I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Pindah ke Rumah Mertua


__ADS_3

Fuad menghentikan sepeda motornya dan langsung berlari mengejar sosok wanita yang telah melangkah masuk ke pekarangan rumah Ummik. Tanpa mengatakan apa pun, Fuad langsung menarik tangan Nirmala yang tersentak karena kehadirannya. Gadis itu juga tak mengatakan apa apa pun melainkan pasrah ditarik Fuad ke mobilnya.


Fuad membukakan pintu mobil dan mendorong Nirmala masuk kemudian dia sendiri mengitari mobil itu dan duduk di kursi kemudi. Masih tanpa kata di antara keduanya, Fuad kemudian membawa mobil itu melaju keluar komplek perumahan. Dalam diam, Nirmala melirik Fuad yang tengah menyetir mobil dengan tujuan entah kemana. Dulu Fuad juga sering menyetir mobilnya kalau mereka sedang jalan kemana pun. Dan sekarang pun seolah masih dengan kebiasaan itu, lelaki itu seperti masih sama, seolah masih memperlakukannya sama, entahlah .... Nirmala bingung.


Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah cafe tak jauh dari komplek perumahan dr. Raya.


"Turun!"


Dengan nada dingin Fuad menyuruh Nirmala turun dari mobil sementara dia sendiri melangkah masuk duluan ke dalam cafe. Nirmala pasrah mengikuti langkah kaki Fuad.


Fuad memilih duduk di pojok kafe agar leluasa berbicara dengan Nirmala. Dia harus menuntaskan permasalahan dan hubungannya dengan Nirmala hari ini. Baginya hubungannya dengan Nirmala tentu sudah usai disaat dia telah memutuskan untuk mencintai Ayuni dengan sepenuh hati, namun tentu tidak bagi Nirmala. Fuad sepenuhnya sadar posisi Nirmala dan bagaimana perasaan gadis itu.


"Bicaralah! Aku akan mendengarkanmu," kata Fuad sesaat setelah mereka memesan minuman pada pelayan cafe.


Nirmala menatap Fuad tajam.


"Kamu sungguh tega, Fuad! Kamu sungguh- sungguh tidak merasa bersalah padaku?" tanya Nirmala dengan nada yang sengit. Sungguh dia tidak menyangka hanya kata- kata itu yang Fuad sanggup ucapkan padanya.


Fuad mendesah panjang. Dia sangat merasa bersalah. Pasti merasa bersalah.


"Aku merasa bersalah padamu, Nir. Tapi aku di situasi tak bisa melakukan apa pun saat ini," katanya pada akhirnya.


"Hah? Tak bisa melakukan apa pun? Kau tak bisa meminta maaf padaku? Kau tak bisa menjelaskan sesuatu padaku?"


"Hufffft .... Aku sudah meminta maaf padamu di mall, dan aku sudah menjelaskan padamu situasiku. Aku sudah menikah, kamu mau penjelasan apa lagi? Aku brengsek iya, aku ******** iya, aku akui. Tapi memang beginilah sudah keadaannya, aku harap kamu bisa berlapang dada menerimanya. Kamu akan menemukan lelaki yang lebih baik dari aku, Nir!" bujuk Fuad.


"Kamu pikir itu cukup, haaah??!!! Apa kamu sama sekali tidak mempertimbangkan perasaanku, Fuad?!" bentak Nirmala setengah berteriak sehingga pembicaraan mereka menarik perhatian beberapa pengunjung cafe.


Keduanya bahkan tidak menyadari bahwa ada dua pasang mata yang sedari tadi mereka masuk tengah memperhatikan.


"Nir, pelankan suaramu!" kata Fuad memperingatkan.


Nirmala mendengus kasar. Dia menurunkan intonasi suaranya.


"Kamu benar- benar sudah tak mencintaiku lagi, Fuad?" tanyanya sendu. Air matanya kini jatuh.


"Nir, aku sudah menikah. Tolong mengertilah!"


Fuad merasa bersalah melihat Nirmala yang menangis di hadapannya.


"Kau tau aku sangat mencintaimu, kan? Kau berjanji padaku selesai kita kuliah akan menjalin hubungan yang lebih serius denganku. Kamu juga janji pada Mami. Kamu janji akan mengenalkan aku pada Mama kamu setelah kita selesai wisuda. Tapi apa? Kamu menghilang selama berbulan- bulan. Nomor hp-mu ganti, semua sosmed tak pernah lagi kamu gunakan. Dan aku juga tidak tau alamat rumahmu. Bahkan walaupun aku ingin sekali mencari tau, aku tetap tidak akan berani menemuimu ke rumahmu. Bisa kamu tau perasaanku saat aku melihatmu di mall? Kamu tau apa yang kurasakan saat kamu bilang kamu sudah menikah?"


