I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kembalinya Akbar


__ADS_3

Akbar menghisap dalam- dalam rokoknya selepas panggilan teleponnya dengan Mahfudz usai. Dengan nanar Akbar menatap jari


kelingking dan jari manisnya yang tak bisa digerakkannya lagi. Dia teringat kejadian beberapa bulan lalu saat Waridi mendepaknya dari rumah dinasnya setelah menyuruh anak buahnya yang lain mengeroyok dan menghajarnya hingga babak belur. Lelaki itu memang tidak membunuhnya. Namun akibat kejadian itu dua jarinya mengalami kerusakan syaraf sehingga tidak bisa digerakkan lagi. Dan lepas kejadian itu Waridi memaksanya untuk pergi sejauh mungkin dari kota ini kalau Akbar tidak mau Waridi mengganggu dia dan keluarganya lagi.


Dan 4 bulan telah berlalu, Akbar telah kembali lagi tanpa sepengetahuan Waridi. Hutang budinya pada dr. Raya dan rasa sakit hatinya pada Waridi mendorongnya untuk datang kembali ke sini. Dia harus menyelesaikan kesepakatannya yang tertunda dengan dr. Raya untuk menjatuhkan Waridi, membuat psikopat itu mendapatkan bayaran atas semua apa yang telah dilakukannya pada orang- orang yang telah ditindas dan diperlakukannya semena- mena.


*Flashback on*


Berawal beberapa waktu yang lalu, Akbar kembali lagi ke kota ini. Dia ingin membayar hutangnya pada dr. Raya dan ingin mendatangi dokter itu di rumah sakit Siaga Medika, namun setelah bertanya pada staf di sana itu pun dengan harus menyamar sedemikian rupa, Akbar pun memperoleh informasi kalau dokter itu telah tidak bekerja lagi di sana, melainkan telah pindah ke rumah sakit baru, RSIA Satya Medika.


Dengan sangat hati- hati Akbar pun berusaha ingin menemui dokter cantik itu, namun dari hasil pengamatannya Akbar tau, kalau Waridi masih memata- matai wanita itu dan untuk menghubunginya melalui ponsel seluler pun dia tidak berani lagi. Sebab saat Waridi mengetahui kerja samanya dengan dr. Raya waktu itu, salah satunya adalah dikarenakan dari panggilan telepon antara dia dan dokter Raya dulu. Siapa yang menyangka kalau Waridi akan berani menyadap nomor ponsel dr. Raya, mengingat itu adalah tindakan melanggar hukum? Bagaimana caranya tiada seorang pun yang akan tau, kecuali Waridi dan kekuasaannya.


Beberapa hari memata- matai dr. Raya, berupaya mencari kesempatan agar ia bisa mendekati dan mendatangi dokter kandungan itu, hari itu ia melihat Mahfudz mengantar Raya ke rumah sakit. Dan setelah diperhatikan ternyata anak buahnya Waridi tidak mengikuti Mahfudz, yang berarti fokus utama mereka kali ini hanya pada dr. Raya. Akbar lantas mengikuti Mahfudz dan mendatangi pria itu di rumah sakit tempat ia koas. Seperti dugaannya pria itu langsung terkejut akan kedatangannya. Setelah mengutarakan niatnya pada Mahfudz, yakni ingin melanjutkannya rencananya dengan dr. Raya sekaligus membayar hutang budinya yang didapati hanya gelengan kepala dan penolakan Mahfudz.


"Ma-af Bang, ta- pi ka-lau tu-ju-an-nya A-bang i-ngin ber-te-mu Ra-ya ha-nya i-ngin be-ru-ru-san la-gi de-ngan Wa-ri-di, a-ku ti-dak bi-sa mem-per-te-mu-kan ka-li-an. Dan a-ku ti-dak a-kan se-tu-ju Ra-ya be-ru-ru-san la-gi de-ngan le-la-ki i-tu. Cu-kup ka-mi ke-hi-la-ngan a-nak ka-mi. Ra-ya su-dah sa-ngat men-derita ka-re-na a-nak-nya me-ning-gal ka-re-na di-do-rong o-leh An-ton da-ri tang-ga," jawab Mahfudz dengan lidah kelu.


Mengingat kembali peristiwa itu seperti seakan membuka kembali luka yang belum kering. Perih hatinya mengingat saat- saat dia menggendong bayi mungil cantiknya yang sudah tidak bernyawa lagi ketika itu.


