I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Dr. Kim Areum


__ADS_3

"Jadi dokter Kim Areum sudah tidak buka praktek lagi di sini?" tanya Akbar kecewa.


Mengecewakan! Ternyata sia- sia usahanya mengorek keterangan dari Anton untuk mendapatkan alamat praktek dokter bedah plastik yang telah merekonstruksi wajah Anton sehingga menjadi mirip Fuad dan Mahfudz. Tadinya Akbar berpikir jika dia bisa mendapatkan alamat dokter bedah itu, ia bisa mendapatkan informasi tentang dugaan Waridi yang mungkin telah merekonstruksi wajah seseorang untuk mirip dengannya. Jauh- jauh dia datang kemari, akhirnya hanya berakhir sia- sia.


"Sejak kapan itu, Bu?" tanya Akbar lagi pada Ibu pemilik toko sembako di sebelah ruko kosong yang tadinya adalah tempat praktek dokter bedah plastik asal Korea Selatan itu.


"Sudah beberapa bulan yang lalu, Pak." jawab Ibu pemilik toko itu.


"Ibu tau pindah kemana?"


Sang Ibu hanya menggeleng membuat Akbar semakin menghela napas panjang. Ternyata sesulit ini mengorek informasi tentang Waridi.


Mengetahui kedatangannya hanya sia- sia belaka, Akbar memutuskan untuk sebaiknya pulang. Namun rasa lapar membuatnya ingin mampir sebentar ke sebuah warung tenda di seberang jalan. Perjalanan ke ibu kota memakan waktu hampir 10 jam perjalanan melalui perjalanan darat. Dan dia dari tadi malam belum sempat makan sama sekali sejak berangkat hingga sampai di tempat ini.


Sembari memesan makanan dengan secangkir kopi, Akbar menelepon Fuad.


"Aku mendapatkan alamat prakteknya, tapi sepertinya Waridi telah lebih dulu gerak cepat memindahkan tempat praktek dokter itu," kata Akbar melaporkan.


"Jadi bagaimana selanjutnya?" tanya Fuad di seberang sana.


"Entahlah, nanti kupikirkan lagi. Aku mau makan dulu, perutku lapar sejak kemarin belum makan."


"Oke, makanlah dulu, Bang. Jangan terlalu dipikirkan, kita masih punya waktu beberapa bulan lagi sampai pemilu. Ngomong- ngomong nanti siang aku juga akan ke Kopilum (Komisi pemilihan Umum). Aku ingin mendaftarkan diri jadi calon legislatif untuk periode 5 tahun ke depan."


"Itu keputusan yang bagus," puji Akbar.


"Ya, aku juga perlu mendekati orang- orang di Kopilum untuk tau strategi Waridi untuk memenangkan pemilihan gubernur kali ini. Jadi Abang doakan saja aku," kata Fuad.


"Tentu, baiklah. Aku tutup teleponnya dulu. Kau lanjutkan saja misimu di sana. Dan jangan lupa kabari andai kau punya informasi sekecil apa pun."


"Pasti."


Usai menelepon Fuad, Akbar segera menyantap makanan yang telah di pesannya. Selepas itu, ia pun masih memesan segelas kopi untuk menemaninya memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan dilakukannya. Saat ia sedang asyik menyeruput kopi panasnya, pandangan matanya tiba- tiba tertuju ke seberang jalan. Waridi! Dia melihatnya.


Lelaki itu baru saja diantar keluar oleh salah seorang perempuan berwajah oriental dari lorong samping ruko. Waridi terlihat hanya memakai kemeja biasa. Dia terlihat seperti sedang menunggu seseorang, atau jemputan?


Tanpa banyak berpikir Akbar segera bergegas keluar ingin mengejarnya, namun sayangnya tindakannya itu ditahan oleh pemilik warung.


"Eh, mau kemana, Mas? Bayar dulu donk, jangan mau kabur aja!" kata pemilik warung itu menahannya.


"Ah maaf, Bu! Sebentar! Saya ingin mengejar orang itu dulu, sebentar lagi saya kembali untuk bayar," kata Akbar tidak sabaran.


"Eh, nggak bisa gitu doank, Mas! Bayar dulu pokoknya. Jangan banyak alasan biar Mas bisa kabur, ya!" kata sang Ibu pemilik warung tak percaya.


Akhirnya mau tidak mau Akbar terpaksa mengurungkan niatnya sebentar untuk mengejar Waridi. Dia mengambil dompetnya dan mengeluarkan uang lima puluh ribuan dari sana.