Gadis itu kini menangis pilu tak peduli lagi pada orang- orang yang memandang mereka di cafe.


"Hatiku hancur, Fuad! Aku tidak tau apa salahku padamu. Kalau ada yang kurang padaku kenapa kau tak mengatakannya, aku akan merubahnya untukmu. Jangan kau perlakukan aku seperti ini. Bahkan maafmu, tak akan bisa menyembuhkan lukaku. Entah apa yang akan kukatakan pada Mami nanti. Mami begitu menyukaimu. Dia percaya padamu. Hiks ...." isak Nirmala.


"Maafkan aku, Nir. Sungguh, aku benar- benar tulus meminta maaf padamu. Apa pun yang terjadi di antara kita hingga saat ini, itu salahku. Kamu gadis yang baik, Nir. Tolong jangan buang air matamu untuk lelaki brengsek sepertiku. Aku tidak pantas mendapatkan itu."


Fuad merasa sedih melihat Nirmala yang menangis sesenggukan seperti itu. Bagaimana pun Nirmala pernah mengisi hidupnya. Meski dia tidak mencintai gadis itu seutuhnya, Fuad tau Nirmala gadis yang baik. Dia menyesal telah menyakiti gadis itu.


"Kamu mencintai dia?" tanya Nirmala tiba- tiba membuat Fuad tertegun.


"Hmmmm?"


"Maksudku .... istrimu ...."


Fuad mengangguk.


"Apa yang ada di dirinya yang tidak ada padaku, Ad?" tanya Nirmala.


Air matanya jatuh lagi.


Fuad menggeleng.


"Ayuni tidak memiliki sesuatu yang lebih dari kamu, Nir. Dia hanya gadis sebatang kara. Dia hanya memiliki aku saja, aku tidak bisa mengabaikannya, dia bergantung padaku."


Nirmala mengangguk- angguk paham.


"Jadi kamu kasihan padanya?"


Fuad mengangguk.


"Awalnya aku hanya kasihan padanya, hidupnya rumit dan berat. Tetapi perasaan menjadi orang yang selalu dibutuhkan olehnya membuat aku menjadi sayang padanya. Aku mencintai dia, Nir."


"Aku juga membutuhkanmu, Fuad." Nirmala semakin menangis sesenggukan.


"Itu tidak sama, Nir. Kau tidak akan mengerti. Kau memiliki orang tua, teman dan semua yang kau inginkan. Tapi Ayuni berbeda. Dia tak punya siapa- siapa. Dia hanya memiliki aku. Hanya aku. Itu membuatku ingin melindunginya, ingin disampingnya, menjaga dia selamanya. Hal yang tidak akan pernah dimengerti oleh orang lain. Jadi tolong, tolong aku Nir, aku tidak ingin menyakiti kalian berdua. Tolong hapus foto itu. Jangan sampai Ayuni melihatnya. Dia sedang mengandung anakku. Dia akan sangat sedih kalau melihat foto itu. Dia tidak akan marah padamu mungkin. Tapi dia pasti akan memendam perasaannya dalam hati. Tolong hapus foto itu, Nir," Fuad memohon.


"Aku tidak bisa. Itu foto kenanganku denganmu," tolak Nirmala.


" Kamu boleh simpan foto yang manapun, setidaknya sampai kamu benar- benar bisa melupakan aku tapi jangan yang itu. Itu foto yang benar- benar kurang pantas untuk disimpan. Please Nir ....!"


Nirmala terlihat berat hati mengabulkannya.


"Please .... Tolong ...."


Hingga akhirnya Nirmala mengangguk. Dari dalam tasnya dia mengeluarkan ponsel dan menyerahkannya pada Fuad. Dia membiarkan Fuad yang akan menghapusnya sendiri.


Fuad menerima ponsel itu dan mencari foto itu di gallery ponsel Nirmala. Dia menemukan fotonya yang sedang mencium bibir Nirmala mesra. Ah, betapa memalukannya melihatnya saat ini. Fuad baru akan menghapus foto itu saat seseorang merampas ponsel itu dari tangannya.


Fuad tersentak lantas mendongakkan wajahnya melihat siapa perampas ponsel itu. Wajahnya seketika menjadi pucat.