Akbar cukup terkejut dengan berita itu. Jadi begitu, bayinya dr. Raya meninggal karena orang bernama Anton itu? Siapa dia? Apa dia orang suruhan Waridi? tanyanya dalam hati.


"Maaf Mahfudz, aku tidak tau kalau bayimu dan dr. Raya .... Ahh .... Aku jadi merasa bersalah karena tidak bisa melindungi kalian. Padahal istriku selamat dari kanker dan sehat justru karena bantuan dari dr. Raya. Aku benar- benar minta maaf, Mahfudz." ucap Akbar tulus.


"Nggak a-pa- a-pa, Bang. I-tu su-dah tak-dir. Ta-pi ka-lau bi-sa a-ku mo-hon ja-ngan me-li-bat-kan Ra-ya la-gi, a-ku ti-dak ma-u di-a ce-la-ka la-gi," kata Mahfudz sendu.


Akbar membuang napasnya pelan.


"Baiklah, Mahfudz, kalau memang itu maumu. Aku tidak bisa memaksa. Dan ini kukatakan bukan karena ingin memprovokasimu. Meski kamu dan Raya sudah tidak mau berurusan dengan Waridi, tetapi percayalah dia akan tetap mengganggu kalian. Sekali berurusan dengan satu orang selamanya orang itu akan menjadi musuhnya. Aku mengkhawatirkan kalian. Waridi tidak akan melepaskan dr. Raya. Tak ada pilihan lain untuk menghadapi psikopat itu selain menghancurkannya sekalian." kata Akbar mencoba meyakinkan.


"Tapi, Bang ...."


"Ok, kamu tidak harus bekerja sama denganku kalau kamu tidak mau Mahfudz. Aku bisa bekerja sendiri tanpa harus melibatkanmu dan dr. Raya. Namun aku butuh satu informasi lelaki yang tadi kamu sebutkan. Anton, siapa dia?" tanya Akbar penasaran.


Dan jadilah Mahfudz menceritakan tentang Anton, lelaki yang mirip dengannya dan Fuad. Semua berawal dari masalahnya dengan Tiwi yang tenyata adiknya Rini yang berujung kesalahpahaman hingga membuat dia bersangkutan kasus hukum karena melakukan pencabulan dan pelecehan terhadap gadis dibawah umur.


"A-ku ki-ra A-bang ta-u ma-sa-lah itu. I-tu sam-pai ma-suk be-ri-ta di se-mu-a te-le-vi-si na-sio-nal. A-ku ja-di ta-ha-nan ko-ta ka-re-na i-tu," kata Mahfudz.


Akbar menggeleng. "Aku tidak tau itu. Setelah aku ketahuan Waridi sekongkol dengan dr. Raya, dia menyuruh anak buahnya yang lain mengeroyok dan menghajarku dan menyuruhku pergi sejauh mungkin dari kota ini hingga kami harus pergi ke pelosok daerah yang jarang tersentuh berita. Kamu lihat ini?"


Akbar menunjuk kedua jarinya, membuat Mahfudz tersentak.


"Kenang- kenangan dari Waridi. Sudah tidak bisa digerakkan lagi."


Mahfudz masih saja terpana. "Ma- ma-af, a-ku ti-dak ...."


Akbar tersenyum.


"Jangan menatapku dengan kasihan begitu, Mahfudz. Lelaki tidak butuh dikasihani. Ayolah, aku butuh informasi lebih. Ini bukan cuma tentang kamu dan dr. Raya. Ini juga tentang pertarunganku dengan Waridi. Jadi Anton ini benar- benar mirip denganmu?" Akbar semakin penasaran.


Mahfud masih menatap jari- jari Akbar.


"Hmmm, i-ya. Da-ri in-for-ma-si yang di-da-pat Fu-ad da-ri-nya. Di-a di-su-ruh Wa-ri-di re-kons-truk-si wa-jah se-hing-ga mi-rip de-ngan ka-mi. Se-be-lum-nya me-mang di-a te-lah me-mi-li-ki ke-mi-ri-pan de-ngan ka-mi. Ta-pi se-te-lah re-kons-truk-si wa-jah men-ja-di se-ma-kin le-bih mi-rip la-gi." kata Mahfudz menjelaskan sambil menunjukkan foto Anton dari ponselnya.


Foto itu ia dapat dari media- media surat kabar lokal dan internasional yang heboh memberitakan tentang masalah itu beberapa waktu lalu. Heboh karena kemiripan yang dia punya dengan Fuad dan Mahfudz. Namun mengapa mereka mirip, beritanya tidak pernah diangkat oleh media. Mungkin juga karena telah disabotase oleh Waridi agar publik tidak curiga pada apa yang telah dilakukannya.