"Ini, Bu!" katanya sembari memberi uang itu tidak sabaran.


"Kembaliannya , Mas!" seru si pemilik warung.


Akbar tak menyahut melainkan segera berbalik badan ingin mengejar Waridi. Namun saat dia berbalik badan dan siap menyeberang, Waridi sudah tidak ada di sana. Lelaki itu telah hilang dari pandangannya. Namun Akbar masih sempat melihat pintu pagar samping ruko yang sedang didorong oleh wanita itu hingga tertutup. Sialan! Padahal sedikit lagi!


Segera Akbar menelepon Fuad lagi. Fuad yang sedang berada di kantor Kopilum mengangkat tema teleponnya.


"Aku melihatnya di sini!" kata Akbar dengan napas yang terengah- engah menahan amarah karena kehilangan kesempatan mengejar lelaki yang pernah jadi bosnya itu.


"Siapa maksudmu? Waridi?" tanya Fuad tak percaya.


"Hmm ...." sahut Akbar.


"Dia di ibu kota? Yang benar saja. Saat ini aku sedang melihatnya di kantor Kopilum! Kalau Abang nggak percaya, ku kirimkan fotonya!" ujar Fuad meyakinkan pria itu.


Usai mengatakan itu Fuad langsung mematikan telepon dan mengambil foto Waridi yang berada tak jauh darinya. Lelaki itu sedang berbicara dengan salah satu staf kantor Walikota. Lepas melakukan itu Fuad pun mengirimkan foto itu pada Akbar.


Akbar yang menerima pesan Fuad dan telah melihat foto itu tersenyum lega dan kembali menelepon Fuad.


"Sepertinya kita telah menemukan kembar yang hilang. Aku akan menemukannya secepatnya, kau tunggu saja!"


"Maksud Abang kembar duplikatnya Waridi itu, Bang? Beneran nggak tuh yang Abang lihat? Jangan- jangan salah lihat lagi ...." kata Fuad ragu.


"Tidak mungkin aku salah lihat. Aku yakin yang aku lihat adalah orang yang kita cari. Baiklah, sekarang aku harus mencari tau, aku tutup dulu teleponnya!"


"Haaa?? Oh, iya Bang."


Fuad masih saja termangu dengan apa yang di dengarnya. Sementara Akbar kembali menyeberang ke ruko tempat praktek dr. Kim a


Areum yang katanya sudah tutup itu. Karena tidak mungkin bagi Akbar untuk menggedor ruko itu, dia berusaha memikirkan cara lain.


Waridi pasti telah mengatur sedemikian rupa agar tempat praktek dokter itu terlihat seperti telah tutup. Akbar tersenyum, sepertinya tidak ada cara lain untuk menemui dokter itu baik- baik. Akbar harus menggunakan caranya sendiri.


\*\*\*\*\*\*


"Nadya, kamu dipanggil ke ruang kepala sekolah!" kata Tami pada Nadya yang sedang asyik ngobrol dengan teman- temannya.


"Aku?" tanya Nadya bingung.


"Iya. Kamu!" jawab Tami meyakinkan.


"Kenapa, ya?" tanya Lia, temannya yang lain.


"Kamu ada bikin salah apa, Nad?" tanya Nur juga.


Nadya menggeleng ragu.


"Ya sudah, kamu buruan gih! Nanti Pak Kepsek marah, loh!" desak teman- temannya.

__ADS_1


Masih dengan pikiran dan hati yang penuh tanda tanya Nadya segera pergi ke kantor Kepala Sekolah. Pelan- pelan ia mengetuk pintu kantor yang sedang terbuka itu.


"Assalamualaikum, Pak! Bapak nyari saya?" tanyanya polos.


"Oh, iya. Kamu Nadya, kan? Masuk!" sahut Kepala Sekolah mempersilahkan Nadya Masuk.


Nadya dengan ragu- ragu masuk ke dalam ruangan itu. Dalam hatinya ia bertanya- tanya, untuk apa dia dipanggil ke situ sementara Kepsek sedang ada tamu.


"Kamu duduklah dulu," kata Kepala Sekolah mempersilahkan.


Nadya duduk di sebelah bapak- bapak yang menjadi tamu Kepseknya. Nadya tidak mengetahui kalau yang ingin bertemu dengannya hari ini adalah Waridi yang menyempatkan diri mampir ke sekolahnya siang ini.