"Mama??"


Mama Salma sangat geram melihat foto- foto di ponsel itu. Dia tidak menyangka anaknya akan punya hubungan terlarang seperti ini dengan wanita lain.

__ADS_1


"Fuad!!! Apa maksud semua ini?" tanya Mama marah.


"Ma? Mama ngapain di sini?" Fuad balik bertanya.


"Mama ngapain di sini? Kamu sendiri ngapain di sini berdua- duaan dengan perempuan lain? Istri kamu mana?"


"Ma, Mama .... Ini nggak seperti yang Mama pikirin. Nirmala ini teman Fuad waktu di kampus, Ma! Mama jangan mikirin yang aneh- aneh donk!"


"Nggak usah mikirin aneh- aneh gimana? Jelas- jelas kamu di sini sedang berduaan. Pake acara nangis- nangis segala. Dan ini foto apaan, Fuad! Kamu bikin Mama malu! Ya Tuhan ... Apa yang kamu lakukan. Dan kamu!" Mama berpaling pada Nirmala hingga gadis itu mendongakkan wajahnya pada Mama Salmah.


"Kamu tau nggak Fuad itu sudah menikah? Bisa- bisanya kamu mau diajak pria beristri berduaan ke cafe seperti ini? Kamu itu sadar nggak betapa murahannya sikapmu ini?"


"Ma- maaf, Tante. A- aku ...."


"Ma, udah donk, Ma! Nirmala itu nggak salah. Fuad yang salah!" kata Fuad.


"Kamu itu masih aja membela selingkuhan kamu. Dengar Fuad, Mama memang belum sepenuhnya bisa menerima Ayuni tapi Mama lebih nggak bisa menerima kelakuan kamu yang seperti ini. Ya Tuhan .... Apa yang sudah Mama ajarkan sama kamu, sampai kamu berubah jadi lelaki tidak bertanggung jawab seperti ini?" omel Mama.


"Ma, Nirmala bukan selingkuhan Fuad. Fuad nggak selingkuh, Ma!" bantah Fuad frustasi.


"Kamu masih a ...."


"Tante!" sela Nirmala. "Fuad benar, kami tidak selingkuh. Maaf soal foto itu, saya tidak bisa menjelaskannya. Tetapi saya akan menghapusnya," kata Nirmala seraya meminta ponselnya pada Mama Salma.


Lalu dengan segera Nirmala langsung menghapus foto itu dan menunjukkannya pada Fuad dan Mamanya.


"Fuad, sebaiknya aku pulang." katanya setelah itu. "Tante aku permisi dulu."


Lalu tanpa menunggu jawaban dari keduanya Nirmala lalu pergi dari situ meninggalkan mantan kekasih dan calon mertua yang tidak jadi itu. Hatinya kacau campur aduk jadi satu. Dia tidak menyangka Mamanya Fuad akan sekeras itu. Apa mungkin selama ini Fuad menolak membawanya ke rumahnya karena itu?


"Mama ini apa- apaan, sih?"


Fuad terlihat kesal. Dia ingin mengakhiri hubungannya dengan Nirmala tapi tentu saja dia tidak berharap ada campur tangan orang lain, apa lagi itu Mama.


"Ayo! Kamu ikut sama, Mama!"


Mama segera membayar pesanannya dan memanggil Nadya yang ternyata juga sedang makan di kursi yang tak jauh dari Fuad dan Nirmala tadi. Sial memang! Fuad tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Mama dan Nadya. Rupanya tadi Mama dengan Nadya sedang jalan- jalan dan mampir di cafe untuk makan.


" Kamu bawa motor?" tanya Mama.


Fuad menggeleng.


"Kalau gitu kamu yang nyetir!" suruh Mama sambil menyerahkan kunci mobil pada Fuad.


"Kita ke rumah Ummik!" perintah Mama lagi membuat Fuad jadi geleng- geleng kepala.


"Mama mau ngapain ke rumah Ummik?" tanya Fuad.


Mama tidak menjawab. Raut kesal masih membayang di wajahnya. Dia masih tidak menyangka kalau Fuad bisa punya hubungan terlarang dengan gadis berambut coklat itu. Mama sungguh tidak menyukai gadis itu. Rambutnya yang coklat kemerahan dan pakaiannya yang ketat membentuk lekuk tubuhnya, sungguh bukan menantu idaman sama sekali. Ayuni juga bukan menantu idamannya tetapi penampilan istrinya Fuad itu sangat jauh lebih sopan daripada gadis itu.


