I Love You Dr. Gagu

I Love You Dr. Gagu
Ujian Stase Obgyn


__ADS_3

Ujian akhir stase obgyn mahasiswa kepaniteraan berlangsung selama 3 hari berturut-turut. Aku termasuk salah satu dari dua orang dokter penguji yang dipercayakan pihak FK tempat dimana Mahfudz kuliah kedokteran. Ini adalah hari terakhir ujian mereka. Setelah hari pertama mereka melakukan ujian tertulis, hari kedua praktikum dan hari ketiga wawancara.


Penguji ujian selain aku adalah Dr. Hilda Sp.OG. Beliau adalah dokter obgyn senior di kota ini. Dia juga pernah menjadi dosenku saat di FK dan ketika aku mengambil pendidikan spesialis obgyn. Pengalamannya di bidang obstetri dan ginekologi tidak diragukan lagi. Aku mah apa atuh kalau dibandingkan dengan beliau. Tapi disandingkan dengannya sebagai dokter penguji menjadi kebanggaan sendiri bagiku.


"Mahfudz Alzhafran!"panggil panitia ujian dari pintu ruangan.


Aku mengipas-ngipas wajahku dengan lembar kertas soal yang akan kubacakan nanti. Entah mengapa mendengar namanya saja membuatku berdebar-debar dan merasa kepanasan.


Mahfudz masuk ke dalam ruang ujian. Ruang ujian ini diisi hanya oleh dokter penguji sebanyak 30 orang. Masing-masing stase menyediakan dua dokter penguji. Dan kedua dokter penguji ini akan menguji satu orang mahasiswa koas secara bergantian.


Aku menatap Mahfudz seakan bertanya apa dia baik-baik saja dan siap ujian. Mahfudz tersenyum seakan memberi kode kalau dia baik-baik saja.


Aku mendapat kesempatan pertama untuk menguji Mahfudz dengan pertanyaan lisan.


"Mahfudz, dengar pertanyaannya baik-baik dan jawab dengan benar dan hati-hati"kataku memulai ujian. "Kasus pertama, Ny. X, umur 38 tahun telah melahirkan anak ke 5 jenis kelamin laki-laki 40 menit yang lalu di RSUD, sampai saat ini plasenta belum lahir. Hasil pemeriksaan didapatkan kontraksi uterus berkurang, kondisi ibu menurun, perdarahan 420 cc, kemudian bidan melakukan kolaborasi dengan dokter yaitu plasenta akan segera dikeluarkan secara manual. Pertanyaan pertama. Pada kasus Ny. X, selain kontraksi uterus berkurang, kemungkinan penyebab lain dari plasenta belum lahir apa? Soal kedua, jelaskan penanganan apa yang bisa dan sebaiknya dilakukan pada kasus Ny. X! Soal ketiga, tindakan yang dilakukan pada kasus ny. X dapat menyebabkan komplikasi, namun untuk memperkecil komplikasi maka tindakan yang bisa dilakukan adalah ...?"


Mahfudz menjawab panjang lebar dengan detail dan tepat seperti yang kuharapkan diselingi oleh bahasa isyarat. Dia seperti kata Professor memang berbakat dan cerdas. Aku bangga padanya. Namun saat Mahfudz ingin menjawab soal terakhir yang kuberi tiba-tiba dr. Hilda mengatakan sesuatu yang aku tidak bisa terima baik sebagai manusia, dokter ataupun wanita yang kekasihnya dihina.


"....kom-pli-ka-si yang da-pat ter-ja-di pa'da ka-sus Ny. X a-da-lah kom-pli-ka-si pen-da-ra-han he-bat, in-fek-si, syok neu-ro-ge-nik. Un'tuk mem-per-ke-cil kom-pli-ka-si ma-ka tin-da-kan yang di-la-ku-kan a-da-lah pe-rik'sa kem-ba-li tan-da vi-tal i-bu ca-tat..."


"....tunggu, tunggu sebentar, Mahfudz"dr. Hilda memotong pembicaraan Mahfudz. "Kamu akan jadi dokter dengan kondisi seperti ini? Maaf kamu jangan tersinggung, saya tidak habis pikir dari kemarin-kemarin. Kenapa kamu ingin memaksakan menjadi dokter kalau keadaanmu seperti ini? Saya mendengarkanmu berbicara aja tidak bisa saya pahami dengan baik kalau tidak dengan seksama. Yang dibutuhkan oleh seorang dokter bukan hanya skill dan kecerdasan. Ok, saya akui kamu dari sejak kemarin ujian praktikum dan tulisan semua jawabanmu benar, kamu cerdas.Lalu apakah kamu pikir untuk menjadi seorang dokter cerdas saja cukup? Tidak. Menjadi seorang dokter butuh kemampuan berkomunikasi yang baik. Berkomunikasi dengan pasien, dengan teman sejawat, juga saat kamu melakukan tindakan. Kamu butuh berkomunikasi dengan orang-orang yang akan membantumu, asistenmu, perawat, bidan, instrumentator! Kamu butuh sesuatu kamu harus mengatakannya dengan benar. Saya butuh pinset chirurgi, saya butuh pinset anatomi, saya butuh, kocher, allys, needle holder dll. Kamu bisa mengatakannya dengan jelas? Bahkan yang bisa bicara lancar saja tidak menjamin bisa berkomunikasi dengan baik, tidak bisa mengucapkan semua itu dengan artikulasi yang benar. Lalu kenapa kamu masih nekad menjadi dokter? Ada banyak profesi yang bisa kamu lakukan selain menjadi dokter. Menjadi dokter itu tidak main-main. Keselamatan manusia yang harus kita perjuangkan disini. Kamu yakin, keterbatasanmu itu kelak tidak akan malah membuat nyawa orang lain terancam? Memakai snelli memang adalah impian semua orang, lihatlah dirimu juga tampan sekali memakai jas putih itu. Tapi Mahfudz, ingat jas putih itu bukan cuma sekedar aksesoris bagi yang berprofesi dokter. Ada pengorbanan dan tanggung jawab besar disana. Kamu paham Mahfudz?"


