
Para wartawan ini benar-benar membuat aku kerepotan hingga harus menghabiskan waktu yang agak lumayan lama meladeni pertanyaan mereka yang sangat tertarik dengan kehidupan pribadi kami maksudnya. Beberapa dari mereka bahkan hampir membuatku marah karena tak percaya pada pernyataanku bahwa hubungan pernikahan antara Mahfudz dan aku baik-baik saja. Terus maunya apa? Masa iya aku harus mengaku bahwa pernikahan kami sedang tidak baik-baik saja sementara kami memang tidak pernah ada masalah yang berarti dalam hubungan rumah tangga. Kami malah sedang hangat-hangatnya akhir-akhir ini, uppss!! Hihihi, tapi itu sebelum Mahfudz tersandung kasus malpraktik ini.
"Saya sudah jawab semua pertanyaan yang mewakili rekan-rekan media semua, sekarang boleh saya kembali bekerja, hmm? Anu ... harap dimengerti, saya ini sama saja dengan anda-anda semua yang berada di sini, cari makan di rumah sakit ini. Entar kalau pimpinan marah sama saya karena nggak profesional dalam bekerja, gimana donk?" kataku merandah dengan mimik pura-pura sedih.
"Ahh, dokter mah suka merendah. Kan masih ada dr. Handsome, Dok?" sahut wartawan lain menggodaku.
Baru saja aku ingin menjawab selorohan itu, tiba-tiba celutukan seorang wartawan membuatku hampir mati kutu.
"Dr. Mahfudz katanya udah beberapa hari nggak masuk kerja. Bahkan di TV17 pun dokter Mahfudz nggak siaran kemarin. Menurut kabar yang saya dengar katanya dr. Mahfudz tersandung kasus mal praktik, bener nggak tuh, Dok?"
Pertanyaan dari wartawan itu tak hanya membuatku terkejut melainkan membuat para wartawan lain juga tak kalah kaget. Lapangan parkir itu yang dipenuhi gerombolan mereka tiba-tiba menjadi berisik. Antara wartawan yang satu dengan yang lain saling bertanya apakah benar kabar yang baru saja dilontarkan oleh wartawan itu padaku.
Aku sendiri menjadi gugup.
__ADS_1
"Dokter! Dr. Raya? Benarkah itu, Dokter?"
"Kasus malpraktik apa yang menimpa oleh dr. Mahfudz, Dokter?" tanya yang lainnya lagi.
"Apa ini yang menjadi alasan dr. Mahfudz menyembunyikan diri? Apa dr. Mahfudz sedang berusaha lari dari tanggung jawab?"
Pertanyaan terakhir ini begitu menyakitiku. Mahfudzku bukan orang seperti itu. Dia tak pernah lari dari tanggung jawab. Tuduhan itu saja sudah sangat menyakitiku, apalagi dia nanti?
"Maaf, ya! Suamiku tidak pernah lari dari tanggung jawab! Kalau memang dia ada masalah, dia akan bertanggung jawab sampai akhir. Jadi tolong jaga mulutnya ya, Mbak!" kataku tersinggung.
Aku rasanya masih ingin mengajak berdebat wartawan itu saat seseorang menyelamatkanku dari situasi itu.
"Dr. Raya!" panggil seseorang.
__ADS_1
Dari suaranya aku tahu itu siapa. Lalu untuk memastikan aku pun menoleh dan melihat orang itu.
"Ternyata kamu di sini. Kamu dari mana aja? Jam untuk ishoma kayknya udah selesai. Jangan korupsi waktulah, Dok ..." selorohnya.
"A-ali?" gumamku gugup.
Ali mengernyitkan keningnya padaku seakan memberi kode.
"Eh, maksudku dr. Ali," ralatku.
"Udah, ayo! Sudah ditungguin tuh sama professor!" ajak Ali. "Maaf nih kawan-kawan wartawan, dr. Raya saya bawa pergi dulu boleh ya? Kami ada rapat yang sangat mendesak," katanya lagi.
"Yaahhh... padahal dr. Raya belum jawab. Sebentar lagi, boleh ya? Please ... please ..." Seorang dari wartawan itu berusaha memohon agar diberi waktu lebih untuk bertanya kejelasan tentang perihal Mahfudz padaku.
__ADS_1
***
Masih kurang fit, jadi pendek-pendek nih othor setor bab-nya.