Akbar memperhatikan dengan seksama foto itu. Benar- benar mirip Mahfudz.


"Lalu dimana dia sekarang?"


"Di pen-ja-ra, ta-pi a-ku ti-dak ya-kin A-bang bi-sa me-ne-mui-nya. Ka-re-na a-ku ya-kin di-a pas-ti a-da-lah ta-ha-nan is-ti-me-wa sa-at i-ni. A-bang yang bi-lang kan, ke-po-li-si-an dae-rah si-ni be-ra-da di ba-wah ken-da-li Wa-ri-di? Wa-ri-di ti-dak a-kan mem-bi-ar-kan o-rang la-in un-tuk me-ne-mui-nya."


Akbar manggut- manggut. Benar juga, Waridi akan menutup akses bagi orang lain untuk bisa menemui orang bernama Anton itu. Akbar harus mencari cara agar dia bisa berbicara dan bertatap muka dengan pria itu. Orang yang bernama Anton itu pastilah memiliki informasi penting tentang Waridi.


Sejak saat itu Akbar mulai berkomunikasi intens dengan Mahfudz, walaupun Mahfudz tidak mau dilibatkan dalam hal ini dan dia juga tak mau dr. Raya tau. Akbar juga turut merasakan bahagia saat tau dr. Raya hamil terlebih- lebih saat mengetahui kalau Mahfudz dokter muda itu telah bisa berbicara normal seperti orang lain pada umumnya.

__ADS_1


Kambalinya Akbar ke kota ini dengan rencana ingin membalas Waridi tentu dia butuh bantuan dari anak- anak buah Waridi yang dulu juga adalah bawahannya. Tetapi sayangnya tak ada satu pun yang bersedia membantunya, bahkan Gogo juga. Meski begitu, mereka berjanji untuk tidak memberi tahu Waridi kalau dia sekarang telah berada di kota ini lagi.


Disaat- saat Akbar telah merasa menemui jalan buntu, entah darimana datangnya ide itu, beberapa hari lalu terpikir olehnya tentang Anton yang disuruh oleh Waridi untuk rekonstruksi wajah yang mirip dengan musuhnya. Lalu jika dia bisa melakukan itu pada orang lain, tidakkah mungkin kalau Waridi juga melakukan itu terhadap dirinya sendiri? Maksudnya, mungkinkan dia juga menyuruh seseorang merekonstruksi wajah yang mirip dengan dirinya juga?


Ya, ya, ya .... Kenapa tidak pernah terpikir olehnya hal itu? Jika benar dugaannya tentang hal itu, pasti itu akan banyak menguntungkan Waridi. Bisa berada di dua tempat sekaligus. Bisa melakukan kejahatan dan alibi secara bersamaan. Seperti dulu saat dr. Raya mereka culik? Bukankah media waktu itu menyebutkan kalau Waridi sedang berada di luar negeri? Padahal jelas- jelas saat itu Waridi ada di rumah gudang dengan mereka. Waktu itu Akbar memang mengira kalau itu hanya trik Waridi saja, misal memposting Vidio lama di Instagram kemudian di post dengan waktu yang sana saat kejadian dr. Raya diculik.


Ya! Tidak salah lagi. Pasti ada seseorang yang mirip dengannya. Akbar yakin itu. Dan dia harus menemukannya segera.


*Flashback off*


Akbar mematikan puntung rokoknya. Dia sepertinya butuh seseorang yang bisa diajaknya kerja sama. Dia tidak bisa mengerjakan ini semua sendiri. Fuad!Lelaki itu pasti bisa jadi partnernya. Bukankah dia telah menikahi Ayuni yang notabene adalah salah satu korbannya Waridi? Ya, Fuad pasti bersedia.


\*\*\*\*\*\*


"Kau sudah lama?"


Andra menatap gadis cantik berambut coklat itu sebelum kemudian duduk berhadapan dengannya.


Nirmala menatap tak berkedip pada Andra, membuat pria itu semakin merasa bersalah.


Setelah memesan minuman pada pelayan cafe. Andra mencoba berbasa- basi pada Nirmala.


"Gimana kabarmu, Nir?" tanya Andra.


Nirmala tertawa sinis.


