I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Calon Menantu


__ADS_3

Pov Mahfudz


"Wah, gila!!! Aku kira hubungan dr. Raya sama Mahfudz itu gosip doank, tapi kayaknya memang betulan deh, coba kamu lihat tadi ekspresi dr. Raya nyindir Mahfudz pas di bangsal. Kelihatan banget kalau antara dr. Raya sama Mahfudz ada apa-apa" celutuk Anita.


Aku diam saja sambil terus membaca jurnal kesehatan yang kubaca.


"Woy, Fud!! Jelasin ke kita, kamu pacaran sama dr. Raya?"


Anita menimpukku dengan modul yang dia pegang.


Aku mengelus-elus kepalaku yang ditimpuk Anita.


"A-pa?"tanyaku.


"Kamu pacaran sama dr. Raya kan, Fud?!"


Aku menggeleng, melihat wajah-wajah penasaran di hadapanku satu per satu dan lanjut membaca journal.


"Nggak apanya. Jelas-jelas bahasa tubuh kalian mengatakan ada sesuatu. Kamu lihat tadi waktu dr. Raya bilang kamu pembohong pake bahasa isyarat, ekspresinya loh benar-benar marah kayak nggak dibuat-buat..."


"... Kamu juga nggak lihat tadi?"sela Dewi. "Waktu dr. Raya ngucapin terima kasih ke anak itu, eh ternyata artinya aku sayang kamu, lihat wajah Mahfud sama dr. Raya, kelihatan merah, malu-malu cuy... hahahaha"


Mereka tergelak menertawaiku. Aku hanya bisa garuk-garuk kepala setengah malu.


"Berarti belum pacaran ya, Fud?"tanya Anita berusaha mengorek-ngorek isi hatiku.


Aku merasa tak perlu menjawab pertanyaan itu.


"Tapi kamu suka sama dr. Raya kan, Fud?Iya kan?"


"Ayolah, ngaku aja, Fud"desak mereka."Dr. Raya juga kelihatannya suka kok sama kamu, kelihatan banget dari ekspresinya, nggak bisa dibohongin, mah."


Aku menghentikan membaca jurnal, dan menunggu kelanjutan kata-kata Anita. Aku tertarik pada kata-kata prediksi Anita yang bilang dr. Raya menyukaiku.


Aku sebenarnya pengen tau, apakah dr. Raya punya perasaan padaku. Aku ingin tau, apakah sedikit saja dalam hatinya ada rasa cinta untukku.


"Kamu itu, Fud..!Konsulen sendiri ditaksir, terus kalau sudah kayak gini gimana coba? Kalau kamu nggak segera ungkapin perasaanmu ke dr. Raya, bisa-bisa kamu diduluin dr. Ali loh."katanya pelan. Mungkin efek pernah ketangkap basah lagi ngomongin dr. Raya Anita jadi lebih berhati-hati sekarang.


"Apalagi sekarang, Bu Tya sudah almarhum, cepat-cepat bertindak kamu, Fud. Sebelum dr. Ali ambil start duluan dapatin hatinya dr. Raya lagi."bisiknya.


"Kami mendukungmu, Fud!"kata mereka menyemangatiku.


["Aku ingin menikah, Fud. Dengan siapa pun tak masalah, asal bukan dengan dia"]


Aku teringat kata-kata dr. Raya yang itu.


Oh, berarti "dia" yang dimaksud dr. Raya adalah dr. Ali. Aku mengerti sekarang. Apakah aku hanya pelarian baginya? Hanya karena dr. Raya ingin membalas dr. Ali yang pernah menyakitinya, makanya dia ingin membalasnya dengan menikah denganku agar dr. Ali sakit hati?


Menyadari hal itu aku kembali membaca jurnalku. Percuma, aku berharap pada dr. Raya. Semua itu hanya akan sia-sia pada akhirnya. Aku dan dia terlalu banyak perbedaan. Aku dan dia seperti langit dan bumi. Sepertinya aku tidak akan pernah bisa bersatu dengannya. Bahkan dalam mimpi pun jangan berharap lebih.


\*\*\*\*


Dengan menggunakan jasa ojek online, akhirnya Ummik sampai di rumah sakit. Tujuannya kali ini datang ke rumah sakit bukan ingin mengunjungi putri semata wayangnya. Melainkan ingin bertemu dengan Mahfudz, anak koas yang sepertinya telah membuat putrinya galau.


"Eh, Ummik" staf pegawai di poliklinik langsung mengenali beliau sebagai Ibunya dr. Raya.


"Raya ada?"tanya Ummik.


"Ada, Ummik. Mau saya kabarin kalau ummik datang? Atau mau nunggu saja sampai dr. Raya selesai? Soalnya dr. Raya kayaknya sebentar lagi ada tindakan operasi" kata staf itu menawarkan.


"Nggak usah. Saya ke sini bukan mau menemui Raya, kok."


"Terus Ummik mau ketemu sama siapa?"tanya staf itu heran.

__ADS_1


"Saya kesini, mau bertemu dengan anak koas yang bernama Mahfudz, kamu bisa kasih tau dimana saya bisa bertemu dia?"


