
Pov Mahfudz
Hari-hari pertama yang berat di stase IPD ku lalui. Di stase ini memang lebih berat daripada stase obgyn. Kalau di stase obgyn sering kali aku masih bisa nyantai dengan teman-teman koas lain tetapi di stase Interna atau disebut juga penyakit dalam, aku bahkan kadang sampai lupa makan. Bahkan tidur pun hanya bisa beberapa jam dalam sehari. Masih bagus kalau bisa tidur. Aku bahkan pernah tertidur sambil berdiri menunggu dr. Ali selesai memeriksa pasien. Dan mengetahui aku tertidur tentu saja dia memakiku, meneriakiku di depan para pasien. Dokter satu itu memang konsulen terkiller yang kutemui, beda sekali dengan konsulenku di stase sebelumnya. Yang cantik dan menggemaskan. Sehingga aku yang cuma anak koas ini pun jatuh cinta padanya. Ahh, aku jadi rindu kan? Kami berada di rumah sakit yang sama. Namun sejak aku jadi koas di stase interna, jangankan untuk bertemu. Berpapasan kebetulan pun aku tak pernah.
Hal ini dikarenakan hampir 35% dari semua pasien di rumah sakit Siaga Medika adalah pasien dari departemen penyakit dalam. Sehingga siang dan malam kesibukan selalu ada di departemen ini. Dan memang aku selalu dibuat sibuk oleh dr. Harun residen penyakit dalam yang menjadi kaki tangan dr. Ali. Aku baru saja selesai mengerjakan sesuatu pasti dia akan menyuruhku lagi dengan pekerjaan lain.
"Tugas pre-test dokter muda yang kusuruh kerjakan apa mereka sudah kumpulkan?"tanya dr. Ali pada dr. Harun ketika kami semua sedang ada di rudis.
"Sudah, Dok. Kecuali tinggal beberapa orang lagi."jawab dr. Harun.
Dr. Ali menatapku sambil terus memeriksa hasil pre-test yang sudah diserahkan dr. Harun padanya.
"Mahfudz juga sudah menyelesaikannya, Dok!"katanya tanpa ditanya.
Dr. Ali terus memeriksa hasil dari tugas yang diberikannya padaku. Aku sedikit tersenyum saat dia memeriksa tugasku tak kurang suatu apa pun.
"Ok, ini sudah selesai, kalau begitu kita langsung visit aja ke bangsal. Saya mau lihat, apa ini memang dikerjakan sesuai dengan status pasien atau cuma karangan bebas" katanya.
Aku mendengus sebal. Aku mengerjakan itu hampir tidak tidur selama dua hari dan sekarang dia malah menuduhku mengarang bebas soal tugas itu.
Atas instruksinya kami beramai-ramai ke bangsal ingin melakukan visit pada pasien.
"Dok, kenapa Mahfudz dapat tugas pre-test paling banyak daripada koas lain?"tanya dr. Harun sambil berjalan.
Teman- teman koas yang lain juga memandang dr. Ali ingin tau jawaban dokter itu.
Dr. Ali tersenyum sinis menoleh padaku . Kamu tidak mungkin bilang kalau ini semua karena wanita kan, Dok?tanyaku dalam hati sambil balas menatap sinis padanya.
"Professor bilang Mahfud adalah orang yang cerdas dan berkompeten dalam dunia kedokteran. Dia mahasiswa kesayangan professor di universitas. Jadi sepaham saya orang yang cerdas dan kompeten akan selalu dapat tanggung jawab besar"
Dr. Harun menoleh padaku seperti meragukan kata-kata dr. Ali soal kecerdasanku.
Aku tersenyum geli. Aku tak percaya ini. Betapa bijaksananya dia saat berbicara dengan orang lain dan di lain waktu dia bicara amat kasar bahkan mengancamku.
Ketika sampai di bangsal semua berjalan lancar. Dr. Ali memeriksa hasil DOPS para koas dan terlihat tenang meski ada beberapa koas yang melakukan beberapa kesalahan. Sepertinya dr. Ali adalah sosok yang ramah bagi koas lain.
Sampai pada giliran memeriksa tugasku, dr. Ali menanyakan pada pasien gejala yang dirasakan pasien sesuai dengan apa yang kutulis pada lembar tugas.
"Memangnya Ibu BAB-nya cair?"tanyanya pada pasien.
Si pasien mengernyitkan keningnya.
"Ahh, nggak kok Dok. Siapa bilang?!"jawabnya santai.
__ADS_1
Aku melihat wajah dr. Ali yang berubah marah dan langsung mendampratku di tempat.
"Ibu pasiennya bilang, BABnya nggak cair. Kenapa kamu tulis disini BAB cair, berwarna kuning kehijauan, Mahfudz?!!!"bentaknya marah.
Wah, nggak benar ini.
"Ke-ti-ka a-ku ta-nya ke-ma-rin, ibu-nya bi-lang ca-ir kok, Dok!" kataku membela diri.
Aku sangat ingat kemarin ibu pasien itu memang mengatakan BABnya cair dan berwarna kuning kehijauan. Kenapa sekarang ngomongnya malah lain. Aku memandang si Ibu meminta penjelasan. Namun dia dengan perasaan tak berdosa cuek saja sambil terus mengotak-atik gadgetnya. Ya ampun, apa jangan-jangan kemarin si Ibu nggak fokus jawab pertanyaanku karena asyik main Hp?
