
Pov Fuad
[Aku memilih Mahfudz bukan karena aku cerdas. Tapi karena aku mencintainya. Belajarlah mencintai seseorang, mungkin kau akan memahami ketidakcerdasanku]
Kata- kata Raya itu kembali terngiang- ngiang di telingaku. Aku merasa seperti orang bodoh sekarang. Ketidakcerdasan itu akhirnya membawaku kembali pulang ke kost milik Om-nya Andra ini.Aku berharap semoga ini hanya karena rasa kasihanku pada Ayuni. Ya, hanya kasihan. Ini bukan karena cinta dan ketidakcerdasan yang dimaksud oleh kakak iparku waktu itu.
Oh, Tuhan .... Mana mungkin aku mencintai Ayuni? Wanita yang telah dijamah lelaki lain itu berkali- kali dan bahkan kini tengah hamil anak lelaki itu. Arghhh!!!! Aku tidak mungkin mencintainya, kan? Ya, ya, ya .... Itu tidak mungkin. Aku bahkan baru mengenal Ayuni beberapa hari yang lalu. Terlalu dini menyimpulkan kalau aku mencintai dia. Bahkan Nirmala yang kupacari sejak setahun yang lalu saja, aku tidak yakin aku mencintainya. Ya, itu tidak mungkin!
Sesaat aku mengingat ciuman itu. Itu ciuman yang hangat dan membuatku nyaman. Dan mengingatnya saja pun sudah membuatku berdebar- debar. Dan membuatku berfantasi liar pada ajakannya tadi. Apa katanya? Dia menyerahkan seluruh hidupnya untukku? Bahkan tubuhnya juga?
Shit!!! Umpatku dalam hati. Apa yang kau pikirkan Fuad gila!
Mahfudz jauh lebih beruntung mendapatkan Raya sebagai istrinya. Tapi dengan Ayuni, memperkenalkannya sebagai seorang teman pada mama pun aku tak akan berani. Apalagi sebagai seseorang yang lain yang lebih serius. Aku bahkan tak berani membawa Nirmala ke Mama hanya karena rambut Nirmala yang diwarnai coklat kemerahan. Mama tak suka orang dengan rambut diwarnai karena katanya seperti orang nakal. Bahkan aku yakin andai Raya bukan seorang dokter, Mama pasti enggan punya menantu yang usianya lebih tua dari umur anaknya. Mama punya standar cukup tinggi untuk menerima seseorang sebagai calon menantu.
Dan apa ini? Kenapa aku malah memikirkan calon menantu untuk Mama. Ya Allah ini kacau sekali. Ya, ini belum terlambat, aku harus menjauh dari masalah ini secepatnya. Aku yang sudah berada di depan pintu kost mengurungkan niatku untuk masuk ke dalam. Aku sudah sampai di atas motorku lagi, ketika aku mengurungkan niatku lagi untuk pergi. Aku kembali ke kost itu.
Saat aku membuka kamar, kamar itu terkunci dari dalam. Aku mengetok pintu itu perlahan.
"Ayuni!" panggilku.
Tidak ada jawaban dari dalam. Aku sampai khawatir, apakah dia melakukan sesuatu yang berbahaya di dalam sana?
"Ayuni .... Buka pintunya. Ayo bicara baik- baik!"
Aku berencana menggedor pintu kamar itu lebih keras andai Ayuni tidak segera membuka pintunya. Wajahnya terlihat kuyu dan kusut. Rambutnya acak- acakan. Namun aku bersyukur dia telah memakai bajunya sekarang. Baju daster yang kubelikan beberapa karena dia kabur sama sekali tidak membawa baju apa pun.
"Ayuni ...." Aku menarik tangannya. "Ayo kita bicarakan ini baik- baik."
Dia menepis tanganku. Ini persis seperti adegan seseorang di film- film yang sedang merajuk pada kekasihnya. Dan sialnya kenapa aku merasa seperti perlu untuk membujuknya?
Ayuni mengambil amplop coklat yang diberikan Raya sebagai pinjaman untukku.
"Tolong kembalikan pada dr. Raya. Dan kau pulanglah ke rumahmu!"
