I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Kau selingkuh di belakangku?


__ADS_3

"Assalamualaikum, boleh saya masuk dr. Raya?" Waridi mengulang lagi ucapan salamnya saat kami semua yang berada di sini terpaku akan kedatangannya.


"Oh, ya, ya, ya .... Ayo masuk, Pak!"


Pamanku yang berkebetulan hadir hari ini mempersilahkan Waridi masuk. Paman tidak tau apa- apa tentang Waridi. Dia hanya tau acara pernikahan ini adalah acara pernikahan adik iparku yang istrinya tidak disetujui mertuaku.


Aku masih terpana saat melihat lelaki yang penuh pencitraan itu ikut duduk bersila dengan para tetua dan keluarga yang diundang Ummik dalam perhelatan hari ini. Tak lupa seseorang yang ikut bersamanya dan beberapa kali mengambil foto melalui jepretan kamera. Gila! Apa dia membawa wartawan ke sini?


Selang berbasa- basi dengan paman dan orang- orang yang tidak tahu menahu situasi kami, Waridi pun mulai fokus pada niatnya yang entah apa.


"Ayuni ...." panggil Waridi.


Situasi tiba- tiba hening menunggu wakil walikota itu melanjutkan kata- katanya.


Ayuni tidak menjawab. Dia terlihat gelisah. Sesekali dia mencoba menggigiti kukunya namun urung untuk dia lakukan.


"Papa tau, papa hanya orang tua angkat yang mengadopsimu. Papa juga minta maaf karena telah menentang hubungan kalian. Papa kira Fuad hanya ingin mempermainkanmu saja. Itu membuat Papa marah saat kamu lari dari rumah dan sampai melaporkan suami dr. Raya ke polisi. Dan terakhir melaporkan Fuad juga ke polisi. Tapi kamu jangan khawatir Papa sudah mencabut laporan itu ...."


Seriously? Drama king ini sedang memainkan peran papa yang baik? Aku tertawa terbahak- bahak. Namun, sayangnya itu hanya dalam hatiku saja. Hahaha!


"Sekarang kamu menikah, tanpa mengundang papa dan mama, apakah itu tidak keterlaluan? Bukankah kami orang tuamu juga, meski di dalam tubuhmu tidak mengalir darah kami. Bukankah selama 10 tahun ini kita telah hidup sebagai keluarga. Kau bahkan tidak ingin memperlihatkan cucu kami pada kakek neneknya? Kau tidak ingin mengenalkannya pada kakeknya?"


******** itu benar- benar makhluk tidak tau malu. Sekarang dia malah beringsut mendekati ayunan dekorasi dimana Rahmat sedang dibuai.


"Aduuuh cucu, kakek."


Perlahan dia mengangkat Rahmat dari Ayunan.


"Ck ...ck....ck... Cucu kakek yang pintar, gantengnya mirip kakeknya ini? Iya tah?" tanya Waridi meminta pendapat beberapa orang di ruangan ini.


Aku melirik pada Ayuni. Dia terlihat sangat terintimidasi oleh kehadiran Waridi. Tak bisa berbuat apa- apa. Seakan lemah dan tak berdaya. Dia seperti tidak punya keberanian apa pun untuk melawan. Kulihat pada Fuad pun, dia seperti tak berdaya juga. Dia terlihat hanya geram dan mengepalkan tangannya. Mungkin karena dia sadar ini adalah rumah Ummik. Mungkin dia takut membuat kekacauan di rumah ini.


"Kamu nggak kepengen ke rumah kakek? Nggak mau ketemu nenek? Nenek lagi sakit loh karena terlalu mikirin mamahmu," kata Waridi pada Rahmat. "Uluh... uluh...uluh... Siapa namamu, Nak?"


Aku menatap Ayuni yang seakan memberi kode padaku agar aku mengambil Rahmat dari tangan Waridi. Ayuni terlihat pucat dan gemetar sambil menggeleng- gelengkan kepalanya.


Aku segera berdiri dan menghampiri Waridi. Posisi kami sekarang berada di tengah- tengah orang yang duduk mengelilingi kami.


"Maaf Pak Waridi, sudah waktunya Rahmat diberi ASI. Bisa tolong berikan dia pada Ayuni? Ayuni!" panggilku pada Ayuni.


"Eh, i- i- ya, kak!"


Ayuni terlihat gugup menyahut panggilanku.