Mahfudz terdiam dan menunduk. Dia pasti sedang dalam kondisi yang sulit sekarang. Dia juga pasti malu Dr. Hilda mengatakan kata-kata seperti itu padanya di depan banyak orang di ruangan ini. Aku sudah tidak tahan lagi.


"Dr. Hilda! Kenapa dokter harus mengatakan kata-kata seperti itu padanya disaat dia ujian begini? Apakah anda sebagai dokter sudah sempurna? Apa yang salah dengan orang berkebutuhan khusus seperti dia? Dia punya kemauan dan tekad yang kuat. Komunikasi yang baik anda bilang? Bahkan anda juga mengatakan bahwa orang yang berbicara lancar sekalipun belum tentu bisa berkomunikasi dengan baik. Bukankah itu seperti anda? Anda sangat lancar mengatakan segala kekurangannya di depan umum seperti ini. Apa ini komunikasi yang baik? Begitukah cara komunikasi yang baik??Kalau anda yang tiba-tiba mengalami kecelakaan sehingga anda kehilangan kemampuan anda berbicara normal, bagaimana dr. Hilda?"tanyaku dengan marah.


Aku tidak terima Mahfudz dihina seperti itu.


"Dr. Raya! Tolong jaga attitudemu sebagai dokter dengan baik. Saya tidak bicara denganmu. Tapi dengan Mahfudz"


"Attitude anda bilang? Oh, iya anda selalu bilang seperti itu ketika mengajar. Syarat menjadi seorang dokter adalah dia harus punya attitude yang baik di atas segala-galanya. Lalu apa ini dr. Hilda?Anda memiliki attitude seorang dokter yang baik pada seorang pasien, kenapa anda tidak punya attitude yang baik sebagai pengajar dan dokter senior kepada mahasiswa calon junior anda? Saya kecewa pada dokter, saya selalu mengagumi anda selama ini. Tapi detik ini juga kekaguman saya hilang seketika pada anda!"


Mahfudz berdiri dan memaksaku kembali duduk. Setelah itu dia kembali duduk di kursinya.


"A-ku ti-dak a-pa a-pa"katanya sambil tersenyum.


Aku mendengus kesal pada dr. Hilda.


"Sa-ya me-mang ba-nyak ke-ku-ra-ngan, dok-ter, ta-pi sa-ya i-ngin ber-man-fa-at ba-gi se-sa-ma. Sa-ya i-ngin ja-di dok-ter ka-re-na pang-gi-lan ji-wa sa-ya. Sa-ya ba-ha-gia ja-di dok-ter. Sa-ya ba-ha-gia sa-at me-no-long per-sa-li-nan, sa-at me-la-ku-kan C-P-R, dan hal-la-in-nya. Se-bi-sa mung-kin sa-ya a-kan ha-ti-ha-ti a-gar ke-ku-ra-ngan sa-ya tak me-nim-bul-kan re-si-ko pa-da pa-si-en"

__ADS_1


Dr. Hilda memandang Mahfudz dengan penuh arti kemudian beralih padaku.


"Mahfudz ini anak koasmu?"tanyanya.


"Iya."jawabku singkat.


Dr. Hilda berpaling lagi pada Mahfudz.


"Mahfudz, katakan pada konsulenmu ini kalau aku hanya ingin mengujimu. Melihatmu begitu cerdas namun punya keterbatasan sangat disayangkan kalau kamu tidak memiliki kesabaran. Karena itu aku ingin menguji sejauh mana kesabaranmu untuk bisa menjadi seorang dokter. Karena dengan kekuranganmu yang seperti itu kelak dalam dunia kerja pasti akan ada pasien yang tidak sabar mendengar kamu bicara, akan ada rekan kerja yang tidak suka berkomunikasi denganmu karena kamu bicara lambat dengan artikulasi yang kurang jelas. Bahkan bukan tidak mungkn kamu akan dipermalukan di depan umum seperti ini. Kalau kamu tidak sabar, bagaimana bisa kamu menjalani profesimu dengan nyaman. Professor Ayyub sudah memberi tahuku sebelumnya kondisimu. Dan aku hanya menguji kesabaranmu pada tes terakhir ini. Karena di obgyn sangat butuh banyak-banyak kesabaran. Tapi sepertinya dokter di sebelahku ini marah sekali saat aku mengujimu. Katakan padanya, jangan terlalu menunjukkan perasaannya. Masih aja frontal dari dulu tidak berubah juga."kata dr. Hilda mencibirku.