"Kamu nggak usah sibuk membela diri. Kalau kamu salah ya salah aja"katanya geram. "Kamu ini sangat ceroboh Mahfudz, kamu tau nggak dampak yang kamu bikin kalau kamu salah sedikit saja dalam membuat status pasien???!! Tau nggak? Salah menulis gejala, berarti akan salah mendiagnosa. Salah diagnosa berarti salah dalam memberi tindakan. Salah memberi tindakan, bisa nyawa yang jadi taruhannya. Kamu paham nggak?!" katanya marah sambil melempar hasil laporan DOPS padaku. "Kerja kok nggak becus!!!"
Aku hanya bisa menghela napas membiarkan dia membentak-bentakku di depan para koas dan pasien.
\*\*\*\*\*
[Kamu jarang menghubungiku sekarang, pak Dokter] keluh dr. Raya saat aku sedang jaga malam di IGD.
[Aku sibuk, sayangku] balasku.
Dan bisa kupastikan pasti saat ini dr. Raya wajahnya sedang memerah seperti kepiting rebus. Dia itu sebenarnya orang yang sangat pemalu. Itulah kadang yang membuatku merasa gemas padanya. Saat malu, wajahnya yang putih bersih akan langsung kelihatan merah merona dan segera menundukkan pandangannya.
Ku tunggu balasan chatku. Semenit, dua menit yang terlihat di bagian atas aplikasi WA hanya mengetik berhenti, mengetik lagi namun tak juga ada pesan terkirim padaku. Nah, bingung kan dia mau bilang apa.
[Yank, jawab donk. Sampai kapan aku memanggilmu dengan panggilan dokter terus. Masa kalau kita nikah aku masih harus panggil dokter terus, kamu panggil aku Mahfudz, Fud terus?]
Aku melihat pesan itu cuma dibaca dengan tanda 2 centang biru. Tidak terlihat lagi tanda-tanda dia sedang mengetik.
Aduuuh memang dasarnya jual mahal ini, kekasihku.
Aku segera menelponnya dengan panggilan vidio. Namun tidak diangkat lagi. Kuulangi kedua kali hingga panggilan vidio itu tersambung. Namun aku yang sedang minum kopi hampir tersedak melihat siapa yang angkat panggilanku.
"Um- um-mik?"
"Sudah sayang-sayangannya Mahfudz, Raya sudah tidur dari tadi. Besok dia mau kerja. Sayang-sayangannya simpan dulu sampai selesai akad" kata Ummik sambil menguap.
Aduuh, aku hanya bisa cengengesan sambil garuk-garuk kepala.Ternyata yang sedari tadi membaca pesanku adalah Ummik. Aku memperhatikan jam terkirim pesan terakhir Raya padaku. Itu sudah lebih satu jam yang lalu ternyata.
"Eh, Um-mik. Um-mik bel-um ti-dur?"
"Gimana Ummik mau tidur kalau kamu telpon terus, chatmu masuk terus?"
Aku tertawa. "Hehehe ma-af, Mik. Dr. Ra-ya ti-dur de-kat um-mik? Bi-sa li-hat se-ben-tar, Mik? Pliiis.... Mah-fudz la-ma nggak ke-te-mu Ra-ya."
__ADS_1
"Nggak boleh, Fud, Raya lagi terbuka auratnya. Dosa kamu lihat nanti. Sabar kamu, nanti ada waktunya kok kalian ketemu terus. Sampai bosan kamu. Memang kamu nggak ada yang dikerjain sekarang?"
"Mah-fudz la-gi ja-ga IGD. Se-pi, Mik! Ya su-dah Mik, Um-mik ti-dur a-ja la-gi"
"Ya, sudah. Ummik tidur dulu ya Fud. Kamu jaga kesehatan ya, Nak!"
"I-ya Um-mik."
"Assalamualaikum, Mahfudz"
"Wa-alai-kum- sa-lam, Um-mik"
"Cieee yang mau nikah," kata dokter jaga menggodaku. Yah semua orang di rumah sakit ini yang kenal dr. Raya pasti tau kabar itu.
Aku cuma tersenyum kecil sambil menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal.
Memasuki jam 1 malam ada pasien masuk diantar oleh beberapa orang temannya. Pasien yang kelihatan seram dengan tato hampir menyeluruh di kaki leher juga tangannya.
Aku memperhatikan pasien yang terlihat sesak bernapas itu. Kakinya juga terlihat bengkak.
"Fud, kamu tensi bapak itu. Dan lakukan anamnesa padanya"kata dokter jaga yang disuruh untuk mengawasiku.
"Per-mi-si, pak!"pamitku lalu mengukur tekanan darah pasien itu.
Aku kaget melihat tensinya yang mencapai 200/20 mmHg. Tensi apa ini?
"Ke-lu-han-nya a-pa, mas?"tanyaku.
"Kamu ngomong apa, g*blok!!"
Pasien itu meringis sambil membentakku, membuatku malu seketika. Namun aku harus tetap sabar.
"Sa-ya ta-nya ke-lu-hannya a-pa?"kataku pada yang mengantarnya.
"Bang, dokter ini kayaknya gagu. Dia tanya keluhan abang apa?" tanya temannya.
"Ya keluhannya sakitlah, anj**g!!!"teriaknya sambil meringis.
Bobby teman koasku yang baru hampir saja terpancing emosinya. Namun aku berusaha menahannya.
Pasien di depanku ini benar-benar kesakitan. Aku harus sabar. Aku ingat kata-kata dr. Hilda saat aku ujian.
Sabar, sabar dan sabar. Ini baru koas belum dunia profesi yang sebenarnya.
__ADS_1