I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Mencari Jalan untuk Kabur


__ADS_3

Tok!Tok!Tok!


Aku menarik napas dalam sebelum mempersilahkan orang yang mengetuk pintu masuk.


"Masuk!!


Dua orang polisi masuk ke ruanganku.


"Maaf, Dokter, kami mengganggu aktivitasnya sebentar," kata salah seorang dari mereka.


Aku mempersilahkan mereka duduk.


"Ya, ada yang bisa saya bantu, Pak?" tanyaku seperti kebingungan.


Para polisi ini menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan.


"Dokter sendirian saja? Di luar sepertinya banyak pasien yang antri," kata salah seorang Pak polisi dengan nada yang curiga.


Aku belum sempat menjawabnya saat pintu kamar mandi dalam di ruanganku terbuka. Seseorang wanita berniqob keluar dari kamar mandi. Wanita itu menyerahkan wadah berisi air urin padaku.


"Maaf, Bu. Ibu duduklah sebentar. Sepertinya Bapak- bapak dari kepolisian ini ada urusan sebentar di sini." kataku.


Wanita itu terlihat mengangguk, "Iya, Dok. Nggak apa- apa saya bisa menunggu kok." kata wanita itu.


"Jadi apa yang bisa saya bantu?" tanyaku.


"Apa kami boleh memeriksa ruangan ini sebentar?"


Aku mengernyitkan keningku.


"Apa Bapak memiliki surat penggeledahan?" tanyaku.


"Kami tidak bermaksud menggeladah ruangan ini, Dokter. Kami hanya ingin mencari seseorang. Sebentar saja. Kami khawatir dia melarikan diri ke sini." kata polisi itu menjelaskan.


"Tidak ada siapa- siapa di sini, Pak. Cuma ada saya dan pasien saya. Tetapi kalau memang Bapak memaksa, silahkan saja. Meski tanpa surat penggeledahan, saya akan mencoba untuk memakluminya dan bekerja sama dengan Bapak," kataku mempersilahkan.


Kedua polisi itu langsung mencari ke seluruh ruanganku yang tidak seberapa besar ini. Mereka mencari di bawah meja, di bawah ranjang hingga di balik pintu, terakhir mereka mencari di toilet, namun mereka tak menemukan orang yang mereka cari.


"Bagaimana, Pak?"


Mereka kompak menggeleng dan serentak melihat pada wanita bercadar di hadapanku.


"Bisa minta tolong buka cadarnya sebentar, Bu?"


Aku menatap tak percaya pada kedua polisi ini.


"Pak, bukankah itu agak sedikit kurang sopan? Pasien saya tidak akan nyaman dengan hal ini." kataku keberatan.


"Kami meminta dengan baik- baik, Bu Dokter. Bu, apa bisa minta tolong buka cadarnya sebentar. Kami hanya ingin memastikan kalau Ibu adalah orang yang kami cari atau bukan."


Aku menatap polisi ini dengan jengah.


"Baiklah, saya akan buka cadar saya, kalau yang memeriksa adalah petugas wanita."


Polisi itu pun menelepon rekannya. "Fauziah, kamu ke sini. Poliklinik obgyn, ruangan dr. Raya Sp.OG."


Tidak lama petugas polwan bernama Fauziah itu pun datang.


"Ya, Pak!"


"Kamu coba periksa buka cadar Ibu itu, apa dia Ayuni?"


Aku tertawa geli dalam hatiku. Sudah kuduga, Waridi pasti akan melakukan ini. Dia akan memata- mataiku. Benar kata Fuad, dia punya banyak koneksi yang bisa dia gerakkan. Aku tidak yakin para polisi ini mendapat perintah dari atasannya. Mereka melakukan ini pasti atas perintah Waridi.


Kedua polisi ini membelakangi kami agar tidak melihat aurat dibalik niqob itu. Sementara polwan itu membuka niqob itu perlahan.


"Permisi, ya Bu ...." katanya santun.


Dan .... Wajah dibalik cadar itu pun terlihat. Aku menyembunyikan sedikit senyum di bibirku.


"Pak! Ini bukan Ayuni!"


Kedua polisi itu serentak membalikkan badan mereka sebelum wanita itu kembali memakai cadarnya.


"Astaghfirullah ...." ucap wanita itu seperti kaget karena wajahnya terlihat lelaki yang bukan muhrimnya.


