
Pov Mahfudz
Jam di kantin sudah menunjukkan hampir jam 12 malam ketika kami berada di sana. Kantin itu tidak seramai waktu siang. Malam ini pun hanya beberapa meja yang terisi. Dua meja diantaranya adalah kami para koas yang mengisinya.
"Kamu nggak mesan apa-apa, Mir?" tanya Anita pada Mira.
Keduanya teman koasku di stase obgyn. Hanya saja minggu ini kami berada di ruang yg berbeda. Minggu ini aku di poli sementara keduanya bertugas di VK.
Mira menggeleng sekali-kali terlihat mual dan akhirnya berlari ke toilet.
"Kenapa dia?" tanya Abidzar.
"Ohh ...Tadi Mira disuruh dokter Raya bersihkan fesesnya pasien pas ada persalinan di VK. Mira itu jijik'an orangnya," kata Anita.
Mereka otomatis terdiam melihat yang dibicarakan keluar dari toilet kantin di belakang.
"Kamu nggak apa-apa, Mir?" tanya Anita .
Mira menggeleng walaupun wajahnya terlihat galau. "Aku nggak apa-apa. Tapi aku takut Dr. Raya marah. Kamu nggak lihat waktu dia pelototin aku tadi?Begini ...." Mira memperagakan cara dr. Raya mempelototinya.
"Habis kamu pake nunjukin segala kalau kamu mau muntah. Ihh, kamu itu nggak sopan banget tau .... Pasiennya mana cucunya Professor lagi. Bisa-bisanya kamu berlaku nggak sopan, sok mau muntah segala," kata Anita.
"Aku bukannya berniat ga sopan, Nit, tapi itu spontanitas .... Spontan kamu tau, nggak?Siapa sih yang nggak tiba-tiba jijik coba ngelihat ada kotoran manusia di depanmu, belepotan di kepala bayi itu lagi. Andai aku bisa tahan pasti ku tahan. Tapi itu kan... Alahh kamu pun pasti jijik kan? Cuma kamu nggak kelihatan sama matanya dr. Raya aja," Mira membela diri.
"Tapi memang itu adalah tugas seorang nakes tau .... Mau tidak mau harus berhubungan dengan hal-hal yang menjijikkan yang kotor seperti nanah, darah, borok ...."
"Udah, Udah .... Ah .... Jangan bahas yang jorok-jorok. Apalagi dekat makanan gitu. Jadi pengen muntah lagi aku kan ...." kata Mira.
Aku diam saja mendengar mereka bicara. Sambil membalas chat WA keponakanku tersayang, Nadya.
[Om Mahfudz, kapan pulang? Nadya kangen]
Aku tersenyum lalu membalas.
[Lusa ya, Om masih di rumah sakit belajar jadi dokter yang baik biar bisa bikin bangga Nadya]
Aku mengantongi hpku.
"Siapa Fud? Pacarmu?" tanya Abidzar.
Aku menggeleng dan menulis di kertas yang kubawa kemana-mana.
[Keponakanku]
"Oh, tak kirain pacarmu Fud," katanya sambil meninju pelan lenganku.
"Eh, tapi aku dengar dari Dewi, katanya, itu pasien adalah cucunya Professor. Bu Tya namanya. Tadi sore dia sempat kelahi sama Dr. Raya. Katanya dr. Raya itu pelakor yang mau merebut suaminya Bu Tya. Katanya lagi sih, suaminya Bu Tya dokter disini juga. Benar nggak sih, Fud? Kamu di stase poli obgyn juga kan tadi, pas Bu Tya drop karena kelahi sama dr. Raya?" tanya Nita padaku.
Aku menggeleng mengangkat bahuku. Pertanda aku hendak berkata tidak tau. Kadang-kadang ada juga sisi positifnya dengan kondisiku yang seperti ini. Bisa ngurang-ngurangin ghibah.
"Ahh, kamu bohong ahh .... Masa kamu nggak tau? Kamu kan tugas di poli juga tadi" tanya Mira tak percaya.
Aku cuma tersenyum dan memberi isyarat dengan menunjukkan kedua jariku yang telunjuk dan tengah membentuk huruf V, sambil berkata "Su-er
... A-ku ng-gak ta-u."
"Ahh, Mahfudz .... Kamu nggak asyik ahh ...." kata Anita ngambek karena tak berhasil mendapat informasi dariku.
__ADS_1
"Aku nggak nyangka dr. Raya kayak begitu. Padahal dia cantik, populer dan mapan, tapi kenapa harus merebut suami orang sih? Kayak nggak laku aja," kata Desi yang sedari tadi diam karena sibuk dengan gadgetnya.
