secara seksual, karena sang istri ini sejak dinikahinya adalah sosok dewasa, sementara Waridi menyukai sosok- sosok gadis remaja yang memanggilnya ayah. Itu membuatnya bergairah. Waridi menikahi istrinya sampai saat ini semata- mata hanya sebagai topeng untuk menutupi kelainannya yang tersembunyi di mata dunia. Cinta? Waridi tidak kenal apa itu.
Perlahan- lahan Waridi turun dari ranjang agar istrinya tidak terbangun. Mengingat masa lalu membuatnya tiba- tiba bergairah ingin meluapkan hasrat dan fantasinya terhadap salah satu anak asuhnya. Saat ini di kota ini cuma ada Rini yang bisa melayani nafsu anehnya itu. Terus terang saja Rini juga sebenarnya sudah tidak menarik lagi untuk dijadikan objek kelainannya. Sebab Rini pun sudah terlalu dewasa sekarang. Usianya sudah 26 tahun. Ayuni pun sudah berusia 20 tahun dan sedang kabur pula.
Justru gadis yang menarik bagi Waridi saat ini dan ingin dia incar adalah Ariesta Pratiwi, adik dari Arini Veronika. Dia sudah pernah meniduri gadis itu beberapa kali, dengan ancaman akan menyiksa dan membunuh kakaknya kalau dia memberi tahu pada orang lain. Dia melakukan itu saat dia ada urusan ke kabupaten tempat asal Rini. Urusan bisnis gelap kulit trenggilingnya dengan Willy, salah satu saudagar perdagangan barang- barang illegal di sana. Di sana dia menyempatkan diri berkunjung ke panti asuhan tempat Rini dibesarkan dan mendapat cerita kalau adiknya Rini Tiwi telah tumbuh jadi gadis remaja yang cantik. Itu membuatnya penasaran dan menyuruh anak buahnya menjemputnya di sekolah luar biasa tempat anak itu menimba ilmu.
Namun bagaimana caranya agar dia bisa bebas berbuat pada anak bisu dan tuli itu? Rini pasti tidak akan pernah membiarkannya. Itu membuat Waridi hampir gila memikirkannya.
Segera Waridi ke depan. Hanya ada Gogo dan kedua security yang menjaga rumahnya.
"Akbar dimana, Go?" tanyanya.
"Sepertinya malam ini dia pulang ke rumahnya, Pak! Katanya udah lebih seminggu nggak ngunjungi anak istrinya," jawab Gogo.
Waridi manggut- manggut.
"Kalau begitu kamu aja yang nyupirin aku," perintahnya.
"Kemana, Pak?" tanya Gogo setelah berada di dalam mobil.
"Rini."
__ADS_1