I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
S2 Apendisitis Akut


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 01.13 dini hari saat panggilan telepon itu mulai mengganggu dua insan yang baru saja terlelap dari tidurnya.


Raya yang sedang tidur di pelukan suaminya, mulai mengguncang-guncang bahu suaminya yang sudah tidur lelap itu. Dia sendiri merasa sangat berat membuka matanya.


"Ayah, bangun! HP ayah bunyi," katanya dengan mata terpejam.


"Hmmm ... " lenguh pria itu tanpa membuka matanya.


Sesungguhnya kelopak matanya masih terasa sangat berat.


Ponsel yang terletak di atas nakas itu akhirnya berhenti berbunyi hingga kemudian berdering lagi.


Kali ini Raya terpaksa bangun dan memeriksa panggilan telepon Mahfudz dari siapa malam-malam begini.


"Hallo ..." sapa Raya begitu melihat panggilan telepon itu datangnya dari rumah sakit tempat Mahfudz bekerja.


Saat ini suaminya Mahfudz, memang memegang posisi dokter spesialis bedah di tiga rumah sakit. Keterbatasan jumlah dokter spesialis bedah di kota ini, membuat pria berusia 31 tahun itu mendapat tawaran untuk memegang posisi dokter spesialis bedah di tiga rumah sakit sekaligus.


"Dokter Raya?" tebak orang yang menelepon di seberang sana.


Tentu saja suara perempuan yang bersama dengan dr. Mahfudz di tengah malam begini, dokter yang terkenal dengan kesetiaan pada istrinya itu adalah dr. Raya. Spog. Siapa lagi?


"Hmmm ... Iya," jawab Raya masih menguap.


"Dr. Mahfudz, adakah Dok? Ada pasien CITO (darurat) malam ini. Semua dokter bedah berkebetulan malam ini nggak ada yang bisa dihubungi, Dok! Pasien ini, pasien rujukan dari rumah sakit Anabel, mereka juga nggak ada dokter spesialis bedah malam ini. Pasien usus buntu. Benar-benar darurat, Dok. Tolong, bisa bangunkan dr. Mahfudz sebentar?" bujuk orang yang ditelepon.


Raya melirik pada suaminya yang tertidur dengan wajah letih itu. Tuntutan profesi mereka memang mengharuskan mereka terkadang harus mendapat panggilan kerja bahkan disaat mereka tengah tertidur lelap seperti malam ini.


Tapi Mahfudz dia sebenarnya ada niat cuti untuk besok. Telah sekian lama dia tidak bisa istirahat karena jam terbangnya sebagai dokter cukup tinggi. Belum lagi dengan profesinya sebagai presenter acara program kesehatan di salah satu stasiun TV ternama di negeri ini. Raya kasihan melihat sang suami yang terlihat sangat kelelahan dengan seabrek aktivitasnya itu.


"Dokter?" Suara panggilan di seberang sana membuyarkan Raya dari lamunannya.


"Oh, tunggu sebentar," kata Raya sambil menjauhkan ponsel itu dari telinga dan mulutnya.


Lalu Raya pun mulai membangunkan Mahfudz.


"Ayah, bangun!" kata Raya sambil mengguncang-guncangkan tubuh pria itu dengan lembut.


Mahfudz tak bergeming. Sepertinya dia benar-benar kelelahan.


"Sayang, ayah ... Ada telepon dari rumah sakit," kata wanita yang usianya hampir mencapai kepala 4 itu.

__ADS_1


Kali ini Mahfudz menggeliat, dengan berat perlahan dia membuka matanya.


"Ada telepon dari rumah sakit," kata Raya pelan agar tak sampai membangunkan putri kecil mereka Laila.


"Hmmm ... Oh? Kenapa, Bun?" Mahfudz nampaknya masih linglung sehabis dibangunkan. Kesadarannya belum terkumpul sepenuhnya.


"Ada telepon dari rumah sakit," Raya mengulang kata-katanya.


Kemudian agar lelaki itu tak lagi banyak bertanya padanya akhirnya Raya memberikan ponsel itu ke tangan Mahfudz. Mahfudz menerimanya dan mencoba untuk duduk.


"Halo?" Mahfudz menyapa orang yang berada di seberang sana.


"Dok? Dokter bisa kesini nggak sekarang, Dok? Ada pasien CITO, Dok. Anak perempuan berusia 9 tahun mengalami usus buntu akut, Ini harus dioperasi segera, Dok!"


Mahfudz melirik sekilas jam dinding di kamarnya. Jam menunjukkan hampir setengah dua dini hari.