Aku mendesah. Sepertinya dia benar- benar ngambek padaku.
"Dan kau?" tanyaku hati- hati.
"Aku akan kembali ke rumah," terdengar pilu jawaban itu.
Aku kaget.
"Rumah yang mana yang kau maksud? Rumah Waridi?!!!" tanyaku hampir berteriak.
Dia mengangguk.
"Hanya dengan begini semua masalah dan kekacauan ini akan selesai. Aku banyak membuat keributan. Di rumah sakit dr. Raya tidak nyaman karena diawasi oleh polisi dan sekarang kau jadi buronan. Semua karena aku. Aku akan pulang dan memohon ampun pada Waridi untuk tidak lagi menyulitkan kalian. Dia akan mengampuniku tentu saja," katanya pasrah.
Dan dia berlinang air mata lagi.
"Dia akan mengampunimu dan apa? Dia akan menyiksamu lagi? Memperkosamu lagi. Kau sudah gila? Lalu buat apa selama beberapa hari ini aku bersamamu dan bahkan pergi dari rumah, tidak menghubungi Mamaku? Kau mau buat pengorbananku sia- sia?"
"Iya, aku sudah gila! Harusnya aku jangan pernah berpikir untuk kabur dari rumah itu! Bertemu denganmu membuatku berharap besar padamu. Sampai aku lupa Waridi adalah satu- satunya lelaki yang ada dalam hidupku!"
"Kau boleh berharap besar padaku! Tapi ku mohon jangan berharap hubungan yang lebih seperti tadi malam, Ayuni. Aku akan membantumu dan mencoba berpikir bagaimana cara untuk mengeluarkanmu dari masalah ini. Tapi aku mohon berpikirlah yang jernih!" bujukku.
"Terlambat ...." katanya membuatku bingung. "Aku bukan hanya menginginkan hubungan seperti itu, kurasa. Aku pikir .... Aku mencintaimu, Fuad ...."
Kata- katanya membuatku tercekat.
"Kau tidak berpikiran jernih, Ayuni. Kita bahkan baru kenal beberapa hari. Kau mencintaiku itu tidak mungkin ...."
".... kenapa tidak mungkin?" selanya. "Kau percaya cinta pada pandangan pertama. Sepertinya itu yang kurasakan."
"Itu bukan cinta, Ayuni. Kau mungkin hanya merasa terharu di saat kau membutuhkan seseorang, aku tiba- tiba hadir saat itu. Kau jangan egois hanya memikirkan perasaanmu sendiri." kataku frustasi.
__ADS_1
Ayuni menatapku, "Aku tidak egois, Fuad! Karena itu kau kusuruh pergi dari hidupku sebelum semuanya terlambat. Setelah ini aku berharap kita tak akan pernah bertemu lagi." katanya sambil menundukkan kepalanya.
Aku benar- benar frustasi dengan hal ini. Segera aku menuju pintu dan menguncinya. Membuka bajuku, hingga aku bertelanjang dada.
"Baiklah, aku tidak tau bagaimana cara membujukmu agar kau tidak kembali ke tempat Waridi. Apa tidur denganku cukup untuk menghapus lelaki biadap itu dari hidupmu? Apa itu bisa menghapus keputusasaanmu, bahwa Waridi bukanlah satu- satunya orang yang menyentuhmu? Itu cukup?" kataku nyaris berteriak.
Ayuni tak menjawab. Dia mengusap air matanya dan memalingkan wajahnya. Aku mendekatinya, menarik tubuhnya ke pelukanku. Menciumnya dan menyusupkan tanganku ke balik baju di punggungnya. Aku membuka kaitan bra yang dipakainya. Terasa perutnya yang buncit menyentuh perutku. Sebenarnya perut itu tidak terlalu besar untuk ukuran ibu hamil 7 bulan. Namun tetap saja itu terasa menonjol dan keras. Membuatku lagi- lagi tersadar kalau ini bukan hal yang benar untuk dilakukan. Aku bukan pria seburuk itu untuk melakukan hal tidak bermoral seperti ini, kan? Kalau Mama tau aku melakukan hal ini dengan wanita hamil yang dihamili oleh wakil walikota Waridi, mungkin Mama akan membunuhku dengan tangannya sendiri.
