I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kabar Duka


__ADS_3

"Sayangku Yusuuuuf, selamat ulang tahuuuun"


Anak usia 6 tahun di depanku ini cemberut tak senang.


"Loh, kok mukanya gitu?"Hawa bertanya pada putranya.


"Yusuf malas sama tante Raya, mi"


"Ihh.. Malas kenapa coba? Tante kan ke sini mau ngucapin selamat ulang tahun"kataku kecewa. " Tante Raya juga bawa kado"


Aku menunjuk kado besar yang kupegang.


Yusuf melirik kado besar yang kubawa. Sepertinya dia tertarik tapi tetap enggan mendekat padaku.


"Ayo, sini..."


"Apa ini?"Yusuf mendekat.


"Sayang tante dulu coba, " aku meminta Yusuf menciumku.


Yusuf ragu-ragu menciumku dan aku balas menciumnya dengan gemas kiri kanan.


"Terimakasih tante"katanya menerima kado dariku sambil mengelap pipinya.


Hawa tertawa, "Mana mau dicium lagi dia sekarang Ray, dia sudah gedenya. Sama maminya aja nggak mau lagi kok"


Yusuf membuka kado yang ku beri dan tertawa senang melihat isin.


"Mi..."panggilnya pada Hawa. Dia menunjukkan kado robot transformers besar yang kubawa.Yusuf terlihat sangat senang.


Hari ini Yusuf ulang tahun. Aku datang pagi jam sembilan sebelum acaranya di mulai. Kebetulan aku hari ini aku tugas shift sore.


"Keterlaluan"kataku pada mas Ibrahim.


"Kekanak-kanakan"ledek mas Ibrahim.


"Mas bilang mau bantuin aku pura-pura jadi pacarku di vidio call??"tudingku.


"Kan sudah? Mas bantu pura-pura jadi pacar yang mutusin pacarnya. Hahaha"gelaknya.


"Ini bakal jadi gosip lagi di rumah sakit, hiks... Mas Ibrahim nambah penderitaanku aja" kataku sedih.


Mas Ibrahim malah makin tertawa melihatku.


"Gini Ray, mas kasih tau ya. Siapa pun laki-laki yang mau kamu panas-panasin itu, sudahi ajalah cara kekanak-kanakan kayak gitu, hadapi seperti orang dewasa. Ajak dia kencan, utarakan isi hatimu"


"Ihh, siapa juga yang mau panas-panasin dia. Aku cuma pengen dia nggak salah paham padaku, aku nggak mau dia salah paham kalau aku suka sama dia"kataku ngeles.

__ADS_1


"Lah, bukannya kamu malah bikin kesalahpahaman baru kalau caranya kayak kemarin? Laki-laki itu pasti bakal mengira kamu punya pacar kalau mas nggak pura-pura mutusin kamu kemarin. Kalau sudah nanti dia menjauh, kamu mewek..."ledeknya.


"Ais.... Coba lihat mas Ibrahim, Wa... Nyebelin deh. Siapa juga yang mewek kalau dia menjauh. Mas Ibrahim salah paham ini. Aku nggak suka dia kok. Lagi pula dia cuma anak koasku doank, itu aja nggak lebih.."omelku.


"Ooooo...Jadi ini adalah tentang anak koas yang "itu"...? yang viral karna ehmm..ehhm.." Hawa ikut andil menggodaki sekarang.


"Ehmm..ehmm.. Apa sih Wa? Kamu kan tau itu nggak benar. Aku cuma dijebak, kamu itu sahabatku atau bukan sih?"kataku jengkel.


"Ya... Dan akhirnya jebakan itu membuat cintamu terjebak juga"goda Hawa sambil tertawa.


"Ihh... sok tau"sangkalku. Tapi wajahku sepertinya memerah.


"Jadi, anak koas itu ganteng ya Ray?"bisik Hawa setelah mas Ibrahim meninggalkan kami untuk merumpi berdua. Dia tau ini adalah obrolan wanita.


"Biasa aja."kataku sambil memalingkan wajahku yang memerah ke arah Yusuf yang sedang bermain dengan sepupu-sepupunya.


"Ahhh... yang benar?"Hawa mencolekku sampai aku menghindar.


"Apanya?"kataku mengelak.


"Anak koas itu ganteng banget ya, sampai sahabatku bisa kesengsem kayak gitu?"goda Hawa.


"Apa sih, Wa? Ya...biasa aja. Kayak anak-anak koas lainnya. Memangnya di Medika Rahayu nggak ada anak koas?Ada kan?Ya begitu, aku merasa biasa aja. Sama kayak kamu melihat anak-anak koas di sana."sangkalku.