"Pak, ini dia Nadya!" kata Kepala Sekolah. "Nadya, ini Pak Waridi. Dia wakil walikota kita. Kamu pasti sudah kenal beliau kan?"


Nadya menggeleng bingung. Sesungguhnya dia tau walikota Darwis, tapi untuk wakil walikota dia tidak begitu tahu namanya.


"Beneran kamu nggak tau sama Pak Waridi?" tanya Kepala Sekolah terdengar agak sedikit geram.


Sesungguhnya dia agak sedikit malu karena siswinya tidak mengenali wakil walikota ini, sementara yang bersangkutan menyempatkan diri untuk berkunjung ke sekolah mereka hari ini.


Lagi- lagi Nadya hanya menggeleng.


"Hahaha ... Kamu ini memang anak yang jujur. Jangan diambil serius, Pak Ilham! Saya memaklumi anak seusia Nadya ini memang belum tau banyak hal tentang dunia pemerintahan." kata Waridi dengan intonasi suara yang renyah, membuatnya terkesan kebapakan.


"Tapi Pak Waridi, anak seusianya memang sudah selayaknya tau dan mengenal nama- nama kepala daerah. Ini memang salah kami, yang sepertinya kurang memberikan mereka materi tentang pemerintahan," ujar Kepala Sekolah merendah.


Nadya menunduk malu mendengarnya. Dalam hatinya dia merasa menjadi anak yang payah karena tidak mengenali wakil walikotanya sendiri.


"Nggak apa- nggak apa. Kamu nggak perlu merasa tidak enak," kata Waridi dengan nada yang lunak seolah- olah sedang membujuk anaknya sendiri. "Kalau kamu belum mengenal saya, baiklah saya akan memperkenalkan diri saya. Hallo, nama saya Waridi Soeharsono. Saya adalah Wakil Walikota kota XXX. Nama kamu siapa?"


Nadya yang sedang menunduk mengangkat kepalanya. Ia melihat senyum ramah dan bersahabat di wajah lelaki itu. Sungguh kebapakan. Dia melihat sosok seorang ayah di matanya. Sementara papanya sendiri sekarang sudah mulai jarang memperhatikannya.


"Ayo! Perkenalkan diri kamu," kata Kepala Sekolah. "Nggak sopan loh, Pak Waridi tangannya capek kamu nggak jawab. Ayo salaman sama pak Waridi!"


Nadya segera tersentak dari pesona kebapakan Waridi.


"Eh, iya, Pak! Maaf. Sa- saya Nadya. Nadya Sastika Ningrum."


"Wah, nama yang bagus sekali." puji Waridi. "Nadya, saya dengar kamu sangat pintar di pelajaran matematika dan telah memenangkan olimpiade matematika tingkat Nasional tahun lalu. Beberapa bulan lagi, akan ada pemilihan calon gubernur dan saya akan menjadi salah satu kandidat calonnya. Untuk mensukseskan pemilu itu, saya berencana untuk menyelenggarakan beberapa acara pendukung di luar kampanye salah satunya adalah menyelenggarakan acara olimpiade tingkat Provinsi. Saya berharap kamu ikut berpartisipasi dalam acara itu."


Nadya mengernyitkan keningnya, bingung. Olimpiade matematika? Apakah wakil walikota ini spesial datang ke setiap sekolah dan mendatangi calon pesertanya satu persatu?


"Maaf, Pak! Saya waktu itu kan ikut olimpiade matematika tingkat SD. Sekarang saya masih kelas VII, di SMP ini ada banyak teman- teman yang lebih pintar matematikanya dibandingkan saya. Kenapa bukan mereka saja yang ikut? Kak Rendy dari kelas IX- 1, juga juara olimpiade matematika tingkat SMP tahun lalu, kenapa bukan Kak Rendy aja?" tanya Nadya lugu.


Waridi menelan ludah. Sepertinya tidak gampang membodohi anak ini, pikirnya.


"Kenapa? Kamu tidak ingin ikut? Hadiahnya lumayan menarik, loh. Selain mendapat beasiswa. Ada hadiah tiket umroh juga untuk peserta dan orang tuanya. Kamu nggak ingin membuat ayah dan ibumu umroh dengan hasil kerja kerasmu sendiri?" tanya Waridi serius. "Mereka mungkin akan bangga sekali loh ..."


Nadya menggeleng pelan.


"Kalau papa?" tanya Waridi lagi.