Aku melepaskan ciumanku dan mundur hingga terduduk di ranjang.
"Aku sungguh tidak bisa melakukan ini, Ayuni! Kau tau, itu bukan karena aku jijik padamu. Tapi ini bertentangan dengan hati nuraniku. Mamaku tidak pernah mengajariku untuk melakukan hal tidak bermoral begini. Tolong jangan memintaku untuk jadi orang bejat seperti Waridi," kataku sambil mengusap wajahku. Aku benar- benar stress dengan hal ini.
Ayuni mengangguk dan tersenyum simpul padaku. Paras yang cantik sebenarnya. Andai dia salah satu mahasiswi di kampusku, aku bisa menjamin kalau dia adalah salah satu target untuk kujadikan pacarku. Sayangnya, jalan hidup mempertemukan kami seperti ini.
"Baiklah, aku mengerti," katanya sambil menunduk.
Kini dia berusaha mengaitkan kancing branya yang sempat ku buka tadi ke belakang. Dia terlihat kesulitan melakukannya, sehingga aku berdiri kembali dan membantunya mengancingkan lagi pengait itu dalam posisi memeluknya.
Wajahnya memerah saat aku melakukan itu. Apa itu hal yang romantis? Aku bahkan menciumnya tadi tapi dia terlihat tidak semalu itu.
"Pulanglah ...." suruhnya dengan suara yang pelan.
"Pulang kemana? Aku tau Mama pasti sudah tau berita kalau aku membawa lari kamu. Kamu kira aku bisa pulang segampang itu?"
"Maaf, aku akan menjelaskannya nanti kalau kau tidak pernah membawaku, setelah aku kembali ke rumah tentunya." katanya datar.
Astaga, aku benar- benar tak percaya ini. Ayuni ini lumayan keras kepala.
"Kau masih mau pulang? Ke rumah lelaki biadap itu?" tanyaku marah.
Ayuni mengangguk. "Hanya dengan begini semua akan selesai."
Aku menciumnya lagi dengan kasar. Apa sebenarnya mau gadis ini? Sampai kemarin dia masih baik- baik saja bahkan tadi pagi pun kami masih seperti seorang teman, tapi sejak membicarakan hubungan percintaan Mahfudz dan Raya, dia jadi melankolis begini. Dan bodohnya aku terikut dalam arus perasaannya yang tak masuk akal itu.
"Ka- u jangan berani bilang akan kembali lagi ke rumah itu," kataku sambil menarik napas. "Dan bicara soal perasaan, bisa kita tunda dulu itu sampai setidaknya masalah Waridi ini selesai dan kau melahirkan?"
Ayuni menatapku heran tak mengerti maksudku masih dengan napas yang ngos- ngosan.
"Kau bilang kau mencintaiku, kan? Dan kau juga mau menyerahkan seluruh hidupmu padaku? Di dunia ini tidak ada yang gampang untuk didapatkan. Termasuk cinta.Kalau kau mencintai seseorang, kau harus membuat dia balas mencintaimu. Dengan cara yang wajar tentunya. Dan asal kau tau aku tidak suka cewek gampangan."
"Ma- maksudnya?" tanya Ayuni gugup.
Aku tidak menjawab melainkan memungut kembali baju kaosku yang tergeletak di lantai dan memakainya.
"Pikir saja sendiri!" kataku kesal.
\*\*\*\*\*\*\*\*\*
Pov Mahfudz
Telah 3 minggu Fuad melarikan anak angkat wakil walikota Waridi. Sejujurnya sungguh ini sangat membuatku pusing, meski aku dinyatakan pihak polisi tidak lagi terlibat atas jaminan Mama, tapi kenyataan melihat Mama sangat stress dengan keadaan ini membuatku ikut- ikutan stress.