"Menurutmu bagaimana? Apa menurutmu aku bisa baik- baik saja setelah tau kalau pacarku telah menikah tanpa sepengetahuanku?" dengusnya kesal.


"Oh, jadi kau .... Sudah tau?" Andra terlihat terkejut.


Nirmala membuang muka sebelum pada akhirnya membuka suaranya lagi.


"Kamu tega, ya Ndra! Bisa- bisanya kamu menutupi hal sebesar ini dariku. Kamu tau kan, kalau aku mencintai Fuad?" tudingnya.


"Maaf, Nir. Aku nggak punya wewenang apa pun untuk memberi tahumu. Aku kira malah kamu dan Fuad sudah putus baik- baik sebelum dia menikah. Dan lagi pula bukannya kita sudah nggak ada kontak lagi, ya? Kamu menyuruhku untuk menghapus nomor ponselmu kan? Aku malah heran kamu dapat nomorku dari siapa," kata Andra.


Nirmala mendengus. Andra dulunya memang pernah menyatakan cinta padanya. Dulu saat Fuad sedang PDKT dengannya, dan Nirmala yang juga sudah memilih perasan pada Fuad terang saja menolak Andra. Selain dia tidak punya perasaan pada lelaki itu, dia juga tidak mau ada kesalahpahaman antara Fuad dan Andra yang bersahabat dekat. Oleh karena itu Nirmala menyuruhnya menghapus kontak komunikasi di antara mereka dan hanya berteman sewajarnya.


"Tapi untuk masalah sepenting ini, masa kamu nggak ada niat memberitahu aku sih, Ndra? Kan kamu tau semua sosmedku? Kamu bisa DM kan? Kamu bisa inbox kan?"


Andra tidak menjawab. Dia menerima pesanan minumannya yang telah diantar pelayan cafe.


"Terus kamu mau apa sekarang?" tanya Andra to the point. Dia tau percuma memberi alasan dan penjelasan pada Nirmala. Dia pasti sedang kalut saat ini.


"Beri tahu aku, nomor ponsel Fuad dan alamatnya!"


"Kamu mau ngapain?" tanya Andra curiga.


"Aku ingin meluruskan hubunganku dengan dia, Ndra. Jangan menghalangiku. Aku nggak mau ditinggalkan dan dicampakkan begitu saja seperti ini."


"Nir, sudahlah. Fuad sudah menikah. Percuma kalau kamu ingin melakukan sesuatu padanya. Aku nggak mau kamu dianggap pelakor oleh orang lain!"


"Pelakor??? Aku bukan pelakor, ya! Perempuan itu yang merebut pacarku. Dan aku cuma ingin bicara denga Fuad. Aku ingin tau, apa alasannya melakukan ini padaku. Aku ingin tau apa salahku. Kamu nggak akan mengerti, posisiku kalau kami tidak pernah merasakannya sendiri."


Lagi- lagi Andra tidak bergeming.


"Kamu nggak usah cerewet, deh. Kasih aja aku nomornya Fuad dan alamat rumahnya."


\*\*\*\*\*\*


Setelah penuh perjuangan meminta alamat rumah dan nomor ponsel Fuad pada Andra, Nirmala pun berusaha menghubungi kekasihnya itu. Namun lelaki itu sepertinya tidak menghiraukannya setelah tau dia yang menelepon. Hingga akhirnya keesokan harinya, disinilah Nirmala berdiri. Nirmala sekarang sedang berada di depan rumah dr. Raya Sp.OG.


"Jadi, dr. Raya adalah kakak iparnya Fuad?" gumam Nirmala.

__ADS_1


Nirmala melihat ponselnya yang bergetar. Itu telepon dari Fuad. Dia tersenyum sedih. Ternyata Fuad harus diancam dulu baru mau merespon dirinya. Lelaki itu pasti panik sekarang saat Nirmala mengirimkannya foto rumah dr. Raya dengan sebuah kalimat ancaman


[15 menit lagi kamu nggak kesini, aku sendiri yang masuk dan ngomong sama istri kamu!]


Dan setelah kalimat itu, Nirmala mengirim kembali sebuah foto dirinya dengan Fuad. Foto dia dan Fuad sedang berciuman mesra layaknya sebagai pasangan kekasih.


[Kamu masih ingat moment waktu itu, kan sayang?]


Terang saja Fuad yang membuka pesan itu langsung gelagapan dan tancap gas pulang. Foto itu adalah foto terakhir dia bertemu dengan Nirmala. Foto saat ulang tahun Nirmala, saat itu gadis itu tengah menuntutnya untuk menjalin hubungan yang lebih serius. Nirmala menuntutnya untuk dibawa ke rumahnya untuk diperkenalkan pada Mama.