Staf itu seperti penasaran kenapa Ummik ingin bertemu dengan Mahfudz. Hampir semua orang di rumah sakit ini sepertinya sudah mengetahui bahwa ada hubungan spesial dr. Raya dengan anak koas itu. Akhir-akhir ini dr. Raya memang sering jadi buah buah bibir di rumah sakit ini. Selain karena kasus penculikannya yang belum bertemu titik terang siapa pelakunya, kisah cintanya pun telah jadi kontroversi bukan cuma di rumah sakit bahkan di kalangan warga net. Artikel yang menuliskan skandalnya tidur dengan anak koas, gosip lamaran, dan bahkan kemarin kasus terhangat ketika dr. Ali mengamuk saat dr. Raya takziah ke rumahnya. Di hadapan dokter dan perawat rumah sakit yang juga ada di sana, dr. Ali menuntut dr. Raya untuk bertanggungjawab dengan menikahinya.


"Ummik ingin bertemu dengan Mahfudz, ada urusan apa, Mik?" Staf itu tidak bisa menahan rasa ingin tahunya.


Ummik tersenyum.


"Ada sedikit urusan"kata Ummik tak ingin memberi tahu secara detail kenapa beliau ingin bertemu dengan anak koas itu.


"Tadi pagi sih dia sama teman-teman koasnya ada sama dr. Raya. Tapi kalau sekarang sih kayaknya dia lagi di nurse station, itu pun kalau dia ga ada tugas dari dokter atau perawat, Mik!"


"Tapi dia lagi nggak sama Raya kan?"tanya Ummik.


"Kayaknya sih nggak, Mik! Soalnya tindakan SC yang ini, kayaknya dr. Raya nggak bawa anak koas. Dia cuma bawa perawat tadi"kata staf itu.


"Oh, iya. Baguslah kalau begitu, jadi dimana nurse stationnya?"


"Memang ada apaan sih, Mik? Cerita-cerita donk dikit"bujuk staf itu.


"Cerita apa? Ada yang mau saya luruskan dengan Mahfudz sedikit, itu aja"kata Ummik. "Namanya juga anak muda, terkadang orang tua harus sedikit ikut campur kalau ada masalah"


Staf itu manggut-manggut dan memanggil security.


"Pak Budi!"


Security yang bernama Pak Budi itu mendekat.


"Tolong antar Ibunya dr. Raya ke nurse station cari Mahfudz ya Pak!"


"Ok. Siap! Ayo, Bu!"ajak security itu pada Ummik.


Sepeninggalan Ummik staf itu hanya menebak-nebak dalam hatinya, apa mungkin Ibunya dr. Raya ingin menemui Mahfudz agar menjauh dari dr. Raya? Agar dr. Raya bisa menjalin hubungan kembali dengan dr. Ali?


Sementara staf itu sibuk dengan pikiran-pikirannya, Ummik akhirnya bertemu juga dengan Mahfudz atas bantuan Pak Security.


Dan akhirnya mereka duduk di bangku panjang taman di belakang rumah sakit. Tempat ini biasa dipakai untuk bayi berjemur di pagi hari dan tempat nyantai pasien yang bosan berada dalam ruangan.


"Namamu Mahfudz?"tanya Ummik.


"I-ya Bu Sa-ya- Mah-fudz"


Mahfudz membenarkan dengan bahasa isyarat.


"Jangan panggil saya Ibu. Panggil saya Ummik. Saya lebih senang dipanggil begitu. Teman-teman Raya dan orang-orang dekatnya memanggil saya Ummik"


Mahfudz tersenyum. "Oh, i-ya. Ma-af Um-mik"


Ummik menatap lelaki muda di sampingnya ini dengan sangat perhatian. Pria yang tampan sebenarnya, senyumnya juga menawan. Pantas saja putrinya Raya bisa tergoncang hatinya oleh lelaki ini setelah bertahun-tahun berpisah dengan Ali dia tak pernah sekalipun tertarik pada pria mana pun. Sepertinya pria ini juga terlihat sopan dan santun pada orang tua. Setidaknya demikian kesan pertama Ummik pada mahfudz.


"Usiamu berapa sekarang?"tanya Ummik.


"Sa-ya ja-lan 24 ta-hun, Um-mik."


Ummik manggut-manggut. Raya juga sudah berusia 30 tahun lebih sekarang. Itu artinya usia mereka hampir terpaut 7 tahun. Jarak yang lumayan jauh sebenarnya. Apalagi Raya sebagai wanita lebih tua usianya dari lelaki ini.


Ummik menarik napas. Dalam hatinya ia menyayangkan point usia yang membuat perbedaan Raya dan pria ini.


Tapi tunggu dulu, sepertinya lelaki ini juga pembawaannya kalem terlihat dewasa tidak kekanak-kanakan seperti orang-orang seumurannya. Ummik berusaha menghibur dirinya dalam hati.


Mahfudz menunduk sopan. Memandang sepatu putih yang dipakainya. Entah apa yang dicarinya di sana.


"Kamu menyukai Raya?"

__ADS_1


Mahfudz terkejut di todong pertanyaan begitu tiba-tiba.