"Eh, tapi aku dengar sih katanya justru Bu Tya yang merebut pacar dr. Raya sampai menikah .... Dengar-dengar, laki-laki itu mengincar posisi penting di rumah sakit ini makanya sampai menikahi Bu Tya," kata Mira memelankan suaranya pada kalimat terakhir.
"Siapa yang kalian maksud pelakor???!!!"
Kami semua yang mendengar suara itu langsung terlonjak kaget dari tempat duduk. Suara itu berasal dari jendela kantin di dekat meja kami.
Aku tertawa melihat ekspresi teman koas yang kaget setengah mati mendengar hardikan itu. Bisa kubayangkan pasti jantung Anita dan Mira hampir copot mengira kalau hardikan itu berasal dari dr. Raya.
"Berani-berani sekali kalian menggosipkan dr. Raya dan cucu professor. Kalian bosan hidup ya? Atau pengen berhenti koas dari rumah sakit ini?"
Seorang perawat tiba-tiba memunculkan wajahnya di jendela dan kemudian masuk ke kantin menghampiri meja kami.
"Ahhh... Nggak, nggak kok, Kak! Kakak pasti salah dengar. Kami nggak ngomongin dr. Raya, kok. Kami ngomongin tetanggaku. Iya kan? Iya kan? Mir?" Anita memberi kode ke Mira untuk mengiyakan.
Mira yang panik pun langsung mengiyakan "Iya. Iya Kak. Bukan dr. Raya obgyn yang kita maksud tapi dokter yang lain..."
"Oh, ya??? Kamu kira telingaku budeg gitu?Aku dengar kalian ngomongin dr. Raya sama Bu Tya. Ohh..iya kalian juga ngomongin dr. Ali ....Tunggu aja sampe mereka tau kalau diomongin kayak gini sama anak koas tengil kayak kalian. Tamatlah riwayat kalian!" ancamnya sambil memperagakan gerakan memotong leher.
"Kakak .... Kakak, jangan gitu donk .... Plis .... Plis .... Jangan bilang sama dr. Raya. Ya? Ya? Pleses!" Anita memohon sambil menyatukan kedua tangannya memohon ampun.
"Kenapa, Ta?" teman perawat yang tadi menghampiri kami rupanya tadi dia sedang memesan makanan ke ibu kantin.
"Mereka sedang menggosip, Sar" kata perawat yang bernama Dita pada temannya itu.
"Oh, ya? Ngegosipin apa?" tanya Sarah kepo.
"Mereka sedang ngegosipin dr.Raya dan Bu Tya. Mau tau mereka bilang apa?" tanya Dita.
Sarah mengangguk antusias.
Sarah kaget. "Haaaaa??? Berani sekali kalian yang cuma anak koas menggosipkan dr. Raya? Kami yang perawat lama saja di sini, nggak berani melakukan itu! Wah .... Wah
... ini nggak bisa dibiarkan. Anak-anak ini harus kita berikan pelajaran, Ta, biar tau diri dikit. Orang tua susah payah nyarikan duit buat belajar yang benar, ngekoasin kalian juga butuh biaya banyak, tapi sekarang malah nyampe sini cuma bisa ngegosipin hal nggak berguna. Ayo, Ta!Kita laporin aja ke dr. Raya. Nggak sopan banget ni anak sama konsulennya."
Sarah menarik tangan Dita mengajaknya pergi.
Anita refleks menarik tangan mereka dan Mira pun ikut melakukan hal yang sama. Mereka pasti akan melakukan apa pun untuk menahan kedua perawat ini agar tidak melaporkan apa yang mereka dengar ke dr. Raya.
"Kakaaaak, jangan!!!!! Jangan laporin kami .... Bisa tamat riwayat kami kalau dikasih nilai jelek dan nggak dilulusin sama dr.Raya nanti. Plis .... Plis .... Jangan lakuin itu! Kami akan menuruti apa pun yang kakak suruh! Tapi pliss donk! Jangan kasih tau ke dr. Raya. Kami nggak akan mengulanginya lagi. Kami janji mulai sekarang kami akan mengunci rapat-rapat mulut kami. Beneran, Kak!"
Kedua perawat itu membalikan badannya, tidak jadi pergi. Dengan senyum licik tentunya di wajah mereka. Mereka saling melempar kode.
"Benar? Yang kalian bilang tadi?"
"Benar, Kak! Kami nggak akan mengulanginya lagi."