"Ngg...." Nadya enggan menjawab.


Waridi mengangguk seakan sangat mengerti. Karena sesungguhnya dia sudah mencari tau semua hal tentang gadis kecil ini.


"Kalau pun tidak ada Mama Papa lagi, tapi masih ada Nenek atau Om sama Tante kan?" pancing Waridi.


Oh, iya benar, hadiah umrohnya kan bisa buat Oma dan Om Fuad atau Om Mahfudz, pikir Nadya lugu tanpa sadar kalau pancingan Waridi telah termakan umpan.


"Gimana? Kamu nggak ingin membuat bangga Oma dan Om kamu, Mahfudz dan Fuad?"


Nadya tersentak. Bagaimana bisa wakil walikota ini kenal Oma dan kedua Omnya?


"Kok, Bapak tau? Bapak kenal sama Oma dan Omnya Nadya?" tanya Nadya polos.


Waridi tersenyum.


"Kenal donk! Om kamu dan Bapak teman baik di kantor Walikota. Bahkan Tante kamu dr. Raya, adalah dokter andalan di rumah sakit mitra kami RSIA Satya Medika. Dan lebih- lebih Ayuni istrinya Om Fuad kamu. Dia anakku. Anak angkatku. Kamu nggak pernah dengar?"


Nadya menjadi semakin bingung. Dia memang tidak pernah ikut tahu


atau lebih tepatnya Oma-nya tidak akan pernah membiarkan dia ikut dengar saat mereka membicarakan masalah orang dewasa meski pun itu terjadi di keluarga mereka sendiri.


"Jadi gimana? Kamu masih mau ikut nggak olimpiadenya?"


Nadya akhirnya mengangguk yakin.


"Iya. Nadya mau."


Waridi tersenyum senang dan mengelus rambut anak itu.


"Anak pintar!" pujinya. "Tapi untuk sementara, kamu nggak boleh ceritakan ini dulu ke keluarga kamu, ya! Biarkan jadi surprise buat mereka. Kamu pasti pengen melihat wajah bahagia mereka karena prestasi kamu, kan?"


Nadya mengangguk mengiyakan.


"Iya, Pak! Saya nggak akan ceritakan dulu ke Oma dan Om Fuad sama Om Mahfudz." kata gadis itu girang.


"Satu lagi!" kata Waridi. "Kamu juga bisa panggil saya Papa juga loh, Ayah juga boleh!"


Nadya tertegun. Papa? Ayah?


"Wah, Pak Waridi memang seperti yang diceritakan banyak orang. Sangat mulia dan baik hati. Nadya, kamu harus banyak bersyukur dan berterima kasih pada Pak Waridi. Tidak semua pemimpin sebaik Pak Waridi." puji Kepala Sekolah.


"I- iya, Pak! Terima kasih, Pak!"

__ADS_1


"Kok Bapak lagi sih? Panggil saya Ayah!"


"A- ayah?"


\*\*\*\*\*\*


Dr. Kim Areum tersentak dari tidurnya saat merasakan sesuatu yang dingin menempel di lehernya. Perlahan dengan ketakutan dia membuka matanya.


"Ka- kau siapa?" tanyanya dengan logat yang walaupun fasih berbahasa Indonesia namun masih terdengar janggal di telinga.


"Aku? Tak perlu kau tau siapa aku. Aku kesini hanya ingin bertanya satu hal tentang salah seorang pasienmu."


Dokter paruh baya itu terlihat sangat ketakutan melihat wajah sangar Akbar.


"To- tolong lepaskan aku! A- aku akan melakukan apa saja, tolong ...." katanya memohon.


"Benarkah? Baiklah. Aku akan melepaskanmu setelah menjawab beberapa pertanyaanku. Jangan berpikir untuk macam- macam. Atau kau akan kubunuh di sini tanpa seorang pun yang tau. Orang- orang sepertinya mengira kalau ruko ini telah kosong. Jadi kalau kau mati,tidak akan ada yang mencarimu," kata Akbar menakut- nakuti.


"I- iya. Katakan apa maumu!"


Akbar mengambil ponselnya dan menunjukkan foto Waridi pada dokter itu.


"A- aku tidak kenal dia," bantah dokter itu.


Akbar tersenyum sinis.


"Oooo .... Tidak kenal rupanya? Kalau begini, apa kau kenal?"