"Kamu berikan ASI pada Rahmat dulu. Udah dua jam kan dia nggak nyusu? Kan aku sudah bilang, walaupun anaknya masih tidur kalau sudah dua jam tetap harus dibangunkan terus diberikan ASI," omelku sambil tanganku menarik Rahmat dari gendongan Waridi dan memberikannya pada Ayuni.


"I- i- iya, Kak!"


"Di kamar aja ngasih ASI-nya," suruhku.


"I- iya."


Ayuni buru- buru membawa Rahmat ke kamar. Dan aku memberi kode pada Fuad untuk mengikuti Ayuni.


Waridi menatapku tajam. Sedikit demi sedikit citra ramah itu memudar dari wajahnya.


"Apa aku tidak boleh menemui cucuku sendiri?" tanyanya.


"Cucu?" tanyaku balik dengan geram.


Apa maksudmu cucu, ********? Dia anak biologismu! makiku dalam hati. Meskipun aku tidak akan rela dia berlagak punya hak atas anaknya Ayuni.


"Ok, aku tau kamu masih sakit hati padaku karena aku sempat melaporkan suamimu ke kantor polisi, dr. Raya! Tapi mari kita selesaikan itu dengan cara yang baik- baik. Sekarang kita sudah menjadi keluarga. Kenapa kita tidak berdamai?" ucap Waridi membuatku muak.


Suasana di ruangan ini mulai kasak- kusuk mendengar perdebatan antara aku dan Waridi. Kulihat Ummik memberi kode padaku agar aku segera menghentikan perdebatan dengan Waridi. Aku hendak mengabaikan Ummik dan membeberkan kelakuan bejat Waridi detik ini juga.


"Pulanglah! Kami sungguh tidak mengharapkan kehadiranmu dalam acara ini, Pak Waridi!" kataku berterus terang.


"Raya ... !" Tegur Paman padaku.


Waridi tersenyum dan memandangku seolah- olah dia sedang menang atas sesuatu yang aku tidak tau apa itu.


"Baiklah, aku akan pulang. Tapi bisa minta tolong antar aku sampai ke mobilku? Kebetulan ada yang ingin kutunjukkan padamu dr. Raya, sekaligus menanyakan apa pendapatmu tentang itu."


Aku tidak percaya ini. Apa lagi yang direncanakannya? Apa dia ingin menculikku begitu sampai di mobilnya?


Meski kulihat Ummik memberi kode agar jangan mengikuti Waridi, tapi nyatanya aku penasaran. Aku penasaran apa yang ingin dia tunjukkan. Aku ingin tau apa yang dia rencanakan.


"Masuklah!" suruh Waridi yang membuatku terpaku apakah aku harus masuk atau tidak.

__ADS_1


Orang- orang yang mengikutinya dilarangnya masuk ke dalam mobil, karena dia menginginkan berbicara 4 mata denganku.


Dengan memberikan diri aku masuk ke dalam mobil itu. Pintunya tidak dikunci, jadi itu membuatku sedikit lega.


"To the point, jelaskan apa maksudmu dan apa yang kau ingin tunjukkan. Mari buat semua ini menjadi jelas." kataku tanpa basa basi.


Waridi terkekeh. "Kau tidak sabaran sekali."


Aku mengabaikan tawa renyah sok ramah itu. Di telingaku tawanya terdengar menakutkan.


Waridi membuka laci dashbord mobil dan mengeluarkan amplop coklat. Dia memberikannya padaku.


"Bukalah. Dan jangan terkejut."


Aku menerima amplop itu dengan gemetar. Apa ini? Amplop itu rasanya berisi banyak kertas yang banyak dan sangat tebal. Tak sabar aku membukanya dan mengeluarkan isinya. Astaghfirullahal'adzim, ya Tuhan. Kenapa banyak foto- foto Mahfudz di sini? Foto dengan anak tuna rungu itu. Foto dengan adiknya Veronika. Foto yang tak cuma sekedar foto. Banyak foto tak pantas. Berpelukan, berciuman, dan .... dan .... Aku memeriksa lembaran- lembaran foto yang aku rasa isinya sampai 50 lembaran itu.


"Aku sudah memperingatkanmu agar jangan terkejut, tapi ternyata kau tak cuma sekedar kaget. Sepertinya kau juga shock. Hahaha ...!"


Aku menatapnya tajam. "Dari mana kau dapat ini? Perbuatanmu ini ya ampun kekanak- kanakan sekali! Kau sampai mengedit foto suamiku untuk apa? Untuk membuatku berkelahi dengan dia? Apa itu membuatmu senang?"


Waridi semakin terkekeh mendengarku.