"Ya, bedalah sama aku. Aku punya mas Ibrahim yang menggetarkan hatiku, jadi nggak mungkinlah aku bisa tertarik dengan orang lain, tapi kan kamu single Ray, jadi masih sangat memungkinkan kamu menyukai seseorang yah seperti anak koas itu"


"Aku tidak suka padanya seperti yang kamu pikir, Wa. Mereka cuma dedek koas" bantahku.


Aku mendesah tak menjawab.


"Nah, benar pasti. Kamu malu karena perbedaan usia doank. Ya elah Ray, gitu aja malu. Hari gini mah jangan pikirkan perbedaan. Yang nting kamu cinta, dia cinta. Atau kamu gengsi karena status sosial?Kamu dokter, sementara dia cuma koas? Lah sebentar lagi dia bakal jadi dokter juga, masalahnya dimana?"


"Masalahnya aku nggak cinta sama dia, Wa, tapi kalian nggak percaya" bantahku.


"Ada fotonya nggak, Ray?"


"Nggak adalah. Memangnya aku siapa nyimpan-nyimpan fotonya."


"Pasti ada"kata Hawa tak percaya.


"Ck..." aku mengambil hpku dan menunjukkan foto Mahfudz yang ada di profil WA.


"Ck..ck...Katanya nggak punya tapi malah punya nomor WAnya, aku loh tau kamu nggak suka ngasih nomor ke sembarang orang, kalau bukan karena suka karena apaan?" kata Hawa sambil melihat seksama foto profil Mahfudz yang sedang duduk berpangku kaki dengan jas putihnya.


"Karena aku konsulennya"jawabku."Mereka sewaktu-waktu kan butuh nomorku kalau ada perlu."


"Kamu kasih nomormu ke semua anak koas?"

__ADS_1


Aku tak menjawab, pura-pura melihat ke arah yang lain. Memang cuma Mahfudz sih yang punya nomorku.


"Hmmm..sudah kuduga cuma dia yang punya nomormu. Dia ketua di kelompoknya?"


Lagi-lagi aku diam. Abidzar ketua kelompok mereka.


"Lumayan ganteng... Pantes Raya klepek-klepek..."


"Ahhh terserahmu ajalah, Wa.."kataku frustasi karena nggak berhasil meyakinkan Hawa.


"Tapi beneran ganteng kok, lebih ganteng dari Ali"katanya jujur.


Aku mendesah lagi "Tapi dia berkebutuhan khusus, Wa."


Hawa menatapku tak percaya. "Haa?"


"Mahfudz tunawicara."


Hawa membelalak kaget. "Masa? Tapi dia dokter muda, kok bisa?"


"Dia kecelakaan tahun lalu.."kataku tak meneruskan penjelasanku.


Hawa menatapku seperti orang yang berusaha memahamiku.


"Maaf Ray, aku nggak tau." katanya sambil mengelus pundakku.


\*\*\*\*


Aku baru masuk area rumah sakit ketika ada chat masuk di grup WA. Aku baru pulang dari rumah Hawa, menghadiri pesta ulang tahun anaknya.


[Innalillahi wainnailaihi rojiun, telah berpulang ke rahmatullah ibu Satya Wardani atau yang biasa dipanggil ibu Tya, cucu dari Professor Ayyub dan istri dari Dr.Ali Sp.PD, baru saja sekitar pukul 14.20 WIB. Mohon bagi rekan sejawat yang sedang tidak bertugas untuk dapat hadir melakukan takziah ke rumah almarhumah.]


Bagai di sambar petir, aku membaca chat WA tersebut, mengulanginya kata per kata berharap ada kesalahan di situ. Aku segera memarkirkan mobilku.


Aku berlari ke ruang ICU, suara high heels yang kupakai terdengar klotak-klotak di sepanjang koridor rumah sakit.


Aku berharap ini adalah berita yang salah. Tya mana mungkin sudah berpulang? Tya mana mungkin kamu sejahat itu padaku?Lagi, dan lagi kamu ingin menyakitiku lagi.


Aku sampai di kamar seharusnya Tya berada. Namun di sana kosong. Cuma ada dua orang perawat yang terlihat merapikan tempat tidur dan mengganti seprai.


"Bu Tya mana?"kataku terengah-engah.


"Bu Tya sudah di bawa ke rumah duka, dok! Dokter nggak mau kesana?Katanya dimakamkan sore ini juga dok. Dokter-dokter lain katanya mau takziah kesana juga sekarang"


Aku terhenyak. Hampir aku terjatuh kalau tidak segera memegang ranjang.


Aku berjalan tertatih di sepanjang koridor rumah sakit. Hampir tidak menghiraukan sapaan perawat-perawat yang menegurku.Sesampai di mobilku aku menangis tersedu-sedu.

__ADS_1


Ini salahku. Semua ini salahku!


Aku menghela nafas sebelum pada akhirnya aku menyalakan mesin mobil dan melaju menuju rumah professor Ayyub .


__ADS_2