"Ah, maksud saya apa kamu mencintainya?Hmmm apa ya kata-kata yang tepat untuk mengungkapkannya..."


Ummik terlihat bingung pada pertanyaannya sendiri.


"Kalau cuma sekedar suka, saya yakin banyak yang menyukai Raya. Kalau cinta saya kurang paham bahasa itu. Saya orang jaman dulu, Mahfudz. Dulu saya dan abahnya Raya tidak pernah berkata cinta-cinta. Jadi saya kurang paham kata-kata itu. Hmm... Bagaimana kalau begini saja. Kamu sayang pada Raya?"


Ummik bertanya serius pada Mahfudz.


"Um-mik sa-ya ..."


Mahfudz bingung harus menjawab apa. Ini terlalu tiba-tiba.


"Raya itu anak saya satu-satunya. Dan hanya saya saja yang dimilikinya saat ini. Jadi saya ingin memastikan kalau ada orang yang serius menjalin hubungan dengannya, orang itu harus sayang padanya sama seperti saya menyayangi Raya bahkan kalau bisa rasa sayangnya harus melebihi rasa sayang saya pada Raya"


Mahfudz menunduk. Dalam hatinya dia menjawab, saya menyayangi dr. Raya Ummik. Tapi kata-kata itu tidak bisa keluar dari bibirnya.


"Jadi, kamu menyayangi Raya atau tidak?"


Mahfudz yang tadinya menunduk memberanikan mengangkat kepalanya dan mengangguk.


"I-ya Um-mik. Sa-ya sa-yang pa-da-nya"


Ummik menatap Mahfudz.


"Saya kesini hanya ingin mengetahui itu saja. Dan mengatakan padamu. Kalau kamu menyayangi dia berarti kamu siap terikat dengannya. Kamu bawalah orang tuamu ke rumah"


Mahfudz kaget mendengar kata-kata Ummik yang terlihat to the poin tanpa basa-basi.


"Ummik tidak suka lelaki plin-plan. Hanya kalau kamu serius ingin menikahi dia, maka aku akan memberikan putriku padamu. Kalau kamu tidak siap, sebaiknya kamu tidak perlu mendekati Raya lagi. Jangan buat hatinya bimbang dengan perasaan-perasaan yang tidak jelas, kamu paham Mahfudz?"


Mahfudz mengangguk walaupun dengan hati yang galau. Aduuh, bagaimana ini. Apa yang harus kulakukan, keluhnya dalam hati.


Ummik mengambil kotak bekal yang dari tadi di letakkannya di sebelahnya.


"Tadinya saya membawakan itu buat Raya, tapi kata staf poli, Raya ada tindakan SC saat ini, jadi itu buatmu saja. Teman-teman Raya adalah putra dan putriku juga, apalagi calon menantuku" kata Ummik sambil menepuk pundak Mahfudz.


Mahfudz seperti keselek biji durian mendengar kata-kata Ummik yang terakhir.


"Ummik, permisi dulu Mahfudz. Sampaikan salam Ummik pada keluargamu di rumah. Ummik menantikan kedatangan kalian di rumah Ummik. Itu pun kalau benar kamu sayang dan serius pada Raya. Assalamualaikum, Mahfudz"


"Wa-ala-i-kum sa-lam- Mik"


Ummik meninggalkan Mahfudz yang masih bengong memandang kotak bekal di hadapannya. Di tutup bekal itu ada gambar karakter smile berwarna kuning yang tersenyum padanya. Ada tulisan Raya di samping bekal itu.


\*\*\*\*


Aku baru saja selesai melakukan tindakan SC dan baru akan kembali ke ruanganku ketika seorang cleaning service datang mencariku. Kami bertemu di koridor rumah sakit.


"Dokter, aku cuma mau sampein titipan dari pasien Bougenville VVIP ke dokter Raya" kata CS itu dengan gugup.


"Titipan?"tanyaku sambil menerima sebuah kartu tanda pengenal yang diberi oleh CS itu.


Aku membaca tulisan yang tertera di kartu itu. Kartu Tanda Pelajar Sekolah Luar Biasa atas nama Pratiwi Arista.


Siapa orang yang tertera pada kartu ini?Kelihatannya anak ini peserta didik sekolah luar biasa. Dari data yang tertera di situ umurnya masih sekitar 13 tahunan. Siapa dia?


"Yang memberi kamu ini pasien Ayuni?"tanyaku pada CS yang terlihat takut itu.


"Iya, Dokter. Dia menyuruhku memberikannya pada dr. Raya"katanya terlihat khawatir.


"Dimana dia sekarang? Kenapa dia tidak memberikannya langsung padaku?"tanyaku.

__ADS_1


"Orangnya baru saja diijinkan pulang sama dokter, Dok! Tadi pas saya mau bersih-bersih kamarnya. Dia menyelipkannya di tangan saya sambil berbisik, tolong kasih ke dokter Raya, gitu, Dok!Untung nggak ketahuan sama pengawalnya. Kalau nggak bisa mati saya, Dok"


Aku termangu melihat kartu di tanganku. Siapa orang ini?Kenapa Ayuni memberikannya padaku?


__ADS_2