*Flashback on*


"Ad, kamu sudah janji ke Mami, kalau sudah selesai kuliah kamu akan bawa Mama kamu ke rumah buat kenal sama keluarga aku. Sekarang apa salahnya kalau kamu bawa aku ke rumahmu buat ketemu sama Mama kamu duluan?" tanya Nirmala kala itu.


"Aku bukannya nggak mau, sayang. Tapi kalau saat ini aku khawatir Mama nggak akan terlalu Wellcome sama kamu karena kita masih kuliah. Tunggu selesai wisuda, ya! Aku pasti akan bawa kamu ke rumah, kok!" bujuk Fuad.


"Kita kan sudah skripsi juga, bentar lagi juga kelar. Terus kita bakal jarang ketemu nih sekarang. Masa iya, rumah pacarku aja, aku nggak tau." keluh Nirmala.


"Sabar, pasti kubawa kok. Aku janji. Kamu fokus aja dulu sama skripsi, biar nanti IPK-nya bagus. Jadi nanti aku bisa banggain kamu ke Mama. 'Ma, ini calon menantu Mama. IPK-nya paling tinggi loh di kampus'. Gitu sayang," kata Fuad ngeles.


Nirmala tak bisa memaksa lagi. Dia hanya cemberut mendengar segala alasan Fuad.


"Memang harus banget ya punya IPK tinggi biar bisa jadi menantu Mama kamu?"


"Iya, donk. Mahfudz aja yang gagu gitu calon istrinya dokter di SM loh, masa aku yang ganteng gini, nggak boleh berharap punya pacar yang bisa dibanggakan ke Mama?"


Fuad mencubit kecil pipi gadis itu.


"Pokoknya kamu harus fokus di skripsi dulu. Mungkin kita akan jarang ketemu sih sekarang. Tapi untuk sementara nggak apa- apa kan?"


"Terus kalau aku rindu gimana?" tanya Nirmala.


Fuad tersenyum dan meraih ponsel Nirmala, mengaktifkan kamera dan mengecup bibir gadis itu.


Cekrekk!!!!


"Fuad!!! Kalau ada yang lihat gimana?!!!" bisik Nirmala gemas.


"Mbok Yani ada di dapur, kan?" kata Fuad ngeles sambil mengedipkan matanya pada gadis itu.


Ya, mereka waktu itu ada di rumah Nirmala. Mami dan Daddy-nya tidak ada di rumah. Fuad memang biasa berkunjung ke rumah itu untuk ngepelin Nirmala. Orang tuanya Nirmala bukan type pengekang yang mengatur- atur dengan siapa putrinya bergaul. Asal lelaki itu baik, Nirmala boleh berpacan dengan siapa saja. Dan Fuad dipandang orang tuanya sebagai anak baik karena memiliki jabatan ketua BEM di kampus putrinya.


*Flashback off*


Nirmala membuka pagar rumah dr. Raya. Terdengar suara decitan dari pagar besi yang sudah agak sedikit berkarat pada engselnya itu.


Sementara itu di dalam rumah.


"Kayaknya ada yang datang Ayuni?"


Raya dengan kursi rodanya ingin menghampiri pintu. Namun segera ditahan Ayuni.


"Aku aja, Kak! Kakak di sini aja."


Raya mengangguk dan melanjutkan nonton televisi.


Ayuni sambil menggendong Rahmat bergegas menuju pintu. Sebelum membukanya dia melihat dari balik tirai gorden yang menutupi jendela kaca siapa yang datang.


Terkejut melihat wanita berambut coklat yang mulai masuk ke pekarangan rumah. Dan lebih terkejut lagi melihat Fuad yang tiba- tiba datang mematikan motornya dan masuk mengejar Nirmala.


Mereka mungkin tidak tau Ayuni yang tengah mengintip dari balik gorden, tapi hati Ayuni sakit saat melihat Fuad menarik gadis itu keluar dari pagar. Dan tak lama sebuah mobil berwarna ungu metalik melintas dari depan rumah. Sementara motor Fuad dibiarkan begitu saja terparkir di luar pagar.


"Siapa yang datang, Ayuni?"

__ADS_1


Ayuni tidak menjawab. Bulir- bulir air mata jatuh di pipinya. Hatinya terasa sakit kini.


__ADS_2