"Kau boleh periksa keaslian foto itu, kau bisa menyewa ahli telematika kalau kau mau, tapi nanti aku jamin kau akan menangis darah ketika kau tau ini adalah foto asli. Dan ahhh .... Aku belum menunjukkan kau versi vidionya. Tunggu sebentar ...."


Waridi mengotak- atik ponselnya sebelum menunjukkan sebuah vidio padaku. Seseorang yang mirip Mahfudz, ya aku percaya itu tidak mungkin Mahfudz. Orang itu sedang menikmati hubungan intim dengan seorang gadis yang lagi- lagi itu adalah Tiwi. Ya Tuhan, apa sebenarnya yang terjadi di sini? Aku tidak percaya itu Mahfudz tapi kalau bukan Mahfudz siapa? Apa itu Fuad? Fuad tidak mungkin mengenal Tiwi kan? Dan lagi pula dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu. Senakal- nakalnya anak itu, aku yakin dia tidak mungkin melakukan itu.


Aku mengusap wajahku kasar.


"Kau jangan berusaha membodohiku. Ini bukan Mahfudz!" kataku tegas.


"Berarti kalau begitu dia Fuad?" tanya Waridi manggut- manggut lagi.


Aku menatapnya tidak senang. Aku ingin membantah keduanya.


"Dari mana kau dapat ini?" tanyaku kesal.


Waridi tersenyum sumringah. "Aku memata- mataimu dan suamimu. Bukankah harusnya kau sudah mengetahui itu dari Akbar?"


"Ka- kau?" Aku terkejut.


"Hahaha! Apa kau pikir aku tidak akan tau tentang persekongkolanmu dengan Akbar? Sangat mudah bagiku mengetahui pengkhianatan anak buahku. Dari awal ini aneh. Ayuni bisa kabur kalau bukan tanpa bantuan seseorang. Dan aku tau kalau Akbar yang membantunya. Pengkhianat itu! Dia pikir dia pintar? Aku akan membuat perhitungan dengannya nanti."


"Apa tujuanmu melakukan ini semua? Apa kau pikir kau bisa membeli kesepakatan denganku menggunakan ini?" tanyaku murka.


"Aku tidak berniat melakukan kesepakatan denganmu, okey? Kesempatan untuk melakukan kesepakatan denganku sudah habis saat kau menolak penawaranku untuk melakukan konferensi pers itu dulu, kau ingat? Sekarang tidak ada kesepakatan lagi!"


"Lalu ini semua untuk apa?" tanyaku sambil menunjuk amplop berisi foto itu tepat di depan hidungnya.


"Oh, itu?" Waridi tersenyum lagi. "Aku hanya ingin membungkammu. Jangan berani- berani mengatakan pada siapa pun kalau anak yang dilahirkan Ayuni itu adalah anakku. Lagi pula bukankah semua sama- sama disenangkan disini? Ayuni dan adik iparmu menikah. Dan rasanya kau dan suamimu juga menikah karena aku."


"Aku tetap akan membeberkan kelakuanmu pada seluruh dunia. Bahwa kau cuma psikopat yang suka melecehkan dan memperkosa anak angkatmu. Citra sebagai wakil walikota yang baik dan mengayomi hanya sekedar pencitraan semata. Kau cuma monster yang menjijikkan!" Umpatku dalam marah.


Waridi manggut- manggut lagi sambil mengelus- ngelus dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot kasar.


"Pikirkan sekali lagi! Dengan bukti vidio dan foto- foto ini sudah pasti suami atau adik iparmu bisa saja terjerat undang- undang perlindungan anak. Gadis ini sepertinya masih dibawah umur. Kau yakin sanggup mengatasi ini semua?"


Aku menatap Waridi dengan benci. Kata-katanya itu berhasil menakutiku. Aku takut kalau ini menjadi masalah serius untuk Mahfudz atau Fuad, sementara aku belum tau apa mereka terlibat hal ini atau tidak.


"Kau sendiri tidak takut, kalau aku membuktikan pada dunia kalau Rahmat itu anakmu? Anak hasil dari kebejatanmu dengan putri angkatmu sendiri?"


"Bagaimana caramu membuktikannya?" tanyanya remeh.


"Tes DNA?" tantangku.


Waridi tertawa terbahak- bahak.


"Kepribadianku saja bisa kumanipulasi, apalagi cuma sekedar hasil tes DNA, dr. Raya! Kau sepertinya sangat meremehkanku."


Wajahku merah padam sangking marahnya. Sungguh aku benci pada lelaki ini. Aku pikir ini akan mudah. Tapi ....