Akbar menggores sedikit leher wanita itu dengan pisau tajamnya sehingga dari goresan itu keluar sedikit darah tanpa melepaskan tempelan pisau itu dari lehernya.


"Ah, ja- jangan! Jangan celakai aku ....!


"Dr. Kim, bekerja samalah. Aku tidak tau berapa banyak Waridi membayarmu. Walaupun aku tidak bisa membayarmu, tapi aku juga bisa melaporkan tempat praktekmu yang illegal ini. Dan sepertinya kalau aku boleh menebak, mungkin kau juga adalah imigran gelap disini, betul?" Akbar terdengar mengancam.


Dr. Kim Areum semakin ketakutan mendengar ancaman itu.


"Masih bagus kalau kau dideportasi. Bagaimana kalau kau malah dipenjara di negara ini, dan tidak bisa keluar bertahun- atau yang terburuk adalah kau mati terbunuh di tanganku malam ini, hmm?"


"Ba- baiklah. Apa yang ingin kau tau?" tanya dr. Kim menyerah.


"Apa benar dia menyuruh seseorang merekonstruksi wajah hingga mirip dengan dirinya?"


"Kalau i- itu saya tidak tau. Orang itu datang ke sini dan minta dirubah wajahnya agar mirip dengan lelaki ini." jawabnya terbata.


"Kau bohong! Orang yang difoto ini yang datang langsung membawa seseorang agar wajah orang itu dirubah agar mirip dirinya, kan?" tanya Akbar tak sabar.


"Ti- tidak! Dia datang sendiri minta di rubah wajahnya seperti di foto. Aku belum pernah bertemu langsung dengan orang yang difoto!"


"Jangan berbohong!!!" bentak Akbar. "Kalau kau tidak kenal pada Waridi, tidak mungkin tempat praktekmu dibuat seolah- olah telah tutup! Dan ini, apa kau juga kenal dia?"


Akbar memperlihatkan lagi foto Mahfudz.


"Waridi juga yang membawanya ke sini kan?"


Sekarang dr. Kim terlihat bingung. Sepertinya dia tidak bisa berbohong lebih lama lagi.


"Jadi, katakan. Di mana alamat orang yang mirip Waridi ini?" tanya Akbar dengan nada mengintimidasi.


"A- aku tidak tau di mana alamatnya." Jawab dr. Kim.


"Kau berbohong lagi!"


"Ti- tidak. Aku tidak berbohong. Mereka pasien selalu datang ke sini tanpa meninggalkan alamat. Khusus orang itu, Pak Rudi. Dia bahkan tidak meninggalkan nomor ponselnya. Jadi kalau mau kontrol dia sendiri yang akan datang sesuai jadwalnya tanpa perlu dihubungi lagi. Aku benar- benar tidak tau alamatnya. Bahkan kalau pun kau membunuhku sekarang. Aku benar- benar tidak tau." katanya dengan raut wajah ketakutan.


"Lalu bagaimana caranya agar aku bisa bertemu dengannya? Kalau kau bisa mengupayakannya aku akan lepaskan kamu sekarang."


"A- aku benar- benar tidak tau ...."


"Tidak tau?"


Akbar menekan kembali pisau itu sehingga menggores leher itu semakin dalam. Darah semakin menetes.


Sambil merangkul leher wanita itu Akbar memaksanya ke ruang kerja wanita itu. Mencari beberapa map- map berisi berkas- berkas. Disitu memang tidak ada data pribadi tentang pria bernama Rudi itu. Tapi Akbar menemukan dokumen- dokumen penting milik dokter itu dan beberapa pasien- pasiennya.


"Aku akan bawa beberapa dokumen penting ini dan akan kupastikan kamu menyesal setelahnya." ancam Akbar.


"Mungkin, mungkin kamu bisa bertemu dengannya untuk jadwal kontrol berikutnya," ujar dr. Kim.


Dia menyerah. Tak ada gunanya melindungi orang lain sementara dirinya sendiri terancam.


"Kapan itu?" desak Akbar.


"Tiga bulan lagi," jawab dr. Kim.


"Haa? Tiga bulan lagi? Kau bercanda?" Akbar terlihat marah.


Dr. Kim menggeleng.


"Dia pasti datang tiga bulan lagi ke sini. Aku bisa jamin itu."


Tiga bulan lagi? Yang benar saja ...


\#bersambung\#


Maaf ya reader, KPU author ganti dengan singkatan Kopilum untuk menghindari kesalahpahaman 😂

__ADS_1


__ADS_2