
Pov Raya
Mobil ini melaju membawa aku dan Mahfudz ke kantor polisi. Sungguh memalukan apa yang terjadi saat ini. Bagaimana mungkin aku dan Mahfudz bisa tertidur dalam kondisi berpelukan. Aku dibangunkan oleh tim polres dan mendapati diriku sedang berada di pelukan Mahfudz yang bahkan tidak memakai baju. Aku bahkan tidak memakai hijab. Dan kini duduk berdampingan di dalam mobil terasa sangat canggung. Sesekali goncangan dalam mobil membuat tangan kami saling bersentuhan. Sehingga aku merasa perlu menjauhkan tanganku darinya. Di dekat pintu mobil sebelah sana, duduk seseorang berwajah sama dengan Mahfudz, dia Fuad, kembaran Mahfudz yang turut menyaksikan kejadian memalukan ini. Meski aku tidak melihat langsung, aku tau sesekali dia melirik pandang padaku dan Mahfudz.
Sesampai di kantor polisi telah menunggu ummik dan Hawa yang langsung menyambutku. Aku tidak bisa menahan tangisku betapa aku merindukan ummik, dan betapa tak kuatnya aku menahan malu. Hawa turut memelukku dari belakang, sahabatku yang baik. Tidak jauh dari kami kulihat ada ibunya Mahfudz juga sedang menunggu, ada Nadya juga yang dulu pernah kutolong ketika di kolam renang. Andai keadaannya tidak seperti ini aku pasti menyempatkan diri menyapa mereka.
"Pak Waridi? Maksudmu bapak wakil walikota?"polisi di hadapanku ini tak percaya saat aku menyebutkan nama itu sebagai dalang penculikanku.
"Iya, pak! Saya bahkan sempat bertemu dengannya di rumah itu. Rumah itu ketika saya datang sepertinya adalah sebuah gudang"jawabku menjelaskan.
"Itu tidak mungkin Bu dokter, sangat tidak masuk akal"
"Apanya yang tidak masuk akal? Saya bahkan bertemu dengannya sekali, dia bahkan mengancam saya akan menyuruh anak buahnya memperkosa saya rame-rame, memutilasi saya dan membuang saya ke hutan, dan tadi malam anak buahnya bilang kalau Pak Waridi ingin bertemu saya sekali dan mereka menyodorkan kami cemilan dan minuman, dan tau-tau kami bangun sudah dalam kondisi yang kalian lihat"kataku marah.
Polisi itu mendengus kesal karena aku tidak percaya padanya. Dia mengambil hpnya dan menunjukkan akun instagram Waridi.
"Anda diculik 4 hari yang lalu, bu Raya, sementara Bapak Waridi sudah semingguan yang lalu berada di singapore" dia menunjukkan vidio-vidio Waridi di instagram.
Seorang polisi yang lain di meja sampingnya menyalakan tv yang melekat di dinding atas dengan remot. Acara tv di pagi hari sedang menyiarkan berita kepulangan bapak wakil walikota di bandara. Banyak wartawan yang menunggunya di sana, ingin mendapat informasi bagaimana pendapat wakil walikota tentang kasus yang menimpa putri angkatnya. Dalam vidio itu Waridi mengatakan kalau dia dan istrinya belum sempat mengunjungi putrinya karena ada urusan yang tidak bisa ditinggal di negara jiran, singapore. Dalam berita singkat itu, ia mohon maaf karena tidak bisa menjawab lama-lama pertanyaan wartawan, namun ia berjanji sesegera mungkin, dia akan membuat konferensi pers kalau keadaan anaknya sudah membaik. Aku sangat muak melihat omongan manisnya.
"Manis sekali"kataku muak."Beberapa hari yang lalu dia bahkan mengaku padaku kalau memang dia adalah pelaku yang melakukan percobaan pembunuhan pada Ayuni"
"Bu dokter Raya, hati-hati dengan tuduhan anda. Anda bisa dituntutnya dengan pasal pencemaran nama baik"kata polisi itu mengingatkan.