Aku kembali ke dalam rumah dengan membawa amplop berisi foto- foto yang terduga isinya adalah Mahfudz atau Fuad. Waridi juga memberikan memori card berisi vidio tak senonoh itu. Katanya untuk ku selidiki keasliannya.


Acara belum selesai saat aku masuk ke dalam kamarku dan tak mau keluar lagi hingga acara usai. Aku bahkan tak menghiraukan panggilan Ummik. Aku harus memeriksa foto- foto ini satu persatu. Sialnya, beberapa foto ada beberapa yang kuyakini memang itu Mahfudz. Foto saat Mahfudz membawa Tiwi di boncengan motornya, dan anak itu memeluknya mesra. Ada lagi foto keduanya saat mereka bertemu di gerbang rumah sakit Harapan Kita, tempat koas Mahfudz yang sekarang. Dan juga foto saat mereka sedang makan es krim di bawah pohon. Ya, Allah hatiku benar- benar sakit.


Dan vidio itu, aku benci melihat wajah mirip Mahfudz yang terlihat sangat menikmati sedang berada di atas tubuh telanjang gadis cilik itu.


\*\*\*\*\*\*


"Ra- ya! Bu- ka pin-tu-nya!" Terdengar suara Mahfudz menggedor pintu panik.

__ADS_1


Sekarang jam setengah 8 malam. Sepertinya acara telah usai. Aku tidak mendengar lagi hiruk pikuk lalu lalang orang lagi di luar kamarku. Kecuali suara Ummik dan Mahfudz.


"Fud! Tolong bujukin Raya. Dia dari tadi siang sejak bertemu Waridi belum ada keluar kamar sama sekali. Dia bahkan belum makan. Entah apa yang dibicarakannya dengan Waridi tadi."


Aku mendengar suara Ummik terdengar mencemaskanku. Maafkan Raya, Mik!


"Ra- ya! Bu-ka pin-tu-nya. A-tau ku ...."


Ceklek!!


Aku membuka pintu itu dan mendapati wajah Ummik begitu cemas. Sementara Mahfudz langsung memelukku sangking khawatirnya.


Aku tidak menghiraukan pelukan itu, melainkan tanganku langsung merayap masuk ke kantong celananya. Aku menemukan ponsel Mahfudz di situ.


"Ummik, maaf Raya tutup pintunya dulu ya, Mik!" kataku langsung menutup pintu kamar.


Ummik terlihat kaget dengan kata- kataku yang terkesan menolak beliau masuk ke dalam kamarku. Tapi aku yakin Ummik pasti mengerti ada hal penting yang ingin kubicarakan dengan Mahfudz yang ingin kujaga kerahasiaannya. Sebenarnya aku tidak ingin Ummik melihat foto- foto yang berhamburan di atas ranjangku. Foto- foto yang berkaitan dengan menantu kesayangannya. Beliau pasti terpukul melihatnya.


Mahfudz sendiri sangat terkejut melihat banyak foto bertebaran di ranjang hingga lantai kamarku. Matanya sampai membelalak melihat foto itu satu persatu.


Sementara aku sibuk mengotak- atik ponselnya yang kuambil tadi. Aku mengecek galery ponselnya, namun tak menemukan foto atau vidio apa pun di situ. Setelah itu aku memeriksa aplikasi chat WA, juga tidak kutemukan apa- apa di situ. Sampai akhirnya jariku menyentuh fitur memo pada ponsel itu, aku klik fitur itu dan di situ aku melihat satu catatan alamat yang sepertinya aku mengerti itu alamat panti asuhan Tiwi di tempat di mana dulu koas di rumah sakit jejaring. Sepertinya aku pernah mengetahui alamat itu, tapi dimana? Aku teringat wajah familiar Tiwi. Ya, ya, ya aku ingat .... Aku melihat wajah Tiwi dan alamat ini sepertinya di kartu tanda pelajar yang pernah diberikan cleaning service dulu padaku. Kartu tanda pelajar yang sempat dititipkan Ayuni melalui cleaning service rumah sakit. Besok akan kucek lagi di rumah sakit. Semoga masih ada. Dan aku juga perlu menanyakan pada Ayuni darimana dia dapat kartu tanda pelajar itu.


Aku masih terpaku dalam pikiranku saat ponsel Mahfud bergetar. Ada sms masuk dari kontak yang cuma bernamakan inisial "T".


Oh, iya. Fiture sms belum kuperiksa. Sangking jarangnya menggunakan sms jaman ini, aku jadi melewatkan memeriksa ini. Aku lebih fokus di WA tadi.