Dalam hati aku memuji akting Tika, mahasiswi koasku.


"Jadi gimana?" Aku bertanya pura- pura peduli tentang hal itu.


"Maaf Dok, sudah mengganggu waktunya. Sepertinya orang yang kami cari tidak berada di sini. Kami akan mencari ke tempat lain." kata salah satu dari mereka.


Aku cuma mengangguk- angguk.

__ADS_1


Aku menarik napas lega ketika mereka sudah pergi dari ruangan ini. Setelah memastikan mereka benar- benar pergi, Tika membuka cadarnya.


"Tika, terima kasih. Aku benar- benar tidak tau lagi apa yang terjadi tadi kalau kamu tidak ada." kataku dengan rasa yang sangat amat berterima kasih.


Tadi sebelum polisi ke sini, aku menyempatkan diri memanggil Tika masuk ke dalam dengan alasan perlu bantuannya untuk menangani pasien. Secepat mungkin juga Tika ku suruh memakai baju gamis, khimar dan Niqob Ayuni. Dan Ayuni ku paksa naik ke plafon kamar mandi.


"Sama- sama, Dokter. Tapi kita harus segera mengeluarkan Ibu yang tadi dari plafon.


Oh, iya astagfirullah. Bagaimana dengan Ayuni?


Aku dan Tika segera ke kamar mandi. Aku memanggil- manggil Ayuni.


"Ayuni, kamu bisa turun nggak? Mereka sudah pergi, ayo turunlah. Aku akan membantumu" kataku sambil berbisik.


Tak terdengar suara Ayuni.


"Ayuni," panggilku lagi.


Tetap tak terdengar sahutan. Aku hendak naik ke bak mandi untuk mengecek plafon. Tapi Tika melarangku.


"Aku saja, Dok! Dokter Raya sedang hamil kan? Itu berbahaya."


Ya benar, itu berbahaya. Bagaimana bisa tadi aku punya ide gila menyuruh wanita hamil 7 bulan masuk melalui plafon kamar mandi. Oh, ya ampun bagaimana ini? Apa dia kenapa- kenapa di atas plafon? Di sana kan banyak kabel- kabel listrik.


Tika dengan sigap naik ke bak mandi lalu meletakkan sebalah kakinya pada ventilasi udara hingga akhirnya dia memanjat sempurna pada jeruji ventilasi itu dan meraih tutup plafon.


"Ibu .... Ibu .... " panggilnya.


Namun sepertinya tak ada sahutan.


"Sepertinya Ibunya pergi dan mencari jalan keluar lewat plafon deh, Dok! Apa plafon ini bisa tembus ke ruangan lain?" tanyanya.


Aku berpikir sejenak. Sepertinya iya. Soalnya dulu pernah ada tukang yang sedang memeriksa kabel- kabel listrik dari atas plafon. Tau- tau saja, dia sudah berada di kamar mandi tanpa masuk lewat pintu.


"Sepertinya benar, Tik. Ngomong- ngomong aku bisa minta tolong sekali lagi?" tanyaku penuh harap.


"Iya, Dok! Tentu saja" kata Tika terlihat senang. Dia memang senang ku suruh- suruh. Mungkin dia senang membantuku agar aku tidak pelit memberi nilai padaku.


"Tolong cari Ibu yang tadi. Dan pastikan dia bisa keluar dari rumah sakit ini tanpa sepengetahuan polisi. Kamu bisa?" tanyaku.


Tika terdiam dan memandangku.


"Dok, aku tau Ibu yang tadi itu anaknya bapak wakil walikota waridi, kan?"


"Kau tau?" tanyaku kaget.


Tika mengangguk setelah itu dia membuka baju dan cadar Ayuni tadi dari tubuhya.


"Ada beritanya di televisi subuh ini." katanya. "Aku mengkhawatirkan Dokter!"


Aku menghela napas dan mengangguk. Aku sangat stress saat ini.


"Kalau kamu tidak bisa sebaiknya jangan," kataku.


Aku mengurungkan niatku untuk melibatkannya. Ini terlalu riskan.


"Aku akan mencarinya, Dokter! Tunggulah di sini. Aku tidak tau apa alasan Dokter melakukannya. Tapi aku yakin pasti Dokter Raya punya alasan sendiri." kata Tika.