"Bukan yang itu."
"Terus apa? Yang mana?"
"Kalian bilang tadi akan melakukan apa pun?"
Anita, Mira dan Desi pandang-pandangan. Mereka punya firasat bakal ada hal yang nggak ngenakin terjadi sebentar lagi.
"I- iya .... Kak" kata mereka tak punya pilihan.
__ADS_1
"Apa pun?"
Dita tersenyum licik dn penuh kemenangan.
"I- Iya ...Kak!"
Ketiganya merasa terpaksa mengiyakan.
"Ok. Kita deal! Kami nggak akan melaporkan apa yang kami dengar malam ini ke dr.Raya, Bu Tya apalagi ke dr. Ali. Dan juga ke Professor. Tapi mulai sekarang kalian harus menuruti apa pun yang kami minta, iya kan, Sar?"
Sarah mengangguk senang. Dan Anita kelihatan orang yang paling merasa bersalah. Karena dia lah yang paling banyak bicara tadi.
"Ok, permintaan pertama
... Apa, Ta?" tanya Sarah pada Dita.
Dita tersenyum menyebalkan. "Dedek-dedek koas yang manis. Kamu, kamu, kamu, kamu dan kamu
...." Dita menunjuk ke kami satu-satu.
"Bantuin kami di bangsal nanti. Poli kan udah tutup, Vk juga. Jadi nggak masalah kan ya bantuin kami sekali-sekali di bangsal?"
Aku dan Abidzar sama kaget. Loh? Kenapa kami jadi kebawa-baw
"Loh, Kak! Kami kan nggak ikut ngomongin dr. Raya? Kami nggak ikut-ikutan, ah ...." protes Abidzar.
Aku juga ikut mengangguk protes.
"Lalu kenapa?" tanya Dita acuh. "Kamu kan ikut dengar? Apa bedanya sama mereka yang ngegosipin. Tapi terserah aja sih kalau nggak mau juga. Tapi kalau kamu saya ikutkan dalam daftar nama anak koas yang ngomongin dr. Rayaaa .... Kira-kira dr.Raya percayanya sama aku atau sama kamu yaaa ....?"
Dita manggut-manggut seolah bertanya pada diri sendiri. Padahal dia berkata begitu bertujuan mengancam dengan cara halus.
Abidzar akhirnya menyerah. "Ya sudah, ya sudah .... Aku ikut bantuin di bangsal, tapi cuma buat malam ini aja ya?" katanya sambil melotot jutek pada Anita dan Mira seolah-olah berkata "ini gara-gara kalian".
"Ayo, Fud! Kita ke bangsal!" katanya sambil merangkul bahuku. Aku manut saja mengangguk. Toh, kami nggak punya pilihan lain.
"Eits .... Tunggu dedek koas .... Buat malam ini aja, tolong bayarin pesanan kakak Dita sama kak Sarah ya, adek-adekku yang manis! Itu pesanannya udah selesai" kata Sarah menunjuk dua bungkus nasi beserta es teh dalam plastik yang telah di letakkan Ibu kantin di atas meja kosong.
Haaa????
Sebelum kami mulai protes lagi Sarah buru-buru bicara lagi. "Itu semua cuma 30 ribu aja kok. Kalau kalian patungan berlima, kan cuma enam ribuan aja, Dek? Masa sama kakak sendiri pelit. Di rumah sakit ini loh kita semua sudah kayak keluarga" katanya terkikik sambil menyeret siku Dita agar pergi duluan.
"Keluarga gundulmu!!" maki Abidzar pelan. Dan aku mendengarnya.
Aku mengeluarkan uang 10 ribuan. Lalu membentuk tanda tambah dengan kedua jariku menyuruh Abidzar menambahi 2 ribu lagi.
"Makasih, Fud!" Abidzar faham maksudku. Dia mengeluarkan selembar uang dua ribuan dari kantongnya dan menyerahkan uang dua belas ribu itu pada Anita.
"Ini dari aku dan Mahfudz .... Gara-gara kamu ini" katanya menyalahkan.
"Maaf, Bi ...."rengek Anita memelas.
Pasal pertama anak koas selalu salah,
Pasal kedua anak koas selalu salah,
Pasal ketiga kembali lagi ke pasal pertama dan kedua.
__ADS_1
Itulah sedikit cerita kakak-kakak seniorku di kampus yang sekarang sudah pada jadi dokter semuanya. Dan sekarang aku mengalaminya sendiri. Nasib .... nasib, gerutuku dalam hati.