"S-m-s si-a-pa?" Terdengar resah dalam suara itu.


Mahfudz ingin merebut ponsel itu dariku, namun aku tidak memberikannya. Aku akan mencoba membacanya. Sms dari seseorang berinisial "T". Apakah dia Tiwi?


[Jadi bagaimana? Dokter pilih sendiri, aku yang memberi tau dr. Raya atau dokter sendiri yang bilang]


Deg! Jantungku terasa terpukul lagi. Kupandang Mahfudz yang terlihat gugup. Dia berusaha mengambil ponsel itu, aku menolak memberikannya sampai terjadi tarik- tarikan untuk merebut HP itu. Sampai aku akhirnya lari ke kamar mandi dan mengunci diriku di dalam. Tak kupedulikan Mahfudz yang menggedor- gedor pintu.


Aku kembali pada layar ponsel dan membuka sms. Aku scroll sms itu dari bawah ke atas. Dan membacanya pelan- pelan dari atas ke bawah.


[Jadi, dokter mau lari dari tanggungjawab?]


[Sumpah Tiwi, aku tidak ingat kejadian waktu itu. Tiba- tiba saja pas aku kebangun, kita sudah seperti itu]


[Dokter jangan bohong. Kita melakukannya dalam keadaan sadar. Apa kau akan mencampakkanku setelah melakukan itu padaku?]


[Tiwi, aku sudah punya istri sebentar lagi aku akan pnya anak, aku tidak akan mungkin melakukan itu padamu. Aku tidak ingat apa- apa]


[Kau sama saja dengan orang yang melecehkan dan memperkosaku. Kukira dokter berbeda]


[Aku tidak melakukan itu padamu Tiwi! Tolong jangan ganggu aku dan rumah tanggaku. Kau terlalu muda kalau terlibat masalah urusan rumah tangga orang lain. Kamu harusnya fokus belajar]


[Tidak, dokter harus tanggung jawab. Nikahi aku. Aku tidak perduli meski jadi istri kedua atau istri simpanan sekalipun]


[Astaghfirullah Tiwi, sadarlah kamu. Jangan bicara sembarangan. Masa depanmu masih panjang]


[Masa depanku akan panjang kalau dokter mau menikahi aku. Atau aku akan bunuh diri]


Itu sms Mahfudz dan Tiwi sekitar satu bulan lebih yang lalu kalau kulihat dari tanggal terkirimnya sms itu.


Sampai disitu aku tiba-tiba mengelus dadaku sendiri. Rasanya menyakitkan. Tanpa sadar aku memegang perutku. Ini tidak mungkin terjadi. Aku akan meminta penjelasan pada Mahfud. Dia tidak mungkin mengkhianati aku kan?


Aku baru akan berdiri, saat tiba- tiba ponsel itu bergetar lagi. Sms masuk lagi dari Tiwi.


[Aku benar- benar hamil, dokter! Aku tidak bohong. Jangan campakkan aku seperti ini!]


Ini adalah moment paling- paling buruk yang pernah kualami dalam hidupku. Aku terhenyak tak kuat menerima kenyataan kalau seorang bocah berusia 13 tahun sedang merengek pada suamiku untuk menikahinya. Seorang bocah yang katanya sedang mengandung anak dari suamiku juga.


Aku menyeka air mataku dan membuka pintu. Segera kudapati wajah menawan yang sedang menungguku membukakan pintu untuknya.


"Ra- ya ...."


Aku menarik napasku sedalam mungkin untuk menghilangkan sesak dalam dadaku. Aku akan bertanya padanya apa yang terjadi. Aku mohon, katakan semua ini tidak benar Mahfudz! Itu bohong kan sayang? Ayah, cuma aku yang jadi Bunda bagi anak- anakmu kan?


"Kau .... Selingkuh dengan anak itu di belakangku?"


Satu pertanyaan yang ku lempar membuat Mahfudz gugup tak bisa berkata- kata.


"Kau .... tidur dengannya?"


Pertanyaaan kedua ini membuat Mahfudz menunduk. Matanya berkaca- kaca. Cukup membuatku tau apa jawabannya.


Aku terhenyak sampai terduduk di pintu masuk kamar mandi. Aku merasa duniaku runtuh. Mahfudz ingin membantuku berdiri.

__ADS_1


"Kenapa tidak kau bunuh saja aku dengan anakku sebelum melakukan perbuatan hina itu?" kataku lirih dengan pandangan yang menghunus tajam pada lelaki yang katanya suamiku ini.


__ADS_2