"Pak, saya juga bisa menuntut pak Waridi, dia telah melakukan penculikan dan penyekapan terhadap saya.."
"Itu harus ada bukti yang akurat, bu. Kami nggak bisa melakukan apa-apa karena tidak memiliki bukti yang kuat"
"Ada vidio yang viral itu kan, pak?Apa itu tidak bisa dijadikan bukti?"
Polisi itu menggeleng.
"Vidio itu tidak bisa dijadikan sebagai bukti kuat, karena dalam vidio itu tidak terekam orang lain, bu. Di vidio itu hanya ada Bu Raya sendirian tidak menunjukkan kalau ibu benar-benar diculik, dan saat kami datang kesana rumah itu kosong, dan pemilik rumah itu bukan atas nama pak Waridi."
"Jadi menurut Bapak saya menculik diri saya sendiri?? Dimana pikiran bapak? Saya benar-benar diculik dan disekap di sana selama beberapa hari, dan karena itu saya jauh dari ibu saya, saya tidak bisa melakukan rutinitas harian saya, saya menderita sekali, tapi sekarang anda tidak percaya pada saya, anda bilang anda pelindung masyarakat, tapi kalian tidak bisa melindungi saya "kataku sambil menangis putus asa.
Di meja lain Mahfudz dan Fuad juga ditanyai secara terpisah sebagai saksi.
__ADS_1
"Maaf, bu Raya, kami nggak bisa bantu, mungkin ibu bisa minta tolong bantuan detektif swasta dan menyewa pengacara kalau ibu akan memperpanjang kasus ini. Tapi saran saya jangan diperpanjang, bu dokter, yang anda hadapi adalah orang dengan kekuasaan tinggi di kota ini, itu tidak mudah, salah-salah hidup anda jadi berantakan"sarannya sambil berbisik di kalimatnya yang terakhir.
Aku terdiam memikirkan kata-kata polisi itu. Dalam diamku aku mendengar polisi di meja yang ku belakangi menanyai mahfudz.
"Jadi kamu koas di rumah sakit Siaga Medika, dia konsulenmu, lalu kenapa kamu nekad datang ke sana sendirian tanpa menunggu polisi? Apa kamu ada hubungan khusus dengannya?"
"I..dak pak.."
Aku menoleh ke belakang ke arah mereka. Mahfudz seperti menulis sesuatu di kertas.
"Hanya itu?Tidak ada hubungan yang lebih spesial begitu? Sesuatu yang lebih intim, kamu ditemukan sedang tidur berdua dalam keadaan berpelukan di sana, apa tidak ada..."
"Pak!!!"darahku mendidih mendengarnya." Bapak apa tidak terlalu keterlaluan menanyakan hal tidak sopan dan tidak layak seperti itu?Saya dan Mahfudz tidak melakukan apa-apa, kami sedang dalam pengaruh obat tidur, kalau bapak tidak percaya kita bisa tes darah saya dan Mahfudz sekarang juga, apakah ada kandungan obat atau tidak, saya ini dokter, makanya saya tau. Apa anda bilang tadi? Hubungan yang lebih intim? Apa maksud anda menanyakan hal itu? Kalau pun saya akan melakukan hal hina dan buruk seperti itu, apakah saya harus memilih tempat seperti itu?Pak!! saya masih punya cukup uang untuk check in di hotel. Kata-kata anda sangat keterlaluan. Hubungan yang lebih intim? Apa yang anda pikirkan tentang hubungan konsulen dan mahasisw koas? Anda kira saya tidak bisa mendapat lelaki yang lebih baik dan masuk akal dari dia???" Teriakku marah penuh emosi.
Aku sempat menangkap raut wajah Mahfudz saat mendengar kata-kataku yang terakhir. Sepertinya dia terluka dengan kata-kataku itu.
Aku sangat kecewa dengan kenyataan hari ini, semua ini terasa tidak adil bagiku. Laporanku terhadap Wakil walikota Waridi ditolak.