"Untuk hari ini sampai dua hari ke depan, kayaknya saya ga ada jadwal deh di Pahlawan Medical. Memang dokter bedah lain pada kemana?" tanya Mahfud menyebutkan nama rumah sakit yang sedang meneleponnya itu.


Berkali-kali dokter yang berusia masih cukup muda itu menguap. Matanya benar-benar berat. Rasanya dia tidak ingin diganggu selama dia tidur.


"Semua dokter bedah sudah saya coba hubungi, Dok!Tapi nggak ada yang angkat telepon saya. Tolonglah, Dok! Ini kondisi darurat pasien anak usus buntu akut, harus dioperasi segera. Takutnya membahayakan jiwa," bujuk dokter umum itu setengah panik.


"Kamu yakin itu usus buntu akut? Sudah periksa semuanya?" tanya Mahfudz menyangsikan.


Mahfudz mengernyitkan keningnya..


"Sudah atau belum?" tanya Mahfudz sekali lagi.


"Iya, sudah. Dokter datang aja sekarang dulu," kata dokter itu lagi.


"Baiklah, saya segera ke sana," kata Mahfudz sambil menurunkan kakinya ke lantai.


Begitu panggilan telepon itu berakhir, Mahfudz pun lantas berdiri dan berjalan dengan langkah terseok-seok menuju kamar mandi dalam kamarnya.


"Berangkat lagi, Yah?" tanya Raya pada Mahfudz setelah pria itu mencuci muka.


"Hmm ... Katanya ada pasien apendisitis (usus buntu) akut yang butuh tindakan apendetomi segera. Jadi ayah harus ke sana sekarang, kasihan, Bun, pasiennya anak- anak usia lebih besar sedikit dari Haikal," kata Mahfudz, sembari membuka bajunya dengan hanya menggunakan dalaman saja.


Lelaki itu pun kemudian berjalan ke arah lemari dan memilih-milih bajunya di sana.


Raya pun akhirnya bangun dari tempat tidur, menyanggul cepol rambutnya dan ikut mendekat ke lemari dan membantu Mahfudz berpakaian.

__ADS_1


"Serius ayah nggak apa-apa tindakan sekarang? Kan ayah masih capek? Takutnya pasti tindakan nanti, ayah ngantuk di OK (Operatie Kamer) lagi?" Raya pun mengungkapkan kekhawatirannya sambil tangannya membantu Mahfudz mengkancing kemeja lelaki itu satu persatu.


Mahfudz pun tersenyum dan memeluk tubuh semampai sang istri.


"Senangnya diperhatikan Bu Dokter," katanya sumringah. "Makanya Bu Dokter, tolong bikinkan kopi donk, biar ayah nggak ngantuk pas tindakan nanti!"


Raya tersenyum.


"Oke, tapi kopinya Bunda bikin sedang aja ya, nggak pekat! Coffeine nggak bagus diminum banyak-banyak," bisiknya pelan.


"Siap, Bu Dokter!!!" jawab pria itu.


Dan setelah membantu Mahfudz mempersiapkan diri dan menyediakan kopinya, Raya pun mengantar Mahfudz ke depan hingga mobil lelaki itu hilang dari pandangannya.


****


Begitu sampai di rumah sakit tujuan, Rumah Sakit Pahlawan Medical, Mahfudz pun segera menuju ke ruang IGD. Dia segera mendatangi rekannya Fauzi, Dokter Umum yang kebetulan berjaga di IGD malam ini dan meneleponnya.


"Pasiennya mana, Zi?" tanyanya.


"Ada Dok. Dia sementara dipindahkan ke ruang perawatan.


"Kamu yakin itu apendisitis akut? Udah diperiksa?


"Udah, Dok. Saya sudah periksa lewat USG juga, Dok. Itu memang apendisitis akut," jawab Fauzi.


"Riwayat alergi obat?" tanya Mahfudz lagi.


"Hmmm ... tidak ada. Pasien tidak memiliki riwayat alergi pada obat-obatan," lapor Fauzi.


"Oke, dimana anak itu? Aku ingin bertemu dulu dengannya dan kedua orang tuanya," kata Mahfud.


"Orang tuanya anu ..."


Mahfud mengernyitkan keningny heran.


"Maksud saya, mereka sekarang menunggu di ruang perawatan," kata Fauzi.


"Ho aem ...." Tanpa disadarinya mahfudz menguap lagi. Entah apakah operasi ini akan berjalan lancar atau tidak. Tapi sungguh dia sangat merasa mengantuk sekali.


****

__ADS_1


Hai, hai, hai reader Raya dan Mahfudz. Kami kembali...


Di season 2 ini jangan pelit like dan komentarnya ya seperti di season 1 ... Biar author rajin ngeup lagi season ini. Okey, beib?


__ADS_2