Ayuni terkejut melihat Fuad yang datang bersama Mama dan Nadya. Bukannya tadi Fuad pergi dengan Nirmala? pikirnya.


"Ayuni!! Fuad!!! Kalian kemas barang- barang kalian sekarang juga, kalian tinggal di rumah Mama sekarang. Mama tunggu!"


Hah??!!!


Semua yang ada di rumah itu terkejut akan perintah Mama yang tiba- tiba.


"Ta- tapi ...." Ayuni kebingungan.


Ayuni bukannya tidak mau tinggal di rumah mertuanya itu. Tapi Rahmat ...?


Mama Salmah mengerti apa yang dipikirkan menantu bungsunya itu. Segera dia mengulurkan tangannya meraih Rahmat yang digendong oleh Ayuni.


"Biar Mama aja yang gendong Rahmat, kamu kemas sekalian juga baju- bajunya. Yang penting- penting aja dulu. Barang- barang yang lain bisa menyusul besok- besok," kata Mama.


Itu membuat Ayuni semakin bengong. Mama menggendong Rahmat? Apa yang sebenarnya terjadi? Biasanya walaupun berkunjung di sini, tak sekali pun Mama mau menggendong anaknya. Bahkan meliriknya pun Mama tidak mau.


"Ada apa sih, Ma?" tanya Raya memandang Mama dan Fuad berganti- gantian. Ini membingungkan.


"Iya, ada apa, Bu Salmah?" tanya Ummik merasa tak enak hati. "Apa kami melakukan kesalahan? Apa ada yang membuat Bu Salmah tersinggung?"


Mama Salmah langsung geleng- geleng kepala sambil tertawa kecut.


"Oh, nggak, nggak! Ini tidak seperti yang Bu Farida pikirkan. Kita nggak ada masalah apa- apa kok yang membuat saya harus tersinggung. Saya hanya kepikiran ingin membawa Fuad dan Ayuni untuk tinggal bersama saya dulu. Ada hal yang saya harus awasi soalnya."


Mengatakan hal itu mata Mama tertuju pada Ayuni. Mata menantunya itu terlihat sedikit sembab. Ya Tuhan, apa Ayuni tau kalau Fuad selingkuh? pikir Mama. Dalam hatinya dia kasihan pada Ayuni.


Jawaban Mama Salmah malah membuat Raya dan Ummik tambah bingung.


"Ada apa sih, Ma?" tanya Raya bingung sambil menatap Fuad yang sedang mengacak- acak rambutnya.


Mama mendekati Raya yang duduk di kursi rodanya.


"Nggak apa- apa, sayang. Nanti Mama cerita. Kamu di kursi roda gini, nggak apa- apa? Merasa nyaman nggak?" tanya Mama mengalihkan pembicaraan.


Raya tersenyum.


"Lumayan, Ma. Daripada di kamar terus." jawab Raya.


Mama mengelus perut Raya dengan sayang.


"Kali ini kamu janji, ya. Jaga cucu Mama!" kata Mama Salmah sambil mengelus punggung Raya. "Maaf Mama belum sempat jenguk kamu lama- lama."


Raya mengangguk.

__ADS_1


"Hum um."


\*\*\*\*\*\*\*


"Untuk sementara kalian pakai kasur lantai dulu, ya Ayuni ...." kata Mama sambil menggelar kasur di kamar Fuad. "Rahmat bisa tidur di kasur atas."


"Iya, Ma." jawab Ayuni.


Tempat tidur Fuad semasa lajang memang model single bed seperti yang ada di kamar Mahfudz sehingga mereka tidak memungkinkan untuk tidur bertiga di sana.


"Nanti tunggu Mama atau Fuad ada waktu baru kita cari ranjang besar ke toko furniture," kata Mama.


"Iya, Ma." jawab Ayuni dengan canggung.


Entah mengapa sikap Mama hari ini agak berbeda padanya. Mama jadi agak lembut padanya.


"Ya sudah, Mama balik ke kamar dulu. Kalau kamu butuh sesuatu, panggil Mama di kamar. Seprainya bisa kamu pasang sendiri, kan?"


"Hmmm iya, Ma. Terima kasih."


Mama tersenyum seadanya dan menepuk- nepuk bahu Ayuni.


Selang Mama pergi, Ayuni memasang seprai dan Fuad masuk ke kamar membawa beberapa tas lagi dari bagasi mobil.


"Sayang, kamu nggak apa- apa kan tinggal di sini?" tanya Fuad.