\*\*\*\*
Hari-hari yang berat kulewati, hari ini pun begitu. Wartawan yang berhasil mendapatkan fotoku dan Mahfudz sedang berpelukan itu akhirnya memuatnya dalam satu berita berjudul "Mengaku diculik, dokter ini tertangkap basah sedang beginian dengan mahasiswa koasnya"
[Ihhh nggak nyangka ya, dokter yang kemarin katanya diculik itu ternyata cuka settingan doank]
[Disaat banyak orang yang prihatin dan kasihan padanya,, eh sekalinya dia lagi senang-senang sama brondong bo..]
[Brondongnya ganteng, gimana ga ngiler coba, apalagi kan dr. Raya itu perawan tua]
[Ganteng sih ganteng tapi bisu]
[Bisu, kok bisa jadi calon dokter sih]
[Mana ku tau, mungkin dapat koneksi dari dr. Raya kali]
[Ngomong-ngomong loh dr. Raya pelakor juga]
[Ah, masa sih]
__ADS_1
[Iya aku dengar dari temanku yang kerja di SM dia juga pacaran sama rekan kerjanya yang sudah menikah]
[Ihhh...amit-amit, jelek amat sih kelakuannya, cantik-cantik dokter lagi seleranya tentang cowok nggak karu2an pantas jadi perawan tua]
[Hey..hey...tukang ghibah kalian tau apa tentang cowok, walaupu bisu walaupun suami orang, kalau kantongnya tebal yang satu goyangannya mantap dokter cantik bisa apa wkwkw]
[bisa-bisa minta lagi]
[Gatal]
[Wkwkw]
Sampai di situ aku tak sanggup scrool lagi ke bawah, itu baru salah satu chat orang-orang yang mengolok-olokku di media sosial. Sebenarnya banyak komentar positif yang mendukungku. Namun entah kenapa aku lebih fokus pada komentar negatif. Namun tetap saja aku tak bisa melakukan apa-apa. Aku juga tak bisa menuntut mereka semua yang membullyku.
"Besok kamu kerja Ray?"
Aku menggeleng. "Aku malu, mik"
"Loh, emangnya kamu ngelakuin kesalahan sehingga kamu merasa malu?"
"Tetap aja ummik, meski aku tidak salah semua orang tetap akan menganggapku salah, mereka mencemoohku, menghinaku, mereka menganggap aku cewek nakal, ummik"
"Loh, kamu sendiri merasa nggak kalau kamu kayak gitu?"
"Aku nggak sanggup, mik ketemu semua orang, aku malu pada orang-orang di rumah sakit, aku juga malu pada diriku sendiri, aku juga malu pada Mahfudz.."
"Nama anak yang bersamamu waktu itu Mahfudz?"
Aku mengangguk. Menghela nafas mengingat kejadian memalukan itu, masih kuingat bagaimana aku bangun dalam dekapan tubuhnya yang hangat.
Astagfirullah, ucapku dalam hati. Aku merasa jantungku berdebar-debar. Aku mengelus dadaku dan berharap ummik tak mendengar debaran jantungku itu.
"Jangan membenci anak itu Ray, dia itu anak yang baik, dia ke sana cuma ingin menolongmu, nak!Jarang ada orang seperti itu."
Aku diam. Meski dalam hati aku membenarkan kata-kata ummik.
"Kalian hanya sedang apes saja, kamu tunggulah seminggu dua minggu lama-lama orang lain juga akan mulai melupakan kejadian ini. Tapi kamu tetap harus pergi bekerja, semakin kamu menutup diri, semakin kamu akan kelihatan bersalah di mata orang lain, kamu harus membuktikan kalau kamu nggak salah nak, salah satunya adalah dengan caramu bersikap. Sembunyi adalah sikap orang yang takut, takut karena salah, berani karena jujur, yang penting kamu harus ikhlas atas apa pun cobaan yang diberikan Allah padamu, mungkin nanti akan ada hikmahnya"nasehat ummik padaku.
__ADS_1
"Iya ummik"