Aku kaget mendengar kalau dr. Hilda hanya menguji Mahfudz


"Dr. Hilda..."rengekku sok manja.


"Nggak usah sok manis padaku, anak nakal. Kamu nggak ingat baru membentak-bentak dosenmu sendiri?"katanya pura-pura marah.


"Maaf..."rengekku lagi sambil bergelayut manja di lengannya. "Aku kira dr. Hilda sudah hilang sisi kemanusiaannya"kataku jujur.


"Aku sudah dengar dari Professor Ayyub semuanya. Kirimin aku undangan atau anak ini tidak akan lulus stase obgyn" ancamnya.


Aku terkekeh dan mengedipkan mataku pada Mahfudz. Ah, dr. Hilda memang panutanku dari dulu.


\*\*\*\*\*


Kabar baik minggu ini adalah Mahfudz mengabariku kalau dia lulus dengan nilai A+ di stase obgyn. Tentu saja itu berkat dr. Hilda juga.


Sementara itu pernikahanku tinggal menunggu belasan hari saja. Ummik sudah menetapkan tanggalnya, menyiapkan apa-apa yang diperlukan dari dekorasi, pelaminan, catering. Pernikahan yang boleh dibilang tidak terlalu mewah untuk ukuran seorang dokter. Mengingat Mahfudz yang masih koas tentu tidak akan bisa punya libur banyak. Paling mungkin hanya bisa libur satu atau dua hari saja. Berpatokan ke situlah Ummik merasa pernikahan sebaiknya dilakukan di rumah saja. Jadi selesai acara bisa langsung istirahat. Dan untuk beres-beres tetangga-tetangga sini masih menerapkan sistim gotong royong.


Dan aku masih bekerja seperti biasa di rumah sakit. Dan ngomong-ngomong soal kabar pernikahanku. Kabar ini bagaikan sporangium yang cepat menyebar pertumbuhannya ke seluruh penjuru rumah sakit. Tapi tak apalah, toh Mahfudz sudah tidak ada di rumah sakit lagi. Jadi meski mereka menggodaku aku tidak lagi terlalu malu.


[Aku rindu pada anak-anak koas, Fud, RS sekarang sepi] kataku di suatu siang dalam obrolan pesan singkat WA


[Kamu rindu pada anak koas atau aku?]


[Semuanyalah]


[Hmmm sabar. Sebentar lagi juga bakal ada anak koas yang gantiin kami di situ]


[Kamu sendiri dapat koas dimana sekarang?]

__ADS_1


[Ini lagi nungguin pengumuman di kampus. Katanya sih sistem random lagi ini, mudah-mudahan aku ditempatin jadi koas dr. Raya lagi 😁]


[Ngawur, indah untuk dikenang tapi tidak untuk diulang, prinsipnya anak koas harus begitu]


[Tapi aku mau aja ngulang terus asal ada di sampingmu terus. Duuuhhh Jadi kangen anaknya Ummik, datangin nggak ya? ]


[Datang kesini coba kalau berani sama Ummik] kataku.


[Hallah modus. Sok nantangin aku datang, padahal kamu yang kangen]


[Ihh, PD nya]


[Kamu kalau ngaku kangen, aku nekad datangi loh. Biar dimarahin Ummik nggak apa-apa, mau nggak?]


[Nggak usah]


[Bener?]


[Iya]


Aku menunggu chat berikutnya dari Mahfudz. Tapi tak ada balasannya lagi. Aduuuuh....gimana donk? Padahal aku beneran kangen. Udah berapa hari aku nggak ketemu dia. Ummik melarang kami bertemu sampai tanggal pernikahan kecuali untuk sesuatu yang perlu-perlu. Misal untuk cobain gaun pengantin dan hal yang berkaitan dengan urusan pernikahan.


Apa aku suruh Mahfudz ke rumah sakit aja ya? Aku nyari alasan apa gitu, biar dia datang. Asal bisa lihat wajahnya aja sudah senang kok.


Aku baru ingin mengetik chat lagi ketika pesan WA masuk.


[Aku udah lihat pengumuman lokasi aku koas selanjutnya. Bingung harus senang atau gimana]


[Bingung kenapa?memang kamu koas dimana selanjutnya?Dapat stase apa?]


[IPD 😩]


[Ilmu penyakit dalam?Bagus donk? Banyak ilmu di sana.Banyak pengalaman, kok bingung?]


[Stase IPD RS siaga medika, konsulen dr. Ali Sp.PD]


Haaaa?????Mahfudz koas disini lagi?Konsulennya Ali?


Seketika migrainku terasa kumat lagi.

__ADS_1


__ADS_2