Selain itu aku juga mendapati kalau Raya ikut terlibat menyembunyikan Fuad. Aku sudah bertanya pada mahasiswi koasnya Raya apakah wanita hamil yang kulihat bersamanya saat itu adalah Ayuni. Dia tak bisa mengelak lagi dan mengaku kalau Raya menyuruhnya memastikan Ayuni keluar dari rumah sakit dengan aman dan tanpa ketahuan polisi. Aku ingin sekali memarahi Raya namun aku tak kuasa membuat dia tambah stress. Aku tak mau itu berdampak pada kehamilannya. Jadi aku cuma minta tolong Tika untuk berpura- pura seolah- olah aku tidak tau apa- apa. Belum lagi aku mendapati slip penarikan ATM-nya sebanyak 15 juta. Padahal aku tau dia tidak memerlukan uang sebanyak itu untuk kepentingan apa pun saat itu. Apa dia memberikannya pada Fuad?
Aku juga udah menyelesaikan koasku di stase interna. Ali, dia memberiku nilai B yang artinya aku lulus di stase interna. Itu sama sekali tidak buruk walaupun dia sangat mengesalkan dan bilang kalau dia memberiku nilai itu hanya agar Raya tidak stress karena dia memberiku nilai jelek. Ya, Tuhan dia memang konsulen stress.
Selama tiga hari ke depan aku tidak ada kegiatan. Karena aku sudah tidak lagi koas di interna, maka aku tidak lagi ke rumah sakit selain untuk mengantar jemput Raya. Namun besok aku masih punya waktu senggang sebelum pengumuman penempatan stase baru dikeluarkan pihak FK dan kebetulan besok Raya pun sedang off bekerja di rumah sakit. Aku ingin sesekali memanjakannya. Hatiku sakit saat Ali bilang aku tidak nemperhatikan istri dan calon anakku.
"Ba-ngun, sa-yang!"
Aku membangunkan Raya untuk sholat subuh. Raya menggeliat dan semakin menarik bed cover menggulung tubuhnya.
"Hmmm .... Bunda libur hari ini, Ayah ...."
Duuuh, lihatlah dia sengaja memakai panggilan ayah bunda dengan suaranya yang manja untuk membuatku luluh.
__ADS_1
Aku menarik selimutnya dan mematikan Ac. Raya meraba- raba selimut itu dan ingin menariknya lagi untuk menutupi kakinya yang kedinginan. Tapi aku tak memberikannya.
"A'yo ....!!!" kataku menarik tangannya sampai dia duduk. "Bun-da me-mang li-bur ha-ri i-ni, ta-pi ke-wa-ji-ban un-tuk sho-lat nggak a-da li-bur-nya, Bun-da can-tik ...."
Raya merengek. "Aku merasa dingin, sayang. Aku mana bisa sholat subuh kalau nggak mandi junub. Kamu juga nggak membiarkan aku libur dari tugas biar semalam pun," keluhnya.
Aku terkekeh, ini memang akibat ulahku juga. Tiap malam menginginkannya tanpa memikirkan kesulitannya untuk mandi setiap subuh. Dengan kondisi hamil muda dan perubahan hormon sangatlah wajar kalau Raya merasa kedinginan kalau harus mandi dan keramas subuh- subuh.
"As-tagh-fi-rul-lah, ja-di ka-mu se-la-ma ha-mil i-ni nggak sho-lat su-buh?" tanyaku kaget, karena biasanya selama ini memang aku selalu berangkat sebelum subuh ke rumah sakit.
"Ya, sholat subuhlah! Ummik ngerebusin air buat mandi air hangatku tiap pagi. Ummik kan tau kalau menantunya ini hyper. Makanya nyiapin air hangat buat mandiku tiap subuh, kamu mana tau ...." omelnya.
Astaghfirullah Ummik, aku jadi banyak ngerepotin Ummik deh.
"Hy-per?" Aku mencubit pipi Raya gemas. "Ok. A-ku a-kan me-re-bus a-ir un'tuk man-di-mu. Na-mun se-be-lum a-ir-nya men-di-dih a-kan ku-tun-juk-kan pa-da-mu a-pa i-tu hy-per!"
"Ampun, Ayah! Nggak, Bunda nggak mau. Bunda cuma bercanda ...." Raya mengikutiku ke dapur.
Dia tidak mau menunggu di kamar karena takut aku membuktikan kata- kataku. Padahal aku cuma bercanda.
"Pa-kai pan-ci be-sar a-ja ah, bi-ar a-ir-nya men-di-dih-nya la-ma!" godaku.