"Hmmm ...." Ayuni hanya menjawab cuek.


Fuad menyadari jawaban dingin itu. Fuad lalu menutup pintu kamar dan menguncinya. Selepas itu dia lalu menghampiri istrinya itu dan memeluknya dari belakang.


"Awas, aku mau pasang seprainya. Sudut sebelah sana belum dimasukin," kata Ayuni berusaha melepaskan diri dari pelukan Fuad.


Tapi Fuad kekeuh tak mau melepaskan tubuh Ayuni yang sedang berlutut . Dia memeluknya makin erat sambil tangannya mengelus perut Ayuni yang membentuk gundukan itu.


"Dek, bilangin Mama. Kalau lagi pengen sesuatu bilang ke Papa, nggak usah ngambek." katanya seolah berbicara pada anak dalam perut Ayuni.


Ayuni masih mingkem tak bersuara. Semakin tangan Fuad nakal menyentuh bagian tubuhnya yang lain. Ayuni menepisnya hingga Fuad tersentak kaget dibuatnya. Dia tak menyangka, akan mendapat penolakan dari istrinya itu. Biasanya Ayuni adalah istri yang penurut dalam segala hal termasuk saat ia melakukan sesuatu yang intim terhadap istrinya.


"Ayuni ...." Fuad tersentak.


Ayuni tetap tak bergeming. Hingga suara dering ponsel Fuad membuyarkan ketegangan di antara mereka. Hal itu dimanfaatkan Ayuni untuk melepaskan diri dari pelukan Fuad.


"Halo ...." Sapa Fuad.


"Dengan Fuad?" Seseorang diseberang sana bertanya meyakinkan.


"Iya, saya sendiri. Ini dengan siapa?"


"Ini Akbar. Mantan anak buah dan tangan kanan Waridi," jawab pria yang meneleponnya.


"Ak ...?"


Fuad tak meneruskan kata- katanya dan melirik Ayuni. Ayuni tak boleh tau apa pun yang dilakukannya dan apa pun yang berhubungan antara dia dengan Waridi.


"Hmmm .... Ada keperluan apa menghubungi saya?" tanya Fuad.


"Bisa kita bertemu?" tanya Akbar balik.


"Untuk?"


Ayuni diam- diam mendengarkan percakapan Fuad di telepon. Dengan siapa Fuad menelepon? Apa ini Nirmala? Kenapa terdengar serius sekali? Apa itu hanya triknya Fuad agar dia tidak tahu Nirmala yang meneleponnya?


"Ok, ok. Dimana kira- kira? Ya, saya bisa ke sana. Sekarang? Ya saya bisa. Sebentar saya ke sana."


Oh, jadi dia akan pergi, batin Ayuni nelangsa.


"Sayang, Honey. Aku keluar dulu sebentar. Ada seseorang yang ingin bertemu denganku. Aku cuma sebentar," pamit Fuad.


"Siapa?"


Fuad berpikir sejenak.


"Teman," jawabnya asal.


"Cewek? Cowok?" tanya Ayuni lagi.


Fuad mengernyitkan keningnya. Sejak kapan Ayuni se-posesif ini padanya? Biasanya dia tidak pernah ingin tahu Fuad akan bertemu dengan siapa jika ia keluar rumah.


"Dengan cewek atau cowok?" Ayuni mengulangi pertanyaan itu dengan nada yang sedikit meninggi.


Eh? Fuad makin bingung. Apa Ayuni sedang cemburu?


"Dengan cowok, Mama? Kenapa sih? Mama cemburu, ya?"


Ayuni mendelik kesal.


Fuad yang sudah berada di dekat pintu membalikkan badannya dan mendekati Ayuni. Dia memeluk Ayuni.


"Aku nggak pergi sama cewek, sayang. Percaya padaku. Sumpah! " katanya sambil mengacungkan dua jarinya telunjuk dan jari tengahnya. "Jangan berpikiran macam- macam deh, kasihan dedeknya entar kalau Mamanya nggak bahagia, hmmm?"


Fuad mengecup kening Ayuni. Dan mengelus rambutnya.


"Aku cuma sebentar."


Ayuni masih terpaku sepeninggalan Fuad. Benarkah kamu bisa dipercaya, Fuad? Kalau kamu bisa dipercaya, kenapa kamu dulu mengkhianati kepercayaan Nirmala dan menikahi aku? batin Ayuni dengan dada yang sesak.

__ADS_1


__ADS_2