Aku mendesah. "Aku akan membayarmu nanti Tika," janjiku.


"Ah, nggak usah, Dok! Saya ikhlas pengen bantu Dokter," jawab Tika.


Aku tak dapat berkata apa- apa lagi.


"Pake masker, Tika! Mereka mungkin akan mengenalimu lagi kalau kau keluar tidak pakai masker," kataku.


Tika mengangguk dan mengambil selembar masker yang kuberikan. Setelah itu dia pergi. Dan aku segera menggulung baju gamis dan cadar itu dan memasukkan di laci bawah mejaku.


"Pasien tadi mana, Dok?" Winda tiba- tiba saja telah berada kembali ke ruanganku.


"Hmmm?" Aku jadi bingung menjawabnya


"Pasien bercadar tadi ...." Winda kembali menegaskan.


"Oh, itu. Dia sudah selesai. Dia pulang," kataku.


Winda terlihat bingung.


"Pulang? Kok aku nggak lihat? Aku dari tadi di depan aja loh, Dok."


"Paling kamu lagi mainan HP makanya nggak lihat," omelku.


Winda masih akan bertanya banyak andai aku tak segera menyuruhnya melanjutkan kembali daftar antrian.

__ADS_1


\*\*\*\*\*\*


Author pov


Ayuni beringsut melangkah di atas plafon rumah sakit. Tempat ini gelap namun dia masih mendapat cahaya dari sinar lampu di setiap ruangan yang memiliki penutup plafon seperti di kamar mandi ruangan dr. Raya. Sesekali dia bisa mendengar suara orang di ruangan di bawahnya.


Setiap menemukan tutup plafon, Ayuni mengintip dari sela- sela jeruji besi penutup itu apa dia bisa turun ke bawah. Hingga pada akhirnya dia melihat tempat yang bisa dia turuni. Tempat itu adalah toilet. Kebetulan toilet itu sepi. Dan turun sepertinya memungkinkan walau tanpa tangga. Dia bisa menginjakkan kakinya pada ventilasi kamar mandi dan kemudian turun ke bak mandi persis yang dia lakukan saat naik ke plafon ketika berada di ruangan dr. Raya.


Perlahan Ayuni mulai membuka tutup plafon. Namun sepertinya ini agak sulit di buka. Dan terpaksa dia harus mengurungkan niatnya lagi saat ada seseorang yang masuk ke kamar mandi untuk mandi. Setelah di bawah tak ada lagi suara orang mandi Ayuni berusaha lagi untuk membukanya. Dan lagi- lagi ada orang yang masuk kamar mandi.


"Ibu, Ibu Ayuni kan?" Suara seseorang seperti bicara padanya.


Ayuni melihat untuk mencari tau siapa orang itu. Dan ia bisa bernapas lega mengetahui kalau itu adalah perawat yang tadi membantunya naik di ruangan dr. Raya.


"Ayo saya bantu turun, Bu .... Dr. Raya meminta saya untuk memastikan Ibu keluar dengan selamat dari rumah sakit ini."


Akhirnya dengan upaya yang tidak mudah Ayuni berhasil diturunkan dari plafon.


Baru saja mereka hendak keluar dari kamar mandi, tiba- tiba Tika menutup kembali pintu kamar mandi itu. Dia memberi kode pada Ayuni agar diam.


"Aku tak percaya kita harus mengerjakan tugas seperti ini," kata seseorang.


"Sudahlah, jalani saja!" kata seseorang lagi.


"Kita bahkan tidak punya surat tugas dari kantor, yang benar aja kita disuruh cari anaknya Pak Waridi di sini. Memangnya anaknya itu masih kecil? Dia sudah dewasa dan cukup umur. Kalau dia pergi dengan pria itu namanya bukan diculik. Melainkan pergi atas kemauannya sendiri. Aneh aja sih, dia sedang hamil. Dan mungkin pria itu mencintainya. Apa salahnya orang jatuh cinta. Kenapa Pak Waridi repot sekali mengurus masalah percintaan anaknya?" kata wanita itu kesal.


Sepertinya Tika dan Ayuni tau kalau itu adalah polwan yang disuruh oleh Waridi mencari dan mengawasinya di rumah sakit ini.


Sesekali Tika membuang air di WC seolah- olah di kamar mandi itu memang ada orang yang sedang berhajat besar.