"Ih, Ayah, Bunda kan cuma becanda!" jeritnya kesal.
"Be-ne-ran ju-ga nggak a-pa- a-pa! A-yah ju-ga se-nang, kok!" kataku semakin senang menggodanya.
"Ihh, Ayaah ....!" jeritnya.
"Bun- daaaa!" balasku tak peduli.
"Aduuh .... Ayah sama Bunda pagi- pagi udah berisik, deh. Bikin Nenek jadi bangun juga, kan?" celutuk Ummik tiba- tiba nongol begitu saja di dapur.
"Um- mik ...."
Adu duh, lihatlah pada Ummiknya saja dia malu- malu begitu. Istriku ini memang rada- rada gemesin. Di lain waktu dia suka malu- malu seperti ini, tapi di lain waktu bisa malu- maluin. Kalau kuingat moment waktu aku ngambek padanya dan dia membujukku untuk pulang. Saat itu dia sama sekali seperti tak punya malu. Dia menggandengku, memanggilku sayang dan bahkan mengucap i love you padaku di depan banyak orang. Istri yang unik memang.
"Udah adzan belum, ya? Sholat berjamaah bareng, yuk! Mumpung Mahfudz ada, jadi imamnya Ummik dan Raya dulu, ya!" kata Ummik membujukku.
Ummik ini memang ter-the best. Beliau sama sekali tak pernah merasa terganggu akan kekuranganku dalam berbicara.
Aku mengangguk.
"Raya belum mandi, Mik!" kata Raya. "Lagian belum adzan, kok!"
"Ummik tungguin."
Ummik sepertinya paham kalau Raya belum bisa sholat subuh karena Raya harus mandi junub dulu. Ah, ini memalukan mengingat Ummik yang selalu menyiapkan air panas untuk Raya mandi junub tiap subuh.
"Sayang, minta tolong lihatkan airnya sudah panas belum. Nanti keburu adzan," kata Raya.
Usai sholat subuh berjamaah dengan Ummik, aku juga mengajak Raya jalan- jalan pagi di taman meskipun sebenarnya dia agak malas. Ternyata ada banyak ibu hamil yang ditemani suaminya untuk jalan- jalan pagi. Dan sepertinya aku harus lebih sering mengajaknya seperti ini.
Pulang dari jalan pagi, Raya sepertinya tak sabar ingin berbaring di kamar. Sepertinya dia gampang kelelahan. Aku berinisiatif memijat kakinya. Walaupun awalnya menolak namun karena kupaksa akhirnya dia mau aku memijat kakinya.
"A-yah kan su-dah bi-lang. Bun-da ja-ngan ter-la-lu ke-ca-pe-an ker-ja-nya. Se-ka-rang li-hat kan? Cu-ma ja-lan- ja-lan se-di-kit aj-a lang-sung ke-ca-pe-an," omelku.
Raya tersenyum. "Bunda begitu karena udah tuntutan kerja. Kamu memahami Bunda kan, sayang? Ayah mah nggak pernah ngertiin Bunda."
Raya mengelus perutnya. Dan aku juga menyingkap baju itu. Meski hamilnya belum besar tapi perutnya sudah mulai terlihat sedikit buncit dan mengeras. Aku mencium perut Raya yang masih mungil itu.
Aku ikut berbicara pada perut itu seolah si jabang bayi sudah bisa mendengar dan mengerti apa yang kami katakan. Sambil aku menggenggam tangan Raya.
"A-yah nger-ti-in Bun-da, kok! A-yah nggak ma-u ka-mu dan Bun-da ca-pek. Ka-re-na i-tu se-be-nar-nya A-yah pe-ngen Bun-da di ru-mah a-ja du-lu, sam-pai ka-mu ke-lu-ar da-ri pe-rut Bun-da. Ki-ra- ki-ra Bun-da-nya ma-u nggak ya ber-hen-ti ker-ja se-men-ta-ra?"
Raya, seperti kuduga langsung memberi respon tak senang. Dia segera menarik tangannya yang sedang kugenggam. Pandangan matanya langsung menatap tajam padaku.
__ADS_1