"Kau sudah periksa tadi kamar ini satu- satu?" tanya polwan itu lagi.


"Sudah. Tidak ada Ayuni di rumah sakit ini. Sebaiknya kita sudahi aja ini. Kita bilang aja sudah periksa semuanya."


"Tapi kita belum periksa tiap departemen."


"Pak Waridi nyuruh kita fokusnya cari di departemen obgyn. Itu artinya Ayuni tidak akan ada di departemen lain."


"Tapi kalau Pak Kamil nggak percaya kalau kita udah cari ke seluruh departemen gimana?"


"Kalau gitu suruh aja Pak Kamil cari sendiri. Hahahaha,"


Keduanya tertawa ngakak.


Dan akhirnya kedua polwan itu pergi. Ayuni dan Tika pun keluar dari kamar mandi. Tika pun memimpin berjalan di depan untuk memastikan tak ada yang melihat mereka. Tak lupa masker yang di pakainya diberikan pada Ayuni. Tika sudah memastikan kalau dia akan membawa Ayuni lewat gerbang rumah sakit lain.


"Ayo, lewat sini!" Tika mengarahkan Ayuni.


Dia memutuskan untuk lewat gerbang departemen penyakit dalam. Dan benar, tidak ada polisi yang menjaga di sana.


Semua mungkin baik- baik saja andai Ayuni tidak kebetulan bertemu Mahfudz di sana. Mahfudz masih memakai jaket kala itu, sebab dia sendiri baru tiba karena ada urusan di kampusnya. Sesudah mengantar Raya ke rumah sakit, Mahfudz segera ke kampus karena ada urusan perpindahan stase yang berarti tidak lama lagi koasnya di departemen penyakit dalam akan selesai.


"Fuad!" seru Ayuni.


Mahfudz seketika menoleh dan memandang heran pada Ayuni dan Tika.


Sial! Tika segera membalikkan badannya dan menarik tangan Ayuni.


"Tu- tung-gu!" panggil Mahfudz.


Rasa- rasanya dia pernah melihat wanita hamil bermasker itu. Dan wanita di sebelahnya. Bukankah itu anak koasnya Raya? Dia pernah melihatnya jadi pagar ayu di pernikahan mereka. Dan wanita tadi itu memanggilnya apa? Fuad?


Tika yang menyadari situasi akan jadi rumit kalau Mahfudz menangkap mereka, segera membawa Ayuni lari. Itu suaminya dokter Raya.


Sementara Ayuni masih saja menoleh ke belakang mengira itu Fuad. Dia mungkin pernah melewatkan cerita Fuad tentang saudara kembarnya yang juga koas di rumah sakit itu sehingga dia tak mempertimbangkan kemungkinan terjadinya situasi seperti ini.


Tika berlari menarik Ayuni hingga parkiran. Mereka bersembunyi di balik sebuah mobil.


"Itu suaminya dr. Raya! Kenapa Ibu memanggilnya?" kata Tika kesal.


Ayuni membekap mulutnya sendiri.


Benar, Fuad tidak mungkin menampakkan dirinya sendiri di rumah sakit sekarang ini apalagi tanpa penutup wajah. Mereka buronan sekarang. Jadi tadi itu saudara kembarnya? Oh, mirip sekali! Ayuni sampai takjub dibuatnya.


Sesaat ketakjuban itu berubah jadi kepanikan saat mereka mengintip dari balik mobil, Mahfudz mengejar mereka sampai ke parkiran. Semakin dekat jarak Mahfudz semakin keduanya merasakan sport jantung. Dan kini Mahfudz berada di balik mobil yang sama di tempat mereka bersembunyi. Mahfudz mengitari mobil itu, Tika dan Ayuni pun melakukan hal yang sama untuk menghindari Mahfudz.


Trrrrrrrrt .... Trrrrrrrrttt


Tiba- tiba suara getar ponsel yang berada di kantong celana legging Ayuni bergetar. Ayuni mengambil ponsel itu dan segera mematikannya. Dia sempat melihat itu telepon dari Fuad.


Mahfudz sendiri seperti mendengar suara getar HP. Itu seperti berasal dari balik mobil. Mahfudz segera mengitari lagi mobil itu.


Dan ....

__ADS_1


__ADS_2